Laman

Selasa, 19 Oktober 2010

Hwang Jin Yi (Episode 19)

Harga yang harus dibayar oleh persaingan antara tarian bangau dan tarian genderang tidak main-main : siapa yang penampilannya lebih disukai bakal mendapat jabatan sebagai ketua perkumpulan gisaeng. Oleh rekan-rekannya, Myeong-wol diingatkan untuk bisa menang demi mendiang Baek-moo.

Begitu hendak melangkah masuk, ucapan Baek-moo kembali terngiang sehingga tanpa sadar air mata Myeon-wol mengalir. Mae-hyang yang melihat semuanya menghibur gisaeng itu dengan mengatakan bahwa tampil di hadapan putra mahkota degan sempurna bakal membuat arwah Baek-moo senang. Aksi pertama dilakukan oleh Bu-yong yang membawakan tarian genderang dengan nyaris sempurna dan mengundang pujian (meski melakukan satu kesalahan kecil).

Reaksi berbeda diberikan putra mahkota saat melihat buku tarian bangau, yang disebut begitu indah sampai-sampai ingin bertemu dengan Baek-moo. Keruan saja, beban yang begitu besar berada di pundak Myeong-wol. Namun saat hendak memulai, sindiran tajam dari Gae-soo, yang menyebutnya sebagai penyebab kematian sang guru, membuat Myeong-wol ambruk tak sadarkan diri.

Tanpa memperdulikan para menteri yang lain, Jeong-han langsung membopong Myeong-wol. Bisa ditebak, desakan supaya keduanya dihukum langsung disampaikan para petinggi dengan gencar. Namun, ketulusan Jeong-han yang membela Myeong-wol dengan berlutut di depan istana membuat hati putra mahkota luluh.

Dengan menahan geram, Jeong-han menemui Gae-soo dan meminta sang sahabat untuk tidak lagi mengusik Myeong-wol. Sementara itu, Myeong-wol yang baru sadar masih mengalami syok sehingga harus ditenangkan oleh Mae-hyang. Begitu ditinggal sendirian, ia menangis tersedu-sedu akibat hati yang begitu sakit karena telah ditingal sang guru Baek-moo.

Di kediamannya, Bu-yong tidak habis pikir dengan putra mahkota yang tidak mempertanyakan gerakannya yang berbeda dari buku tarian. Rupanya, siasat menukar jurus tarian genderang dengan miliknya sendiri telah diketahui sang guru. Dengan nada pedas, Mae-hyang menyebut tidak bakal menyerahkan kekuasaan kepada seseorang yang begitu haus terhadap kekuasaan.

Setelah kembali ke kediaman kelompok Song Do, Myeong-wol bagai orang linglung dengan berkeliaran sambil menganggap Baek-moo masih hidup. Yang lebih mengenaskan lagi, rasa kehilangan membuat gisaeng itu seolah kehilangan bakat seninya saat diminta tampil di hadapan para pejabat.

Untungnya, Yi Saeng selalu ada untuk melindungi sang majikan. Seolah tidak perduli dengan nasibnya, Myeong-wol menghabiskan waktunya dengan minum arak sampai mabuk. Kabar tentang perubahan yang terjadi pada sang gisaeng akhirnya sampai ke telinga Jeong-han, yang secara khusus meminta Mae-hyang berkunjung ke kediaman kelompok Song Do.

Siapa sangka, Mae-hyang menolak dengan alasan Myeong-wol harus menghadapi penderitaannya seorang diri dan malah meminta Jeong-han untuk tidak ikut campur. Namun, kemunculan Yi Saeng membuat Jeong-han berubah pikiran, ia langsung bergegas mendatangi Myeong-wol dan begitu terkejut saat mendapati kamarnya sudah kosong dengan hanya meninggalkan sepucuk surat. Rupanya, Myeong-wol ingin menyusul Baek-moo ke alam baka.

Sumber : http://www.indosiar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...