Laman

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 4)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 4

"Aku memang mengatakan suka disini. tapi..."

"Kau tidak menyukaiku?" tanya Soo Jin.

"Bukan itu maksudku." ujar Hyun Suh. "Aku hanya..."

"Takut aku akan memakanmu?" tanya Soo Jin. "Sebagai dokter, aku tidak mungkin membahayakan pasienku. Tidak perlu cemas. Aku tidak akan pernah masuk ke kamarmu walau hanya setengah langkah. Aku... akan memastikan kau hidup lebih lama." Soo Jin mengangkat tangannya, tanda berjanji.

Hyun Suh tersenyum.

Young In kelihatan kesal dan bosan setengah mati. Ia bekerja sebagai front liner, tapi dengan seenaknya melepas sepatu dan berjalan mondar-mandir. Resepsionis hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Soo Jin menunjukkan kamar Hyun Suh.

"Biar kuperlihatkan putra kita." kata Soo Jin.

"Putra kita?" tanya Hyun Suh bingung.

Soo Jin membawa Hyun Suh ke kamar Yoon. "Itu adalah putraku, Yoon."

"Yoon? Dengan suamimu yang sebelumnya?" tanya Hyun Suh.

"Bukan." jawab Soo Jin. "Mantan suamiku tidak peduli tentang Yoon. Ia tidak pernah menghubungi sekalipun."

"Pasti sangat melelahkan." kata Hyun Suh. "Membesarkan anak seorang diri."

"Aku sangat senang membesarkannya seorang diri." jawab Soo Jin. "Dan aku sangat bangga. Aku sangat bahagia karena memutuskan untuk melahirkan dia dan menjadi seorang ibu."

Seorang wanita berlari-lari ke arah Young In dengan panik.

"Tolong! Tolong aku!" kata wanita itu, kelabakan. "Tolong bantu aku mencari kancing bajuku!"

"Hah?" gumam Young In bingung.

"Ini pertama kalinya aku akan bertemu ibu calon mertuaku, tapi..." Wanita itu sangat panik dan bicara terburu-buru. "Aku duduk di sofa sana menunggu kekasihku. Kupikir kancingku hilang saat aku menuju toilet. Apa yang harus kulakukan?!"

Young In merangkak di sekeliling untuk membantu wanita itu mencari kancingnya.

Dari atas, Kyle melihatnya dengan bingung.

"Berapa lama lagi waktu yang kau miliki?" tanya Young In.

"Tidak sampai lima menit." jawab wanita itu. "Apa yang harus kulakukan?"

"Ini tidak akan berhasil." kata Young In. Ia berlari ke mejanya dan membuka laci untuk mengambil gunting. Ia menggunting kancing bajunya sendiri dan menyerahkannya pada wanita itu. "Apa kau punya jarum dan benang?"

"Ya, aku akan pergi kesana dan menjahitnya. Siapa namamu?"

"Sudah pergi saja!" kata Young In.

Wanita itu pergi dengan senang.

Kyle mendekati Young In dan melihat kancing kemeja atasnya terlepas. "Sampai kapan kau akan seperti itu?" tanyanya. "Kau ingin berdiri disini dengan penampilan seperti itu?"

"Tidak." jawab Young In, melihat penampilannya yang berantakan.

"Kalau begitu, cepat ganti pakaian."

Young In beranjak pergi.

"Nona, Young In, kerja bagus." ujar Kyle.

Di kamarnya di hotel, Hyun Suh masih kepikiran mengenai tawaran Soo Jin untuk tinggal bersama dirumahnya.

Keesokkan paginya, bel kamar Hyun Suh berbunyi. Dengan kesal karena masih mengantuk, Hyun Suh membukakan pintu dan melihat Young In disana. Tanpa dipersilahkan, Young In nyelonong masuk ke dalam.

"Aku tidak punya keahlian." kata Young In. "Jadi, karena kau aku bisa bekerja di hotel ini?"

Hyun Suh diam.

"Apa aku bisa bekerja disini karena kau?!" ulang Young In keras.

Hyun Suh tetap diam dan membuka lemari es untuk mengambil air. Young In merebut air Hyun Suh dan meminumnya.

"Jika aku bisa bekerja disini dengan bantuanmu, seharusnya kau menempatkan aku diposisi yang lebih baik!" keluh Young In. "Aku benar-benar berharap bisa mendapatkan uang dengan kemampuanku sendiri dan kerja keras."

"Walaupun kau tidak melakukan apapun, tidak apa-apa, tapi lakukanlah dengan benar." ujar Hyun Suh. "Aku akan memberimu gaji bulanan sekitar $60.000 walaupun kau tidak bekerja."

Young In meledak marah. "Maksudmu, kau ingin mengatakan 'tidak peduli apapun, aku akan membayarmu'?" serunya.

"Tidak ada yang berharap kau bisa melakukan banyak disini. Jika kau lelah di tengah jalan, kau boleh berhenti. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau." kata Hyun Suh seraya mengisyaratkan agar Young In keluar. Tapi Young in tidak bergerak sama sekali. "Apa kau tidak keberatan jika aku membuka baju? Aku ingin mandi."

"Silahkan saja." kata Young In, menantang. "Kau pikir dirimu hebat?!"

Dengan kesal, Young In keluar dari kamar Hyun Suh. Secara tidak sengaja, resepsionis melihatnya dan berpikiran macam-macam.

Kata-kata Hyun Suh membuat Young In sangat sangat marah. "Tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan tinggal dan berakar disini!" tekadnya.

Resepsionis mengajari Young In segala sesuatu mengenai hotel juga bagaimana cara mengucapkan salam dalam bahasa Inggris. Kini, Young In punya tekad untuk belajar. Sesekali, Kyle mengawasi mereka.

"Kenapa memperlakukan aku dengan baik?" tanya Young In. "Orang yang lain sepertinya membenciku. Aku datang dari pintu belakang, kau tidak tahu?"

Resepsionis itu hanya tersenyum dan berjalan mendahului Young In. "Aku tahu apa yang kau lakukan pagi ini." gumamnya pelan.

Young In berjalan mengikuti resepsionis. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan ayahnya, Young Kyu.

"Ah, Pak Kepala!" seru resepsionis. "Ini adalah karyawan baru, Choi Young In. Yang ini adalah Kepala Marketing. Tampan, bukan? Apa yang kau lakukan? Cepat sapa dia!"

Young in tersenyum pahit. Ia menyapa Young Kyu kemudian berjalan pergi.

Young In bersembunyi di dekat tangga dan menangis.

Ketika Young In sedang bekerja dan menjatuhkan buku, Hyun Suh menelepon untuk mengganggunya. Young In tidak tahu kalau Hyun Suh menelepon tidak jauh dari situ.

Tidak lama kemudian Kyle datang dan memperbolehkan Young In beristirahat.

Resepsionis menyebar gosip mengenai Young In dan Hyun Suh.

Ketika Hyun Suh datang, resepsionis itu buru-buru tutup mulut.

Hyun Suh masuk ke ruangannya. Ia orang yang perfeksionis, jadi tidak betah melihat sesuatu yang tidak rapi dan berantakan. Melihat kabel telepon yang melilit membuatnya gatal untuk merapikannya.

Ketika Hyun Suh sedang merapikan kabel-kabel yang saling melilit di bawah meja, tanpa sengaja ia melihat alat penyadap suara kecil disana.

Hyun Suh berpikir sejenak. Ia ragu mengambil penyadap suara itu.

Ketika Young In hendak makan di kantin, para karyawan memandangnya dengan aneh. Di kejauhan, ia melihat ayahnya sedang duduk. Tanpa mengatakan apa-apa, Young In pergi dan mengurungkan niatnya untuk makan di kantin.

Young In berakhir dengan makan mie instan sendirian di supermarket.

Tanpa sengaja, Hyun Suh melihatnya ketika hendak membeli payung karena hujan turun dengan lebat.

Hyun Suh melihat Hyun In. "Aku tidak suka makan sendirian." Hyun Suh teringat Young In pernah berkata.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, Hyun Suh memutuskan untuk menyapa dan menemani Young In makan.

Hyun Suh melihat satu mie instan lagi di samping Young In.

"Itu milikku, jangan berani menyentuhnya!" ancam Young In.

Hyun Suh mengambil mie instan itu. "Kau seharusnya memasukkan air panas sampai batas garis ini." katanya protes. "Tapi ini ada dibawah garis." Hyun Suh memasukkan air panas lagi.

"Kenapa kau merasa tidak senang?" tanya Hyun Suh setelah Young In selesai makan. "Yang mana yang terasa gatal?"

"Memangnya kau mau membantuku menggaruk?" tanya Young In.

"Lakukan sendiri!"

"Bagaimana jika aku tidak sampai?" tanya Young In. "Baik, baik aku mengerti. Biar aku garuk sendiri!"

"Turunkan tanganmu!" perintah Hyun Suh seraya membantu Young In menggaruk.

Young In dan Hyun Suh hanya duduk diam menunggu hujan berhenti sampai-sampai tidak menyadari bahwa Soo Jin sudah menelepon beberapa kali.

"Kau suka hujan?" tanya Young In.

"Hujan, salju, aku suka keduanya." jawab Hyun Suh.

"Aku akan membawamu melihat salju lain kali." janji Young In.

"Kapan? Saat musim salju?" tanya Hyun Suh. "Jika kau bisa memperlihatkan salju padaku, aku akan memberimu... $100.000. Kau harus menyiapkan uang $40.000. Aku berhutang $60.000. Jadi $100.000 dikurangi $60.000 tinggal $40.000."

"Baik!"

Dengan kemampuan Kyle yang tinggi, Kang Chul Goon bingung kenapa Kyle bersedia bekerja dan ditempatkan di Seoul. Ditambah lagi, Hyun Suh hanya menempatkan Kyle dibagian pengawas.

Hyun Suh pulang ke rumah Soo Jin. Ia kurang suka melihat ayam yang dipelihara Yoon. Anak kecil saja ia tidak suka apalagi ditambah ayam?

Yoon mengganggu Hyun Suh dengan mengikuti gerakannya. Jika Hyun Suh bertolak pinggang, Yoon akan ikut bertolak pinggang.

Young In kembali ke hotel. Disana, Kyle sedang duduk menjaga meja pengawas.

Saat Young In datang, Kyle beranjak pergi.

"Milikmu ketinggalan!" seru Young In, menyerahkan sebuah buku dengan sampul bertuliskan Nikko Hotel. Kyle diam. "Ini bukan milikmu?"

"Itu adalah jurnal." kata Kyle. "Disana tertulis rahasia laporan hotel. Disana tidak tertulis laporan keberhasilan, hanya kegagalan. Kegagalan akan membuat pembaca berpikir dan menganalisa lagi. Kini buku itu menjadi milikmu."

Kyle berjalan pergi. Young In membuka-buka halaman buku. Semuanya tertulis dalam bahasa Inggris. Tidak satu katapun dalam buku itu bisa dimengerti Young In.

Young In mengejar Kyle. "Ini.. Ini ditulis dalam bahasa Inggris." katanya terengah-engah.

Kyle tidak mau mendengar penjelasan Young In. "Baca buku itu dalam waktu satu bulan dan tulis laporan untukku." Kyle pergi. Ketika membelakangi Young In, ia tersenyum.

Hyun Suh berpikir dan bekerja sampai larut malam. Ia berusaha mencari tahu siapa yang mungkin meletakkan penyadap suara itu dibawah mejanya. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan David.

"Aku punya proyek khusus untukmu." kata David. Hotel "Empire tidak tahu kenapa kau datang ke sana. Apa yang kau lakukan, mereka tidak tahu. Mereka tidak boleh tahu."

David memerintahkan Hyun Suh untuk mengawasi hotel dan menyusun lagi sistem manajemennya.

Mendadak Soo Jin mengetuk pintu. Ia menunjukkan sebuah foto lama ketika Hyun Suh mengecup pipinya. "Kenapa kau melakukan itu?"

Hyun Suh tersenyum dan mengangkat bahu.

Young In tidak bisa tidur. Ia mengirim sms ke Hyun Suh. "Karena kau takut hujan lagi, maka kau memberiku payung. Itu sangat menyentuh."

Hyun Suh membalas, "Sangat merepotkan membawanya. Karena itulah aku memberikannya padamu."

Young In kesal. Ia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan foto masa kecilnya bersama ayahnya, Young Kyu.

Keesokkan harinya, Kyle datang ke hotel untuk bekerja. Mata resepsionis tertuju padanya, tapi sayang mata Young In tertuju pada Hyun Suh.

Hyun Suh masuk ke kantornya. Ia melihat Sekretaris Wu seedang membersihkan mejanya.

"Apa kau sudah membersihkan ruanganku sejak pagi?" tanya Hyun Suh.

"Ya, Pak." jawab Sekretaris.

"Terima kasih." kata Hyun Suh.

Sekretaruis Wu menyerahkan sebuah amplop pada Hyun Suh. "Disitu hanya tertulis namamu." katanya.

Setelah Sekretarisnya keluar, Hyun Suh membuka amplop itu. Kertas di dalam amplop dilipat dengan lipatan yang biasa digunakan olehnya dan adiknya, Ronny. Isi surat tersebut hanyalah alamat. Apartemen Seoul Villa. Lantai 3. Kamar 102.

"Apa ini?" gumam Hyun Suh.

Hyun Suh langsung menelepon Young In. Tapi saat itu Young In sedang berada di toilet.

Setelah keluar, Hyun Suh mengajaknya bicara.

Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Gun Young dan kekasihnya.

"Kami datang kemari untuk makan." kata kekasih Gun Young, pamer kemesraan pada Young In. "Ah, kau pakai rok!"

Hyun Suh melihat Young In dan tersenyum tipis.

"Apa kau masih berpacaran dengannya?" tanya Gun Young, menunjuk Hyun Suh. "Dia tidak kelihatan pantas untukmu."

"Ayo." Hyun Suh mengajak Young In pergi.

Young In diam. Kini kesabarannya sudah habis. Young In maju dan mengomeli Gun Young dan kekasihnya habis-habisan. "Aku bukan tipe orang yang mudah melepaskan! Kita merampas disini dan disana! Takut?! Kita sudah bersama sejak lama! Cinta segitiga, hah?! Ayo kita coba!"

"Bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh.

"Kau?!" seru Young In. "Kau juga bisa bergabung! Dalam beberapa hari... Tidak, perlahan-lahan aku jatuh cinta padamu. Jadi kau bisa ikut bergabung!"

"Pertunjukkan ini harus diakhiri." Hyun Suh berbisik pada Young In.

"Pertunjukkan?! Tidak, kali ini aku serius!" seru Young In. "Saat di airport memang pura-pura, tapi sekarang tidak. Aku suka padamu." Young In mengatakan itu dengan sangat santai. "Kau membuatku tenang, karena itulah aku menyukaimu. Bagaimana perasaanmu padaku?!"


Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 3)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 3

"Silahkan masuk, Presiden." kata Kyle, menyambut Hyun Suh. Ah, rupanya para karyawan salah paham. Mereka mengira Kyle adalah Presiden, padahal presidennya Hyun Suh.

"Aku tidak tahu kau akan datang." kata Hyun Suh pada Kyle.

"Aku baru saja memutuskan untuk datang." jawab Kyle.

"Ayo kita masuk." ajak Hyun Suh, namun wanita pengantar tidak mengizinkan dan meminta Kyle menunggu di luar.

Di dalam, Hyun Suh bertemu dengan beberapa orang penting, diantaranya adalah Park Jung Moon dan Kepala Manajer, Kang Chul Goon.

Young In dan sahabatnya (sekaligus selingkuhan Gun Young) bekerja di klinik kecantikan yang sama. Ia meminta sahabatnya itu keluar dan menjambak rambutnya habis-habisan.

"Beraninya kau mencuri pacarku!" teriaknya marah. "Ibuku bahkan sudah mengenalnya! Apa yang harus kukatakan padanya?! Dasar wanita murahan! Dan kau meminjam uang $50 untuk baju itu tapi belum membayarnya! Kembalikan yang dan pacarku!"

Selingkuhan Gun Young berteriak-teriak histeris.

Ah, rupanya lagi-lagi itu hanya imajinasi Young In. Young In berharap melakukan itu pada sahabatnya, namun pada kenyataannya tidak.

"Selamat atas hubungan barumu." kata Young In seraya menyerahkan sebuah pot berisi tanaman.

Sahabatnya ragu-ragu menerima tanaman itu.

"Selamat untukku karena mengakhiri hubunganku." kata Young In, memegang pot tanaman yang satunya lagi. "Tidakkah ini kelihatan seperti ekor merak? Ini air mataku, jaga baik-baik."

Sungguh sial untuk Young In. Pemilik klinik adalah Bibi selingkuhan Gun Young sehingga Young In dipecat.

Para pihak Empire Hotel membicarakan Hyun Suh habis-habisan. Mereka mengatakan Hyun Suh agar sakit otaknya. Resepsionis hotel bercerita bahwa Hyun Suh tidak suka kamar perokok, kamar yang pernah di tempati anak kecil, atap bergaris-garis, lukisan yang membingungkan dan lain sebagainya. Bagi para wanita, Hyun Suh sangat tidak asik.

Hyun Suh bekerja terus tanpa berpaling. Ia mengerjakan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan sekretarisnya.

Young In memeriksa di rekeningnya. Ia terkejut melihat uang di rekeningnya ludes. Saldo di rekeningnya 0 won dan di rekeningnya yang lain tinggal 3000 won.

Melihat pesawat di televisi membuatnya teringat pada Hyun Suh. Young In duduk diam, bingung seraya memandang tissue yang tertulis nomor telepon Hyun Suk. Uangnya sudah menipis. Haruskah ia menelepon Hyun Suh untuk meminta uang ganti karena telah menyelamatkan nyawanya?

Young In mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor telepon Hyun Suk, tapi mengurungkan niatnya. Mendadak tissue tersebut diterbangkan angin dan tertabrak bus. "Ah, sungguh sial." gumamnya kesal. Tapi nomor telepon Hyun Suh sudah ia ketik di ponselnya.

Soo Jin menelepon Hyun Suh dan mengajaknya bertemu. Soo Jin berjanji akan membantu Hyun Suh mencari tempat tinggal untuknya selama beberapa bulan di Korea.

Di lain pihak, di kantor Hyun Suh, sekretaris dengan diam-diam memasang alat penyadap suara di bawah meja Hyun Suh.

Mi Hee hendak menyapa tetangga sebelah kamarnya untuk berkenalan. Ia membawakan seepanci makanan. Mengetahui hal itu, Jae Don begegas berlari untuk menghalangi. Ia meludahi panci itu, kemudian membawanya kembali ke kamar mereka.

"Kau!!!" teriak Mi Hee, mengamuk.

Jae Dong memperingatkan ayahnya untuk segera pindah. "Kakak dan Ibu sangat kuat." katanya dalam sms. "Jika mereka tahu, kau akan mati."

"Putraku. Maafkan aku. Aku manyayangimu. Maafkan aku." ujar Young Kyu dalam balasan smsnya.

Akhirnya Young In memutuskan untuk menelepon Hyun Suh.

"Apa kau ingat aku? Aku gadis U-Turn." kata Young In.

"Ada apa?" tanya Hyun Suh. Saat itu ia sedang bersama Soo Jin.

"Aku ingin bertanya apakah kau baik-baik saja..." kata Young In tidak enak.

"Aku akan memberikannya padamu." kata Hyun Suh. "Aku akan memberikannya padamu, tapi kita bicara nanti saja." Ia menutup telepon.

Young In kesal setengah mati.

Keesokkan harinya, Soo Jin mengajak Hyun Suh ke sebuah apartemen. Mulanya Hyun Suh senang, tapi kemudian ia menemukan sebuah celana dalam wanita.

"Kau bisa membeli tempat tidur baru." kata Soo Jin.

Hyun Suh langsung jijik. "Aku tidak suka." katanya dingin, kemudian berjalan pergi.

Sulit menemukan tempat tinggal yang pas untuk orang perfeksionis seperti Hyun Suh.

Young In bersusah payah mencari pekerjaan, namun belum juga bisa menemukannya.

Di lain pihak, Hyun Suh mencari-cari restoran yang bisa menjual galbi 1 porsi, tapi semua restoran hanya menjualnya 2 porsi.

Young In datang ke Empire Hotel untuk melamar pekerjaan sebagai tukang pijat. Pengelola klinik memintanya mendemonstrasikan pijatan padanya. Bukannya menilai, ia malah tidur.

Kyle menemui seorang tamu hotel. Tamu tersebut adalah seorang gadis Jepang yang hanya bisa bicara bahasa Jepang. Gadis itu meminta Kyle mengobrol dan bermain kartu dengannya.

Ketika sedang bermain kartu, mendadak gadis itu secara spontan bicara dengan bahasa Korea.

"Kau pandai berbahasa Korea." kata Kyle, tersenyum padanya.

"Ya, hanya sedikit." kata gadis itu.

"Teruslah bicara, lama kelamaan kau akan bisa." kata Kyle ramah.

Young In membangunkan pengelola yang tertidur.

"Apa kau membangunkan aku?" tanya pengelola. "Ck ck ck. Jika pelanggan tertidur, kau harus menunggu. Tapi kau malah membangunkannya?"

"Aku tahu itu." bantah Young In. "Tapi ini situasi yang berbeda."

Pengelola tidak mau mendengar penjelasan dan menyuruhnya menunggu hasilnya besok.

Young In pulang dengan kesal. Di lobi, ia berpapasan dengan Hyun Suh.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Hyun Suh. "Ayo bicara di luar."

"Kemana kita akan pergi?" tanya Young In, mengikuti Hyun Suh yang berjalan cepat.

"Untuk mengambil uang." jawab Hyun Suh. "Mulanya aku ingin meneleponmu, tapi sepertinya kau tidak sabar. Itu tidak penting. Aku akan memberimu uang dan membayar hutangku."

Young In merasa sangat terhina, Ia berjalan ke arah yang berlawanan.

"Mau kemana kau?!" panggil Hyun Suh.

Young In tidak mau mendengarkan. Ia mengalihkan perhatiannya dengan berpikir perhitungan matematika.

"Baik!" seru Young In kesal. "Ayo kita ambil uang. Berapa banyak yang akan kau berikan?"

"Berapa banyak yang kau minta?" tanya Hyun Suh. "$60.000?"

"Aku ingin lebih dari itu. Berikan aku $600.000." kata Young In.

"Kau pikir aku lotere bagimu?"

Young In merengek dan berkata keras mengenai masalahnya. Semua orang yang lewat menoleh pada mereka. Kyle melihat dari jauh.

"Baik, baik aku mengerti." kata Hyun Suh, meminta Young In berdiri.

"Kalau begitu, belikan aku makan $6." kata Young In.

Young In dan Hyun Suh makan bersama di sebuah restoran biasa. Melihat Young In makan, membuat nafsu makan Hyun Suh hilang. Ia terlalu jijik untuk makan semangkuk lauk bersama dengan Young In.

"Aku tidak suka makan sendirian. Kau selalu makan sendirian, bukan?" tanya Young In. "Apa karena kau tidak suka berbagi makanan?"

Setelah selesai makan, Young In mengajak Hyun Suh minum di pinggir jalan.

"Kau ingin lebih dari makan malam seharga $6, bukan?" tanya Hyun Suh.

"Ya." jawab Young In. "Aku ingin mengajakmu makan malam seharga $6 sampai jumlahnya $600.000. Dengan begitu, aku tidak akan makan sendirian lagi."

"Maaf, tapi jika aku harus makan malam denganmu 10.000 kali, itu artinya membutuhkan waktu 30 tahun." protes Hyun Suh. "Sekarang aku berumur 30. Kau pikir aku ingin makan bersamamu sampai umurku 60? Cepat atau lambat kau akan menikah, punya anak dan suami. Bagaimana kau bisa keluar setiap hari dan makan malam bersamaku? Apa kau mengincarku? Apa secara tidak langsung kau memintaku menikah denganmu? Apa kau ingin hidup bersamaku?"

Young In diam, tidak menjawab. Rupanya ia mabuk. "Apa aku bilang aku ingin hidup denganmu?!" serunya. Ia oleng dan terjatuh ke tanah.

Soo Jin menelepon Hyun Suh.

"Jangan terlalu banyak minum. Tidak baik untuk jantungmu." pesan Soo Jin. "Apa kau mau makan malam bersamaku besok?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

Ia kembali ke kedai. Young In sudah tidak ada disana. Minuman sudah dibayar dan di meja ada beberapa lembar uang.

Hyun Suh duduk diam dan minum sendirian. Ia berpikir.

Pagi itu, Gun Young menelepon. Karena Young In belum bangun, Mi Hee yang mengangkatnya.

"Katakan padanya aku masih tidur." kata Young In.

Setelah menutup telepon, Mi Hee keluar. Ponsel Young In berbunyi langi. Kali ini Young In mengangkat sambil marah-marah.

"Untuk apa kau menelepon?!" teriaknya. "Semua yang kau katakan hanya alasan! Dasar bodoh! Idiot! Brengsek! Berhenti menelepon!"

Tapi kali ini yang menelepon bukan Gun Young melainkan pihak klinik Emperor Hotel. Telepon tersebut loudspeaker. Mereka kebingungan mendengar omelan itu, termasuk Hyun Suh.

Rupanya Hyun Suh meminta pihak hotel untuk menerima Young In bekerja disana. Ia meminta Kyle untuk menangani Young In.

"Aku atasanmu." kata Kyle ketika Young In sudah tiba di hotel.

"Apa kau punya teknik memijat?!" seru Young In, terkejut.

Kyle membawa Young In pada petinggi Hotel untuk di wawancarai. Mereka bingung kenapa Hyun Suh mau memasukkan orang yang tidak memiliki kemampuan apapun seperti Young In.

"Wakil presiden, Jangan-jangan, ia adalah anak rahasia manajer... mungkin adiknya?"

"Ia pasti punya kemampuan." kata Kang Chul Goon. "Karena itulah ia memilihnya."

Young In bekerja di hotel bukan sebagai tukang pijat, melainkan seorang pengawas dibawah komando Kyle. Tugas pengawas adalah menerima keluhan (dan omelan) tamu hotel.

Setelah berganti seragam, Young In berpapasan dengan Hyun Suh.

"Kita harus segera pergi, Presiden." kata sekretaris pada Hyun Suh.

Young In terkejut mendengarnya. Presiden?

Hyun Suh pergi bersama Soo Jin.

Soo Jin mengajak Hyun Suh ke rumahnya. Soo Jin sendiri yang memasakkan makanan untuk makan malam mereka.

"Aku sudah lama tidak makan masakan rumah." kata Hyun Suh. "Aku ingat saat kuliah kau juga memasak untukku. Sangat lezat."

"Bagaimana dengan rumah ini?" tanya Soo Jin.

"Aku suka." kata Hyun Suh.

"Apa kau ingin tinggal disini?" tanya Soo Jin. "Tinggallah bersamaku."

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 2)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 2

Setelah pesawat U Turn, Young In membawa Hyun Suh ke UGD.

Kyle menghadiri pemakaman Tuan Nitoshi Sato, Presiden Hotel Nikko yang sebelumnya. Ia memandang Tuan Nitoshi dengan sedih.

Jenazah itu membuka matanya. "Kau memulai karirmu dari front desk, aku juga memulai karirku dari front desk." katanya.

"Presiden..." gumam Kyle.
"Bekerja di hotel dari bawah, lalu naiklah setahap demi setahap." pesan presiden.

Kyle menangis. Rupanya semua itu hanya ingatan Kyle akan pesan presiden ketika masih hidup. Kyle melepas cincin presiden, kemudian menyimpannya.

Ia pergi ke atap sebuah gedung, menangis dan berteriak dengan bahasa Jepang. "Nikko banzai! Sato sama Banzai!"

Ketika sedang di dalam apartemennya, ibu Young In, Mi Hee, merobek-robek foto seorang pria. Pria tersebut tidak lain adalah ayah Young In, Choi Young Kyu. "Sebelum Young In datang, aku harus membakar semua foto ini." ujarnya ngedumel.

Adik Young In, Choi Jae Dong datang. Ia bersembunyi di kamar mandi dan meminta pada ibunya agar diizinkan tinggal di tempat itu juga.

Tanpa mereka ketahui, Choi Young Kyu dan keluarganya tinggal di sebelah apartemennya, kamar no. 1002.

Hyun Suh sadar dan membuka matanya.

"Kau pernah melakukan operasi jantung, bukan?" tanya Dokter.

Hyun Suh mengangguk. "Ya." jawabnya.

"Aku tidak menemukan kelainan dan jantungmu juga dalam kondisi yang baik." kata Dokter. "Rasa sakit pada dadamu disebabkan oleh stress yang berat atau tekanan."

Hyun Suh keluar dari ruang UGD dan berjalan melewati Young In, tanpa menoleh sedikitpun. Young In kesal setengah mati.

Hyun Suh berjalan menuju pada para pramugari dan pilot, kemudian mengucapkan terima kasih pada mereka. Para pramugari mengatakan bahwa yang menyelamatkan nyawa Hyun Suh adalah seorang penumpang wanita.

Hyun Suh kembali di pesawat. Young In sudah duduk disana sambil cemberut. Ia memberikan tas Hyun Suh dengan kasar. Hyun Suh diam.

Mi Hee mengusir Jae Dong. "Keluar!" teriaknya seraya memukuli putranya. "Sifatmu sama dengan ayahmu! Selalu membuatku marah setiap saat!"

"Ibu, sangat sulit hidup sendirian!" seru Jae Dong. "Aku terlahir lemah, tidak punya cita-cita, tidak punya rasa keingintahuan pada sesuatu! Tolong biarkan aku tinggal disini agar aku bisa dilindungi oleh keluarga jadi aku bisa menyelesaikan kuliahku."

Mi Hee tidak mau mendengar alasan apapun yang dikatakan Jae Dong dan tetap mengusirnya pergi.

Young In makan siang di pesawat dengan rakus. Ia menjatuhkan makanannya, kemudian memakannya lagi.

"Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Young In kesal pada Hyun Suh.

Hyun Suh diam sesaat. "Jangan jatuhkan apapun lagi. Kau terlihat seperti orang barbar." katanya acuh.

Young In bertambah kesal. Ia mengambil makanan Hyun Suh dan memakannya.

Jae Dong mencoba membujuk ibunya. Ia sengaja membelikan ibunya tissue toilet untuk meluluhkan hatinya. Setelah itu, ia memberikan sebuah gembok.

"Kunci aku di dalam kamar." kata Jae Dong. "Aku akan terus belajar. Aku yakin kali ini akan lolos dalam ujian menjadi hakim."

Keesokkan harinya, Young In dan Hyun Suh tiba di Korea.

"Jangan sampai kita bertemu lagi." kata Young In sinis pada Hyun Suh. Ia berjalan, hendak pulang, namun tiba-tiba mantan kekasihnya, Gun Young, muncul dihadapannya.

Dengan cuek, Hyun Suh berjalan melewati mereka.

Young In berpikir sejenak, kemudian berteriak memanggil Hyun Suh, "Sayang!"

Hyun Suh bingung. Young In menggandeng tangan Hyun Suh keras hingga Hyun Suh tidak bisa melepaskan diri. Ia mendekati Gun Young.

"Berkat kau, aku bisa membawa seorang kekasih dari Las Vegas."kata Young In pada mantannya.

"Tidak, aku bukan... Aku bukan..."

Young In mencoba membuat Hyun Suh diam dengan mengecup pipinya. Hyun Suh terkejut. Akhirnya ia setuju bekerja sama.

"Ya, selain makan dan tidur, kami selalu bersama." kata Hyun Suh.

Young In kemudian mengajak Hyun Suh pergi.

"Lepaskan aku." kata Hyun Suh. Ia menoleh ke belakang. Gun Young masih melihat mereka dari jauh. "Ia sudah pergi. Jangan katakan kau ingin mengajakku naik ke bus bersama juga?"

Young In melepaskan tangan Hyun Suh. "Ayo pergi bersama, tolonglah." katanya.

Hyun Suh berpikir sejenak. Ia berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik untuk naik ke bus bersama Young In.

"Ia mencampakkanmu?" tanya Hyun Suh di dalam bus. "Jika ia mencampakkanmu, lalu apa gunanya semua ini?"

"Tolong diam." kata Young In, hampir menangis.

Kau pikir dengan begitu ia akan kembali padamu?" tanya Hyun Suh, di dalam bus. "Seorang pria yang pergi kemudian kembali lagi bukan seorang pria yang baik. Lupakan saja dia. Ia pria gila yang jahat."

Young In menangis. Hyun Suh memandang ke belakang sekilas, kemudian diam.

Di tempat lain, seorang wanita sedang berbelanja. Mendadak, seorang anak yang sedang bermain-main sepatu roda di supermarket tertabrak troli dan terjatuh. Ibunya berpikir putranya hanya terjatuh biasa, namun mendadak anak itu pingsan dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Jae Min!" teriak ibunya panik.

Wanita tadi bergegas menolong dan membawanya ke dalam ambulans. Rupanya wanita itu adalah seorang dokter. Ia mengambil ponselnya. "Siapkan operasi secepatnya." katanya pada orang di telepon. "Kami akan tiba dalam 5 menit!"

Sesampainya di rumah sakit, dokter itu langsung melakukan operasi.

"Pendarahannya terlalu banyak!" kata seorang asisten pria. "Sebenarnya masalahnya ada dimana? Jika seperti ini terus, ia akan berada dalam bahaya!"

Setelah turun dari bus, Young In mendekati Hyun Suh. Ia mencari-cari sesuatu dalam saku celananya.

"Ada apa lagi?" tanya Hyun Suh dingin. "Ah, aku tahu! Sejak di pesawat kau ingin aku mengucapkan terima kasih, bukan?"

Young in belum sempat menjawab tapi Hyun Suh sudah nyerocos.

"Kau ingin aku memberikan uang sebagai ganti telah menyelamatkan nyawaku?" Hyun Suh mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya pada Young In. "Dengan ini, aku tidak berhutang apapun lagi padamu. Bolehkah aku pergi sekarang?"

Young In bingung sejenak tapi tetap menerima pemberian Hyun Suh. Ia menemukan apa yang ia cari di saku celananya. Sebuah surat. Ia menyerahkan surat tersebut pada Hyun Suh kemudian berjalan pergi.

Young In pulang ke rumahnya yang lama, tapi tidak bisa menemukan seorangpun disana. Ia menelepon ibunya. "Ibu, kenapa rumah kita dijual?!" seru Young In.

"Young In, dimana kau?" tanya Mi Hee, meletakkan sampah di depan elevator.

"Dimana lagi?! Di depan pintu rumah kita!" seru Young In mengamuk.

"Aku akan segera kesana!" kata Mi Hee, masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.

"Siapa yang meninggalkan sampah disini?!" seru Young Kyu.

Hyun Suh duduk di pinggir taman dan membuka surat yang diberikan Young In. Itu surat dari adiknya Ronny, dan dilipat dengan lipatan yang aneh.

"Kakak," ujar Ronny dalam suratnya. "Apa kau ingat saat kau mengajarkan aku bagaimana caranya melipat surat seperti ini? Aku lahir di Korea, tapi aku tidak memiliki kenangan sama sekali disana. Setiap kali aku melihatmu melipat surat, aku tahu, walau kau sangat membencinya, tapi kau ingat mengenai Korea.. mengenai ibumu. Tapi Kakak, jika aku melihat surat seperti ini, kaulah yang kuingat. Kau adalah Korea bagiku... Kau adalah ibu bagiku. Aku mengerti bahwa kau membuat keputusan yang sulit untuk pergi ke Korea. Aku menyayangimu, Kakak. -Ronny-"

Jae Dong dikurung dalam kamar. Ia meminta ibunya membelikan sesuatu, tapi karena Mi Hee harus menjemput Young In, ia membukakan pintu dan menyuruh Jae Dong keluar.

Trik Jae Dong berhasil. Ia malah pergi ke toko buku untuk membaca komik.

Ia melihat seorang anak kecil yang sedang membaca komik. Setelah puas membaca, anak itu memanggil ayahnya. Jae Dong terkejut melihat pria itu.

"Apakah kau.. A.. a.. ayah?!" tanya Jae Dong pelan.

Jae Dong dan Choi Young Kyu berjalan pulang bersama. Young Kyu memerintahkan putranya yang kecil untuk pergi terlebih dulu agar ia dan Jae Dong bisa bicara berdua.

Jae Dong bersujud di hadapan ayahnya.

"Kau sudah dewasa." kata Young Kyu. "Dimana kakakmu? Bagaimana ibumu?"

"Kau sudah kembali." kata Mi Hee pada Young In.

"Ya, ibu." jawab Young In dingin. "Kenapa kau melakukan ini dibelakangku?"

"Sup udah kesukaanmu sudah menunggu di rumah." kata Mi Hee. "Ayo pulang."

"Pulang kemana?" tanya Young In marah. "Rumah? Rumah apa?"

"Aku mengambil tabunganmu." kata Mi Hee. Young In sangat terkejut. "Masih ada sedikit deposit dan masih ada rekening yang lain."

"Jadi kau... ketika aku pergi... Kenapa kau melakukan ini?!" teriak Young In. "Kau tahu bagaimana aku mendapatkan uang itu?!"

Di tempat lain, Jae Dong menceritakan hal yang sama pada Young Kyu.

"Apa ibumu sudah gila?!" seru Young Kyu. "Bagaimana bisa dia melakukan itu pada kau dan kakakmu?!"

"Ayah, kau seperti tidak tahu ibu." ujar Jae Dong. "Ia tidak pernah berpikir sebelum bertindak!"

"Bagaimana denganmu?" tanya Young Kyu. "Kau membenciku, bukan?"

"Bagaimana bisa aku menyukaimu?" ujar Jae Dong jujur.

Di rumah sakit, dokter berhasil menyelamatkan nyawa si anak. Ia kembali ke kantornya untuk beres-beres.

"Kang Soo Jin." terdengar suara seorang pria. Dokter Kang Soo Jin menoleh dan melihat Hyun Suh datang. "Kau masih sangat cantik seperti dulu. Membuatku merasa pahit, sama seperti dulu."

Hyun Suh kelihatan sangat senang bertemu dengan Soo Jin, tapi sebaliknya, Soo Jin kelihatan sangat terkejut dan tidak senang.

"Dokter, jangan berpura-pura tidak mengenalku." kata Hyun Suh. "Seorang pasien sepertiku sangat senang bertemu denganmu."

Soo Jin tersenyum. "Siapa kau?"

Hyun Suh tertawa. "Mulai saat ini, hatiku milikmu."

Soo Jin mengantar Hyun Suh sampai ke depan rumah sakit.

"Kita baru bertemu sebentar tapi kau sudah mengusirku." kata Hyun Suh. Ia berkata bahwa Soo Jin adalah orang pertama yang diingatnya begitu tiba di Korea. "Teman, apa kau tahu seberapa besar aku merindukanmu?" tanyanya, lalu berjalan pergi.

Hyun Suh mencoba tersenyum ceria di depan Soo Jin, tapi begitu pergi senyumnya menghilang.

Hyun Suh menaiki sebuah taksi. Ia melihat sebuah kalung berbandul hati dengan sedih.

Soo Jin berlari-lari menjemput putranya. Ia melihat jam tangannya. Sudah sangat terlambat.

Putra kecil Soo Jin, Yoon, saat itu sedang makan di sebuah restoran bersama anak ayamnya. Begitu melihat ibunya, ia bergegas mengejar. "Ibu!" panggilnya.

Yoon mengajak ibunya ke restoran tempatnya tadi makan.

Soo Jin melihat putranya dengan sayang. Sekilas, ia teringat pada pertemuannya dengan Hyun Suh di rumah sakit.

Hyun Suh tiba di sebuah hotel mewah, Empire Hotel. Ia mendekati front desk untuk memesan kamar.

"Aku tidak ingin kamar perokok." kata Hyun Suh. "Aku tidak ingin kamar yang pernah dipakai oleh keluarga yang punya anak. Dan satu lagi. Aku tidak ingin langit-langit dengan motif garis-garis. Lukisan kecil membuatku tidak bisa tidur. Dan juga, aku tidak ingin lukisan yang kelihatan membingungkan. Aku lebih suka double bed."

Wanita itu kelihatan sangat kesal.

Mi Hee mengajak Young In ke apartemen baru mereka. Young In kelihatan tidak senang.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Young In dingin.

"Aku tidak ingin sendirian." kata Mi Hee. "Jika kau menikah dengan Gun Young, aku ingin tinggal beberapa tahun dengan menantuku. Kau tidak suka? Kau tidak ingin aku melakukan ini?"

"Kau harus mengeriting rambutmu besok." kata Young In. "Aku akan memberikan uangnya."

"Kenapa kau tidak marah?" tanya Mi Hee heran.

Young In berjalan menuju kamarnya. Ia heran melihat sebuah kamar yang digembok.

"Aku menyewakan kamar itu." kata Mi Hee.

"Pada siapa?" tanya Young In.

"Jae Dong."

Young In langsung meledak marah dan ingin mendobrak pintu. "Buka, Jae Dong! Kita harus menyelesaikan ini sampai salah satu dari kita mati!"

Jae Dong ketakutan. Ia menahan pintu agar Young In tidak bisa masuk.

Hyun Suh dan Young In punya satu kesamaan, yakni suka menghitung jika tidak bisa tidur. Hyun Suh suka menghitung jumlah gambar di langit-langit kamar sementara Young In suka menghitung perkalian matematika.

Keesokkan harinya, seorang pria tampan datang. Wanita front desk sangat senang dan terpana melihatnya.

"Dimana kantor Direktur?" tanya pria itu.

"Ada di lantai 15. Tolong tunggu sebentar." kata si wanita seraya meraih ponsel. "Sempurna!"

Pria itu menoleh. Ia tidak lain adalah Kyle.

Para wanita buru-buru berdandan dan mempercantik diri.

Wanita itu mengantar Kyle ke ruang Direktur. Tidak lama kemudian, Hyun Suh juga akan menuju ke tempat yang sama.

Semua ketua masing-masing bagian hotel menyambut kedatangan Kyle.

"Selamat datang, Presiden!" sapa Young Kyu pada Kyle, mendahului semua karyawan yang lain.

Hyun Suh muncul di belakangnya. Kyle menoleh. Hyun Suh terkejut melihatnya.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 1)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 1


"Untuk apa kau datang kemari Tuan?" tanya seorang pengurus Hotel.

"Minggir!" bentak seorang pria.

Pengurus hotel tidak mengizinkannya lewat. "Kyle." panggil seseorang dari belakang, Yoon Hyun Suh.

Pengurus hotel yang ternyata bernama Kyle itu minggir untuk mempersilahkan Hyun Suh lewat.

"Pemilik Nikko adalah tamu, bukan pegawai ataupun pemegang saham!" kata seorang pria, marah-marah pada Hyun Suh. "Kalian tidak bisa membeli kami dengan uang, jadi hentikan semua ini sekarang juga!"

Dengan tenang, Hyun Suh membungkuk untuk memberi hormat pada pria dari Hotel Nikko. "Selamat datang di jantung Caesar." katanya.

Pria dari Nikko berlutut di hadapan Hyun Suh. "Nikko adalah segalanya bagi kami." kata pria itu. "Bisakah kau melepaskan kami?"

Hyun Suh ikut berlutut, kemudian dengan santai meminta pria itu pergi.

Yoon Hyun Suh adalah Manajer Tertinggi Hotel Caesar di Amerika.

Choi Young In mengikuti lomba lari. Walaupun merasa tidak sanggup, ia memaksakan dirinya untuk lari. Ia bersaing ketat dengan pelari lain. Menjelang finis, ia mengulurkan kakinya sehinngga berhasil menang.

Young in kemudian pingsan. Mulutnya mengeluarkan busa. Kekasihnya dan teman dekatnya bergegas berlari menolong.

Pemenang Pertama Lomba Lari Marathon: 2 Tiket ke Las Vegas.

Keesokkan harinya, Young In sibuk menyiapkan bekal makanan.

"Aku ingin pergi lebih cepat dan sarapan bersama Gun Young." kata Young In. "Aku akan pergi bersamanya." Gun Young adalah kekasih Young In.

"Kau sangat menyukai Gun Young?" tanya ibu.

Young In hanya tersenyum.

Setelah semuanya siap, ibu mengantar Young In pergi sampai depan rumah dan memasukkan sesuatu ke dalam saku mantel Young In. "Gunakan ini baik-baik bersamanya." pesan ibu Young In.

Young In mengira itu uang. Ia sangat terkejut ketika menemukan kondom dalam saku mantelnya, bukan uang.

Young In masuk ke apartment kekasihnya, Gun Young. Di depan pintu, ia melihat sepatu Gun Young dan sepatu seorang wanita.

Young In terkejut, dan dengan perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan itu. Di ruang tengah, ia melihat pakaian wanita dan pakaian pria berserakan dekat sofa. Ia kemudian naik ke kamar di lantai dua dan melihat Gun Young dan sahabatnya tidur bersama.

Young In membuka selimut dan membuat mereka terbangun kaget.

Young In meminta Gun Young dan sahabatnya makan bersamanya.

"Kalian tahu kenapa aku memberi makanan pada kalian?" tanya Young In. "Karena aku benci jika makan sendirian. Jadi jangan tidur lagi dan lihat aku makan!"

Young In makan dengan lahap, setelah itu, ia keluar dari apartment Gun Young dengan sedih.

Young In pergi ke bandara untuk menukarkan kupon tiketnya ke Las Vegas dengan uang, tapi tentu saja pegawai bandara menolak. "Kami tidak bisa menukar kupon dengan uang." katanya.

Young In mengomel sendiri bahwa ia tidak mood untuk pergi berlibur. Namun mendengar pengumuman pemanggilan penumpang pesawat ke Las Vegas, Young In luluh. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian.

Young in duduk di dalam pesawat sendirian dan menangis. Ia menutupi suara tangisannya dengan handuk. Semua penumpang mencari asal suara tangisan itu.

Sesampainya di bandara transit, tanpa sengaja Young In menjatuhkan handuknya. Seorang pria memungut dan mengembalikan handuk itu padanya.

"Kau datang sendirian untuk berlibur?" tanya pria itu.

"Ya." jawab Young In. "Bagaimana denganmu?"

"Untuk menikah." jawab pria itu, tersenyum.

"Dimana pengantin wanitanya?" tanya Young In. "Kau tidak datang bersamanya?"

"Aku datang bersamanya." jawab pria itu.

Young In mencari wanita yang berada di dekat situ.

Si pria tersenyum malu dan memanggil seorang pria yang duduk di dekatnya. "Kami akan menikah." katanya. Ah, rupanya mereka homo.

"Se... selamat..." ujar Young In, terbata-bata.

Pria homo itu bernama Ronny, sedang kekasihnya bernama Arthur.

Young In dan Ronny naik lagi ke pesawat.

"Terima kasih karena sudah sangat ramah mengenai pernikahan kami." kata Ronny. Ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah kekasihnya sudah kembali dari toilet.. "Arthur mungkin terlihat kuat, tapi ia sangat sensitif pada reaksi orang lain."

Young In tersenyum.

"Tempat duduk disampingmu kosong." kata Ronny ramah. "Jika kau kembali, aku berharap ada seorang pria yang akan menemanimu. Tapi bukan seseorang sepertiku." Ekspresi Ronny berubah sedih. "Aku ingin kakakku memberi selamat pada kami, tapi aku terlalu gugup.Walaupun aku tidak memiliki apapun, aku ingin bersikap baik pada Arthur dan tidak ingin menyakitinya. Tapi aku masih merasa cemas."

Akhirnya Young In dan kedua pria homo tiba di Las Vegas. Mereka berjalan bersama.

"Kakak!" panggil Ronny, memanggil kakak laki-lakinya, Yoon Hyun Suh.

Hyun Suh menyambut mereka dengan hangat. Ia menyalami adiknya dan Arthur, kemudian memeluk Young In dengan akrab. "Selamat datang di Las Vegas!" katanya ramah.

Young In dan Ronny terkejut dengan sikap Hyun Suh. Hyun Suh mengajak mereka bertiga ikut dengannya, tanpa mendengar penjelasan Ronny terlebih dulu.

Young In ikut dalam mobil Hyun Suh. Di sepanjang jalan, sedang ada gembar-gembor berita mengenai Caesar yang mengambil alih Hotel Nikko. Hyun Suh tersenyum puas.

"Kakak..." Ronny berusaha menjelaskan pada Hyun Suh, tapi Hyun Suh memotong kata-katanya.

"Setelah kalian menikah, jika kalian mau, aku bisa memberikan sebuah kamar di Nikko pada kalian." kata Hyun Suh. "Nikko adalah milikku sekarang!" Hyun Suh tidak tahu bahwa adiknya homo.

"Maafkan aku." bisik Ronny pada Young In. "Tapi bisakah kau ikut bersama kami?"

Young In terjebak dalam situasi sulit. Hyun Suh menyiapkan satu kamar di hotel untuk Ronny dan Young In, sementara Arthur menggunakan kamar lain.

Ronny berjanji pada Young In dan Arthur bahwa ia akan menjelaskan semuanya pada kakaknya besok.

"Walaupun ia tidak bisa menerima kita, cintaku padamu tidak akan berubah." kata Ronny pada Arthur.

Malam itu, Young In berjalan-jalan di kota Las Vegas seorang diri.

Seorang tukang foto menawarkan untuk memotret Young In denan harga 5 dollar. Secara tidak sengaja Hyun Suh melihatnya.

"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanya Hyun Suh seraya berjalan mendekati Young In.

"Ronny lelah dan ingin tidur, tapi aku belum lelah..." Young In berusaha mencari-cari alasan.

"Kau memegangnya salah." kata Hyun Suh. "Seharusnya di tangan satunya."

Young In melihat fotonya. Ia memegang es krimnya tidak sama dengan patung Liberty.

Young In dan Hyun Suh berjalan bersama.

"Kalian tidak telihat mirip, tapi kalian mirip." kata Young In, membandingkan Hyun Suh dan Ronny. "Ronny terlihat pekerja keras dan pandai, sedangkan kau terlihat pandai dan pembuat masalah."

"Aku pintar dan pekerja keras, Nak!" bantah Hyun Suh. "Kau ingin tahu seperti apa kau terlihat? Kau orang yang tidak terlalu pandai dan pembuat masalah."

Young In terkesan melihat pertunjukkan air mancur. "Pasti akan lebih baik jika aku melihatnya dengan seseorang yang kusukai." gumamnya.

Hyun Suh memandang Young In.

Keesokkan harinya, Hyun Suh mengetuk pintu kamar Young In.
"Apakah ia masih tidur?" tanya Hyun Suh pada Young In, menanyakan adiknya.

"Dia tidur bersama temannya." jawab Young In setengah sadar.

Young In terkejut mendengar ucapannya sendiri dan melarang Hyun Suh masuk ke kamar sebelah. "Mereka sudah pergi." katanya.

Hyun Suh membelikan sebuah pakaian untuk Young In. Ronny dan Arthur menghindarinya.

"Apakah adikku sudah kembali?" tanya Hyun Suh, menelepon Kyle, pengurus hotel.

"Ia keluar lagi." jawab Kyle, berbohong. Ronny dan Arthur saat itu ada di hadapannya.

"Apakah kau punya rekomendasi untuk kapel pernikahan?" tanya Arthur padanya.

Hyun Suh mengantar Young In berjalan-jalan di Las Vegas. Seperti layaknya tour guide, ia menjelaskan berbagai sisi kota pada Young In.

Akhirnya, Hyun Suh mengajak Young In ke sebuah lahan luas dekat pegunungan.

"Aku akan membangun sebuah hotel disini." katanya. "Orang-orang akan datang dan aku bisa menghasilkan banyak uang. Bukankah sangat bagus?"

"Apanya? Menghasilkan banyak uang?" tanya Young In.

"Pemandangan disini." jawab Hyun Suh.

"Oh, ya." jawab Young In. Ia menceritakan pada Hyun Suh mengenai adiknya. "Dia ingin menikah ditempat kau berada. Dia datang kesini untuk menemuimu."

"Kenapa kau menyukai adikku?" tanya Hyun Suh. "Dia tidak punya uang. Kemampuan menggambarnya tidak terlalu baik."

Young In ragu sejenak dan tertawa. "Aku.. tidak tahu." jawabnya kaku.

"Adikku tidak akan pernah melakukan apa yang kulakukan padamu hari ini." kata Hyun Suh. "Apakah itu tidak apa-apa?"

"Aku tidak mengerti." kata Young In bingung.

Hyun Suh memegang pundak Young In. "Dia dan aku bukan saudara kandung. Kami berdua diadopsi dari rumah yatim piatu yang berbeda di Korea." Hyun Suh tersenyum dan mendekatkan kepalanya pada Young In. "Tidak ada yang perlu dipikirkan dan tidak ada yang salah."

Young In merasa marah. Ia melepaskan tangan Hyun Suh dari bahunya dan berjalan masuk ke dalam mobil.

Young In menarik napas dalam, membuka bajunya dan berganti pakaian. Ia kemudian berjalan mendekati Hyun Suh dan memberikan baju itu padanya.

"Kau brengsek!" seru Young In. "Kau menyebut dirimu seorang kakak. Kau bahkan tidak memiliki setengah dari kejantanan adikmu. Menginginkan kau memberi selamat padanya... dia sangat..." Young In tidak menyelesaikan kata-katanya dan berjalan pergi sambil ngomel. Hyun Suh tersenyum.

"Naik!" kata Hyun Suh, mengejar Young In dengan mobil.

"Pergi ke neraka!" omel Young In.

"Naik!" perintah Hyun Suh.

"Kau harus dihukum!" seru Young In seraya menendang mobil Hyun Suh. Agar bisa mengalihkan perhatiannya dari Hyun Suh, ia memikirkan perhitungan matematika.

Di hotel, Ronny mengatakan pada Young In bahwa kakaknya mengajak mereka makan malam.

"Sepertinya ia sangat menyukaimu." katanya. "Aku tidak pernah melihatnya membicarakan orang lain seperti ini. Ia bilang kita harus menikah." Ronny mengenggam tangan Young In. "Bantu kami sampai akhir. Kurasa akan lebih mudah jika kau bersama kami."

"Tolong, Young In." pinta Arthur.

Young In terpaksa setuju.

Hyun Suh mengajak Ronny dan Young In berbincang di dalam kamar. Ia sudah menyiapkan sepasang cincin nikah untuk mereka.

"Kakak, sebenarnya... orang yang kucintai adalah Arthur..." Ronny berkata hati-hati.

"Arthur? Siapa Arthur?" tanya Hyun Suh.

Arthur masuk ke dalam kamar.

"Arthur dan aku akan menikah." kata Ronny.

Hyun Suh diam. Ia lebih kelihatan berpikir dibanding terkejut. Ia bangkit dari duduknya dan melihat Arthur tajam.

"Aku ingin memberitahu lebih awal..." kata Arthur. "Kau ingin... aku bahagia, bukan?"

"Lalu siapa dia?" tanya Hyun Suh, menunjuk Young In. Tanpa menunggu jawaban, Hyun Suh mendekati Arthur. "Apa benar yang dikatakan Ronny?"

Arthur mengangguk.

"Maaf, bisakah kau menunggu diluar?" pinta Hyun Suh pada Arthur. Hyun Suh merasa sangat marah pada Ronny, dan dengan tersenyum meminta Arthur keluar.

"Aku juga akan keluar." kata Young In.

"Tidak, tetap disini." larang Hyun Suh.

Hyun Suk menarik kerah kemeja Ronny dengan marah.

"Dia sangat berharga untukku." kata Ronny.

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh. "Apa aku bagimu? Apakah aku berharga untukmu juga? Apa aku kakakmu? Kau hanya ingin uang, tapi apakah kau hanya memanfaatkan aku untuk uang?!"

"Kau tidak membutuhkan aku." kata Ronny. sedih "Kau tidak membutuhkanku disisimu. Walaupun kau selalu sibuk, ditunjuk-tunjuk dan ditertawakan karena kau yatim piatu, kau tidak pernah terluka. Kau kuat! Jika dibandingkan denganmu, aku lemah dan butuh seseorang. Kau tidak akan pernah mengerti. Aku tahu bahwa aku membuatmu malu. Aku tahu bahwa aku hanya mengganggu jalanmu."

"Aku tidak pernah mengharapkan apapun... tapi untukmu... kau tahu seberapa banyak yang sudah kulakukan." kata Hyun Suh, melepaskan cengkeramannya. "Mulai saat ini, anggap aku bukan kakakmu. Hiduplah sendirian. Itulah yang akan orang lain lakukan."

Keesokkan harinya, Hyun Suh dan bosnya, David, berbincang di elevetor. David mengatakan bahwa Hyun Suh masih terlalu muda dan berbahaya jika menjadi Presiden Nikko. Ia meminta Hyun Suh untuk pergi berlibur ke Hotel Empire di Korea selama 6 bulan. Namun Hyun Suh menolak.

Setelah David keluar, Young In masuk ke elevator. Hyun Suh kelihatan sangat marah pada Young In dan mengacuhkannya.

Young In mengoceh mengenai Arthur dan Ronny. "Mereka saling mencintai." katanya.

Hyun Suh tidak memedulikan kata-kata Young In.

Di lobby, Hyun Suh meminta Kyle mengusir Ronny, Arthur dan Young In.

Kyle tidak memedulikan Hyun Suh. Ia berkata ramah pada Young In. "Nona, apakah kau ingin check out?"

"Ini perintah!" seru Hyun Suh pada Kyle.

Kyle tetap tidak memedulikan Hyun Suh. "Nona, apakah kau ingin check out sekarang?" tanyanya.

"Tidak. Tidak Check out." jawab Young In.

Pernyataan Young In merupakan alasan cukup bagi Kyle untuk menolak perintah Hyun Suh. "Tamu hotel adalah prioritasku." katanya pada Hyun Suh.

Young In tersenyum berterima kasih pada Kyle, kemudian mengikuti Hyun Suh. Dengan semena-mena, Hyun Suh memecat sekretarisnya karena terlambat datang 23 menit, sebagai pelampiasan rasa marahnya.

Young In terus mengikuti Hyun Suh.

Hyun Suh akhirnya berbalik menghadapinya. "Kenapa kau ikut campur dalam urusan ini?" tanyanya. "Apa yang kau peroleh?"

Young In merogoh saku mantelnya ingin mengambil sesuatu, tapi tanpa sengaja menjatuhkan kondom pemberian ibunya.

"Begitu... Inikah cinta yang kau bicarakan?" tanya Hyun Suh mengejek. Ia maju selangkah mendekati Young In. "Murah." ujarnya pelan.

"Jika kau mahal, kau tidak akan menyakiti adikmu dan membuat seorang gadis menangis." kata Young In tajam Ia menyerahkan sebuah kartu undangan. "Terserah kau mau datang atau tidak ke pesta pernikahan itu! Kau pikir, kenapa mereka ingin menikah disini? Karena kau ada disini. Karena kau adalah kakaknya! Karena ia menyayangimu! Tidakkah kau melihatnya?! Kini aku bisa menilai dirimu, menakutkan dan egois!"

Young In mengomel dan pergi ke pinggir kolam renang. Kyle memberinya minuman, kemudian pergi.

"Yang sebelumnya... terima kasih." kata Young In.

Kyle berbalik dan tersenyum melihat Young In meminum minuman pemberiannya dengan rakus.

Young In menelepon ibunya. Di Korea, ibunya sedang sibuk pindah ke sebuah apartement. Ibunya ingin menyembunyikan hal tersebut dari Young In dan menutup telepon dengan cepat.

Ibu Young In mengintip ke kamar sebelah, yang pindah kesitu pada hari yang sama. Pria itu marah-marah di telepon. "Tetap saja di Amerika! Jangan datang!" pria itu ngambek karena tidak ada yang datang membantunya.

Hyun Suh makan bersama dengan mantan Presiden Nikko, Tuan Nitoshi, di sebuah restoran Jepang. Tuan Nitoshi membawa seorang wanita pencicip makanan. Ia membutuhkan wanita itu untuk mengetahui apakah makanan yang hendak ia makan beracun atau tidak.

Setelah selesai makan, Tuan Nitoshi memohon pamit. "Hotel adalah sesuatu yang hidup. Mereka akan tumbuh seperti pemiliknya." katanya. "Tolong jaga Hotel Nikko."

Hyun Suh bergegas berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya. Ia memikirkan kata-kata Tuan Nitoshi. "Omong kosong." gumamnya.

Hari pernikahan Ronny dan Arthur.

Young In memakai gaun pemberian Ronny dan menghadiri pesta pernikahan mereka. Hanya ialah satu-satunya tamu yang datang. Ronny kelihatan sedih karena kakaknya tidak juga datang.

Di lain pihak, Hyun Suh sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ia mendapat telepon bahwa Tuan Nitoshi bunuh diri.

Hyun Suh ragu. Haruskah ia pergi ke pernikahan adiknya?

Akhirnya Hyun Suh memutuskan untuk datang ke pernikahan adiknya.

Ketika ia sampai di kapel, tempat tersebut sudah kosong. Tidak ada seorang pun disana.

Young In mengantarkan kepergian Ronny dan Arthur.

Bunuh dirinya Tuan Nitoshi membuat Hyun Suh menyadari bahwa Tuan Nitoshi memang menganggap Hotel Nikkon sebagai sebagian jiwanya. Ia kemudian menemui David dan menyatakan persetujuannya untuk pergi ke Korea.

"Kau pikir aku mengirimmu ke Korea hanya untuk berlibur?" tanya David. "Aku punya proyek khusus untukmu."

Hyun Suh bersiap-siap pergi. Ia mengambil sebuah kotak dari dalam laci, berisi kalung berbandul hati. Ia menatap kalung itu.

Keesokkan harinya, Young In naik pesawat kembali ke Korea. Ia menukarkan dua tiketnya dengan satu kursi kelas bisnis.

Young In masuk ke pesawat dan menoleh pada orang yang duduk disampingnya, Hyun Suh. Sambil ngedumel mengenai penyesalannya karena menukat tiket, ia mencoba tidur.

Di tengah perjalanan, ada kendala di pesawat. Pilot mengatakan bahwa mereka mendapat masalah dengan sistem turbulensi dan meminta penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Hyun Suh memegangi dadanya, yang lagi-lagi terasa sakit. Ia meraih tas untuk mengambil obatnya, tapi tidak bisa menemukannya.

Young In mendengar nafas Hyun Suh yang berat, seperti kesakitan. Ia mengintip dan panik. "Ada apa?" tanyanya. "Tidak.. apa yang harus kulakukan?! Pramugari! Pramugari!"

"Aku.. aku tidak ingin mati.. tolong... tolong...." gumam Hyun Suh kesakitan.

"Hentikan pesawat!" teriak Young In, panik dan ketakutan. "Buat U-turn!! U Turn!!"

To Be Continued

Kamis, 22 April 2010

Hello Miss (Episode 16-TAMAT)

Sempat berniat pulang, obrolan lewat ponsel dengan Lee Ha salah satu pengurus Hwa Ahn Dang membuat Soo-ha berubah pikiran. Sementara itu, berita tentang kehebohan Dong-gyu sampai ke telinga Myeong-suk dan Chan-min, yang kaget setengah mati.

Di pabrik, Dong-gyu tidak habis pikir karena rasa pangsit yang dihasilkan tidak keruan, dan meminta sang asisten untuk memanggil ahli masakan......yang ternyata adalah Soo-ha. Setelah diteliti, ternyata perbedaan ada di bagian kulit pangsit.

Dengan wajah berbinar, Dong-gyu membawa pangsit hasil buatan pabrik ke Man-bok dan meminta sang kakek untuk mau merestui hubungannya dengan Soo-ha apabila rasa produk sesuai dengan yang diharapkan. Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Man-bok saat tahu pangsit yang dimakan bukan dari Hwa Ahn Dang melainkan hasil dari produksi salah satu pabriknya.

Sayang, Man-bok ternyata masih keras hati sehingga Dong-gyu datang ke Hwa Ahn Dang dengan tangan hampa. Melihat mata Soo-ha yang begitu berbinar, pemuda itu tidak tega dan akhirnya berbohong dengan menyebut sang kakek telah menyetujui hubungan mereka.
Bersama-sama, keduanya menghadap para pengurus Hwa Ahn Dang untuk minta restu.

Di Seoul, Hwa-ran sempat kebingungan mendapat ikatan bunga dan sekotak kue dari Joon-young. Namun begitu melihat isinya, gadis itu sadar bahwa pria yang dicintainya tersebut telah tahu siapa ia sebenarnya. Sambil bercucuran air mata, Hwa-ran mengangkat telepon Joon-young dan menyebut kalau gadis yang disukai sang kakak Soo-ha telah lama mati.

Sebal dengan Man-bok yang rewel, Yoo-il memutuskan menyusul Dong-gyu ke Hwa Ahn Dang untuk membujuk pria itu kembali. Namun, begitu melihat betapa bahagianya Dong-gyu dan Soo-ha saat hidup sebagai petani, ia berubah pikiran.

Yoo-il yang tidak tahu apa yang terjadi menceritakan semuanya pada Soo-ha....termasuk tentang belum direstuinya hubungan gadis itu oleh Man-bok. Keruan saja saat kembali ke Hwa Ahn Dang, Soo-ha memanggil Dong-yu dan dengan tegas meminta sang kekasih untuk tidak kembali sampai restu yang selama ini diharapkan bisa didapat dari sang kakek.

Melihat nona besarnya sedih, Lee Ha nekat berangkat sendirian ke Seoul untuk bertemu Man-bok. Berkat bantuan Chan-min (keduanya berpapasan di tengah jalan), wanita tua itu berhasil menemui sang pemilik TOP Group dan akhirnya sukses membujuk Man-bok merubah pikirannya tentang hubungan Dong-gyu dan Soo-ha.

Dong-gyu yang mendengar Man-bok bakal menemui para tetua langsung bergegas ke Hwa Ahn Dang karena takut bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan bersama Soo-ha nekat menerobos masuk ruang pertemuan. Padahal, di saat yang sama Man-bok berniat untuk memohon maaf atas kesalahannya 50 tahun silam.

Keruan saja, para tetua kembali salah-paham dan mengira itu bagian dari strategi Man-bok. Pada saat itulah sang pemilik TOP Group melakukan hal yang tidak disangka-sangka : ia berlutut dihadapan semua dan memohon supaya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya tidak ditimpakan pada Dong-gyu sang cucu.

Diwarnai suasana tegang, Dong-gyu dan Soo-ha (serta Man-bok dari belakang) langsung lega mendengar para tetua bertepuk tangan yang menjadi pertanda mereka setuju. Secara seremonial, Man-bok akhirnya kembali ke Hwa Ahn Dang sambil membawa beberapa ekor sapi sebagai pertanda untuk membayar kesalahannya lebih dari setengah abad silam.

Di tengah kebahagiaan yang dirasakan Hwa Ahn Dang, masih ada satu orang lagi yang akhirnya memutuskan berdamai dengan masa lalunya : Hwa-ran, yang meminta Joon-young untuk mengantar bibi Hwa menemuinya di luar desa. Bersama, keduanya masuk dan bersama yang lain merasakan kemeriahan pesta pernikahan Dong-gyu dan Soo-ha yang sudah tentu digelar secara tradisional.




TAMAT

Sumber :
http://www.indosiar.com

Hello Miss (Episode 15)

Absennya Man-bok langsung dimanfaatkan oleh Myeong-suk, yang dengan cepat meminta supaya TOP Group menutup divisi bagian penjualan makanan. Namun dengan berani, Dong-gyu (yang hadir di rapat tanpa jabatan penting) menentang dan mendapat dukungan dari Chan-min.

Di saat pusing memikirkan strategi menyelamatkan divisi bagian makanan, Dong-gyu dikejutkan oleh kemunculan Soo-ha (yang datang jauh-jauh dari desa demi bertemu dirinya). Siapa sangka, sambutan pria itu begitu dingin, bahkan ia meninggalkan sang gadis malang dengan ekspresi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Nekat mencari hingga ke TOP Group, Soo-ha kelabakan saat diberitahu kalau Dong-gyu tidak berada di kantor. Berpapasan dengan Chan-min, ia diajak pemuda itu makan siang bersama. Meski begitu, pikirannya tidak bisa lepas dari Dong-gyu dan terus berulang-ulang berusaha menelepon meski hasilnya gagal.

Meminjam ponsel sang kakak Joon-young, Soo-ha terkejut saat Dong-gyu menyebut tidak akan mau berbicara dengan gadis itu lagi. Sang kakak hanya bisa terdiam melihat perkembangan tidak menyenangkan tersebut, dan saat tinggal berdua, berusaha membujuk Chan-min untuk mau membiarkan Chan-min bahagia dengan Dong-gyu.

Dong-gyu mulai kehabisan akal karena makanan yang dihasilkan oleh perusahaannya tidak mengalami perkembangan rasa yang berarti meski telah mengikuti instruksi Soo-ha, dan sang asisten berinisiatif untuk pergi ke Hwa Ahn Dang dan kembali merekam para penghuni disana saat memasak.

Dasar apes, ia tertangkap dan diusir oleh Soo-ha. Dalam keadaan kepepet, sang asisten akhirnya buka mulut soal Dong-gyu yang terus berusaha menghindar hingga sakitnya Man-bok. Mendengar cerita tersebut, gadis itu akhirnya mengerti apa yang terjadi dan memaksa untuk diantar ke Seoul.

Meski telah sadar, Man-bok menolak untuk bertemu Dong-gyu dan menyampaikannya lewat sang putri Yoo-il. Ditengah rasa putus asanya, pemuda itu tidak sadar bahwa Soo-ha terus menunggunya sejak siang didepan rumah.

Begitu berpapasan, Soo-ha dengan bercucuran air mata menyatakan perasaan yang sesungguhnya ke Dong-gyu, yang langsung dibalas oleh pelukan dan kecupan. Sadar pria yang dicintainya berada dalam keadaan mabuk, sang pewaris Hwa Ahn Dang memapah Dong-gyu masuk ke dalam rumah.

Tidur bersama di sofa dalam posisi saling berpelukan, keduanya tidak sadar kalau pagar rumah tidak terkunci. Man-bok dan Yoo-il yang tiba keesokan paginya sempat mengira kediaman mereka dimasuki maling............sampai melihat kemesraan Dong-gyu dan Soo-ha.

Bisa ditebak, keduanya langsung disidang oleh Man-bok yang marah besar. Tidak ingin gadis yang dicintainya tersakiti lagi, Dong-gyu langsung menyebut kalau dirinya bakal menikahi Soo-ha, yang langsung diangguki. Siapa sangka, Man-bok mengajukan syarat yang cukup berat.

Hello Miss (Episode 14)

Seolah tidak memikirkan perasaan Joon-young dan Soo-ha, para tetua sibuk berdebat apakah akan menjual Hwa Ahn Dang atau tidak. Dengan suara dingin, sikap mereka langsung dikritik oleh ayah Soo-ha.

Berita soal Hwa Ahn Dang langsung menarik minat pemirsa, muncul sejumlah nama yang siap memberikan donasi untuk melestarikan istana tua itu. Akibatnya, Man-bok berada dalam posisi kalah dan kembali harus menahan kekesalan karena untuk kesekian kalinya, para tetua berubah pikiran dan tidak mau menjual Hwa Ahn Dang.

Berhasil bersembunyi selama beberapa hari, Dong-gyu akhirnya ketahuan juga dan nyaris saja diusir keluar. Namun, ia terselamatkan oleh telepon para tetua yang meminta Soo-ha menghadapi sejumlah turis yang bakal datang berkunjung. Mengingat gadis itu tidak bisa bahasa asing, mau tidak mau Hwa Ahn Dang harus mengandalkan Dong-gyu.

Saat berniat membeli cincin pertunangan, Chan-min bertemu dengan Joon-young. Sadar kalau sang sahabat sedang terpukul akibat gagal menjadi pewaris Hwa Ahn Dang, ia mengingatkan untuk tidak begitu saja percaya terhadap Hwa-ran yang berhati kejam. Namun apa daya, peringatan tersebut tidak diindahkan Joon-young.

Siapa sangka, lamaran tersebut ditolak oleh Hwa-ran (yang sudah pasti membuat Joon-young patah hati). Ketika berpapasan dengan Chan-min, keduanya langsung membuka kartu masing-masing saat bicara empat mata. Mereka tidak sadar, pembicaraan itu terdengar oleh asisten Dong-gyu.

Begitu mendengar penuturan sang asisten, Dong-gyu berubah geram apalagi setelah belakangan mendengar dirinya difitnah dihadapan sang kakek. Namun kali ini ia tidak bisa berbuat banyak, satu-satunya jalan adalah menunaikan tugasnya di Hwa Ahn Dang sebagai pemandu sebelum kembali ke Seoul dan membongkar semuanya.

Namun, Dong-gyu kalah cepat dari Yoo-il yang berkat bantuan asisten pemuda itu sukses membongkar persekongkolan yang dilakukan Chan-min didepan Man-bok. Wajah pria tua itu langsung merah-padam karena merasa telah ditipu, dan memerintahkan sang putri untuk segera membawa Dong-gyu kembali ke Seoul.

Berhasil mengumpulkan kedua cucu, putri dan menantunya, Man-bok dengan suara tegas meminta pertanggungjawaban siapa dalang dibalik tindakan Hwa-ran. Begitu mendengar Dong-gyu membantah, posisi Chan-min dan ibunya semakin gawat apalagi setelah sang kakek berbicara dengan nada tinggi.

Dalam posisi terjepit, Myeong-suk masih berusaha membebankan kesalahan pada Dong-gyu terutama setelah pemuda itu mengangguk membenarkan saat ditanya apakah pemuda itu sempat tinggal di Hwa Ahn Dang sejak diusir. Hebatnya meski terus dituding, DOng-gyu menolak buka mulut soal peran Chan-min dan Myeong-suk dalam kasus gagalnya pembelian Hwa Ahn Dang.

Akibat terlalu marah, Man-bok ambruk dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sambil menunggui sang kakek, Dong-gyu diberitahu oleh Yoo-il bahwa satu-satunya harapan TOP Group adalah dirinya sehingga otomatis pemuda itu harus memilih antara perusahaan atau Soo-ha.




Hello Miss (Episode 13)

Dengan tegas, Soo-ha menolak tawaran Chan-min dan bergeming meski pria itu menyebut cinta itu bisa dipelajari. Memasang wajah serius, gadis itu menyebut hanya ingin menikah dengan pria yang dicintai dan kelak tidak akan berpisah selamanya.

Di Seoul, Dong-gyu kembali harus menghadapi kemarahan Man-bok. Terkejut mendengar perkembangan yang terjadi, dengan berani ia melawan sang kakek yang dianggap sudah keterlaluan meski untuk itu harus rela diusir keluar dari TOP Group dalam keadaan tidak punya uang sepeserpun.

Kekalutannya makin menjadi saat Soo-ha (yang dalam keadaan mabuk menelepon) dan menyebut siap menikah asalkan pria itu bisa mencegah niat Man-bok menguasai Hwa Ahn Dang. Tidak memikirkan apapun, Dong-gyu dengan segala cara langsung menuju Hwa Ahn Dang dan berbeda dari biasanya, pemuda itu akhirnya tidak menggunakan cara sembrono dan tidur didepan pintu.

Paginya saat bangun, ia kembali harus menelan kekecewaan karena Soo-ha tidak ingat akan apa yang diucapkan di malam sebelumnya. Untungnya, sikap simpatik Dong-gyu mampu membuat para penghuni Hwa Ahn Dang membela sehingga Soo-ha sempat gelagapan.

Tidak sadar kalau terjadi hal tidak mengenakkan pada diri Dong-gyu, Soo-ha terus memperlakukan pemuda itu dengan buruk dan terus menuduh macam-macam. Tidak punya tempat tinggal lagi, ia berusaha memohon salah satu pembantu Soo-ha untuk memperbolehkannya menempati satu kamar.

Sebelum tidur, Dong-gyu menyerahkan pangsit buatan Soo-ha pada sang asisten, yang kemudian memberikannya pada Yoo-il. Siapa sangka, makanan bercita rasa tinggi itu digunakan wanita tersebut untuk melunakkan hati Man-bok, yang langsung menyukai cita rasa pangsit dan langsung mempromosikan (mantan) asisten Dong-gyu ke bagian makanan.

Di hari upacara adat, Soo-ha dikejutkan oleh pemberitahuan Chan-min yang menyebut telah mengundang kru televisi untuk pengambilan gambar. Saat diwawancara, kesedihan Soo-ha berkurang drastis saat salah seorang tetua menyebut tidak akan menjual Hwa Ahn Dang dalam kondisi sesulit apapun.

Diberondong pertanyaan oleh sang asisten seputar siapa pembuat pangsit yang digemari Man-bok, Dong-gyu diberitahu bahwa Hwa-ran ternyata menghabiskan masa kecilnya di daerah Hwa Ahn Dang. Sontak, ia langsung curiga wanita itu memiliki hubungan dengan Bibi Hwa.

Kecurigaan tersebut akhirnya terbukti saat Dong-gyu diam-diam menyelinap keluar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Hwa-ran memanggil Bibi Hwa dengan sebutan ibu. Kebetulan dari arah berlawanan, Joon-young juga melihat adegan itu.





Hello Miss (Episode 12)

Sukses memasukkan kotak obat, Dong-gyu langsung ditangkap saat berusaha memanjat pagar Hwa Ahn Dang dan nyaris saja dilaporkan ke polisi oleh penduduk. Beruntung, mereka mulai mengenali pria yang ternyata berasal dari TOP Group tersebut.

Langsung mendapat sambutan bagai raja, Dong-gyu akhirnya tahu dalang dibalik gosip miring yang membuat Hwa Ahn Dang dalam kesulitan. Tidak mau kalah cepat, pemuda itu balik mengeluarkan strategi baru yang membuat pihaknya diatas angin. Sudah tentu, Hwa-ran yang mendengar Dong-gyu ada di Hwa Ahn Dang kaget setengah mati.

Dong-gyu semakin curiga karena tidak ada data soal latar belakang Hwa-ran, dan meminta sang asisten untuk terus menyelidiki. Apes baginya, saat hendak pulang, ia ditarik oleh penduduk setempat untuk minum-minum. Bisa ditebak, pemuda itu kembali mabuk sehingga membuat asistennya pusing. Pasalnya, Bok-man mengira sang cucu masih ada di Seoul.

Soo-ha yang akhirnya sembuh berkat obat yang diberikan Dong-gyu kaget saat mendengar dari Chan-min kalau pria yang disukainya itu ada di Hwa Ahn Dang. Kebingungannya makin menjadi karena saat menelepon ke ponsel sang direktur TOP Group, Yoo-il yang menganggap menyebut kalau Dong-gyu sedang sibuk.

Begitu melihat Dong-gyu dalam keadaan mabuk, Soo-ha kembali salah sangka dan mengira semua adalah rencana pria itu untuk membeli Hwa Ahn Dang. Dasar nekat, Dong-gyu nekat melompati pagar rumah gadis yang dicintainya itu demi memberi penjelasan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi Soo-ha.

Apes bagi Dong-gyu, kehadirannya bertepatan dengan dua tetua yang datang untuk mengambil surat tanah Hwa Ahn Dang. Selain Soo-ha yang dimarahi habis-habisan, Dong-gyu juga harus menerima hukuman dikurung dalam gudang.

Meskipun masih jengkel, Soo-ha terharu juga saat mendengar ucapan Dong-gyu dari balik pintu gudang yang terdengar begitu tulus. Di tempat lain, Hwa-ran tersenyum simpul saat mendengar Joon-young memperkenalkan dirinya sebagai kekasih didepan keluarga Hwang.

Berniat meminta pertanggungjawaban TOP Group, kedua tetua langsung terdiam saat Man-bok menyebut siap memberikan donasi dalam jumlah yang fantastis asalkan Hwa Ahn Dang mau dilepas. Ucapan tersebut diam-diam terdengar oleh Myeong-suk dan Chan-min, yang sama terkejutnya dengan Yoo-il yang kebetulan berada bersama sang ayah.

Baru saja melepas Dong-gyu dengan resiko dimarahi para tetua, Soo-ha terkejut saat mendengar orang-orang yang dihormatinya mulai goyah saat ditawari uang dalam jumlah besar. Dengan mata berkaca-kaca di hadapan Chan-min, ia bersikukuh untuk tetap mempertahankan Hwa Ahn Dang.




Hello Miss (Episode 11)


Secara kebetulan, adegan dorong-mendorong tersebut terlihat oleh Dong-gyu yang kebetulan melintas. Keruan saja, Soo-ha langsung panik dan mengira surat tanah Hwa Ahn Dang telah jatuh ke tangan Hwa-ran. Bersama Dong-gyu, gadis itu kembali bertolak ke Seoul.

Keduanya tidak sadar bahwa di bagian belakang, Bibi Hwa tertidur dengan pulasnya. Begitu sampai di kantor, Soo-ha langsung menumpahkan kemarahannya pada Hwa-ran, apalagi setelah melihat gadis itu belakangan berada bersama Bibi Hwa. Sementara itu, Dong-gyu diikat oleh sang kakek Bok-man meski belakangan berhasil meloloskan diri.

Setelah diperiksa dengan kamera pengaman, baru ketahuan bahwa Bibi Hwa datang bersama Dong-gyu dan Soo-ha. Gadis itu makin putus asa saat tahu surat tanah yang disimpannya didalam bantal hilang. Setelah semuanya pergi, Chan-min menemukan berkas yang dimaksud di bagian bawah bangkunya.

Malang bagi Soo-ha, saat pulang Bibi Hwa mengalami kecelakaan gara-gara nekat berusaha mencegat mobil yang dikendarai Hwa-ran yang kebetulan melintas. Kebingungan menghadapi semuanya, gadis itu ditolong oleh Chan-min yang berhasil 'memaksa'nya untuk bertingkah sebagaimana gadis kebanyakan.

Terbiasa hidup di desa yang begitu sederhana, bisa dibayangkan bagaimana reaksi Soo-ha saat diajak masuk ke sebuah diskotik. Apalagi saat gadis itu tidak tahu, Chan-min nekat menghapus pesan yang ditinggalkan oleh Dong-gyu.

Diam-diam, hati Hwa-ran terasa hancur demi melihat ibu yang melahirkannya tergolek lemah. Namun dasar bergengsi tinggi, ia tetap berpura-pura tidak mengenal Bibi Hwa saat mendapat telepon dari Soo-ha. Terduduk lesu, gadis itu langsung merangkul Joon-young yang kebetulan lewat sambil menangis tersedu-sedu.

Begitu sembuh, Bibi Hwa langsung diantar pulang bersama Soo-ha dengan kendaraan milik TOP Group. Tapi cobaan lain telah menghadang saat tiba : sejumlah petinggi desa berusaha mendesak supaya Hwa Ahn Dang dijual, yang sudah tentu ditolak mentah-mentah.

Usaha penduduk desa ternyata tidak hanya sampai disitu, mereka menghadang pintu masuk Hwa Ahn Dang dan tidak memperbolehkan penghuninya keluar sampai menandatangani surat persetujuan untuk dijual. Kacaunya lagi, di saat bersamaan kondisi Soo-ha juga merosot drastis.

Satu-satunya cara untuk keluar dari kesulitan adalah lewat Dong-gyu, yang sedang 'disandera' oleh sang kakek sehingga tidak boleh keluar. Tidak kehabisan akal, ia bertukar pakaian dengan sang asisten sebelum kemudian memacu mobil sekencang-kencangnya ke Hwa Ahn Dang.




Hello Miss (Episode 10)

Tidak terima diomeli, Chan-min dengan suara tinggi menyebut Dong-gyu sebagai orang yang munafik dan hanya memanfaatkan Soo-ha untuk mendapatkan Hwa Ahn Dang. Keruan saja, sang gadis yang mendengar semua pembicaraan itu dari balik pintu langsung meneteskan air mata dan hatinya hancur.

Setelah sempat terjadi adu pukul, Dong-gyu akhirnya terus menunggui Soo-ha di depan kamar hotelnya tanpa tahu kalau gadis yang ditunggu telah pergi sejak lama. Terus teringat akan pengkhianatan yang dilakukan oleh Dong-gyu, dengan berat hati Soo-ha memutuskan untuk mengembalikan pinjaman perusahaan dan kembali ke Hwa Ahn Dang, kali ini untuk selamanya.

Adu argumen keduanya terhenti oleh berita yang datang dan memberitahukan bahwa para tetua Hwa Ahn Dang berada di gedung TOP Group untuk melakukan protes. Rupanya, kabar yang menyebut bakal terjadi akuisisi telah menyebar luas hingga masuk koran dan membuat resah semua orang.

Akibat masalah tersebut, posisi Dong-gyu semakin sulit apalagi sang kakek Man-bok tak henti-henti memarahi sang cucu yang dianggapnya tidak becus. Tindakan lebih lanjut juga diambil para tetua, yang meminta Joon-young menggantikan posisi Soo-ha sebagai pewaris sekaligus pengurus Hwa Ahn Dang.

Soo-ha yang baru saja sampai mendapat pukulan berikut dari Chan-min : Man-bok yang marah besar karena dipermalukan didepan umum ternyata tidak hanya memutuskan untuk membeli Hwa Ahn Dang melainkan juga seluruh desa.

Ketenangan Dong-gyu membuat sang bibi Yoo-il heran, sampai akhirnya pemuda itu menyebut kalau dirinya tidak bisa mengambil keuntungan dari Soo-ha. Dari situ, baru ketahuan bahwa Dong-gyu, yang polos dan tidak kuat minum, ternyata benar-benar mencintai sang pemilik Hwa Ahn Dang.

Dari pembicaraan Jun-hee dan Jeong-sook, Dong-gyu sadar ada sesuatu yang tidak beres pada diri Soo-ha dan memutuskan untuk kembali menyusul ke Hwa Ahn Dang. Padahal, di saat yang sama ia dipanggil Man-bok. Keruan saja, sang kakek yang mengamuk langsung memerintahkan supaya Dong-gyu tidak diperbolehkan masuk kantor lagi (dan disambut oleh senyum Chan-min dan Myeong-suk).

Rencana Hwa-ran semakin mendekati kenyataan. Setelah tahu kalau Joon-young bakal menjadi pewaris Hwa Ahn Dang yang baru, ia juga memerintahkan supaya proyek pembelian rumah penduduk desa disekitar tempat keramat itu dipercepat.

Di saat yang sama, Soo-ha terkejut mendengar posisi dirinya telah digantikan oleh Joon-young. Teringat akan pembicaraan beberapa waktu sebelumnya, ia langsung menolak perintah tetua meski tidak memberitahu apa alasannya.

Begitu sampai di rumah, dengan perasaan ketar-ketir ia langsung mencari surat-surat tanah Hwa Ahn Dang. Namun terlambat, semua berkas yang disembunyikan di dalam bantal tersebut telah dibawa seseorang untuk diberikan pada Hwa-ran.




Hello Miss (Episode 9)

Lucunya meski impian tercapai, Man-bok malah tidak bisa tidur dan saat berjalan-jalan keluar, berpapasan dengan Lee Hak. Malang baginya, kehadiran pemilik TOP Group itu terlihat oleh Byeong-tae, yang langsung mengejar-ngejar sang rival dengan pentungan.

Sempat dipisahkan oleh Soo-ha dan Dong-gyu, kebersamaan keduanya (yang sempat berpegangan tangan tanpa sengaja) terlihat oleh Chan-min. Kekesalan pemuda itu semakin bertambah saat mereka nampak begitu akrab dan saling menggoda saat pulang ke Seoul.

Begitu mendengar pembicaraan antara Jeong-sook dan Jun-hee saat di kantor, Hwa-ran tersenyum dan langsung menebak kalau strateginya mulai berbuah. Dengan berani, ia berusaha merayu Joon-young dengan menelepon pemuda itu dan mengajaknya makan bersama.

Melihat Joon-young diantar oleh Hwa-ran, Jeong-sook panas dan langsung menduga-duga strategi apa yang bakal dilancarkan gadis licik itu. Di rumah, pelan tapi pasti hubungan antara keluarga Lee (khususnya Soo-ha dan Jun-hee) mulai membaik seiring dengan keterlibatan seluruh anggota bermain kartu.

Kedekatan dengan Joon-young membuat Jeong-sook mabuk kepayang dan menceritakan semua yang dirasakannya pada Soo-ha. Siapa sangka, gadis itu juga merasakan hal yang sama terhadap Dong-gyu, bahkan sempat salah-tingkah saat berpapasan dengan sang pria di lift.

Demi memuluskan rencananya memusnahkan Hwa Ahn Dang, Hwa-ran mulai menjalankan rencana tahap kedua (terutama setelah mendapat iming-iming menggiurkan dari direktur Myeong-suk dan Chan-min. Di trempat lain, Dong-gyu yang merasa rencananya memikat Soo-ha mulai berhasil memutuskan untuk memberi kejutan bagi gadis itu.

Siapa sangka, yang dicari justru sedang berada di Hwa Ahn Dang dan dengan mata kepalanya sendiri, Soo-ha melihat Chan-min sukses menghajar sekelompok berandalan yang hendak berbuat onar. Yang paling sial adalah Dong-gyu, yang terus menunggu Soo-ha tanpa kepastian.

Jantung pria itu mulai berdegup kencang saat Chan-min mengangkat ponsel Soo-ha dan menyebut keduanya sedang minum. Teringat akan kejadian terakhir saat gadis itu mabuk, Dong-gyu langsung menyusul.

Dugaannya tidak salah, Soo-ha yang mulai tertekan akibat tuntutan sebagai pewaris Hwa Ahn Dang mulai mabuk setelah minum beberapa gelas. Melihat itu, Chan-min langsung berinisiatif membopong gadis itu dan membawanya ke sebuah kamar hotel untuk beristirahat.




Hello Miss (Episode 8)

Dengan cueknya, Soo-ha meninggalkan Dong-gyu dan Chan-min yang sedang bertengkar dan nyaris saja terlibat masalah dengan segerombolan gadis berandal kalau saja Jeong-sook dan Joon-young tidak muncul menyelamatkan.

Dari penuturan Joon-young saat ketiganya berada di tempat pemandian, Soo-ha baru sadar betapa rumitnya hubungan sang mendiang ibu, ayah dan ibu tirinya. Paginya, tanpa sengaja mobil Joon-young nyaris menabrak Hwa-ran yang dengan keji berusaha menyebarkan berita miring seputar penjualan Hwa Ahn Dang.

Ketika jam makan siang tiba, lagi-lagi nasib membuat Soo-ha berpapasan dengan Dong-gyu dan Chan-min. Kedua pria itu sama-sama terkejut saat tahu saingan mereka ternyata menghabiskan waktu bersama Soo-ha sehari sebelumnya, dan aroma persaingan memperebutkan cinta pun semakin kental.

Di Seoul, Man-bok terus teringat akan masa-masa indah di Hwa Ahn Dan dan mendadak mendapat ide untuk menuntaskan kerinduannya terhadap tempat bersejarah itu (dan sang pelayan Lee Hak). Dengan cepat, ia membangun sebuah panggung yang diperuntukkan untuk kontes menyanyi untuk para penduduk.
Kuatir ada yang tidak beres, Soo-ha kembali ke Hwa Ahn Dang ditemani dengan Dong-gyu dan Chan-min. Bisa ditebak, kehadiran dua pemuda itu lagi-lagi mendapat sambutan dingin dari nenek Lee Hak. Sambil setengah berbisik, wanita tua itu meminta Byeong-tae untuk memberi pekerjaan 'ekstra' pada keduanya.

Demi melihat apa yang terjadi, Soo-ha mengajak dua pembantunya melihat keramaian di panggung yang dibuat Bok-man. Tepat setelah ketiganya pergi, Hwa-ran mendatangi Hwa Ahn Dang dan tersenyum melihat rencananya berhasil. Namun, disana ia harus menahan perih melihat pendangan mata rindu sang ibu yang kebetulan kembali.

Sebelum naik ke atas panggung, Soo-ha sukses memergoki Dong-gyu dan Chan-min yang menyelinap dan langsung meminta sang paman Byeong-tae untuk mengawasi keduanya. Saat naik, gadis itu sukses membuat yang hadir terpesona dengan dandanan hanbok kemampuannya memainkan drum tradisional.

Berikutnya yang tampil adalah Dong-gyu dan Chan-min yang didandani habis-habisan hingga menyerupai wanita. Namun sebelum keduanya sempat naik, panitia mengumumkan kalau Man-bok bakal memberikan kata sambutan. Keruan saja saat nama itu disebut, wajah para tetua yang hadir langsung berubah.

Baru berbicara satu-dua patah kata, Man-bok langsung mendapat cercaan yang keruan saja langsung memukul mental pria setengah baya itu, yang dihatinya tidak pernah bisa melupakan Hwa Ahn Dang sampai kapanpun. Dari kejauhan, Soo-ha hanya bisa melihat wajah sedih pria itu (yang dituntun putrinya Yoo-il) tanpa bisa berbuat apa-apa.

Untuk kesekian kalinya, Soo-ha kembali disalahkan oleh para tetua karena dianggap sebagai pihak yang mengundang kembalinya keluarga Hwang (khususnya Bok-man) kembali ke Hwa Ahn Dang. Keadaan semakin parah ketika ditengah rapat, kakek tua yang mabuk itu menggedor-gedor pintu masuk.




Hello Miss (Episode 7)


Kaget mendengar penuturan Joon-young yang mengaku bakal menjual Hwa Ahn Dang bila dijadikan pewaris, Soo-ha langsung menerima tawaran Jeong-sook berkaraoke. Karena minum terlalu banyak, gadis itu akhirnya mabuk dan harus pulang dengan dibopong sang adik.

Dasar konyol, Jeong-sook memanfaatkan kesempatan itu untuk menginap dan merasakan tinggal di kediaman Soo-ha. Untungnya sebelum terjadi lebih banyak hal memalukan, Soo-ha berhasil menarik sang sahabat untuk kembali ke kantor. Sesampai disana, ia langsung diajak pergi oleh Chan-min.

Marah-marah karena mengira Chan-min hanya beralasan untuk mengajaknya kencan, Soo-ha langsung terdiam ketika muncul beberapa klien dari Jepang. Dengan gayanya yang polos, gadis itu malah berhasil membuat sang klien (dan beberapa petaruh lain) terkesan. Sebagai bentuk terima kasih, Soo-ha mendapat sebuah amplop berisi uang banyak.

Sempat terkaget-kaget, Soo-ha akhirnya memutuskan untuk menyerahkan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk merenovasi Hwa Ahn Dang itu ke organisasi amal (meski dengan hati sangat berat). Usaha Chan-min belum berhenti, ia berhasil menyewa sebuah perahu layar mewah dan sukses mengajak Soo-ha berduaan.
Cara yang dilakukan Dong-gyu lebih menggelitik, ia berusaha merebut hati para pelayan Hwa Ahn Dang dengan memberikan kursi pemijat dan mesin karaoke. Tidak cuma itu, sang petinggi TOP Group dan asistennya juga rela membersihkan peralatan dengan menggunakan jerami.

Begitu tiba, Soo-ha sempat terkesan oleh usaha Dong-gyu. Namun dua buah kecelakaan, mulai dari terjepit kursi hingga terkena uap panas, membuat gadis itu tidak habis pikir ada pria sebodoh Dong-gyu di dunia.

Merawat Dong-gyu yang terserang gatal-gatal membuat Soo-ha kembali meneteskan air mata, ia teringat akan mendiang ibunya. Dalam perjalanan kembali ke Seoul, gadis itu dengan wajah sendu menceritakan sejarah wanita yang telah melahirkannya tersebut hingga kemesraan mereka saat sang ayah masih bersama.

Begitu kembali ke rumah, Soo-ha dikejutkan oleh Jeong-sook yang baru saja selesai membersihkan rumah. Begitu mendengar rencana sang sahabat untuk membuatkan makanan bagi sang ayah, ia langsung teringat akan masa lalu dan memutuskan untuk membuat makanan kesukaan pria itu.

Dengan lahap, sang ayah melahap makanan yang dibuat putrinya. Namun reaksi berbeda ditunjukkan oleh sang ibu tiri, yang langsung membuang makanan buatan Soo-ha ke tempat sampah. Keruan saja, hal tersebut membuat si gadis sakit hati dan berlari keluar.

Dalam keadaan kalut dan kebingungan sambil menerima telepon Dong-gyu, Soo-ha ditemukan oleh Chan-min yang berinisiatif menghibur. Dasar apes, Dong-gyu yang melihat sang sepupu memeluk Soo-ha langsung berpikiran yang tidak-tidak dan melayangkan bogemnya.

Hello Miss (Episode 6)

Begitu mendengar penuturan Soo-ha dari balik pintu, hati Chan-min langsung terbakar cemburu. Dengan suara tinggi, ia menelepon dan memarahi sang sekertaris, Dasar apes, sikap tersebut langsung dibalas dengan cara yang sama oleh Soo-ha dengan menutup telepon.

Memutuskan untuk memberikan usaha yang terbaik, termasuk berlatih bahasa asing, Soo-ha akhirnya menemani Dong-gyu ke sebuah pulau. Siapa sangka, semua itu ternyata hanya jebakan Man-bok pemilik TOP Group. Dong-gyu sendiri baru sadar belakangan, dan berusaha mengejar kapal terakhir namun gagal.

Mau tidak mau, ia terjebak bersama Soo-ha di rumah yang ternyata juga sudah dirancang untuk suasana romantis. Kacaunya lagi, gadis itu ternyata meminum arak yang telah diberi campur obat perangsang. Bisa dibayangkan, bagaimana paniknya Dong-gyu menghadapi cecaran sang pewaris Hwa Ahn Dang.

Paginya saat bangun, Soo-ha malah mengira Dong-gyu yang telah berusaha merayu dan memperkosanya. Dengan terburu-buru, ia langsung menaiki kapal laut pertama dan bahkan tega membiarkan Dong-gyu yang berusaha menyusul tercebur ke laut. Sambil menahan kedinginan, pemuda itu hanya bisa memaki sang kakek didalam hati.

Keheranan mendengar Soo-ha yang tidak juga muncul di kantor dan mengaku ada urusan bisnis, Chan-min akhirnya bisa menebak bahwa semua yang terjadi adalah berkat siasat Man-bok. Dengan blak-blakan, pemuda itu menyebut siap mendapatkan Hwa Ahn Dang untuk sang kakek asalkan ia diperbolehkan untuk ikut persaingan memperebutkan cinta Soo-ha.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengajak Man-bok ke HWa Ahn Dang bersama Soo-ha. Begitu tahu kemana mereka menuju, gadis itu kaget setengah mati dan langsung menelepon Dong-gyu. Tidak kalah terkejut, sang direktur TOP Group langsung meminta Soo-ha untuk berusaha menunda perjalanan dengan cara apapun.

Tindakan yang diambil Soo-ha cukup nekat : ia menjatuhkan diri ke dalam sebuah jurang kecil (dan akhirnya diselamatkan dengan cara yang cukup memalukan). Namun, semua itu ternyata tidak cukup untuk menghalangi Man-bok kembali ke tempat yang telah lama menjadi impiannya : Hwa Ahn Dang.

Begitu sampai, Man-bok langsung dikejar-kejar oleh Byeong-tae yang rupanya masih dendam karena sapinya setengah abad silam dicuri. Ketika nyaris disabet oleh sebuah clurit, Dong-gyu muncul tepat waktu dan berhasil menghalangi.

Kejadian di Hwa Ahn Dang langsung membuka luka lama Man-bok, apalagi begitu mendapat penolakan dari wanita yang dulu begitu dicintainya Lee Hak. Tidak cuma, itu wanita yang membesarkan Soo-ha tersebut meminta sang nona untuk segera mundur dari pekerjaannya di TOP Group.

Begitu kembali ke rumah di Seoul, Soo-ha terkejut saat tahu ada dua tetua yang datang berkunjung. Yang cukup mengejutkan, mereka menawari supaya jabatan sebagai pewaris klan yang semula disandang Soo-ha dilimpahkan ke Joon-young.




Hello Miss (Episode 5)



Ternyata orang-orang tersebut adalah suruhan para tetua, yang langsung menyidang dan memarahi Soo-ha yang berani memamerkan tubuhnya didepan umum. Meskipun berusaha menjelaskan, gadis itu tidak berdaya dan akhirnya dikurung di dalam gudang.

Di pagi hari, Dong-gyu yang sumrigah karena mengira Soo-ha bakal muncul kembali kecele. Penuturan sang kakek saat bicara empat mata soal kebiasaan yang dilakukan para tetua di masa lalu membuatnya kuatir sesuatu telah terjadi pada Soo-ha, dan langsung memutuskan untuk pergi ke Hwa Ahn Dang.

Karena Soo-ha absen dan tuntutan kepada TOP Group muncul, tidak ada pilihan lain kecuali kembali menampilkan Hwa-ran, yang baru saja keluar rumah sakit, sebagai model utama. Belakangan baru terungkap, gadis licik itulah yang meneruskan rekaman insiden Soo-ha di atas panggung kepada para tetua sehingga mereka marah besar.

Berkat bantuan Dong-gyu, Soo-ha akhirnya bebas dan dengan berani menghadap para tetua. Terkejut mendengar gadis itu yang begitu berani berbicara didepan mereka, para tetua akhirnya tidak bisa berkutik saat Soo-ha membeberkan situasi Hwa Ahn Dang yang sebenarnya.

Sambil berjalan kaki pulang ke Hwa Ahn Dang, Dong-gyu mengungkapkan kekagumannya terhadap Soo-ha yang terkadang bisa tampil begitu polos namun disaat lain begitu berwibawa. Di Seoul, direktur Myeong-suk akhirnya tahu hubungan antara TOP Group dan Hwa Ahn Dang dan bertekad mematahkan usaha Bok-man untuk menjodohkan Dong-gyu dengan Soo-ha.

Salah satu cara yang digunakan adalah dengan mengutus Hwa-ran untuk memata-matai Hwa Ahn Dang. Bisa dibayangkan, bagaimana reaksi gadis itu yang tidak mampu menolak meski hatinya sudah bersumpah tidak akan kembali ke tempat yang telah meninggalkan bekas trauma di masa lalu itu.

Saat kembali, hati Hwa-ran sempat tercekat melihat ibunya yang setengah gila dipermainkan anak-anak. Niatnya menolong langsung diurungkan begitu Soo-ha muncul membela, dan kebenciannya semakin menjadi-jadi melihat gadis yang dibencinya itu memeluk sang ibu.
Kembali ke Seoul, Soo-ha yang sudah bersiap menyerahkan surat pengunduran diri hanya bisa melongo ketika direktur Myeong-suk menolak. Waktu berpapasan dengan Hwa-ran, ia langsung disambut oleh kemarahan gadis itu yang malah nyaris membongkar identitas wanita yang semula bernama Kkot-bun tersebut.

Sebagai tugas baru, Soo-ha ditempatkan sebagai sekretaris Chan-min dan sebelum mulai bekerja, didandani habis-habisan oleh pemuda itu hingga semua orang pangling. Dong-gyu yang berpapasan dengan gadis tersebut di lift terkejut luar biasa, apalagi saat tahu pekerjaan baru Soo-ha.

Chan-min yang heran melihat sikap sang ibu yang begitu antusias terhadap Soo-ha akhirnya tahu alasan dibalik semuanya, dan menolak terlibat persaingan perebutan perusahaan dengan Dong-gyu. Namun, pendapat tersebut berubah saat mendengar pembicaraan Dong-gyu dan Soo-ha, yang mengaku tidak keberatan menjadi kekasih pemuda itu (meski yang dimaksud hanya pura-pura).







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...