Laman

Selasa, 30 November 2010

Becoming A Billionaire (Episode 14)

"Aku akan memberitahumu tapi dengan satu syarat kau harus bekerja padaku," ucap Woon Suk. "Dengan begitu kau akan langsung tahu siapa ayahmu."
Suk Bong menolak. Ia menahan bahu Woon Suk yang akan pergi.
"Beritahu aku?"
Woon Suk melepas tangan Suk Bong. Ia mengatakan akan memberi waktu Suk Bong untuk memikirkan hal ini. Lalu pergi dari sana. Suk Bong berteriak memanggilnya dan mengejarnya. Byung Do muncul. Menahannya.

Choo Young Dal menemui Woon Suk. Ia memarahi putranya karena berani membocorkan rahasia itu pada Suk Bong. Ia menghina anaknya dengan sebutan orang yang tak berguna. Woon Suk sudah bosan dijadikan boneka dalam memenuhi ambisi ayahnya. Selama ini ia selalu mematuhi perintah ayahnya. Tapi kali ini ia berontak dan berteriak pada ayahnya. Jika ia bukan orang yang berguna berarti ayahnya lebih tak berguna karena selama ini tak sekalipun ia melanggar perintah dari ayahnya. Choo Young Dal marah. Ia menampar Woon Suk.
Woon Suk memandang wajah ayahnya dengan tajam. "Mulai sekarang aku akan menggunakan caraku sendiri." ucapnya lalu pergi.

Suk Bong masuk kantor dengan mood yang buruk. Dia bahkan tak menghiraukan sapaan So Jung saat berpapasan dengannya. Ia menerima telepon dari Presdir Lee dan meminta bertemu.

Suk Bong menghadap Presdir Lee. Presdir mengatakan mencari Suk Bong bukan sebagai Presiden Oh Sung, tapi sebagai seorang ayah. Suk Bong mengerti maksud Presdir. Ia tahu bahwa ia dipanggil untuk menjauhi Lee Shin Mi.

Woon Suk pergi dengan menaiki motor balapnya. Ia pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Ia tampak sedih dan tertekan (jadi kasian sama Woon Suk). Ia mengingat kembali peristiwa saat dirinya masih SMU.

Flash Back.
Woon Suk muda tengah mengikuti ayahnya ke acara ulang tahun putra dari seorang pengusaha kaya bernama Jin Su. Woon Suk memberikan kado untuknya. Jin Su terlihat meremehkan kado pemberian dari Woon Suk. Bahkan tega membuangnya di depan mata kepala Woon Suk.
Woon Suk masih keliatan culun.
Woon Suk berusaha bersabar. Ia bangun dan mengambil kadonya. Tapi tangannya malah sengaja diinjak oleh Jin Su (sebel banget liat cowok ini). Dan ia mulai menghina ayah Woon Suk yang tengah merayu ayahnya untuk menanamkan investasi pada Frontier. Woon Suk tak terima. Ia bangun dan menghajar cowok sombong itu. Para ayah kaget melihat anak-anak mereka berkelahi dan berusaha melerai. Woon Suk ditenangkan oleh ayahnya. Bibir Jin Su berdarah dan ia mengadu pada ayahnya. Ayah Jin Su jelas marah. Choo Young Dal memarahi Woon Suk dan menyuruhnya meminta maaf. Woon Suk menolak. Ia merasa tak salah melakukan aksi pemukulan itu. Choo Young Dal menggantikan Woon Suk meminta maaf. Ia memohon kepada Jin Su dan ayahnya agar memaafkan perbuatan putranya. Woon Suk tak tega ayahnya direndahkan seperti itu. Ia mengalah dan meminta maaf. Jin Su tak menerima begitu saja permintaan maaf Woon Suk. Ia menyuruh Woon Suk berlutut padanya. Woon Suk terkejut. Ia memandangi ayahnya. Choo Young Dal hanya bisa memalingkan wajahnya. Ia tak tega melihat putranya merendahkan diri seperti itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Woon Suk berlutut.

Secara kebetulan Tae Hee yang penampilannya masih gendut lewat bersama Direktur Boo Kwi Ho. Ia melihat Woon Suk sedang dilecehkan dan berteriak marah. Ia langsung berlari dan menubruk Jin Su. Tae Hee menggigit telinga Jin Su (kayak Mike Tyson, hehe...). Direktur Boo berusaha menenangkan Tae Hee yang kalap dan terus saja ingin menyerang Jin Su.

Saat hendak pulang Choo Young Dal berbicara padaWoon Suk yang menangis.
"Jangan katakan kau menyesal memilki ayah sepertiku. Aku melakukan ini demi kau. Demi perusahaan."
Choo Young Dal berbalik menghadap Woon Suk. Ia menambahkan perusahaan Frontier harus lebih maju dari Boo Ho dan Oh Sung.

Sejak saat itu sepertinya Woon Suk berjanji pada dirinya sendiri agar dia dan keluarganya tak dipermalukan lagi. Makanya dia bisa melakukan apapun untuk perusahaannya. Bahkan rela menjual cintanya agar Frontier yang sedang kolaps tetap bertahan. Mungkin itu juga yang membuat sikapnya menjadi dingin.
Woon Suk menangis mengingat kejadian itu.

Shin Mi melamun di ruang kerjanya. So Jung membawa minuman untuknya. Ia bertanya pada Shin Mi. Tapi tak dijawab. Shin Mi malah memilih pergi. So Jung heran karena hari ini ia mendapat perlakuan yang sama hingga dua kali (Suk Bong juga mengacuhkannya).

Suk Bong melamun di atap gedung. Pikirannya kalut. Ia teringat perkataan Presdir Lee yang secara terang-terangan melarangnya berhubungan dengan Shin Mi. Ia menyuruh Suk Bong menganggap Shin Mi layaknya seorang karyawan pada atasannya. Jika ia tak bisa melakukan hal itu, pilihannya Suk Bong harus meninggalkan Oh Sung.

Shin Mi datang ke atap gedung juga. Ia melihat Suk Bong dan berniat kembali. Ia membalikkkan badan. Suk Bong menyadari kehadiran Shin Mi.
"Direktur Lee Shin Mi. Apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya apa yang harus kulakukan?" seru Suk Bong tanpa menoleh pada Shin Mi. Shin Mi berhenti. Ia berbalik, tapi kemudian memilih pergi.

Woon Suk kelelahan. Ia tertidur di ruang kerjanya. Tae Hee datang. Ia menutup mata Woon Suk yang langsung bereaksi kaget dan mencengkeram tangannya. Saat tahu orang itu Tae Hee, Woon Suk langsung meminta maaf. Tae Hee menyadari perubahan wajah Woon Suk. Ia menanyakan keadaannya. Woon Suk menjawab hanya kelelahan sedikit. Tae Hee memberitahu bahwa ia baru saja dari rumah sakit dan mengganti gips-nya. Lalu ia memperlihatkan gips-nya yang ditempeli foto Woon Suk. Woon Suk tertawa melihat kekonyolan Tae Hee (Woon Suk selalu bisa tertawa kalo lagi sama Tae Hee).
Tae Hee meminta Woon Suk menuliskan sesuatu di gips-nya. Woon Suk hendak menolak. Tapi Tae Hee nggak mau dengar dan menutup telinganya. Wook Suk menulis sesuatu di gips- Tae Hee. Tae Hee melihat dan sedikit kecewa saat tahu Woon Suk hanya menulis namanya. Woon Suk berujar ia sangat lelah dan ingin bersandar sebentar pada Tae Hee. Tae Hee mengangguk senang.
mereka berdua cocok, kan?
Shin Mi bermain anggar bersama So Jung. Kemudian ia memberi tahu So Jung bahwa ia menyukai Suk Bong. So Jung terkejut karena putri orang kaya seperti Shin Mi bisa menyukai orang biasa seperti Suk Bong.







Woon Suk memperingatkan Kepala Kang mulai sekarang hanya boleh menuruti perintahnya bukan lagi perintah Choo Young Dal juga. Kemudian Ketua Kang melaporkan bahwa Woon Suk mendapatkan kiriman sebuah paket. Woon Suk memintanya membuka bungkusan itu. Isinya adalah lukisan yang dulu penah ia hadiahkan pada Shin Mi.



Woon Suk mendatangi rumah Presdir Lee. Ia membawa kembali lukisan itu. Ia menolak menerima kembali lukisan yang sudah pernah diberinya. Lee Jong Heon marah padanya karena berlaku kurang sopan. Woon tak peduli karena ia mengaggap Lee Jong Heon lah yang pertama kali tak ramah padanya. Bahkan ia mengancam dengan memberitahu bahwa ia mengetahui rahasia masa lalu Presdir Lee. Woon Suk pergi dan Presdir Lee langsung anfal terkena serangan jantung.

Pengurus rumah membawa Presdir Lee ke rumah sakit. Shin Mi buru-buru datang ke rumah sakit setelah diberi kabar. Pengurus rumah memberitahunya bahwa Presdir seperti ini setelah berbicara dengan Woon Suk yang datang ke rumah. Shin Mi terlihat marah.

Woon Suk tengah menelepon Tae Hee. Besok Woon Suk mengajak Tae Hee membeli cincin pertunangan. Woon Suk menutup telepon lalu menoleh ke arah intercom yang berbunyi. Diluar Shin Mi sudah menunggunya dengan tampang galak. Woon Suk menekan tombol open. Shin Mi masuk.
Woon Suk bermain dengan mini golf-nya. Shin Mi marah besar dan berteriak saat memanggilnya. Woon Suk terlihat santai menghadapi Shin Mi. Ia memukul bola golf yang langsung ditahan oleh kaki Shin Mi.
"Apa yang kau lakukan pada ayahku?" tanya Shin Mi.
Woon Suk memukul satu bola lagi dengan keras dan mengenai pot bunga yang langsung pecah. Shin Mi melihat itu dengan murka. Ia mendekati pot bunga itu. Mengambil pot bunga yang lain dan ikut memecahkannya. Kemudian ia menghampiri Woon Suk lagi dan melemparkan uang ke wajah Woon Suk.
Suk Bong tiba-tiba muncul.
"Direktur..." panggilnya melihat Shin Mi ada disana.
Shin Mi menoleh dan kaget melihat kehadiran Suk Bong. Suk Bong menoleh ke arah pot bunga yang pecah. Ia langsung panik dan mendekati mereka. Ia menanyakan keadaan Shin Mi.
Shin Mi langsung mengajak Suk Bong pergi.

Mereka berbicara di Kafe Ainas. Shin Mi memberitahu ayahnya masuk rumah sakit karena Woon Suk. Lalu ia menanyai Suk Bong mengapa datang kesana juga. Suk Bong menjawab jujur bahwa Woon Suk mengetahui siapa ayahnya dan menawarinya pekerjaan.

Mereka berjalan sepulang dari Kafe Ainas dalam diam. Tiba-tiba Suk Bong menggandeng tangan Shin Mi dan mengajaknya berlari.

Shin Mi kecapean dan bilang nafasnya hampir habis. Suk Bong menawarkan nafas buatan. Shin Mi memberenggut dan melepaskan tangannya. Ia mulai mengakui bahwa ia tak bisa melepaskan Suk Bong dan ia sudah memberitahukan hal ini pada ayahnya. Shin Mi merasa kehadiran Suk Bong disampingnya membuat hidupnya menjadi lebih baik. Suk Bong memandanginya tak percaya. Shin Mi merasa malu dan memalingkan wajah Suk Bong.
"Jika aku memikirkan keadaan ayah, seharusnya aku tidak disini bersamamu."
Suk Bong kembali menoleh padanya. Shin Mi lagi-lagi memalingkan wajahnya. Suk Bong kesal. Lalu memegang bahu Shin Mi dan mulai memprotesnya.
Shin Mi gengsi ia bilang ini bukan pernyataan cinta. Ia hendak pergi, namun ditahan oleh Suk Bong dan langsung memeluknya. Shin Mi kaget. Ia berontak dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Suk Bong.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," pinta Suk Bong. Ia makin erat memeluk Suk Bong. Shin Mi terlihat kaku saat dipeluk Suk Bong. Tapi akhirnya diam saja.

Suk Bong masih memeluk Shin Mi.
"Apa yang harus kulakukan?' tanya Suk Bong.
Shin Mi takut Suk Bong berbuat macam-macam langsung melepaskan diri. Ia memukuli tubuh Suk Bong.
"Kecuali ayahku, ini pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang pria," aku Shin Mi. "Apa kau tidak lihat wajahku sudah merah?"
Suk Bong tersenyum "Disini gelap jadi tak kelihatan."
Shin Mi kesal. "Kau tak mendengar suara detak jantungku sekarang sangat kencang?"
Suk Bong masih menggoda Shin Mi. Ia bilang ia tak mendengar dan hanya mendengar suara teriakan Shin Mi. Shin Mi benar-benar kesal. Dia sedang tidak mood untuk becanda.
"Aku juga." Suk Bong kembali menggandeng tangan Shin Mi dan membawanya pergi

Suk Bong membawa Shin Mi kembali ke rumah Woon Suk. Shin Mi terlihat kesal. Ia hendak pergi, tapi Suk Bong menariknya. Ia menggenggam erat tangan Shin Mi yang terlihat malu dan tak berani menatap wajah Woon Suk.
"Demi mencari keberadaan ayahku, apa aku harus melepaskan tangan Direktur Lee Shin Mi dan pergi menggandeng tanganmu?" ucap Suk Bong.
"Jadi..?" tanya Woon Suk.
"Kau sekarang lihat wajah Direktur memerah dan jantungnya berdetak cepat karena aku. Mana mungkin aku sanggup melepaskan tangannya. Aku kesini untuk mengatakan hal ini padamu." ucap Suk Bong. Lalu mengajak Shin Mi pergi.
Di luar Shin Mi menanyai Suk Bong apa ia tak menyesal dengan keputusannya yang berati ia membuang kesempatan untuk tahu siapa ayah kandungnya. Suk Bong menjawab tidak menyesal.

Suk Bong tengah menatap bintang di langit. Ayah Kang Woo mendatanginya. Suk Bong bilang bintang itu seperti ayahnya. Ayah Kang Woo mengatakan pasti Suk Bong sangat menderita karena terus mencari ayahnya. Byung Do ikut nimbrung. Ia bilang Suk Bong tak terlalu menderita karena sekarang sudah memiliki seorang pacar. Byung Do menyebut Lee Shin Mi sebagai pacar Suk Bong. Ayah Kang Woo kaget. Ia menanyakan nasib putrinya Kang Sook yang sudah dari dulu naksir Suk Bong. Byung Do mengatakan tak usah khawatir karena masih ada Byung Eo. Ayah Kang Woo jelas tak setuju putrinya berpacaran dengan pengangguran. Mereka bertengkar.




Pagi hari di meja Mun Dae Myung sudah tersedia sekotak susu segar yang ditempeli catatan dan poroposal Eco Card. Suk Bong masih berusaha membujuknya menggunakan ide darinya untuk presentasi nanti.
Suk Bong benar-benar pantang menyerah. Bahkan saat Mun Dae Myung sedang di toilet (lagi ngeden, he...) Suk Bong menyelipkan proposal Eco agar Mun Dae Myung mau membacanya sebentar. Mun Dae Myung kesal, tapi akhirnya ia mau juga melihat isi proposal itu.

Saat presentasi Mun Dae Myung memperkenalkan Eco Card. Kartu ini di di khususkan bagi pengguna transportasi. Bagusnya belum ada perusahaan lain yang memproduksi jenis kartu ini. Mun Dae Myung yakin project ini sukses mengingat jumlah pengguna sarana transportasi umum sangat banyak.. Shin Mi terlihat setuju. Tiba-tiba Suk Bong masuk ke ruangan. Shin Mi kesal karena Suk Bong sudah dikeluarkan dari timnya. Suk Bong menjawab bahwa ada seseorang yang memanggilnya. Mun Dae Myung mengatakan bahwa Eco sebenarnya ide dari Suk Bong. Ia mau menangani project ini asal Suk Bong dimasukkan ke dalam tim mereka. So Jung memandang Mun Dae Myung dengan kagum.

So Jung berpapasan dengan Mun Dae Myung. So Jung ingin mencoba mouthspray yang biasa di pakai oleh Mun Dae Myung. Ia menyemprotkan spray-nya. So Jung bilang rasanya pahit. Kemudian tiba-tiba Mun Dae Myung tertawa. So Jung senang melihat senyumnya (senyum dari Mun Dae Myung itu barang yang langka).

Tae Hee sangat senang melihat tulisan tangan Woon Suk. Ia ingat foto Woon Suk dan ingin menempelkannya lagi di gips-nya. Ia membuka tasnya dan menumpahkan semua isinya. Tiba-tiba ia melihat selembar uang yang terlipat tak beraturan. Ia mengambil uang itu dengan jijik dan terlihat kesal. Uang itu adalah titipan dari Ayah Sung Na Young. Ia ingin Tae Hee membelikan permen Super-Super kegemaran Na Young. Tae Hee menjauhkan uang itu darinya dan benar-benar sangat kesal.

Tae Hee membawa ayah dan adiknya menemaninya ke panti asuhan untuk mengantarkan permen Super-Super pada Sung Na Young. Ayah dan adiknya memprotes mengapa mereka harus ikut.

Di rumah Byung Do sedang sibuk menulis surat cinta. Siapa lagi kalau bukan untuk Sekretaris Yoon. Byung Eo diampingnya tengah memainkan piano. Byung Do kesal pada anaknya yang berisik dan melemparkan remasan kertas. Byung Eo membuka kertas itu dan membaca isinya. Byung Do marah dan meminta kertasnya kembali. Byung Eo berusaha kabur. Tapi ayahnya berhasil menangkapnya dan merobek surat cinta itu.

Keluarga Boo sampai di panti asuhan. Dari dalam ada panti keributan. Sung Na Young berniat kabur. Ia ingin mencari ayahnya yang tak kunjung datang mengambilnya. Sung Na Young lari ke arah mereka. Secara spontan mereka berempat ikut membantu menghalangi Sung Na Young. Ia mendorong Tae Kyung hingga terjatuh. Melemparkan tanah ke arah Tae Hee. Direktur Boo berhasil menangkap Na Young yang masih mencoba berontak. Ia juga mencakar pipi Direktur Boo yang langsung berteriak kesakitan.

Pipi Direktur Boo di plester. Tae Kyung memegangi dadanya yang sakit.
Sementara Tae Hee sedang menghukum Na Young. Ia mengomeli Na Young yang terus saja membantah ucapannya.
Tae Hee memberikan permen Super-Super titipan dari ayah Na Young.

Suk Bong rajin mendatangi Jeong Tae sesuai janjinya. Ia menemani Jeong Tae dan menghiburnya dengan memainkan gitar.
Suk Bong juga menggantikan suster dengan menemani Jeong Tae berjalan-jalan di taman.

Di Panti Keluarga Boo melayani anak-anak makan siang. Direktur Boo mengomeli anak yang ketahuan mengambil lauk dengan porsi banyak. Ia mengatakan bahwa temannya belum kebagian. Na Young mendapat giliran. Tae Hee masih kesal saat melihatnya. Na Young juga menatapnya tajam. Na Young mendorong nampannya ke depan Tae Kyung. Tae Kyung memberinya sekotak susu dan dua buah pisang. Na Young mengembalikan satu pisang itu dan pergi (wkwk...kayaknya Tae Kyung naksir Na Young neh).


Seusai makan siang Direktur Boo mendongeng untuk anak-anak yang tampak terhibur. Na Young tidak ikut bergabung dengan anak-anak yang lain. Ia malah duduk di pojokan dengan wajah sedih. Tae Hee kesal melihatnya. Ia menakut-nakuti Na Young yang tiba-tiba langsung menangis. Tae Hee langsung terdiam. Direktur Boo menghampiri Na Young.

Suk Bong membawa Jeong Tae ke kamar. Ia membantunya mereahkan tubuh di ranjang. Jeong Tae melihat kalung Suk Bong. Ia terkejut dan memegangi kalung itu.
Saat Joeng Tae tertidur Suk Bong membuka buku gambar milik Joeng Tae yang semua isinya gambar dengan lambang yang ada di kalung miliknya.

Suk Bong pulang. Saat ia keluar tanpa sengaja ia berpapasan dengan Choo Young Dal yang baru turun dari mobil. Choo Young Dal melihat Suk Bong, tapi langsung masuk. Suk Bong tak mengenali Choo Young Dal. Tapi kemudian tiba-tiba ia ingat bahwa pria itu adalah Choo Young Dal, Direktur Frontier dan ayah dari Woon Suk. Ia pernah bertemu di kantor Boo Kwi Hoo. Suk Bong masuk dan berlari mengejarnya.
Suk Bong meminta bicara. Ia menanyakan apa hubungan Direktur Choo dengan Jeong Tae. Direktur Choo menjawab mereka berteman. Lalu Suk Bong menunjukkan kalungnya berharap Direktur Choo tahu mengenai ayahnya.
"Apa yang aku tahu, anakku Choo Woon Suk juga tahu. Jika kau benar-benar ingin tahu, berbicaralah dengannya. Tidak ada yang bisa kukatakan padamu." ucap Direktur Choo lalu pergi.
Suk Bong menahannya dan memohon padanya. Direktur Choo menepis tangan Suk Bong dan berlalu pergi.

Dirumah Boo Kwi Hoo sedang memikirkan perkataan dari Choo Young Dal. Sementara Tae Kyung yang sedang belajar dikejutkan dengan 'penampakan' Na Young di bukunya. Na Young melambaikan tangan padanya. Ia mencoba menghapus gambar Na Young yang tiba-tiba muncul. Tapi wajah Na Young muncul lagi (wkwk...Tae Kyung kena virus cinta monyet neh). Ia bertanya pada ayahnya. Jelas saja Boo Kwi Hoo tak melihat apa-apa disana. Ia menjitak kepala Tae Kyung (gak bapak gak kakaknya suka banget jitak kepala Tae Kyung).

Byung Do, Byung Eo, Pengurus rumah dan ayah Kang Woo sedang berkumpul sambil bernyanyi bersama. Byung Do menunjukkan besi magnet pada Pengurus rumah dan ayah Kang Woo. Ia bilang sepotong logam itu nantinya akan menghasilkan uang. Ia menjelaskan logam itu bernama Neodymium merupakan logam yang biasa digunakan untuk getaran ponsel selular. Dengan meyakinkan Byung Do bilang sedang mengerjakan proyek itu dan sebentar lagi ia akan menjadi kaya. Lalu Byung Do menerima telepon dari Direktur perusahaan Jepang. Byung Do keluar. Pengurus rumah dan ayah Kang Woo terkagum-kagum.
Di luar ia masih berbicara ditelepon. Ia mendekati Byung Eo yang tengah berjongkok dan juga sambil menelepon. Byung Eo mengerling padanya. Ternyata semua yang ia katakan tadi bohong. Yang meneleponnya adalah anaknya sendiri. Byung Do menutup telepon sambil tersenyum pada anaknya (dasar, anak ama bapak sama aja kelakuannya).

Suk Bong menemui Shin Mi di depan rumah sakit. Mereka duduk di bangku taman. Dari kaca jendela kamarnya Presdir Lee memperhatikan mereka berdua.
Shin Mi memberitahu Suk Bong bahwa ayahnya harus menjalani operasi. Suk Bong memberikan sekotak bekal pada Shin Mi. Ia mengancam Shin Mi untuk menghabiskan semua bekal itu. Shin Mi membuka bekal itu yang isinya sushi. Suk Bong berpamitan pulang.

Suk Bong juga membawakan sushi untuk Jeong Tae dan menyuapinya. Suk Bong mencoba menanyai Jeong Tae tentang ayahnya. Ia memberitahu Jeong Tae bahwa kalung itu adalah pemberian dari ayahnya untuk ibunya. Jeong Tae tersedak dan batuk-batuk. Suk Bong memberinya minum.

Di luar Tae Hee dan ayahnya datang ke rumah sakit. Direktur Boo membuka pintu dan terkejut mendapati Suk Bong tengah memotong kuku kaki Jong Tae yang tengah tertidur.. Tae Hee ikut masuk. Ia juga terkejut.

Boo Kwi Ho membawa Suk Bong dalam mobilnya. Tapi ternyata Tae Hee yang meminta Suk Bong naik mobil mereka. Ia menyuruh ayahnya berbicara pada Suk Bong. Boo Kwi Ho menyuruh supirnya menghentikan mobil. Ia menurunkan Suk Bong.


Di rumah sakit lain Shin Mi mengantar ayahnya menuju kamar operasi. Ia tampak mencemaskan ayahnya. Direktur Lee minta bicara berdua dengan Shin Mi. Para dokter dan perawat memberikan mereka waktu untuk bicara.
"Shin Mi apa kau benar-benar ingin tahu siapa ayah Choi Suk Bong?" ucap Presdir. "Baiklah aku akan memberitahumu. Aku tak tahu apa yang terjadi nanti."

Boo Kwi Ho berbicara empat mata dengan Suk Bong. Bukan Tae Hee kalau tidak menguping. Diam-diam ia bersembunyi di dekat mereka dan sebisa mungkin mencuri dengar pembicaraan ayahnya dan Suk Bong. Boo Kwi Ho tahu Tae Hee sedang menguping. Ia hanya tertawa melihat tingkah anaknya.
Direktur Boo memutuskan memberitahu siapa ayah Suk Bong sebenarnya.
"Ayahmu adalah Kang...Chul...Min..."
Suk Bong kaget. "Kang Chul Min?" tanyanya.
"Benar. Dia adalah sahabat Jeong Tae," beritahu Direktur Boo. "Dan dia juga teman dekat dari Lee Jong Heon."
"Maksud anda....Presiden Lee Jong Heon?"

Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...