Laman

Selasa, 19 Oktober 2010

Hwang Jin Yi (Episode 24-Tamat)

Sempat adu mulut dengan Bu-yong soal definisi seorang penghibur yang sebenarnya, Myeong-wol nekat meninggalkan tempat pengajaran untuk mendatangi pria yang telah membuka matanya. Dengan wajah serius, Myeong-wol menyebut bakal meninggalkan kebiasaan lamanya demi menjadi seniman yang sesungguhnya.

Sadar akan ancaman yang dihadapi, Bu-yong juga tidak mau kalah dan memutuskan untuk memperdalam ilmu menarinya ke sebuah tempat pengajaran terkenal. Bagaimana dengan Myeong-wol? Gisaeng itu nekat menari tanpa diiringi alat musik ditengah keramaian, dan hasilnya sudah bisa ditebak.

Dengan hanya mengandalkan uang hasil tarian untuk hidup sehari-hari, hasilnya Myeong-wol tidak makan selama beberapa hari. Meski begitu, ia tetap ngotot menari sampai akhirnya terjatuh karena lemas. Melihat kegigihan hatinya, pria yang membukakan mata Myeong-wol menyuruh sang murid untuk membopong gisaeng itu untuk dirawat.

Begitu sadar, Myeong-wol langsung tersentak ketika disebut diri dan tariannya dipenuhi oleh kesombongan sehingga sampai kapanpun, tariannya tidak akan menghasilkan uang. Ucapan yang terus terngiang itu membuat dirinya kembali ke pasar, namun hanya bisa terduduk menatap mangkuk sedekah sambil memikirkan apa yang salah pada dirinya.

Ketika kembali ke kediaman sang penolong, Myeong-wol kembali dibukakan matanya ketika pria yang dihormatinya itu menyebut bahwa orang yang bijaksana sekalipun selalu belajar dari orang lain setiap harinya. Setelah melihat bunga krisan yang mekar ketika dimasukkan ke dalam minuman, gisaeng terkenal itu akhirnya tahu apa yang harus dilakukan.

Dengan hanya meninggalkan sepucuk surat, Myeong-wol meneruskan pengembaraannya untuk mencari arti seni yang sesungguhnya dengan menjadi rakyat jelata dan hidup seperti kebanyakan orang. Tidak terasa, hari kompetisi yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba dimana seluruh kelompok hiburan berkumpul.

Namun hingga waktu adu ketrampilan untuk menentukan siapa yang pantas menduduki jabatan ketua, hanya Bu-yong yang muncul. Menolak untuk langsung membuat keputusan, Mae-hyang meminta muridnya itu untuk unjuk kebolehan. Sudah tentu, kesempatan tersebut langsung digunakan Bu-yong untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini dan aksinya benar-benar tidak mengecewakan.

Terdesak untuk segera mengumumkan hasilnya, Mae-hyang dan yang lain dikejutkan oleh kemunculan Myeong-wol (yang tidak berdandan sama sekali). Kejutan berikut kembali terjadi, Myeong-wol yang datang terlambat menolak untuk berias karena menurutnya bagi seorang seniman yang menamakan dirinya terbaik, penampilan luar sama sekali tidak penting.

Tidak cuma itu, Myeong-wol juga mengaku tidak punya buku dan tema tarian. Sudah tentu, ucapan tersebut langsung memancing kemarahan ketua kelompok penghibur lain. Tidak memperdulikan yang lain, Mae-hyang yang tahu akan kemampuan Myeong-wol memintanya untuk meneruskan tarian dengan sanksi berat bila gagal. Tidak cuma itu, Myeong-wol juga harus menari tanpa iringan musik.

Disinilah kejeniusan Myeong-wol sebagai seorang penari terlihat. Gerakannya mampu membuat yang menyaksikan seolah menemukan irama, sampai-sampai para pengiring tanpa dikomando mulai memainkan alat musik mereka. Ketiak tariannya berakhir, orang pertama yang memberi aplaus adalah Bu-yong.

Setelah berembuk, Mae-hyang mengeluarkan keputusan : Bu-yong terpilih sebagai ketua. Kontan, keputusan itu ditentang oleh Bu-yong sendiri. Namun alasan yang diajukan sangat masuk akal : seorang ketua harus bisa mengawasi orang-orang yang memiliki bakat tari menonjol dan membantu mereka berkembang. Hal itulah yang telah ditunjukkan oleh Bu-yong, yang merupakan orang pertama yang bisa melihat kehebatan Myeong-wol sebagai penari.

Senyuman tulus Myeong-wol, yang bisa menerima keputusan dengan lapang dada, langsung berubah saat keluar begitu mendapat berita kalau Hyeon-geum sekarat. Setelah menyentuh wajah putri yang begitu disayanginya, Hyeong-geum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Tidak kuat lagi menahan pukulan beruntun, Myeong-wol mendatangi pria yang pernah menolongnya dan menangis tersedu-sedu. Menyebut bakal bangkit lagi, gisaeng itu mengatakan bakal mengamalkan tiga prinsip hidupnya : mengalir seperti air, memegang prinsip yang telah diajarkan pria yang sudah dianggap sebagai gurunya itu, dan menyerahkan hidup pada orang yang bersedia menangis dan tertawa bersamanya.

Tidak terasa, beberapa tahun telah berlalu. Bu-yong dan para murid-muridnya melewati sebuah pasar, namun perhatian publik justru malah jatuh pada suara musik ditengah tempat tersebut dimana orang-orang menari dengan gembira dengan Myeong-wol sebagai yang terdepan.

Melihat senyum Myeong-wol yang tulus, Bu-yong menjawab pertanyaan salah seorang muridnya bahwa perempuan yang mampu menyedot perhatian khalayak ramai itu adalah sahabat baik sekaligus satu-satunya rival yang mampu menandingi kemampuannya. Yang terpenting, Myeong-wol jugalah satu-satunya penari yang tidak mampu ditahan oleh sebuah institusi bernama tempat pengajaran saking tingginya bakat yang dimiliki.

TAMAT

Sumber : http://www.indosiar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...