Laman

Senin, 18 Oktober 2010

Hwang Jin Yi (Episode 2)


Sudah tentu, niat tersebut malah membuat Ji-ni terpukul demi melihat ibu yang telah melahirkannya menolak untuk mengakui keberadaan gadis cilik itu. Hyeon-geum sendiri sempat meloloskan diri dari penjara untuk menemui Baek-moo sambil memohon sang guru untuk melepas putrinya, namun sudah tentu permintaan itu ditolak.

Dalam keadaan sedih, Ji-ni yang sedang berjalan-jalan di taman bertemu dengan salah satu orang kepercayaan Baek-moo. Dari pria berjanggut lebat itu, ia akhirnya tahu asal-usul percintaan terlarang Hyeon-geum dengan seorang pria dari kalangan ningrat yang menghasilkan dirinya hingga alasan kebutaan sang ibu. Keruan saja, gadis cilik itu makin merasa kehadirannya di dunia sama sekali tidak diinginkan.

Meski terlihat keras, namun Baek-moo ternyata sangat menyayangi Hyeon-geum sampai-sampai memohon pada pejabat untuk melepas salah satu gisaeng andalannya tersebut. Padahal, hukuman bagi pelanggaran yang dilakukan perempuan itu adalah dibuang.

Baek-moo tidak sadar, kenekatannya untuk menyelamatkan Hyeon-geum malah membuat sang pejabat berniat untuk menggeser posisinya sebagai pimpinan kelompok Song Do dan menggantinya dengan gisaeng senior lain. Dasar nekat, Hyeon-geum yang baru dilepaskan dari penjara memaksa untuk bertemu Ji-ni.

Dengan penuh cucuran air mata, anak dan ibu akhirnya bertemu muka secara langsung. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan Hyeon-geum ketika Ji-ni menyebut tidak akan pernah melupakan wangi tubuh perempuan itu dan dengan tatapan mata sendu memanggilnya dengan sebutan ibu. Tangis Hyeon-geum langsung meledak, ia tidak dapat menahan diri untuk memeluk sang putri yang begitu dicintainya.

Tahu kalau Ji-ni bakal memulai pelatihan sebagai calon gisaeng, Hyeon-geum bertekad untuk bisa berada disamping putrinya dan akhirnya pasrah dengan jalan hidup yang tidak bisa dihindari. Di awal ajaran, Baek-moo langsung menekankan satu hal penting bagi para calon penerusnya : melupakan keinginan untuk menjadi istri bagi seorang pria sekaligus melepas emosi.

Dengan mata terbelalak, Ji-ni menyaksikan sebuah pintu menuju dunia baru seakan dibukakan untuknya mulai dari kemewahan pakaian, keindahan musik, hingga tarian yang mampu menggetarkan siapapun yang menyaksikan. Untuk menguasai dua hal terakhir, Baek-moo mengajarkan pada murid-muridnya cara melatih pernapasan dengan menyelam selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Tidak terasa beberapa tahun berlalu, dan Ji-ni telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik. Saat bersama rekan-rekannya berlatih di air terjun dibawah pengawasan Baek-moo, terjadi sebuah insiden dimana segerombolan pelajar yang salah satunya adalah pelajar tampan Kim Eun-hoo mengintip dan berusaha mencuri pakaian. Niat tersebut buyar karena Eun-ho terpesona oleh kecantikan Ji-ni.

Kehadiran para pemuda pelajar yang tidak diundang itu kontan membuat para calon gisaeng histeris ketakutan, yang malah membuat mereka dihukum oleh Baek-moo karena dianggap melupakan aturan pertama yaitu menutupi emosi dari siapapun. Bisa ditebak siapa yang paling keras kepala : Ji-ni. Ia menolak ajaran itu meski untuk itu harus dihukum pukulan dengan kayu di bagian betis.

Tumbuh besar dengan Hyeon-geum disampingnya, Ji-ni langsung merengut ketika sang ibu berusaha membujuknya untuk meninggalkan Song Do dan hidup normal, ucapan yang telah disampaikan sejak mereka kembali bersama. Dengan wajah penuh keyakinan, ia menyebut sudah bahagia bisa hidup seperti sekarang dan tidak butuh pernikahan atau status.

Namun didalam hatinya, perasaan Ji-ni berkecamuk hebat yang kemudian dilampiaskannya lewat lukisan bambu nan artistik. Saat hendak membuang gambar yang disebut menunjukkan emosinya yang tidak stabil, gadis itu kembali bertemu dengan Eun-ho.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...