Laman

Rabu, 27 Oktober 2010

I Am Legend (Episode 1)



Scene pertama di buka dengan pertunjukkan live Madonna Band yang menghebohkan panggung. Namun ternyata panggung dan segala kehebohan itu hanyalah khayalan mereka. Para personel Madonna Band sedang latihan band. Aksi panggung mereka benar-benar mengguncang tempat latihan itu seakan-akan mereka sedang benar-benar manggung. Namun ‘show’ mereka harus terhenti saat manajer tempat itu datang dan memberitahukan bahwa waktu mereka telah habis.

Seol-hee mengganti pakaian latihan kasualnya dengan pakaian rancangan desainer yang mewah, yang selalu ia kenakan di luar waktu latihan. Ia pergi ke tempat spa yang mewah. Di sana sudah ada ibu mertuanya yang menunjukkan gaun mewah kepadanya untuk dikenakan nanti malam.

Hubungan mertua-menantu mereka tampak sangat dibuat-buat. Seol-hee sangat patuh mendengar semua celoteh dan hinaan dari ibu mertuanya yang bermulut pedas. Contohnya, saat ibu mertuanya mendikte bagaimana harusnya tingkah laku Seol-hee saat bertemu dengan teman-teman Ji-wook. Seol-hee tidak boleh banyak bicara dan harus bersikap manis.

Setelah pernah mengalami keguguran, Seol-hee tidak kunjung hamil lagi dan keluarga Cha hanya mau menerimanya bila ia telah mempunyai anak. Bahkan ibu mertuanya berkata terang-terangan kalau sebenarnya yang ia perlukan dari Seol-hee hanya rahimnya saja. Padahal kenyataannya Ji-wook sudah lama tidak pernah tidur dengannya, tapi ia tidak pernah memberitahukan hal ini kepada keluarganya sehingga mereka selalu menyalahkan Seol-hee. Jadi ibu mertuanya menyuruh Seol-hee ikut perawatan kesuburan.

Perawatan ini seringkali menjadi bahan perdebatan bagi Seol-hee dan Jae-hee yang adalah seorang dokter. Jae-hee kesal karena perawatan kesuburan hanya diperuntukkan bagi wanita yang benar-benar membutuhkan. Dan masalah Seol-hee ada pada perkawinannya, bukan rahimnya.

Malam ini adalah malam yang penting bagi Ji-wook, yang baru saja naik jabatan. Ji-wook memberi sambutan. Dalam sambutannya ia memuji istrinya yang cantik, yang berperan besar dalam hidupnya. Saat sambutannya berakhir, Ji-wook berbisik kepada Seol-hee agar tetap berada di pinggir ruangan dan keluar diam-diam. Seol-hee menurut, ia berpura-pura menjadi istri yang ramah di depan orang-orang, namun sebenarnya di dalam hatinya ia tersiksa harus berpura-pura terus.

Saat akan keluar, ia melihat Ji-wook mengobrol dengan wanita lain yang adalah Seung-hye. Seol-hee pergi ke kamar mandi sendirian dan tidak sengaja mendengar pembicaraan para sekretaris yang menggosip tentang Seol-hee yang berpura-pura hamil agar dapat menikah dengan Ji-wook. Shock dan ketakutan, Seol-hee keluar untuk menghadapi gossip itu. Namun kemunculannya malah mengkonfirmasi kebenaran gossip itu. Ia mengangkat dagunya, dengan gaya seakan-akan berkata, “Memangnya kenapa? Aku tidak perlu malu.” Namun sebenarnya hatinya sakit.

Untuk menenangkan pikirannya ia pergi karaoke dan minum-minum. Hwa-ja bergabung bersamanya, ia mengerti kalau Seol-hee pasti merasa depresi walaupun ia berkata kalau ia tidak perlu ditemani.

Di club, mereka memperhatikan penyanyi di sana. Dia adalah Ran-hee, saingan Seol-hee saat masih SMA. Ran-hee adalah penyanyi pop namun sekarang sudah turun pamor. Ran-hee cemburu pada kehidupan Seol-hee yang sekarang sudah hidup mapan, apalagi saat Seol-hee melihatnya di klub malam seperti ini.

Tiba-tiba datanglah beberapa pemabuk yang tertarik pada Ran-hee dan memaksa Ran-hee ke kamar mereka untuk ditraktir minum-minum bersama. Karena tidak ada yang membantunya, maka Seol-hee berusaha mengalihkan perhatian dengan membuat keributan bersama Hwa-ja.

Keributan itu membuat Seol-hee dan Hwa-ja ditahan selama satu malam dan suami mereka dipanggil untuk membayar uang jaminan. Ji-wook terlihat tidak senang karenanya.

Setelah membebaskan istrinya, Ji-wook pergi ke apartemen yang diakuinya sebagai kantor. Ia meninggalkan istrinya di rumah bersama keluarga yang membencinya, sementara ia sendiri bersembunyi di apartemen bersama pacarnya.

Sementara itu, Jae-hee sedang sakit dan Seol-hee baru mengetahuinya saat adiknya itu pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Jae-hee terserang kanker tulang dan membutuhkan tranplasi tulang belakang. Jae-hee tidak memberitahukan siapapun tentang penyakitnya ini dan itu membuat Seol-hee sedih. Saat kakaknya mengetahui penyakitnya, Jae-hee hanya berkata, “Apakah itu penting? Hal yang penting sekarang adalah kenyataan kalau sekarang kita berdua sama-sama sengsara,”

Seol-hee memberitahukan kabar ini kepada ibu mertuanya. Ibunya tampak kaget dan sedih atas kabar ini. Namun ia menolak mentah-mentah permintaan Seol-hee untuk tes tulang belakang karena sekarang Seol-hee sedang perawatan kesuburan. Setelah menikah dengan Ji-wook, badan Seol-hee bukan lagi miliknya namun milik keluarga Ji-wook. Yang itu berarti Seol-hee hanya bias pasrah menanti pendonor untuk adiknya.

Seol-hee memohon pada suaminya untuk membujuk ibunya, namun Ji-wook menolak dan berkata kalau ia sebaiknya menurut saja pada ibunya. Ji-wook tidak memedulikan permohonan Seol-hee walaupun Seol-hee telah berkata kalau Ji-wook adalah alasan mengapa ia tidak kunjung hamil juga sampai sekarang. Dengan dingin Ji-wook berkata, “Apakah adikmu sangat penting? Bagaimana dengan keluargaku?”

Hal ini membuat Seol-hee terpukul karena tidak peduli seberapa besar siksaan yang dia dapat dari keluarganya ia tetap berusaha bertahan karena yakin suaminya peduli. Ji-wook berkata kalau Seol-hee telah memilih jalan hidup ini, karena itu ia sebaiknya tetap bertahan. Keluarganya bersikap seakan-akan dengan membiarkan Jae-hee mati maka perawatan kesuburan Seol-hee akan berhasil.

Sementara itu di saat yang sama seseorang sedang bermain gitar yang liriknya sesuai dengan suasana hati Seol-hee. Pada akhir lagu, orang itu bernyanyi, “Pada akhirnya, orang yang paling aku benci … adalah diriku sendiri,”

Seol-hee memantapkan hatinya, ia memutuskan untuk ikut tes dan tulang belakangnya ternyata sangat cocok dengan adiknya. Ia sadar kalau keluarga Cha tidak akan berubah pikiran, maka ia bertemu dengan ayah mertuanya yang merupakan orang terbaik di keluarga Cha. Ia berkata dengan hormat dan nada menyesal, “Aku akan bercerai,”

Sumber : http://warnawarnidunia-aii.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...