Laman

Sabtu, 26 Desember 2009

My Girl (Episode 15)

Keruan saja, pemandangan mesra antara Gong-chan dan Yoo-rin membuat Seo-hyoon kehilangan kendali dan memutuskan untuk membongkar kebohongan keduanya. Sambil meminta maaf berulang kali, gadis itu memohon supaya Seol-woo kakek Gong-chan tidak mengampuni Yoo-rin.

Seolah menjadi pertanda bakal terjadi sesuatu yang buruk, bola kaca pemberian Gong-chan yang dipegang Yoo-rin mendadak terjatuh dan pecah berkeping-keping. Meski terpukul oleh kenyataan yang ada, Seol-woong meminta semua dirahasiakan sampai ia bisa menemukan cucu yang sebenarnya.

Bisa ditebak, tidak mudah bagi pria setengah baya itu untuk melepas Yoo-rin yang telah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Di tempat lain, Gong-chan berjanji bakal segera menyusul Yoo-rin ke Pulau Jeju meski gadis itu sempat punya ketakutan tersendiri kalau pria yang dicintainya tersebut bakal ingkar janji.

Setelah berpikir cukup panjang, Seol-woong memutuskan untuk memberitahu semuanya pada Yoo-rin, yang sudah tentu sangat terkejut dan tak henti-hentinya meminta maaf. Dengan suara berat, sang kakek meminta gadis itu untuk meneruskan rencana kepergiannya dan tidak bersatu dengan Gong-chan.

Pada saat yang bersamaan di tempat lain, Seo-hyoon yang diam-diam menyesali perbuatannya berpamitan untuk terakhir kalinya pada Gong-chan. Begitu keluar ruangan, gadis malang itu tidak bisa menahan air matanya dan hal itu terlihat oleh Jeong-woo yang kebetulan melintas untuk menemui Gong-chan.

Di rumah sambil terus menangis, Yoo-rin mengatakan bakal memenuhi keinginan Seol-woong asalkan dibiarkan bertemu Gong-chan, yang bakal mengantarnya ke bandara, untuk terakhir kali. Begitu pemuda itu sampai dirumah, Yoo-rin mati-matian menahan kesedihannya dan memaksa tersenyum supaya Gong-chan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Yoo-rin terus berusaha menahan air mata ketika Gong-chan memeluknya di bandara dan meminta gadis itu mau menunggu kedatangannya di Pulau Jeju, yang akhirnya pecah saat pemuda itu membalikkan badan dan beranjak pergi. Suara tangis gadis itu benar-benar memilukan, sampai-sampai sang ayah ikut merasa bersalah.

Di kantor, Gong-chan mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan akhirnya diberitahu sang sekretaris kalau Yoo-rin bakal pergi ke daerah lain yang tidak diketahuinya. Memacu mobilnya sekencang mungkin, pemuda itu terlambat sampai di bandara.

Begitu sampai dirumah, Gong-chan berlutut didepan Seol-woong sambil menangis tersedu-sedu dan tak henti-hentinya menyebut ia mencintai Yoo-rin. Namun, semuanya sudah terlambat............dan tanpa terasa dua tahun telah berlalu sejak kejadian itu.

Meski telah sekian lama, Gong-chan tetap meneruskan pencariannya terhadap Yoo-rin. Keadaan memang banyak berubah, Jeong-woo yang dulu lebih banyak hidup bersenang-senang berubah total menjadi eksekutif hotel dan mengisi peran sahabatnya. Tanpa sadar, Yoo-rin yang dicari ternyata berada tidak jauh dari Gong-chan, namun sayang ia tidak melihat gadis itu.


***
Rupanya meski telah dua tahun berlalu, kenangan manis bersama Yoo-rin tidak pernah lepas dari ingatan Gong-chan. Hal itu terlihat dari sejumlah koleksi bola kaca, yang selalu dibelinya setiap kali salju mulai turun. Sudah tentu, kesedihan pemuda itu terlihat oleh sang bibi yang telah mempunyai satu anak.

Di saat yang sama di tempat lain, Yoo-rin yang baru saja pulang kerja hanya bisa menatap turunnya salju dengan sedih meski sang ayah telah menyiapkan sambutan meriah. Kaget melihat bintang pemberian Gong-chan yang selalu disimpan dengan rapi menghiasi pohon natal, gadis itu berpura-pura benda itu tidak memiliki arti penting bagi dirinya.

Hidup berpindah-pindah membuat keberadaan Yoo-rin sulit dilacak, meskipun Gong-chan telah menyuruh sekretarisnya yang handal untuk berusaha. Langkah terakhirnya adalah menerima tawaran untuk pergi ke Jepang demi urusan pekerjaan sambil berharap bisa menemui gadis yang dicintainya.

Malam menjelang kepergiannya, Gong-chan telah ditunggu oleh Seo-hyoon didepan rumahnya. Rupanya meski disibukkan oleh rangkaian tur tenis dunia, gadis itu belum bisa melupakan pemuda itu. Bahkan ketika dinasehati, Seo-hyoon balik meminta Gong-chan supaya bisa melepaskan Yoo-rin dari hatinya.

Nasib kembali membuat Gong-chan dan Yoo-rin gagal bertemu meski keduanya sama-sama berada di bandara, Gong-chan sebagai penumpang menuju Jepang sementara Yoo-rin pemandu wisata yang mengantar tamu-tamunya. Sosok gadis itu malah pertama kali dilihat oleh Jeong-woo yang berusaha mengejar dan menutupi semuanya dari Gong-chan.

Tapi semuanya berubah ketika Gong-chan berada di pesawat, tanpa sengaja seorang penumpang menjatuhkan kartu nama pemandu wisata yang sedang dibicarakan oleh grupnya. Ketika mengambil kartu tersebut, bisa dibayangkan bagaimana ekspresi wajah Gong-chan saat nama dan foto Yoo-rin tercantum didalamnya.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Yoo-rin kembali ke pekerjaannya sebagai pemandu wisata dan bersiap menyambut rombongan berikutnya. Namun, alangkah terkejutnya gadis itu ketika Gong-chan muncul dihadapannya dan mengaku sebagai salah satu anggota rombongan.

Kali ini Yoo-rin tidak bisa mengelak lagi, apalagi setelah Gong-chan mematahkan kartu kreditnya sehingga otomatis pria itu tidak punya sepeser uangpun. Mau tidak mau, gadis itu cuma bisa pasrah saat Gong-chan meminta untuk diajak makan di sebuah restoran kecil.

Bahkan supaya tidak terpisah dari Yoo-rin, Gong-chan sampai berpura-pura sakit sambil menyalahkan semuanya ke gadis itu. Tidak kalah cerdik, Yoo-rin membawa Gong-chan untuk menyembuhkan penyakitnya ke seorang ahli tusuk jarum. Bisa dibayangkan apa jadinya, Gong-chan cuma bisa memandang ngeri.


Sumber :
http://www.indosiar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...