Laman

Selasa, 26 Oktober 2010

Cinderella's Sister (Episode 4)

Hyo Sun menyebut Eun Jo seorang pengemis dan memintanya keluar dari rumahnya. Eun Jo sebenarnya terlihat rada-rada senang bahwa selama ini dia benar tentang Hyo Sun.

Eun Jo berbalik dan malah menyuruh Hyo Sun keluar. Ki Hoon masuk untuk melihat apa yang terjadi. Eun Jo berkata kalau meski dia benci disini, dia tidak akan pergi hanya karena Hyo Sun ingin dia pergi. Dia hanya akan pergi sesuai dengan kehendaknya sendiri. Hyo Sun kaget mendengar jawaban ini. Eun Jo pergi dan Hyo Sun mengejarnya.

Ki Hoon melihat kartu dari Dong Soo dan bergumam, “Anak-anak ini… tidak belajar padahal seharusnya belajar.” Tapi kemudian dia mendapati dirinya merasa terganggu. Siapa Dong Soo? Dia cemburu!

Dong Soo berada di bawah di dekat sungai, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara pada Eun Jo tapi waktu dia melihat Hyo Sun datang, dia bersembunyi dan menyaksikan lanjutan pertengkaran dua bersaudara itu. Hyo Sun menyusul Eun Jo dan berteriak apakah ini yang dia inginkan sambil menarik rambut Eun Jo. Eun Jo terkejut pada apa yang dilakukan Hyo Sun, tapi terlambat… pertengkaran dimulai.

Tarik rambut, saling melontarkan kata-kata kasar, tapi pada satu titik Hyo Sun berhenti, memperhatikan bibir Eun Jo yang berdarah. Hyo Sun berkata, “Kakak, kau berdarah!” Eun Jo lebih terganggu lagi mendengar perhatian Hyo Sun. Dia mendorongnya ke samping dan pergi.

Hyo Sun pulang ke rumah sambil menangis. Saat itu, Kang Sook sedang berada di tengah-tengah percakapan telepon. Dia menutup telponnya dan berlari ke Hyo Sun lalu menghibur gadis itu. Hyo Sun menangis, “Aku berharap kau tidak pernah memiliki Eun Jo!” Eun Jo yang mendengar ini dari kamarnya berkata pada diri sendiri, “Itulah yang aku katakan.”

Ayah masuk, marah, dan menghentikan keributan itu. Dia menyeret Hyo Sun ke ruangan lain dan meminta tongkat. Kang Sook menemui Eun Jo dan bertanya kali ini apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Hyo Sun kesal. Kang Sook tidak bisa percaya kalau Eun Jo tidak bisa menangani masalah sepele seperti Hyo Sun. Sementara itu, Eun Jo kesal karena ibu hanya peduli pada Hyo Sun.

Hyo Sun dan Eun Jo berlutut dihadapan ayah. Dia berkata kalau mereka tidak saling memaafkan, mereka berdua tidak akan mendapatkan kamar terpisah. Kedua gadis itu tidak senang mendengar berita itu. Ki Hoon tiba membawa tongkat yang diminta dan hanya diam, jadi ayah bertanya apa dia ingin dipukul juga. Ki Hoon dengan berani bertanya apakah tidak sebaiknya ayah bicara dulu pada mereka. Ayah berkata kalau Ki Hoon bisa dipukul, tunggu saja.

Ayah memanggil Hyo Sun pertama. Dia berkata pada Hyo Sun untuk mengaku bersalah kalau dia memang bersalah dan memukulnya sekali (mirip Jang Geum). Hyo Sun langsung menangis dan mengaku bersalah. Bahwa dia benar-benar bersalah. Dae Sung menyuruhnya kembali ke tempat semula. Berikutnya dia memanggil Eun Jo. Eun Jo menurunkan kaos kakinya, bersiap-siap untuk menerima rasa sakit. Dae Sung menawarkan pilihan yang sama untuk mengakui kesalahan. Kali ini dia agak ragu. Tapi dia yang memimpin rumah ini jadi harus bersikap adil.

Eun Jo tetap bertahan dan tidak bergerak sedikit pun. Ayah terkejut dan tidak tahu apakah harus terus memukulnya. Tapi dia melanjutkannya ketika Ki Hoon dan Hyo Sun yang menyaksikan mencoba untuk ikut campur.

Sementara itu, Kang Sook menelpon Jang lagi. Dia bernyanyi untuk Kang Sook. Kali ini Jung Woo datang lagi untuk menyelamatkan dengan sebuah wajan yang dipukulkan ke kepala. Dia juga menasehati Kang Sook untuk mengubah nomer telponnya.

Eun Jo masih tetap bertahan, tongkat mulai patah dan luka di kakai Eun Jo mulai berdarah. Dae Sung merasa terganggu pada sikap keras gadis ini. Tapi Ki Hoon yang sudah tidak tahan melihat itu semua, menarik tangan Eun Jo dan membawanya keluar dari ruangan itu. Kang Sook masuk ke ruangan itu dan menemukan Dae Sung yang kelelahan dan Hyo Sun yang akan pingsan.

Ki Hoon membawa Eun Jo ke gudang anggur, mencoba mengikuti langkahnya, “Kau ini anak macam apa… kau keras kepala, kan? Yang harus kau lakukan hanya mengatakan kalau kau bersalah. Kau bahkan tidak bisa…” Tapi dia berhenti saat melihat luka di kaki Eun Jo. Dia mencoba mengobatinya tapi Eun Jo tidak bergerak sama sekali. Ki Hoon putus asa, berkata kalau saja Eun Jo adalah tipe orang yang mau menuruti apa katanya, maka dia tidak akan berada di situasi seperti ini.

Ki Hoon pergi untuk mendapatkan obat bagi Eun Jo dan ketika dia sendirian, Eun Jo mendengarkan suara gelembung. Dia mendekatkan badannya ke salah satu kendi besar dan menempelkan telinganya disana, seolah-olah ada pesan rahasia di dalam sana.

Eun Jo begitu terpesona sehingga tidak menyadari Ki Hoon sudah kembali, yang menggunakan kesempatan itu untuk mengobati lukanya. Ki Hoon berkata kalau itu adalah suara yang diciptakan anggur beras saat berfermentasi. Dia juga berkata kalau sebaiknya Eun Jo berlari bila dipukul lagi lain kali, karena Eun Jo toh adalah pelari yang hebat. Ki Hoon menambahkan, “Jika kau dipukul lagi, kau mati!”

Ki Hoon memanggil Eun Jo, “Eu Jo ya.” Karena tidak ada respon, dia mengulanginya lagi, “Eun Jo ya. Bisakah kau memberiku jawaban… Eun Jo ya?” Dan akhirnya Eun Jo menjawab, “Ya,” ki Hoon bertanya lagi, “Apakah sakit?” Eun Jo, “Ya,” Ki Hoon benar-benar senang mendapat jawaban ini.

Malam itu Dae Sung merasa benar-benar bersalah karena sudah menghukum Eun Jo. Jadi dia masuk ke kamarnya saat gadis itu sedang tidur dan mengobati lukanya. Eun Jo sebenarnya masih terbangun dan dia bisa merasakan rasa sesal dan kepedulian Dae Sung padanya.

Keesokan paginya, Eun Jo menemui Ki Hoon di luar dan langsung menyerbunya dengan pertanyaan. Siapa gadis di sungai itu? Ki Hoon terkejut. Eun Jo bertanya lagi dengan tajamnya. Ki Hoon tiba-tiba meletus. Dia tersenyum setelah menyadari, ini Eun Jo… dan dia cemburu.

Ki Hoon terlihat senang bahkan sampai menahan tawanya ketika Eun Jo memberikannya tatapan mematikan. Dia benar-benar tidak bisa menahan tawa dan melihat Eun Jo begitu mengagumkan. Ki Hoon menggoda, “Apa kau mencariku pagi-pagi begini untuk menanyakan hal itu? Apa kau begitu ingin tahunya sehingga tidak bisa tidur sekejap pun? Begitu kan?”

Ki Hoon pergi ke kamarnya untuk mengambil bungkusan yang dia terima kemarin dari wanita yang dipertanyakan Eun Jo. Dia menunjukkan pada Eun Jo isinya, yang pada dasarnya berisi kumpulan album dan buku favorit Ki Hoon. Dia dengan gembira mulai menceritakan setiap benda di dalamnya, tapi Eun Jo tidak tertarik. Ki Hoon membentak agar Eun Jo mendengarkannya, tapi Eun Jo malah berteriak balik, “Siapa gadis itu?” Ki Hoon menjelaskan kalau dia adalah adik bungsu salah satu temannya yang mau menyimpan barang-barang milik Ki Hoon. Puas dengan jawaban itu, Eun Jo bangkit lalu pergi meninggalkan Ki Hoon yang kebingungan. Ki Hoon berteriak di belakangnya, “Bagaimana denganmu? Apa… apa kau akan berkencan dengan si Dong Soo itu?” Eun Jo tidak merespon, jadi Ki Hoon berkata lagi, “Tapi… tapi aku lebih keren dari Dong Soo itu kan?”

Eun Jo dan Hyo Sun bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hyo Sun meminta Eun Jo untuk berpura-pura kalau mereka sudah baikan di hadapan ayah dan ibu agar mereka mendapatkan kamar yang terpisah. Dengan enggan Eun Jo setuju melakukannya. Hyo Sun melihat luka di kaki Eun Jo, dan meski mereka sedang perang dingin, dia memberikan sepasang kaos kaki baru pada Eun Jo lalu pergi. Eun Jo yang masih begitu marah tidak bisa menerimanya dan membuang benda itu ke lantai.

Ki Hoon mengantar Kang Sook ke kuil sementara itu Dae Sung menikmati sarapan dengan anak-anak. Hyo Sun menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf, dia menendang Eun Jo untuk ikut berpura-pura. Eun Jo mengaku, dan bergumam setengah hati, “Tidak, aku yang salah.” Yang membuat Hyo Sun dan ayah sangat senang.

Dae Sung melihat Ki Hoon dan bertanya-tanya kenapa dia kembali begitu cepat. Dia mengatakan kalau Kang Sook tidak mau diantar sampai ke kuil dan bersikeras naik kereta sendirian. Dae Sung menelpon pendeta dan memintanya untuk membawakan sesuatu lewat istrinya tapi dia mendapat jawaban kalau Kang Sook tidak ada disana. Kang Sook memang pergi naik kereta tapi tidak tahu kemana.

Ki Hoon sibuk belajar bahasa Spanyol dan dia bicara keras-keras pada komputernya kalau muridnya belajar begitu cepat sehingga dia harus belajar super keras agar bisa mengimbangi.

Hari itu Ki Hoon juga mendapat kunjungan dari kakak tirinya. Kakak keduanya, Hong Ki Tae, mengantarnya ke suatu tempat dan bercerita tentang masa kanak-kanak ketika dia dan ayahnya pergi mengunjungi Ki Hoon dan ibunya.

Kang Sook pulang telat malam itu, tidak ada yang tahu dari mana, dan Dae Sung menunggunya di luar, berharap Kang Sook akan menjelaskan semuanya. Dae Sung bertanya dia darimana saja dan saat Kang Sook menjawab “Kuil”, dia sadar itu bukan jawaban yang diinginkan suaminya. Kang Sook dengan cepat mulai menangis dan mengarang sebuah cerita kalau dia ingin mencari obat untuk luka Eun Jo jadi dia pergi ke seorang herbalis kenalannya. Dia tidak ingin Dae Sung tahu karena suaminya akan merasa bersalah.

Ki Tae mengantar Ki Hoon ke sebuah kompleks perkantoran, dimana ibu tiri dan pengacaranya sedang menunggu Ki Hoon bersama sebuah kontrak untuk ditandatangani. Ibu tiri bertanya apa permintaan Ki Hoon dan dia menjawab dia ingin setengah dari perusahaan.

Ibu tiri mencemooh dan menawarkan Ki Hoon lebih banyak uang lagi. Hal itu hanya membuat Ki Hoon menyeringai. Wanita kejam itu bahkan menghina ibu Ki Hoon yang sudah meninggal dengan mengatakan kalau dia melahirkan Ki Hoon dengan tujuan untuk mengambil alih setengah perusahaan tapi dia tidak akan mendapatkannya.

Ini membuat Ki Hoon jengkel. Dia bahkan berkata perlu membawa pengacara lain kali sebab dia tidak mau menandatangani kontrak itu. Kalau dia sudah mati mungkin mereka baru mendapat tanda tangannya. Ki Hoon pergi dan langsung menelpon ayahnya berkata bagaimana dia bisa membantu.

Di perusahaan anggur beras Dae Sung, sekarang sudah waktunya untuk membuat tumpukan baru. Dae Sung memimpin upacara doa agar semuanya berjalan lancar dan semua orang mengahdiri acara ini. Ki Hoon dan Eun Jo menggunakan kesempatan ini untuk saling pandang. Namun, kali ini Ki Hoon memandang Eun Jo lebih lama dengan sedih. Hyo Sun memperhatikan hal ini dan langsung menunduk.

Di sekolah Eun Jo mendapatkan penghargaan dalam bidang akademis, sementara di waktu yang bersamaan Hyo Sun baru saja menyelesaikan kompetisi tarinya dan melakukannya dengan sangat buruk. Ayah dan ibu hadir untuk pertunjukkan Hyo Sun, dan menghiburnya karena dia gagal menjadi yang terbaik.

Eun Jo langsung pulang ke rumah dengan penghargaannya, tidak sabar ingin menunjukkan pada keluarganya, atau setidaknya ayah. Meski dia keras tapi dia selalu mendukung Eun Jo secara akademis. Tapi saat dia sampai di rumah, Eun Jo tahu kalau semua orang rumah asik menonton pertunjukkan Hyo Sun. Eun Jo berpikir, “Tidak masalah. Aku hanya ingin dipuji satu orang saja.”

Eun Jo menepuk Ki Hoon dan memintanya untuk bertemu dengannya disana, di gudang anggur mereka. Ki Hoon menemui Eun Jo dimana dia dengan tenang mempersembahkan hadiah yang dia dapat kepada Ki Hoon. Dia menahan kegembiraan dengan cara khas Eun Jo tapi dia tidak sabar menunggu reaksi Ki Hoon. Ki Hoon membuka mulut, “Kau melakukannya dengan baik. Kau melakukannya dengan sangat baik.” Ki Hoon mengelus rambut Eun Jo dan menepuk kepalanya dengan lembut. Eun Jo merasa sangat senang.

Ki Hoon ingin memberikan Eun Jo hadiah atas prestasi yang telah dia capai, jadi dia mengajak gadis itu ke kamarnya dan memberikan salah satu benda favoritnya. Dia memberikan Eun Jo sebuah pena tua yang dibungkus kain. Ki Hoon berkata kalau benda itu mungkin lebih tua dari Eun Jo dan selama ini dia telah merusaknya. Dia berkata, “Gunakan ini untuk menulis surat, jurnal, dan setiap kali kau menggenggamnya dengan tanganmu, pikirkanlah aku.” Dan kemudian Eun Jo tersenyum pada Ki Hoon.

Eun Jo bangkit untuk pergi dan saat dia membuka pintu, Hyo Sun sedang berada disana, terlihat jengkel. Dia berkata dengan marah kenapa dia tidak mendapat hadiah. Kenapa dia yang pergi ke kompetisi tapi malah Eun Jo yang mendapat hadiah? Eun Jo dan Ki Hoon memandang Hyo Sun dalam diam. Hyo Sun berkata, “Apa kau lupa? Tidakkah kau tahu kau milik siapa?”

Malam itu, Hyo Sun benar-benar merasa kesal di tempat tidurnya sementara itu, Eun Jo tetap terbangun dan mengeluarkan pena hadiah dari Ki Hoon. Dia mengisi pena itu dengan tinta dengan sangat hati-hati dan pada selembar kertas kosong dia menulis, “Eun Jo ya.”

Keesoka paginya, Eun Jo menyapa Dae Sung dan berkata kalau salah satu kendi anggur beras di gudang telah rusak. Terkejut, Dae Sung bertanya bagaimana dia bisa tahu hal seperti itu. Eun Jo menjawab kalau kendi yang satu itu tidak mengeluarkan suara. Dae Sung sangat terkesan dan berjanji akan memeriksanya.

Berikutnya, Hyo Sun kembali. Dia terlihat tidak bersemangat dan menyeret kakinya. Ayah bertanya, “Apa Ki Hoon sudah pergi?” Terkejut, Eun Jo berbalik dan bertanya-tanya apa artinya hal itu. Dia mengikuti Hyo Sun kembali ke kamarnya dan bertanya kemana Ki Hoon pergi. Awalnya Hyo Sun menolak untuk menjawab tapi teriakan mereka membuat ayah masuk. Ki Hoon sudah pergi untuk ikut wajib militer.

Eun Jo berlari ke kamar Ki Hoon, ke gudang anggur mereka, ke halaman, dan semuanya kosong. Dia kemudian berlari ke sungai tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Ki Hoon. Di rumah, Hyo Sun menangis dan mengeluarkan sebuah surat. Surat itu diberikan Ki Hoon padanya agar Hyo Sun memberikannya pada Eun Jo. Hyo Sun membukanya tapi surat itu ditulis dalam bahasa Spanyol jadi dia tidak bisa mengerti. Eun Jo pergi ke stasiun bis dimana para tentara berangkat untuk ikut wajib militer tapi tidak ada Ki Hoon.

Ki Hoon sebenarnya tidak pergi buat wajib militer tapi dia pergi atas permintaan keluarganya. Ki Hoon menoleh ke belakang sebelum naik kereta. Dia berpikir, “Akankah kau… menghentikanku? Meski darah keluar dari lututmu, kau tidak mampu menangis, sama seperti Hong Ki Hoon yang bodoh. Eun Jo ya. Jika kau memegangku, aku rasa aku bisa berhenti disini. Sebelum aku naik ke kereta, hentikanlah aku. Eun Jo ya.” Tapi Eun Jo tidak datang dan Ki Hoon pun naik ke kereta. Dia pergi!

Eun Jo berlutut di atas pasir. Dia menangis. Dia terus berkata, “Eun Jo ya.” Berulang-ulang. Dia terlihat sangat TERLUKA. Di belakangnya, tusuk rambut yang diberikan Ki Hoon padanya tergeletak.

Delapan tahun kemudian… Gu Eun Jo sedang berada di Seoul. Dia sedang memberikan presentasi tentang perusahaan anggur berasnya. Dia menggarisbawahi tentang trend terbaru dan cara pemasaran produk mereka juga tentang pembuatan anggur beras mereka yang alami yang membedakan perusahaan mereka dengan perusahaan lain. Dia terlihat penuh percaya diri.

Di luar gedung, Eun Jo melihat ke seberang jalan dan melihat sebuah tanda pameran seni yang menampilkan artis favorit Ki Hoon. Dia tidak bisa menahan diri dan masuk ke dalam sana. Eun Jo melihat lukisan yang dipajang dan Hyo Sun muncul di sampingnya. Dia datang kesana setelah mendengarnya dari Ki Hoon. Eun Jo bertanya apa maksudnya, dan Hyo Sun menyerang Eun Jo, “Tidakkah kau tahu? Kak Ki Hoon dan aku berkencan.”

Sumber : http://meylaniaryanti.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...