Laman

Selasa, 19 Oktober 2010

Hwang Jin Yi (Episode 21)

Hwangjin-i's picture

Myeong-wol langsung berniat untuk mengikuti jejak Jeong-han, namun disaat-saat genting tubuhnya langsung ditarik oleh Yi Saeng yang mendadak muncul. Sebelum pergi, Jeong-han menitipkan sebuah kecapi pada salah seorang muridnya, yang kemudian memberikannya pada Myeong-wol.

Bisa ditebak, Myeong-wol terus memaksa untuk bisa melihat Jeong-han untuk terakhir kalinya. Dibawa ke ibukota, Jeong-han tetap bungkam meski disiksa saat ditanya soal keberadaan pasangannya. Dengan senyum licik, Gae-soo memerintahkan supaya pencarian terus dilakukan karena ia yakin betul Myeong-wol bakal muncul demi cinta sejatinya.

Bahkan di hadapan putra mahkota, Jeong-han yang tetap bertahan meski disiksa habis-habisan menolak untuk memohon supaya diampuni nyawanya. Yang tersenyum penuh kemenangan adalah Gae-soo, yang berdiri disamping sang penguasa. Namun saat kembali, rombongannya dihadang oleh Yi Saeng, yang dengan tangan kosong berhasil melumpuhkan semua pengawal dan menggiring pejabat itu untuk menemui Myeong-wol.

Bertemu kembali dengan perempuan yang dicintai sekaligus dibencinya, Gae-soo mati kutu ketika Myeong-wol meminta dirinya untuk menyelamatkan Jeong-han. Orang kedua yang ditemui Myeong-wol adalah musuh besarnya Bu-yong, yang meski benci namun tetap mengharapkan mantan gisaeng itu untuk kembali ke posisinya.

Seperti yang bisa ditebak, Myeong-wol meminta Bu-yong untuk menyampaikan keberadaannya pada Jeong-han. Meski berat hati, murid Mae-hyang itu melakukan seperti yang diminta. Keesokan harinya, Jeong-han kembali digeret ke hadapan putra mahkota untuk ditanyai lokasi keberadaan Myeong-wol, namun pria itu tetap bungkam.

Harapan Myeong-wol supaya Jeong-han mengatakan keberadaannya sia-sia, dengan hati pedih perempuan itu menyesali kekerashatian sang pasangan. Dengan gusar, putra mahkota akhirnya menjatuhkan hukuman mati pada Jeong-han, yang tetap menolak buka mulut meski sudah diberi waktu tiga hari.

Begitu mendengar keputusan itu, Mae-hyang langsung bergegas untuk menemui Myeong-wol dengan bantuan Bu-yong. Seperti yang sudah diduganya, murid mendiang Baek-moo itu berniat untuk mengakhiri nyawanya. Dengan jengkel, Mae-hyang langsung memarahi Myeong-wol yang telah disayanginya seperti murid sendiri itu.

Sadar kalau kematian tidak akan membawa perubahan terhadap nasib Jeong-han, Myong-wol mendengar kalau putra mahkota bakal menggelar perjamuan bsar saat hukuman mati dilaksanakan. Sambil memutar otak, Myeong-wol memutuskan untuk kembali menjadi penari. Dengan tekad bulat, ia mendatangi kediaman Mae-hyang dan memohon supaya bisa dimasukkan sebagai salah seorang penari di perjamuan dimana Jeong-han bakal dihukum mati.

Siapa sangka, Yi Saeng yang semula dikira sebagai pengembara biasa ternyata adalah putra salah seorang pejabat penting di kerajaan. Begitu sang ayah memintanya untuk kembali ke rumah demi belajar menjadi seorang pegawai pemerintahan, Yi Saeng, yang tidak ingin Myeong-wol mengalami nasib tragis, meminta supaya Jeong-han ditolong sebagai imbalan. Sudah tentu, sang ayah kaget setengah mati dan menolaknya.

Kenekatan Mae-hyang untuk memasukkan Myeong-wol sebagai penari membuat Bu-yong semakin sedih dan merasa dicampakkan. Namun dengan sabar, sang guru menghapus air matanya yang jatuh dan menyebut meski hal itu berarti bakal membuat Mae-hyang kehilangan nyawa, namun ia bisa tenang karena Bu-yong bakal menggantikan posisi sebagai ketua. Setelah itu, tugas berat untuk kembali melatih Myeong-wol dimulai.

Sumber : http://www.indosiar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...