Laman

Selasa, 19 Oktober 2010

Hwang Jin Yi (Episode 23)

Keruan saja, Jeong-han langsung membopong tubuh Myeong-wol dengan panik ke kediaman Mae-hyang. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa meski gisaeng itu berhasil diselamatkan, namun tidak demikian dengan bayi yang dikandungnya. Bisa dibayangkan, betapa terpukulnya Jeong-han dan (terutama) Myeong-wol.

Untungnya, Myeong-wol dihibur oleh Dan-shim alias Gae-dong. Begitu mendengar sang sahabat baik membawa putranya, Myeong-wol meminta ijin untuk bisa menggendong anak yang masih kecil itu. Sambil memeluk dengan erat, gisaeng itu meneteskan air mata karena tahu kalau dirinya tak mungkin bisa melakukan hal tersebut pada buah hatinya yang telah tiada.

Tergerak oleh pemandangan mengharukan itu, Dae-shim memberanikan diri untuk mengajak sang putra menemui Gae-soo. Sempat ragu begitu melihat sosok yang dicarinya, siapa sangka hati Gae-soo telah berubah lembut dan menyebut siap mengasuh anak tersebut asalkan Dan-shim, yang terus mencucurkan air mata karena terharu, tidak keberatan.

Dengan sepucuk surat, Myeong-wol meminta supaya Jeong-han datang ke rumah dimana mereka tinggal saat bersembunyi selama 3 tahun demi mengantar kepergian janin yang dikandung dengan musik. Diiringi dengan petikan harpa dan tipuan seruling, keduanya sepakat untuk melepas saat-saat bahagia.

Setelah itu, Myeong-wol kembali ke kehidupan semulanya sebagai seorang gisaeng. Dan sama seperti dulu, begitu banyak tawaran yang masuk untuk bisa melihat kemampuan seninya yang begitu tinggi. Tawaran itu pula yang membuat Bu-yong kembali terbuka luka lamanya, ia tidak habis pikir kenapa begitu banyak orang yang mencintai Myeong-wol.

Bedanya, kali ini Bu-yong langsung mendatangi Myeong-wol dan bicara empat mata. Sambil minum arak bersama, Myeong-wol mengeluhkan tentang reaksi publik yang berlebihan. Siapa sangka, ucapannya itu malah mendapat tanggapan negatif dari Bu-yong, yang menyebut kalau keberuntungan rivalnya itu malah membuat gisaeng yang lain tenggelam.

Kegagalan, ditambah posisi Myeong-wol yang semakin bagus sebagai salah seorang pengajar, membuat Bu-yong patah semangat dan menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan. Aksi itu langsung dicela oleh Mae-hyang, yang menyebut bahwa pertarungan belum berakhir dan sang murid harus berusaha sampai titik darah penghabisan.

Untuk membangkitkan semangat Bu-yong, Mae-hyang memutuskan untuk menggelar kompetisi diantara sang murid dan Myeong-wol dengan jabatan ketua gisaeng sebagai taruhannya. Sebagai juri, akan dipilih orang-orang yang kompeten dan bukan para pejabat yang sudah jelas-jelas bakal memihak Myeong-wol.

Berbeda dengan Bu-yong yang memutuskan untuk membuat terobosan dengan menggabungkan tarian genderang dan bangau, Myeong-wol malah menari didepan orang banyak di tengah pasar demi mencari kelemahan dirinya. Diingatkan oleh Mae-hyang, Bu-yong sadar kalau persaingan bakal semakin berat.

Diantara sekian banyak yang memuji penampilannya, ternyata ada satu orang yang dengan berani menyebut kalau Myeong-wol tak lebih dari sekedar perempuan penghibur dan penjaja arak belaka. Ucapan itu kontan membuat Myeong-wol terpukul, dan nekat melepas semua atribut yang menempel ditubuhnya dan hanya mengenakan topeng saat kembali menari ditengah pasar. Kali ini, reaksi publik benar-benar tidak diduga.

Sumber : http://www.indosiar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...