Laman

Selasa, 30 November 2010

Becoming A Billionaire (Episode 13)

Lee Jong Heon terkejut saat melihat Shin Mi mengikuitnya. Shin Mi masuk bersama Tae Hee. Ia bertanya pada ayahnya.
"Ayah, apa kau tahu siapa ayah Choi Suk Bong?" serunya menghentikan langkah Lee Jong Heon.
"Apa orang yang bernama Chul Min adalah ayah dari Choi Suk Bong?" tanyanya lagi.
Presdir menoleh kearah Shin Mi. Ia juga melirik ke arah Tae Hee. Ia tak menjawab pertanyaan Shin Mi malah pergi meninggalkan kamar itu. Shin Mi langsung mengejar ayahnya.
Tae Hee senang mengetahui informasi penting itu. Buru-buru ia menghampiri pamannya dan menanyakan langsung padanya. Tapi pamannya tak mau buka suara. Tae Hee kesal dan berteriak pada pamannya.

Shin Mi mengejar ayahnya dan mengulangi lagi pertanyaannya. Presdir Lee tampak marah. Ia mengingatkan Shin Mi bahwa ia dilarang berhubungan dengan Suk Bong lagi.
"Kalau kau masih mengakui aku ayahmu jangan pedulikan Choi Suk Bong lagi!" ancam Presdir lalu pergi dengan mobilnya.

Tae Hee diusir keluar oleh suster disana. Ia dianggap mengganggu ketenangan pasien. Kamar pasien juga digantungi papan dilarang berkunjung. Shin Mi hendak kembali ke kamar, tapi ia melihat Tae Hee yang diusir suster memilih pergi. Tae Hee melihatnya dan berlari mengejarnya.
"Apa yang kau bicarakan dengan ayahmu? Beritahu aku sedikit." tanya Tae Hee.
"Untuk apa kau peduli pada hal ini?" ucap Shin Mi sinis. Tae Hee sedikit salah tingkah. Ia beralasan sudah terlanjur datang dan semestinya memberitahu Suk Bong masalah ini. Shin Mi menepis tangan Tae Hee dan langsung naik ke mobilnya.
Tae Hee mendapat telepon dari Woon Suk. Woon Suk mengajaknya makan siang.

Woon Suk masuk ke ruang kerjanya. Menutup HP-nya setelah menelepon Tae Hee. Di ruangan itu tampak Kepala Kang sedang berada di depan komputer dan disampingnya ada sebuah CPU.
"Bagaimana?" tanya Woon Suk.
"Disini masih ada data-data kartu Smart Oh Sung," beritahu Kepala Kang.
Ternyata Woon Suk yang melakukan pencurian di kantor Smart (Ih, kok Woon Suk jahat seh).

Shin Mi melamun saat menaiki lift menuju kantornya. Sampai pintu lift terbuka di lantai 14, ia tetap tidak sadar. Ia baru sadar saat pintu hampir menutup dan buru-buru keluar.
Shin Mi melihat Suk Bong tertidur di mejanya. Ia memandangi wajah Suk Bong.
Tiba-tiba Suk Bong berbicara tanpa membuka matanya.
"Dilihat dari dekat aku sangat tampan, kan? Apa kau ingin memelukku?" godanya.
"Kau tidak tidur. Kalau begitu bangun dan kerja," ucap Shin Mi hendak pergi dan membalikkan badan. Lalu Suk Bong meraih tangannya. Ia memberitahu bahwa ia sedang memimpikan Shin Mi. Shin Mi menyuruh Suk Bong meneruskan tidurnya dan berusaha melepasakan tangannya. Suk Bong malah makin erat menggenggam tangannya dan bangun.
"Terimakasih," ucapnya. "Percaya padaku."
Shin Mi meminta Suk Bong melepasakan tangannya. Suk Bong hendak bangun, tapi Shin Mi mencegahnya dan bilang tak usah diantar ke ruangannya. Suk Bong menunjukkan HP-nya dan ingin meminjam charger. Kemudian ia bangun. Sialnya lututnya menabrak meja. Ia mengaduh sakit dan berjalan terpincang-pincang menuju ruangan Shin Mi tanpa melepas genggaman tangannya.
Suk Bong mencharger HP-nya. Saat ia menyalakan HP-nya banyak pesan masuk yang memberitahu bahwa ia banyak mendapat panggilan telepon. Shin Mi bertanya siapa. Suk Bong menjawab Boo Tae Hee. Shin Mi langsung terdiam. Tae Hee memang sedari tadi meneleponnya untuk menemaninya ke rumah sakit. Tapi HP Suk Bong sedang lowbad. Suk Bong hendak membuka SMS yang masuk, tapi Shin Mi segera memintanya mengambilkan laporan Smart.

Tae Hee diajak makan siang oleh Woon Suk. Woon Suk menghidangkan kari untuknya. Tae Hee ragu-ragu untuk makan kari itu. Tapi ia memaksakan diri dan terlihat hampir muntah saat berusaha menelannya. Woon Suk melihat itu dan bertanya. Dasar Tae Hee, dia kan paling nggak bisa bohong. Ia memberitahu Woon Suk bahwa ia tak menyukai bawang bombay. Woon Suk membantu Tae Hee membuang bawang bombay dalam kari itu. Lalu ia bertanya mengapa Tae Hee pegi ke rumah sakit.

Tae Hee sedang berdandan (baju yg di pake Tae Hee bagus2). Tae Hee mengatakan pada Sekretaris Yoon bahwa ia berbohong pada Woon Suk dengan mengatakan ia ke rumah sakit karena rindu pada pamannya. Tapi sepertinya Woon Suk juga tak percaya begitu saja. Sekretaris Yoon menyarankan agar Tae Hee harus menjauhi Suk Bong. Ayahnya masuk ke kamarnya. Ia memberitahu akan menetapkan tanggal pertunangan Tae Hee dan Woon Suk. Tapi tampaknya Tae Hee tak begitu antusias mendengar kabar itu. Ia malah menanyakan apakah ayahnya mengenai Chul Min. Tapi Direktur Boo pura-pura tak kenal.
Boo Kwi Ho mendapat telepon dari Choi Young Dal. Ia memberitahu bahwa Tae Hee sudah mengetahu tentang Chul Min. Mereka curiga bahwa Lee Jong Heon menyembunyikan sesuatu. Choo Young Dal menyuruh Boo Kwi Ho memperingatkan Tae Hee tak membocorkan masalah ini pada Choi Suk Bong. Boo Kwi Ho sangsi putrinya dapat menjaga rahasia. Ia mengangap Tae Hee tuh mulutnya ember (haha...). Choo Young Dal mengalihkan tugas ini pada Woon Suk.

Sekretaris Yoon sedang menonton acara fashion show di TV untuk mencari perancang yang cocok untuk gaun pertunangan Tae Hee. Namun Tae Hee tampak melamun. Sekretaris Yoon menebak Tae Hee pasti ingin sekali menelepon Suk Bong. Ia menyuruh Tae Hee membuang pikiran itu. Kemudian ia mendapat telepon dari Pengurus rumah dan pergi. Tae Hee buru-buru menelepon Suk Bong karena dirinya tak bisa menyimpan rahasia lama-lama.

HP Suk Bong berbunyi. Shin Mi melihat nama Tae Hee di layar HP. Ia keluar mencari Suk Bong dengan membawa HP itu. Suk Bong tak berada di mejanya. Shin Mi memutuskan menerima telepon itu. Tae Hee langsung mengenali suara Shin Mi dan menanyakan Suk Bong.
Shin Mi hendak mencegah Tae Hee mengatakan masalah tadi, tapi Suk Bong keburu datang. Shin Mi memberi HP-nya pada Suk Bong. Tae Hee mengomeli Suk Bong yang tak mengangkat teleponnya. Ia memberitahu Suk Bong bahwa pamannya sudah bisa berbicara dan ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sebelum sempat ia memberitahunya, tiba-tiba Woon Suk datang mengambil HP-nya dan menutup teleponnya.

Diseberang Suk Bong memanggil-manggil namanya karena tiba-tiba sambungan telepon putus. Ia mencoba menelepon Tae Hee balik, tapi HP-nya sudah tidak aktif. Ia segera pergi menemui Tae Hee. Tinggal Shin Mi yang bengong ditinggal sendirian.

Tae Hee berbicara dengan Woon Suk. Woon Suk membujuk Tae Hee agar tak mengatakan apapun pada Suk Bong. Ia berdalih hal ini akan merugikan Boo Hoo Group.
"Aku tak tahan jika wanitaku memperhatikan pria lain." ucap Woon Suk. Tae Hee langsung tersanjung. Ia berjanji pada Woon Suk ia tak akan berbicara pada Suk Bong.
Lalu Woon Suk mengajak Tae Hee makan. Mendadak Suk Bong muncul. Tae Hee terkejut dan menutup mulutnya.

Di kantor Shin Mi mulai cemas. Ia tak tenang dan mengecek HP-nya.

Tae Hee terlihat salah tingkah melihat kedatangan Suk Bong. Woon Suk tak memberi izin Suk Bong berbicara dengan Tae Hee. Suk Bong memaksa dan mendekati Tae Hee yang mulai panik. Ia takut kelepasan omong. Ia berkali-kali melirik ke arah Woon Suk. Suk Bong marah dan merasa dipermainkan. Ia membentak Tae Hee yang langsung terlonjak kaget. Woon Suk membela Tae Hee dan mengajaknya pergi.

Suk Bong melepas kekesalannya dengan mendatangi atap gedung bersama Shin Mi. Shin Mi tahu Tae Hee belum mengatakan apa-apa pada Suk Bong. Suk Bong hanya bilang Tae Hee hanya bosan dan ingin bermain dengannya. Shin Mi mulai cemburu. Suk Bong senang. Mood Suk Bong langsung membaik. Ia mengajak Shin Mi bermain tangkap tangan tapi Shin Mi sudah kadung kesal. Ia memilih pergi untuk melanjutkan kerja. Suk Bong kembali menggoda Shin Mi.
"Sepertinya kau sangat menyukaiku?"
Shin Mi tak menjawab. Ia langsung pergi.

Kepala Kang membawa laporan kepada Woon Suk. Ia mengatakan Imperial Card milik Boo Ho sudah diluncurkan. Kartu itu mencuri ide dari Premium Card yang sengaja diluncurkan guna menjatuhkan Smart.

Shin Mi memulai rapat di Smart dengan mengumumkan bahwa peluncuran Premium Card dibatalkan karena pesaing mereka Boo Ho sudah dulu meluncurkan kartu dengan jenis yang sama. Sekarang konsentrasi mereka terfokus pada Win-Win Card.

Shin Mi berbicara sambil makan siang dengan Presdir Lee. Ia masih penasaran pada masalah kemarin. Presdir Lee akhirnya mau memberitahunya tapi dengan syarat ia harus menjauhi Suk Bong dan menyarankannya menikah saja.

Sementara Suk Bong turun ke jalan bersama tim-nya mempromosikan Win-Win Card ke konsumen. Mereka sibuk membagi-bagikan brosur pada pejalan kaki.

Di Bank Partner Kang Sook ikut membantu Suk Bong dengan membagikan brosur Win-Win Card. Byung Eo datang dan minta dibuatkan kartu kredit itu.
Malam hari Suk Bong masih sibuk menempelkan poster di papan informasi. Byung Do dan Byung Eo ikut membantunya.

Oh Sung rapat. Kepala Manager melaporkan hasil pemasaran dari Win-Win Smart yang kalah jauh dari Imperial Card yang menyedot minat konsumen. Para direksi marah mendengar laporan ini. Presdir memutuskan untuk memproduksi kartu baru.

Shin Mi kembali mengadakan rapat di Smart. Ia meminta timnya masing-masing mengajukan proposal baru untuk produk Smart. Di depan semua orang ia mengeluarkan Suk Bong dari tim. Ia mengatakan Suk Bong harus bertanggungjawab atas gagalnya Win-Win Card. Ia kembali menugaskan Suk Bong ke pekerjaan awalnya yaitu memfotokopi. Suk Bong mengerti dengan mengedipkan mata.

Suk Bong menemui Shin Mi di atap gedung. Ia meletakkan dagunya di pundak Shin Mi (suka deh liat mereka disini). Shin Mi yang sedang melamun terkejut. Suk Bong mentraktir Shin Mi segelas kopi. Ia mengerti yang tadi dilakukan Shin Mi di ruang rapat pasti hanya becanda. Shin Mi mengatakan bahwa ia serius. Malah ia mulai menyesal mengangkat Suk Bong menjadi karyawan. Suk Bong tak percaya Shin Mi mengatakan hal itu padanya. Ia marah dan langsung pergi.

Di dalam kereta Suk Bong teringat ucapan Shin Mi. Ia sangat kesal. Dua orang wanita yang duduk di depannya memandangnya dengan aneh. Suk Bong pura-pura bersin. Lalu ia menguping pembicaraan dua orang wanita itu yang mengeluhkan masalah biaya transportasi. Salah satu dari mereka menunjuk poster diskon biaya transportasi yang tertempel di dinding kereta. Suk Bong ikut melihat poster itu dan terlintas ide di benaknya.

Suk Bong benar-benar dikeluarkan dalam tim. Ia tak diajak dalam rapat berikutnya. Padahal ia sudah membuat proposal baru dengan nama Eco Card. Suk Bong memfotokopi proposal buatannya.

Suk Bong menunggu kereta. So Jung juga tengah bersamanya. Suk Bong melihat Mun Dae Myung dan mengambil kesempatan ini untuk memperkenalkan project barunya. Suk Bong menggunakan So Jung untuk meyakinkan Mun Dae Myung.

Tae Hee sedang memakai masker. Ia bertanya pada Sekretaris Yoon produk apa yang sedang dipakainya. Sekretaris Yoon memberitahu ia sedang mencoba pelembab baru. Tae Hee mengambil pelembabnya dengan paksa dan memakainya. Sekretaris Yoon terlihat kesal, tapi ia tak bisa melarangnya. Kemudian ia melihat surat dari Sun Na Young dan memberitahu Tae Hee bahwa ia sudah berjanji akan menyampaikan surat itu pada ayah Na Young. Tae Hee kesal dan membuang surat itu ditempat sampah.

Tae Hee mengajak Sekretaris Yoon senam aerobik. Direktur Boo dan putranya datang. Tae Kyung tertarik dan ikut senam bersama kakaknya. Direktur Boo akhirnya juga ikut-ikutan (bwahaha...lucu banget liat cara senam Direktur Woo yang kaku.).

Selesai senam Tae Hee masuk ke kamarnya. Ia menyemprotkan oksigen ke wajahnya. Lalu melap wajahnya dengan tisu. Saat membuang tisu itu, ia melihat surat Na Young yang dibuangnya. Tae Hee kesal dan mendorong tempat sampah itu ke kolong meja riasnya. Ia teringat kembali ucapan gadis cilik itu. Tae Hee dilema. Tapi ditariknya tempat sampah itu dan ia ambil surat itu dengan kesal.

Tae Hee meminta Suk Bong menemaninya mencari alamat rumah ayah Sun Na Young. Alamat rumah itu ada di pinggiran kota dan jalannya menanjak. Tae Hee kepayahan apalagi ia memakai high heel. Tae Hee merasa tak sanggup lagi dan hendak berbalik. Suk Bong mencegahnya dengan memperlihatkan surat dari Na Young. Tae Hee terpaksa meneruskan perjalanan mereka.
Suk Bong akhirnya menemukan alamat ayah Na Young. Tae Hee sudah sangat kelelahan. Ia meraih lengan Suk Bong dan bersandar padanya. Seorang pria datang dari arah belakang dan bertanya pada mereka. Suk Bong menanyakan keberadaan Song Jae Gi ayah Na Young. Pria itu tiba-tiba panik dan berniat kabur. Tae Hee langsung menarik lengan jaket pria itu dan berusaha menahannya. Tapi pria itu malah memelintir tangan Tae Hee dan mengancam akan menyakiti Tae Hee jika mereka tak membiarkannya pergi. Ia mengira Suk Bong adalah penagih utang dari rentiner yang dipinjami uang olehnya.
Tae Hee berteriak kesakitan. Suk Bong mengelabuinya dengan memanggil nama rentenier itu. Song Jae Gi terpancing. Ia menoleh dan Tae Hee langsung menginjak kaki pria itu dengan hak sepatunya yang lancip. Suk Bong mengamankan Tae Hee dan melupuhkan pria itu. Ia memberitahu tujuannya kesini agar pria itu tenang. Pria itu kaget saat mendengar nama Na Young. Di samping mereka Tae Hee mengaduh kesakitan sambil memegangi tangannya.
Mereka membawa Tae Hee ke dokter. Lengannya di gips. Tae Hee berteriak dan memarahi dokter disana. Dokter kesal dan mengatakan telinganya lebih sakit mendengar teriakan Tae Hee. Suk Bong bilang kalau Tae Hee masih saja menjerit dokter boleh meng-gips mulutnya juga (wkwkwk...)
Diluar Song Jae Gi meminta maaf pada Tae Hee dan merasa menyesal. Tae Hee memandangnya dengan kesal. Suk Bong menyerahkan surat Na Young. Pria itu membaca surat bergambar dari Na Young dan menangis terharu. Tae Hee ikut sedih.

Suk Bong mengantar Tae Hee pulang. Mobil mereka berhenti di lampu merah. Tae Hee meminta maaf karena hari ini sudah menyusahkan Suk Bong. Suk Bong senang orang seperti Tae Hee bisa juga melakukan kebaikan. Ia mengambil lengan Tae Hee yang di gips. Lalu menuliskan sebaris kata pujian disana. Tae Hee tersenyum senang. Tapi kemudian ia sadar ia tak boleh seperti itu pada Suk Bong. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.

Suk Bong datang menemui Jeong Tae. Ia memperkenalkan dirinya. Tiba-tiba Jeong Tae merasakan sakit di dadanya. Suk Bong menanyakan keadaannya. Suk Bong hendak memanggilkan dokter, tapi pria itu menahan lengannya.
"Jangan...." cegahnya. Suk Bong terkejut melihat Jeong Tae mau membuka suaranya.

Woon Suk mengajak Tae Hee makan lagi. Tae Hee kesal ia sudah mengacaukan acara pertunangan mereka dengan mengalami cedera pada tangannya. Woon Suk tersenyum dan menyuapi Tae Hee spaghetti. Tae Hee senang. Spaghetti yang ia makan tumpah dan mengenai gips-nya. Woon Suk mengambil tisu dan berniat membersihkan tumpahan spagettinya. Kemudian ia melihat tulisan tangan Suk Bong disana.

Ia tahu Tae Hee sudah berbohong padanya dengan mengatakan kemarin pergi bersama Sekretaris Yoon. Tae Hee salah tingkah karena ketahuan berbohong. Woon Suk meminta Tae Hee mendekatkan tangannya. Ia membersihkan gips Tae Hee.
"Sepertinya ingatan Boo Tae Hee kurang bagus. Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar jangan berhubungan dengan Choi Suk Bong." ucap Woon Suk dingin. Tae Hee cuma menganggukkan kepalanya (jadi serem liat Woon Suk).

Suk Bong memandangi Jeong Tae yang tertidur. Ia mendapat penjelasan dari dokter bahwa Jeong Tae pernah mengalami sebuah tekanan besar dan sebagian ingatannya hilang. Jeong Tae juga mempunyai penyakit jantung sehingga tak boleh mendapat tekanan. Suk Bong menggenggam tangan Jeong Tae dan meminta maaf. Ia berharap Jeong Tae cepat sembuh dan bisa memberitahunya mengenai ayahnya.

Tengah malam seseorang memasuki kamar Suk Bong. Ia menaruh sesuatu di laci lemari Suk Bong lalu pergi dan tak sadar telah menjatuhkan HP-nya.

Pagi hari Suk Bong naik lift. Ia menyapa Mun Dae Myung. So Jung datang dan menahan pintu lift. Lalu Shin Mi menyusul. Ia terdiam saat melihat Suk Bong didalam lift. Suk Bong yang masih kesal langsung menutup pintu lift dan meninggalkan Shin Mi yang masih di luar. Shin Mi cuma bisa melongo. Di dalam lift Mun Dae Myung berusaha mendekati So Jung. Suk Bong tersenyum melihat mereka.


Shin Mi buru-buru masuk ke ruangannya dan mengirim pesan untuk Suk Bong.

'Apa yang kau lakukan?'
'Aku? Aku mau fotokopi.'
'Maksudku masalah di lift tadi'
'Aku salah salah pencet tombol'
'Salah?'
'Aku mau memfotokopi. Pergi dulu. - ., - '
Shin Mi bingung dengan simbol yang dibuat Suk Bong. So Jung masuk ke ruangannya. Ia bertanya pada So Jung dengan menyalin simbol itu di sebuah kertas.
"han SoJung, apa maksud tulisan ini?"
So Jung berpikir "Itu sepertinya...aku sedang marah."

Shin Mi menemui Suk Bong dan mengajaknya makan. Tapi Suk Bong menolak dengan dingin ajakannya dan langsung pergi.

Suk Bong mengajak Mun Dae Myung minum. Ketua Yoo muncul. Mereka bertiga ke kedai dan minum-minum. Ketua Yoo mabuk. Suk Bong terpaksa membawanya ke rumahnya.

Pagi hari Ketua Yoo bangun dan mendapat SMS : Laci kedua, gunting kuku. Masih lancar, kan?
Ketahuan kalau Ketua Yoo sengaja mabuk agar bisa menginap di rumah Suk Bong. Lalu ia mengikuti perintah dari SMS tadi dengan meminjam gunting kuku pada Suk Bong. Suk Bong memberitahunya ada di laci kedua. Ketua Yoo menarik laci itu dan sesuai rencana ia menemukan hardware komputer disana.
"Apa ini?" Ia menariknya keluar. Suk Bong mendekat dan ikut kaget.

Suk Bong ditahan di kantor polisi.
"Walaupun kau tak mengaku, tak masalah. Ini sudah ada buktinya." ucap polisi karena Suk Bong tak juga mengaku sebagai pencurinya.
Shin Mi datang. Ia menanyai Suk Bong apakah ia sudah makan dan memarahi polisi yang membiarkan Suk Bong di interogasi tanpa makan dulu.
"Ahjumma, apa yang kau katakan?"
"Ahjumma? Apa aku terlihat seperti tante-tante?" Shin Mi keki. "Benar-benar bodoh. Pantas saja langsung menuduh orang lain sebagai pencuri."

Byung Eo kaget saat diberitahu ayahnya bahwa Suk Bong di tangkap polisi. Byung Do sedang membobol celengan. Ia mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu ia pernah membuka laci itu dan tak menemukan hardware itu disitu. Byung Do berhasil merobek celengan itu dan mengeluarkan uang yang isinya recehan. Byung Do memunguti uang itu dan saat ia menggeser meja, ia menemukan sebuah HP.

Berita Suk Bong di tangkap polisi sampai ke telinga Tae Hee. Ia buru-buru pergi menemui Suk Bong di kantor polisi.

Penyusup rumah Suk Bong ditangkap berkat HP yang ditemukan Byung Do.
Suk Bong keluar dari kantor polisi. Byung Do menjemputnya bersama Byung Eo dan membawakan makanan. Saat mau menggigit roti itu terdengar sebuah teriakan.
"Tunggu..." Tae Hee datang membawa tahu mahal untuknya. Suk Bong mengambil tahu itu dan hendak memakannya.
Kemudian Shin Mi datang dan berseru "Jangan makan..."
Ia mengembalikan tahu itu pada Tae Hee dan mengajak Suk Bong pergi.

Penyusup itu di interogasi polisi. Shin Mi ikut menanyainya. Penyusup itu tak bisa menunjukkan siapa orang yang telah menyuruhnya. Ia bilang disuruh oleh orang yang tak dikenal dengan bayaran banyak. Polisi menyuruh Shin Mi memikirkan kemungkinan orang yang sanggup mencelakakan Suk Bong.

Shin Mi mendatangi Woon Suk. Woon Suk mempersilahkannya masuk, tapi Shin Mi hanya mau berbicara di luar. Ia datang untuk menghentikan rencana Woon Suk mencelakai Suk Bong.
"Kali ini aku hanya memperingatkanmu. Untuk selanjutnya aku tak akan memaafkanmu." ucap Shin Mi sinis dan langsung pergi.

Woon Suk menatap kepergian Shin Mi dengan pandangan tajam.
Ia masuk ke rumah. Menuang segelas alkohol. Kepala Kang menghadapnya. Woon Suk memarahinya karena gagal menjalankan tugasnya. Ia menumpahkan alkohol dingin itu ke kaki Kepala Kang yang hanya terdiam.
"Kali ini aku memperingatkanmu. Selanjutnya aku tak akan memaafkanmu," ucap Woon Suk tajam meniru ucapan Shin Mi padanya (Woon Suk serem...)


Tengah malam Woon Suk mendatangi rumah Suk Bong. Suk Bong tengah di luar kaget melihatnya.
"Aku tahu rahasia kalung ini?" ucap Woon Suk sambil memegangi kalung Suk Bong.
"Apa?"
"Aku tahu siapa ayahmu. Maka dari itu aku kesini untuk memberitahumu."

Shin Mi menemui ayahnya. Ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia tak bisa melepaskan Suk Bong. Ia mengakui bahwa ada perasaan pada Suk Bong. Ia menganggap ayahnya licik karena memanfaatkan masalah ayah Suk Bong untuk menjauhkannya dari Suk Bong.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara ayah dan ayah Choi Suk Bong?"
"Kalau ingin tahu lepaskan Choi Sk Bong dulu." ucap Presdir lalu pergi.

Kembali pada Woon Suk dan Suk Bong.
'Tapi ada satu syarat. Kau bekerja denganku," pinta Woon Suk.

Sumber :

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...