Laman

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 3)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 3

"Silahkan masuk, Presiden." kata Kyle, menyambut Hyun Suh. Ah, rupanya para karyawan salah paham. Mereka mengira Kyle adalah Presiden, padahal presidennya Hyun Suh.

"Aku tidak tahu kau akan datang." kata Hyun Suh pada Kyle.

"Aku baru saja memutuskan untuk datang." jawab Kyle.

"Ayo kita masuk." ajak Hyun Suh, namun wanita pengantar tidak mengizinkan dan meminta Kyle menunggu di luar.

Di dalam, Hyun Suh bertemu dengan beberapa orang penting, diantaranya adalah Park Jung Moon dan Kepala Manajer, Kang Chul Goon.

Young In dan sahabatnya (sekaligus selingkuhan Gun Young) bekerja di klinik kecantikan yang sama. Ia meminta sahabatnya itu keluar dan menjambak rambutnya habis-habisan.

"Beraninya kau mencuri pacarku!" teriaknya marah. "Ibuku bahkan sudah mengenalnya! Apa yang harus kukatakan padanya?! Dasar wanita murahan! Dan kau meminjam uang $50 untuk baju itu tapi belum membayarnya! Kembalikan yang dan pacarku!"

Selingkuhan Gun Young berteriak-teriak histeris.

Ah, rupanya lagi-lagi itu hanya imajinasi Young In. Young In berharap melakukan itu pada sahabatnya, namun pada kenyataannya tidak.

"Selamat atas hubungan barumu." kata Young In seraya menyerahkan sebuah pot berisi tanaman.

Sahabatnya ragu-ragu menerima tanaman itu.

"Selamat untukku karena mengakhiri hubunganku." kata Young In, memegang pot tanaman yang satunya lagi. "Tidakkah ini kelihatan seperti ekor merak? Ini air mataku, jaga baik-baik."

Sungguh sial untuk Young In. Pemilik klinik adalah Bibi selingkuhan Gun Young sehingga Young In dipecat.

Para pihak Empire Hotel membicarakan Hyun Suh habis-habisan. Mereka mengatakan Hyun Suh agar sakit otaknya. Resepsionis hotel bercerita bahwa Hyun Suh tidak suka kamar perokok, kamar yang pernah di tempati anak kecil, atap bergaris-garis, lukisan yang membingungkan dan lain sebagainya. Bagi para wanita, Hyun Suh sangat tidak asik.

Hyun Suh bekerja terus tanpa berpaling. Ia mengerjakan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan sekretarisnya.

Young In memeriksa di rekeningnya. Ia terkejut melihat uang di rekeningnya ludes. Saldo di rekeningnya 0 won dan di rekeningnya yang lain tinggal 3000 won.

Melihat pesawat di televisi membuatnya teringat pada Hyun Suh. Young In duduk diam, bingung seraya memandang tissue yang tertulis nomor telepon Hyun Suk. Uangnya sudah menipis. Haruskah ia menelepon Hyun Suh untuk meminta uang ganti karena telah menyelamatkan nyawanya?

Young In mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor telepon Hyun Suk, tapi mengurungkan niatnya. Mendadak tissue tersebut diterbangkan angin dan tertabrak bus. "Ah, sungguh sial." gumamnya kesal. Tapi nomor telepon Hyun Suh sudah ia ketik di ponselnya.

Soo Jin menelepon Hyun Suh dan mengajaknya bertemu. Soo Jin berjanji akan membantu Hyun Suh mencari tempat tinggal untuknya selama beberapa bulan di Korea.

Di lain pihak, di kantor Hyun Suh, sekretaris dengan diam-diam memasang alat penyadap suara di bawah meja Hyun Suh.

Mi Hee hendak menyapa tetangga sebelah kamarnya untuk berkenalan. Ia membawakan seepanci makanan. Mengetahui hal itu, Jae Don begegas berlari untuk menghalangi. Ia meludahi panci itu, kemudian membawanya kembali ke kamar mereka.

"Kau!!!" teriak Mi Hee, mengamuk.

Jae Dong memperingatkan ayahnya untuk segera pindah. "Kakak dan Ibu sangat kuat." katanya dalam sms. "Jika mereka tahu, kau akan mati."

"Putraku. Maafkan aku. Aku manyayangimu. Maafkan aku." ujar Young Kyu dalam balasan smsnya.

Akhirnya Young In memutuskan untuk menelepon Hyun Suh.

"Apa kau ingat aku? Aku gadis U-Turn." kata Young In.

"Ada apa?" tanya Hyun Suh. Saat itu ia sedang bersama Soo Jin.

"Aku ingin bertanya apakah kau baik-baik saja..." kata Young In tidak enak.

"Aku akan memberikannya padamu." kata Hyun Suh. "Aku akan memberikannya padamu, tapi kita bicara nanti saja." Ia menutup telepon.

Young In kesal setengah mati.

Keesokkan harinya, Soo Jin mengajak Hyun Suh ke sebuah apartemen. Mulanya Hyun Suh senang, tapi kemudian ia menemukan sebuah celana dalam wanita.

"Kau bisa membeli tempat tidur baru." kata Soo Jin.

Hyun Suh langsung jijik. "Aku tidak suka." katanya dingin, kemudian berjalan pergi.

Sulit menemukan tempat tinggal yang pas untuk orang perfeksionis seperti Hyun Suh.

Young In bersusah payah mencari pekerjaan, namun belum juga bisa menemukannya.

Di lain pihak, Hyun Suh mencari-cari restoran yang bisa menjual galbi 1 porsi, tapi semua restoran hanya menjualnya 2 porsi.

Young In datang ke Empire Hotel untuk melamar pekerjaan sebagai tukang pijat. Pengelola klinik memintanya mendemonstrasikan pijatan padanya. Bukannya menilai, ia malah tidur.

Kyle menemui seorang tamu hotel. Tamu tersebut adalah seorang gadis Jepang yang hanya bisa bicara bahasa Jepang. Gadis itu meminta Kyle mengobrol dan bermain kartu dengannya.

Ketika sedang bermain kartu, mendadak gadis itu secara spontan bicara dengan bahasa Korea.

"Kau pandai berbahasa Korea." kata Kyle, tersenyum padanya.

"Ya, hanya sedikit." kata gadis itu.

"Teruslah bicara, lama kelamaan kau akan bisa." kata Kyle ramah.

Young In membangunkan pengelola yang tertidur.

"Apa kau membangunkan aku?" tanya pengelola. "Ck ck ck. Jika pelanggan tertidur, kau harus menunggu. Tapi kau malah membangunkannya?"

"Aku tahu itu." bantah Young In. "Tapi ini situasi yang berbeda."

Pengelola tidak mau mendengar penjelasan dan menyuruhnya menunggu hasilnya besok.

Young In pulang dengan kesal. Di lobi, ia berpapasan dengan Hyun Suh.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Hyun Suh. "Ayo bicara di luar."

"Kemana kita akan pergi?" tanya Young In, mengikuti Hyun Suh yang berjalan cepat.

"Untuk mengambil uang." jawab Hyun Suh. "Mulanya aku ingin meneleponmu, tapi sepertinya kau tidak sabar. Itu tidak penting. Aku akan memberimu uang dan membayar hutangku."

Young In merasa sangat terhina, Ia berjalan ke arah yang berlawanan.

"Mau kemana kau?!" panggil Hyun Suh.

Young In tidak mau mendengarkan. Ia mengalihkan perhatiannya dengan berpikir perhitungan matematika.

"Baik!" seru Young In kesal. "Ayo kita ambil uang. Berapa banyak yang akan kau berikan?"

"Berapa banyak yang kau minta?" tanya Hyun Suh. "$60.000?"

"Aku ingin lebih dari itu. Berikan aku $600.000." kata Young In.

"Kau pikir aku lotere bagimu?"

Young In merengek dan berkata keras mengenai masalahnya. Semua orang yang lewat menoleh pada mereka. Kyle melihat dari jauh.

"Baik, baik aku mengerti." kata Hyun Suh, meminta Young In berdiri.

"Kalau begitu, belikan aku makan $6." kata Young In.

Young In dan Hyun Suh makan bersama di sebuah restoran biasa. Melihat Young In makan, membuat nafsu makan Hyun Suh hilang. Ia terlalu jijik untuk makan semangkuk lauk bersama dengan Young In.

"Aku tidak suka makan sendirian. Kau selalu makan sendirian, bukan?" tanya Young In. "Apa karena kau tidak suka berbagi makanan?"

Setelah selesai makan, Young In mengajak Hyun Suh minum di pinggir jalan.

"Kau ingin lebih dari makan malam seharga $6, bukan?" tanya Hyun Suh.

"Ya." jawab Young In. "Aku ingin mengajakmu makan malam seharga $6 sampai jumlahnya $600.000. Dengan begitu, aku tidak akan makan sendirian lagi."

"Maaf, tapi jika aku harus makan malam denganmu 10.000 kali, itu artinya membutuhkan waktu 30 tahun." protes Hyun Suh. "Sekarang aku berumur 30. Kau pikir aku ingin makan bersamamu sampai umurku 60? Cepat atau lambat kau akan menikah, punya anak dan suami. Bagaimana kau bisa keluar setiap hari dan makan malam bersamaku? Apa kau mengincarku? Apa secara tidak langsung kau memintaku menikah denganmu? Apa kau ingin hidup bersamaku?"

Young In diam, tidak menjawab. Rupanya ia mabuk. "Apa aku bilang aku ingin hidup denganmu?!" serunya. Ia oleng dan terjatuh ke tanah.

Soo Jin menelepon Hyun Suh.

"Jangan terlalu banyak minum. Tidak baik untuk jantungmu." pesan Soo Jin. "Apa kau mau makan malam bersamaku besok?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

Ia kembali ke kedai. Young In sudah tidak ada disana. Minuman sudah dibayar dan di meja ada beberapa lembar uang.

Hyun Suh duduk diam dan minum sendirian. Ia berpikir.

Pagi itu, Gun Young menelepon. Karena Young In belum bangun, Mi Hee yang mengangkatnya.

"Katakan padanya aku masih tidur." kata Young In.

Setelah menutup telepon, Mi Hee keluar. Ponsel Young In berbunyi langi. Kali ini Young In mengangkat sambil marah-marah.

"Untuk apa kau menelepon?!" teriaknya. "Semua yang kau katakan hanya alasan! Dasar bodoh! Idiot! Brengsek! Berhenti menelepon!"

Tapi kali ini yang menelepon bukan Gun Young melainkan pihak klinik Emperor Hotel. Telepon tersebut loudspeaker. Mereka kebingungan mendengar omelan itu, termasuk Hyun Suh.

Rupanya Hyun Suh meminta pihak hotel untuk menerima Young In bekerja disana. Ia meminta Kyle untuk menangani Young In.

"Aku atasanmu." kata Kyle ketika Young In sudah tiba di hotel.

"Apa kau punya teknik memijat?!" seru Young In, terkejut.

Kyle membawa Young In pada petinggi Hotel untuk di wawancarai. Mereka bingung kenapa Hyun Suh mau memasukkan orang yang tidak memiliki kemampuan apapun seperti Young In.

"Wakil presiden, Jangan-jangan, ia adalah anak rahasia manajer... mungkin adiknya?"

"Ia pasti punya kemampuan." kata Kang Chul Goon. "Karena itulah ia memilihnya."

Young In bekerja di hotel bukan sebagai tukang pijat, melainkan seorang pengawas dibawah komando Kyle. Tugas pengawas adalah menerima keluhan (dan omelan) tamu hotel.

Setelah berganti seragam, Young In berpapasan dengan Hyun Suh.

"Kita harus segera pergi, Presiden." kata sekretaris pada Hyun Suh.

Young In terkejut mendengarnya. Presiden?

Hyun Suh pergi bersama Soo Jin.

Soo Jin mengajak Hyun Suh ke rumahnya. Soo Jin sendiri yang memasakkan makanan untuk makan malam mereka.

"Aku sudah lama tidak makan masakan rumah." kata Hyun Suh. "Aku ingat saat kuliah kau juga memasak untukku. Sangat lezat."

"Bagaimana dengan rumah ini?" tanya Soo Jin.

"Aku suka." kata Hyun Suh.

"Apa kau ingin tinggal disini?" tanya Soo Jin. "Tinggallah bersamaku."

Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...