Laman

Kamis, 26 Juli 2012

Sinopsis Ojakgyo Brothers (Episode 11 – 20)

Kisah Tae Hee – Ja Eun


Mama Hwang kaget dan marah melihat Ja Eun berani kembali lagi ke perkebunannya. Ia tak mau melihat Ja Eun lagi dan menyuruhnya pergi, walaupun Ja Eun minta maaf dan berjanji untuk membantu Mama Hwang bekerja di perkebunan.

Ja Eun masih bertahan dan hal itu membuat Papa dan Mama Hwang bertengkar. Papa Hwang meminta agar Ja Eun diijinkan tinggal di tenda tersebut, tapi Mama Hwang berkeras untuk tetap mengusir Ja Eun.


Mama Hwang benar-benar tak mengijinkan Ja Eun untuk tinggal di tenda. Bahkan saat Ja Eun sedang memasak mie, ia malah menendang panci mie-nya hingga Papa Hwang dan Tae Shik tak enak hati pada Ja Eun.


Malam harinya, Ja Eun mendapat masalah baru. Ia ingin BAB, dan dari informasi Ha Na (putri Mi Seok), di luar ada kakus kecil. Namun kakus itu tak memiliki air. Ia berteriak-teriak memanggil Ha Na meminta tissue.


Setelah sekian lama, ada sebuah tangan yang mengulurkan tissue padanya. Ja Eun menerimanya dengan rasa terima kasih yang dalam pada Ha Na.


Benarkah tangan ini milik Ha Na?


Mama Hwang kemudian datang untuk memberikan tissue sekaligus memberi peringatan untuk pada Ja Eun bahkan tenda besok pagi. Tapi Eun Jae tak patah semangat. Ia malah memamerkan tendanya pada Tae Hee yang baru pulang dan berterima kasih atas sarannya yang brillian.


Ucapan terima kasih itu didengar oleh Tae Pil yang langsung marah pada Tae Hee yang menuduhnya tak loyal pada ibu mereka. Padahal, ibu mereka tak pernah pilih kasih, walaupun Tae Hee bukan anak kandungnya. Dan hanya sampai ini sajakah loyalitas Tae Hee pada Mama Hwang?

Tuduhan Tae Pil membuat Tae Hee mengacuhkan Ja Eun pada keesokan harinya. Namun perlakukan Tae Hee masih lebih baik daripada Mama Hwang dan Tae Pil yang memaksa Ja Eun untuk pergi dari perkebunan mereka.

Mama Hwang tak ingin melihat Ja Eun hari ini. Apalagi hari ini ada calon pembeli yang ingin melihat bebek peliharaan Mama Hwang. Ia bahkan menutup jendela kandang bebek saat melihat muka Ja Eun.

Namun tindakan Mama Hwang yang menutup kandang bebek membuat bencana bagi bisnis bebeknya. Ia yang telah menyombongkan bebeknya adalah bebek yang paling bagus, ternyata hampir mati kepanasan di dalam kandang. Rupanya menutup jendela kandang adalah hal yang terlarang di musim panas. Akibatnya pembeli pun urung berbisinis dengan Mama Hwang.

Mama Hwang yang kesal dan marah karena bebeknya tak terjual mulai menyalahkan Ja Eun, walaupun sebenarnya kesalahan itu ia buat sendiri. Kekesalannya itu membuat Mama Hwang menyemprotkan air ke tubuh Ja Eun. Untung saja ada Papa Hwang dan Tae Bum yang menghentikannya.

Di dalam rumah, Tae Bum menyarankan agar Mama Hwang tak mempedulikan Ja Eun. Jika ia melakukan itu, cepat atau lambat Ja Eun pasti akan menyerah.

Namun Mama Hwang tetap berpikiran lain. Ja Eun yang baru saja membersihkan badannya di rumah Ha Na, kaget saat kehilangan tendanya. Ternyata Mama Hwang telah mengemasinya dan menyuruhnya pergi.

Terpaksa Ja Eun pergi dan memindahkan tendanya. Beberapa langkah dari perkebunan Hwang.

Smart girl.

Tetangga yang melihat Ja Eun, bertanya-tanya mengapa Ja Eun mendirikan tenda di luar perkebunan Hwang? Mereka teringat ocehan Ja Eun saat mabuk dan dibawa oleh polisi, kalau keluarga Hwang adalah pencuri. Benarkah perkebunan ini milik Ja Eun?

Untungnya Nenek dan Tae Pil baru saja pulang dan melihat keramaian ini. Untuk menghentikan kecurigaan tetangga, Nenek buru-buru menyuruh Ja Eun untuk mengemasi tendanya dan masuk ke dalam perkebunan.
Nenek menyalahkan Mama Hwang karena sekarang tetangga mulai menggunjingkan mereka. Akhir kata, Ja Eun tetap berkemah di dalam perkebunan. Titik.


Ja Eun kembali lagi ke tempat semula. Malamnya, ia bertemu dengan Tae Hee untuk mengorek informasi tentang Mama Hwang dan pekerjaannya di kebun. Tae Hee yang masih teringat pada tuduhan Tae Pil tak menjawab. Namun perhatian Ja Eun kemudian teralih melihat tangan Tae Hee.


Ia meraih tangan Tae Hee dan melihat jam tangannya. Apakah Tae Hee, orang yang memberinya tissue pada malam itu? Tae Hee tak menjawab jelas, ia malah menuduh Ja Eun berbicara ngawur. Ja Eun memastikan tangan inilah yang memberikan tissue padanya.

Tae Hee malah tertarik pada pulpen Ja Eun. Sebelumnya ia pernah melihat pulpen itu di tangan Seung Ri. Dimanakah Ja Eun membelinya? Dengan jujur, Ja Eun menjawab kalau ayahnya yang memberikan pulpen itu yang ia dapat dari suatu tempat.

Tae Hee pun berlalu sambil meminjam tanpa persetujuan dari Ja Eun. Sudah kehilangan pulpen, informasipun tak ia dapatkan.


Ketertarikan Tae Hee akan pulpen Ja Eun karena ia melihat pulpen itu dimiliki oleh Seung Ri, putri atasannya. Ia bertekat untuk memecahkan kasus penyuapan saat penerimaan mahasiswa baru yang mengkambinghitamkan Ja Eun. Walaupun atasan Tae Hee, kepala polisi, telah mengumumkan ke media kalau tak ada kasus penyuapan apalagi keterlibatan Profesor Seo dalam penerimaan mahasiswa.


Saat perayaan chuseok, semua anggota keluarga Hwang pergi meninggalkan rumah yang penuh dengan makanan dan gelas-piring kotor. Ja Eun yang sebelumnya mencium bau masakan, tergoda untuk masuk. Ia mencicipi makanan, dan melihat kalau sangat banyak cucian piring kotor Mama Hwang. Ia mulai mencuci piring-piring tersebut, dan melihat banyak gelas yang bertebaran, ia pun mulai mengumpulkannyadari kamar ke kamar.


Sayangnya, saat ia keluar dari kamar Papa-Mama Hwang, keluarga Hwang datang. Mama Hwang pun marah dan memukul Ja Eun, menuduhnya mencari-cari kontrak rumahnya yang sudah hilang. Ja Eun membantahnya. Semenjak kertas itu hilang, ia tak pernah berpikir untuk memiliki rumah ini lagi.

Mama Hwang tak percaya. Ia melihat kalau Ja Eun menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya. Ia memaksa Ja Eun mengeluarkannya namun Ja Eun menolak. Mama Hwang tetap memaksa, dan barang itu terjatuh ke lantai.


Dan itu adalah kue.

Anggota keluarga yang lain semakin kelihatan tak enak hati pada Ja Eun. Hati mereka semakin tak enak melihat dapur telah bersih dari piring kotor, karena Ja Eun telah membersihkannya.


Rapat keluarga pun diadakan. Semua orang mendukung kalau Ja Eun diperbolehkan tinggal. Hanya Mama Hwang dan Tae Pil saja yang tak setuju. Mama Hwang kesal pada keputusan keluarga tersebut. Tapi ia tetap melaksanakannya.


Pukul 4:32 pagi, ia membangunkan Ja Eun dan menyuruhnya mulai bekerja. Ia memperbolehkan Ja Eun untuk bekerja di sampingnya selama 6 bulan tapi ia melarang Ja Eun untuk masuk rumah. Ia akan menilai kinerja Ja Eun selama 6 bulan kedepan. Ja Eun pun menyanggupinya dengan senang hati.


Namun sanggup bukan berarti langsung mahir. Karena beberapa hari mengikuti Mama Hwang, Ja Eun melihat bagaimana kerasnya Mama Hwang bekerja di kebun. Ia pun tak tahu kalau mematikan lampu (yang ia kira untuk menghemat energy) dapat membuat anak bebek yang baru menetas kedinginan. Untungnya, ia dan Mama Hwang berhasil menyelamatkan anak-anak bebek itu.

Diam-diam Tae Hee masih tetap menyelidiki menyelidiki asal pulpen itu, yang ia curigai memiliki hubungan antara Prof. Seo, ayah Ja Eun dan ayah Seung Ri. Seung Ri pernah mengatakan kalau pulpen itu hanya ada satu di Korea, pemberian dari ayahnya. Setelah ditelusuri, pulpen itu berasal dari sebuah restoran di Hongkong, souvenir dari sebuah acara.


Pada suatu malam di gudang, tak sengaja Tae Hee bertemu Ja Eun yang sedang menggambar makanan dan minuman yang ia inginkan. Ja Eun kemudian bercerita pengalamannya membantu Mama Hwang. Tae Hee mendengarkannya tapi tak berkomentar banyak. Dan sebelum berpisah, Ja Eun (yang tak dapat membelanjakan uang sesuka hatinya lagi) meminta dengan manis pada Tae Hee agar lain kali Tae Hee membelikannya macchiato caramel kesukaannya. Tapi Tae Hee tak memberi jawaban dan hanya berlalu pergi.


Mama Hwang masih tetap keras dalam memperlakukan Ja Eun. Tapi sedikit demi sedikit, hari demi hari, ia sedikit melunak pada Ja Eun. Apalagi saat pohon pir-nya terserang hama. Ja Eun juga ikut khawatir dan membantu menyemprot pestisida ke pohon, satu per satu, hingga larut malam.

Dan saat hujan turun, bukannya mengkhawatirkan pestisida yang tak akan berguna karena luruh terkena air hujan, tapi Mama Hwang malah mengkhawatirkan Ja Eun yang pasti kedinginan di tengah hujan yang lebat.


Kebetulan Tae Hee baru saja pulang kantor yang juga khawatir pada Ja Eun. Ia bertemu dengan Mama Hwang yang berpura-pura tak khawatir namun keluar rumah di tengah hujan lebat. Setelah mereka memanggil tanpa ada jawaban, Tae Hee dan Mama Hwang masuk ke dalam tenda.


Ja Eun tergolek lemas di dalam tenda dengan suhu tubuh yang tinggi. Tae Hee buru-buru menggendong Ja Eun masuk ke dalam rumah. Mama Hwang menyuruhnya untuk menempatkan Ja Eun di kamar lamanya, di loteng.


Ternyata Ja Eun demam dan perutnya sakit karena datang bulan. Mama Hwang menemaninya dan menghangatkan perut Ja Eun dengan tangannya, membuat Ja Eun merasa nyaman. Ia belum pernah merasakan tangan ‘ibu’ karena ibu kandungnya meninggal saat ia berumur 2 tahun.


Mama Hwang merasa tersentuh mendengarnya, walaupun ia berpura-pura tak peduli di depan Papa Hwang. Tapi keesokan harinya, Ja Eun terbangun di tempat tidur lamanya di loteng dan mendapat sarapan pagi!


Hubungan Ja Eun dan Mama Hwang semakin membaik, apalagi saat Ja Eun membela Mama Hwang di hadapan Nenek yang menganggap Mama Hwang bukan menantu yang dapat dibanggakan. Ja Eun tak peduli kalau Nenek menghardiknya karena pembelaannya terdengar tak sopan pada orang yanglebih tua, tapi Nenek tak seharusnya memperlakukan menantunya seperti itu.

Diam-diam Mama Hwang gembira mendengar ucapan Ja Eun. Ketaksukaannya pada Ja Eun semakin meluntur saat Ja Eun bersedia membantu Mama Hwang untuk mengintip formula pakan bebek yang digunakan tetangga mereka, yang mempunyai pelanggan dari restoran-restoran besar.


Tapi tentu saja menerobos dan mengambil contoh pakan bukan urusan mudah kalau bebek-bebek itu dijaga ketat. Mereka ketahuan, dan harus melarikan diri dari kejaran tetangga yang marah itu.

Misi mengintip gagal, tapi misi melunakkan hati Mama Hwang berhasil. Ja Eun pun mengakui kalau ia bersalah pernah mengakui kalau ia sempat mencurigai Mama Hwang yang mengambil surat kontraknya yang hilang. Tapi sekarang, ia mengakui kalau ia salah.

Mama Hwang hanya diam, tak menanggapi kata-kata Ja Eun.

Tae Hee akhirnya menemukan petunjuk tentang hubungan pulpen dengan ayah Ja Eun, kepala polisi, dan satu nama yaitu Hong Man Shik, yang dikenal sebagai supir Baek In Ho. Hong Man Shik yang sudah pensiun, sekarang berada di China.


Penemuan itu membuat Tae Hee senang dan merayakannya dengan temannya. Minum soju lebih banyak, membuat Tae Hee mabuk. Dan apa ia lakukan sesampainya di rumah?


Masuk ke dalam tenda Ja Eun. Ja Eun kaget, tapi tak dapat mengusir Tae Hee. Tanpa berkata sepatah katapun, Tae Hee memandang Ja Eun dalam membuat Ja Eun salah tingkah. Setelah Tae Hee mengatakan perkembangan kasusnya, ia terkapar menjatuhi Ja Eun.


Dan apa yang dilakukan Ja Eun jika ada seorang pria masuk ke tendanya?


Memotretnya untuk kemudian ia jadikan sebagai alat pemerasan.

Ja Eun meng-MMS gambar tersebut, dan meminta es macchiato caramelnya, jika ia tak mau foto tersebut menyebar di intranet kepolisian.

Hihihi.. kesempatan dalam kesempitan.


Tae Hee pun terpaksa membelikan es macchiato caramel untuk Ja Eun. Tapi ia tak dapat menyembunyikan kemarahannya karena Ja Eun mengembalikan foto lama miliknya. Foto seorang wanita. Ia tetap marah walaupun tahu Ja Eun menemukannya saat ia tertidur di tenda Ja Eun.

Namun kemarahannya mereda, dan keesokan harinya ia meminta maaf pada Ja Eun dengan membelikannya es kopi kesukaannya lagi. Tapi ia tetap tak mau menceritakan siapa wanita yang aad di foto itu.


Saat pernikahan Tae Bum (ya, akhirnya Tae Bum menikah, cerita lengkapnya setelah kisah Tae Hee), Tae Hee pulang karena harus berganti pakaian. Ia menemukan Ja Eun yang duduk terpekur di depan rumah.

Ja Eun sudah berdandan cantik untuk pernikahan Tae Bum, tapi baru menyadari kalau ia sebenarnya tak diundang di pernikahan. Tae Hee bersimpati padanya, dan memintanya untuk menunggu di mobil. Mereka akan pergi ke pernikahan bersama-sama.


Ja Eun senang mendengarnya. Tae Hee pun mandi dan berganti pakaian. Hanya satu yang kurang. Dasi. Tae Hee tak dapat memasang dasi sendiri, biasanya ibunya yang melakukannya. Ja Eun pun menawarkan untuk memasangkan dasi padanya.


Aww.. memasang dasi ternyata membuat mereka canggung namun berdebar-debar. Setelah dasi terpasang, dengan suara lirih Tae Hee meminta Ja Eun untuk naik ke mobil.


Setelah pernikahan Tae Bum, Ja Eun yang selalu mengunjungi loteng karena anak bebek yang baru lahir diletakkan di atas loteng, menemukan Mama Hwang sedang minum soju dan memandang foto kanak-kanak Tae Bum.


Melepas seorang anak untuk menikah ternyata membuat Mama Hwang galau. Ja Eun pun menceritakan kalau ia sebenarnya juga sedang galau karena mendapati kenyataan kalau hidup ibu tirinya yang dulu melarikan diri, sekarang menyedihkan dan hidup di kamar kecil. Mereka berdua akhirnya minum soju bersama-sama.

Tak diragukan lagi, Mama Hwang mulai melunak pada Ja Eun. Karena keesokan harinya Ja Eun diundang untuk sarapan di rumah, karena Mama Hwang memasak makanan yang menyembuhkan rasa mabuk setelah minum soju.


Saat Ja Eun membantu Mama Hwang dan Nenek mengupas cabai kering, ia mengetahui kalau selama ini Tae Hee tak pernah memiliki pacar yang ia kenalkan pada keluarga. Dengan nada bergurau, Nenek mencurigai Tae Hee yang menyukai sesama jenis.

Kecurigaan itu menular pada Ja Eun yang bertemu dengan Tae Hee di toko roti. Tanpa basa-basi, Ja Eun bertanya pada Tae Hee apakah ia menyukai laki-laki? Ja Eun berjanji akan merahasiakannya pada keluarga Hwang jika kenyataannya seperti itu. “Jika kau melihat gadis cantik sepertiku dan tak merasakan apapun, maka ini benar-benar masalah serius, Om.”

Tae Hee hanya memandang Ja Eun tanpa sepatah katapun. Ja Eun menyimpulkan kalau Tae Hee memang tak merasakan apapun juga. Dan ini benar-benar masalah besar.


Tiba-tiba Tae Hee bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ja Eun, membuat Ja Eun panik karena Tae Hee sangat dekat sekali dengannya. Kedekatan itu berlangsung cukup lama, dan Tae Hee tetap tak mengatakan sepatah katapun.

“Jangan bercanda lagi.”
Ja Eun pun mengangguk-angguk. Tae Hee pun kembali ke posisinya. Tapi Ja Eun yang masih belum kembali ke posisinya. Jantungnya berdebar-debar dan tangannya pun gemetar. Sepertinya ia yang merasakan sesuatu.
Tae Hee? Hmmm…


Di rumah, Mama Hwang mendapat kiriman mesin pencuci piring, yang dibeli oleh Ja Eun. Nenek memuji Mama Hwang yang bernasib baik, memiliki suami yang baik, anak-anak yang berbakti, dan sekarang ada gadis yang numpang tinggal di halaman rumah mereka, membelikan barang yang mahal untuknya.


Tapi Mama Hwang malah merasa gundah dengan pemberian tersebut. Apalagi Ja Eun beralasan kalau alasannya membelikan mesin ini karena ia kasihan melihat pekerjaan Mama Hwang yang sangat banyak. Dari mengurus kebun, bebek, memasak, dan membersihkan rumah. Ia merasa mesin ini akan sangat membantu Mama Hwang.

Bagaimana mungkin Mama Hwang tak galau melihat kebaikan hati Ja Eun?


Gadis yang tak dikenalnya, yang mulai melunakkan hatinya?

Gadis yang melunakkan hatinya, namun pemilik asli perkebunan yang ia sekarang tempati?

Gadis pemilik asli perkebunan, yang kehilangan surat kontrak pinjam rumah?

Gadis yang kehilangan surat kontrak pinjam rumah, yang surat kontrak itu sekarang ada di tangannya?

Mama Hwang hanya dapat menangis dan memegang erat surat kontrak tersebut.


Tae Pil yang kebetulan melihat ibunya menangis, menyadari surat apa yang dipegang Mama Hwang. Tae Pil mengingat saat-saat ia dan ibunya berlaku jahat pada Ja Eun. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Apalagi saat Mama Hwang akhirnya menyuruh Ja Eun untuk memindahkan barang-barangnya ke loteng, karena cuaca sudah mulai dingin.


Ingin berbicara dengan Tae Bum, tapi Tae Bum terlalu sibuk. Memanggil Tae Bum dan Tae Shik untuk minum bersama, mereka tak sempat. Ia baru menyadari kalau dirinya hanyalah anak bungsu yang tak dianggap dan tak memiliki pendapat. Ia pun minum sampai mabuk.


Pulang dengan kondisi mabuk, ia langsung mengusir Ja Eun yang baru turun dari loteng, mengatakan kalau Ja Eun seharusnya pergi dari rumah karena ibunya pemilik sah perkebunan ini, dan Ja Eun sudah kehilangan surat kontrak itu. Ibu dan Ja Eun bingung melihat kelakuan Tae Pil.


Setelah Ja Eun diusir keluar pintu, Tae Pil yang mabuk berkata pada Mama Hwang kalau ibu tak perlu khawatir dan merasa bersalah saat memandang Ja Eun. Kenapa juga ibu tak membakar surat kontrak itu?


Dan ibu pun sadar kalau Tae Pil mengetahui rahasianya.

Kisah Tae Bum – Soo Young


Tae Bum masih menolak untuk menikah. Akhirnya sebagai penjajagan, mereka sepakat untuk berkencan dahulu. Dan dari sana, Tae Bum dan Soo Young menemukan pribadi calonnya yang berbeda dari yang terlihat sebelumnya.


Soo Young ternyata tak sesempurna wanita yang dibayangkan Tae Bum. Dan Tae Bum pun juga tak se-playboy dan tak bertanggung jawab seperti yang dibayangkan Soo Young. Dari Tae Hee, ia mengetahui kalau Tae Bum terlambat bekerja di Stasiun TV -pekerjaan yang ia idam-idamkan- karena ia harus bekerja di tempat yang menghasilkan banyak uang untuk menutupi hutang keluarga. Dari pengakuan Tae Bum, Soo Young menyadari kalau Tae Bum kelihatan seperti playboy karena ia tak dapat melupakan cinta pertamanya.


Namun penjajagan itu harus dipercepat sebagai pernikahan karena secara tak sengaja Tae Hee dan Tae Pil mengetahui rahasia mereka. Begitu pula Tante Soo Young yang baru pulang dari Amerika. Dan semuanya itu akhirnya merembet pada orang tua mereka.


Hasilnya pun akhirnya final. Tae Bum dan Soo Young akan menikah.


Kompromi pun dilakukan. Mereka sepakat membuat kontrak pernikahan selama satu tahun, tapi kontrak itu mengijinkan mereka untuk bertemu dengan seseorang yang disuka. Setelah setahun, baru dibicarakan lagi, apakah mereka masih ingin meneruskan pernikahan ataukah tidak. Jika berpacaran saat menikah? Soo Young memperbolehkan hal itu. Asalkan tak ketahuan olehnya, kalau tidak Tae Bum akan mati, ancamnya.


Kompromi antara dua orang adalah hal yang cukup sulit. Lebih sulit lagi adalah kompromi dengan kedua belah pihak keluarga. Walaupun sedikit ada hubungan, Tae Shik adalah rekan kerja ayah Soo Young di rumah sakit, jelas sekali kalau keluarga Soo Young berada di kalangan elit, sementara Keluarga Tae Bum dari kalangan menengah.

Tapi kedua pihak sama-sama tak mau jika mereka hanya mengundang 50 undangan di pesta pernikahan itu. Yang berarti tiap keluarga hanya menerima jatah 25 undangan.

Walaupun keluarga keberatan, tapi keputusan mempelai sudah final. Ibu Soo Young hanya dapat memberikan rumah untuk ditempati mempelai baru. Keluarga Hwang tentu tak menyukai hal ini, tapi alasan Ibu Soo Young masuk akal karena Soo Young sedang hamil. Yang tak mereka ketahui adalah rumah tersebut tepat bersebelahan dengan rumah Keluarga Cha. Nomornya saja 101 dan 102.


Kejutan demi kejutan terjadi di pernikahan ini. Kejutan terbesar adalah upacara pernikahan tersebut harus dipercepat, dan pasangan pengantin kabur saat itu juga karena video yang harus ditayangkan di televisi hilang dan harus diedit ulang.


Tae Hee dan Ja Eun yang terlambat datang ke pernikahan pun terheran-heran melihat run away bride yang baru saja lewat ke hadapan mereka.

Ja Eun: “Bukannya itu Tae Bum-ssi dan istrinya?”
Tae Hee: “Sepertinya begitu.”

Dan beginilah foto keluarga pernikahan Hwang Tae Bum dan Cha Soo Young. Dan tentu saja mereka akan berterima kasih pada photoshopped yang akan memotong foto pengantin dan meletakkannya di tengah-tengah foto.


Kejutan berikutnya datang dari ibu Soo Young yang datang membawakan sarapan bagi pasangan pengantin baru. Datangnya pun bukan dengan mengetok pintu, tapi membuka pintu bahkan melihat menantunya yang tidur tergeletak di ruang tengah.


Tae Bum tentu marah pada Soo Young (yang baru saja memberinya kejutan : wajah aslinya tanpa make up dan style berantakan) dan langsung merubah password pintu rumahnya.

Namun hal itu tak ada gunanya, karena ibu Soo Young menggunakan masterkey untuk masuk ke dalam rumah mereka, dan mengganti celana dalam Tae Bum yang sudah usang dan menggantinya dengan yang baru.


Tae Bum tentu saja marah. Bukan pada Soo Young, tapi ibu Soo Young yang berdalih kalau ia menghargai menantunya seperti ia menghargai Soo Young. Jadi ia mengganti semuanya dan menolak menaruh celana dalam yang lama, karena ia sudah membuangnya semua.

Hmm.. trouble.

Kisah Tae Pil

Tae Pil adalah anak bungsu keluarga Hwang yang sampai sekarang belum memiliki pekerjaan tetap. Ia bercita-cita untuk memiliki usaha sendiri. Maka ia berusaha mencari uang untuk modal usahanya. Dari meminjam uang dari para noona yang ia kenal, sampai meminjam paksa pada Tae Hee ataupun Tae Bum.

Suatu saat ia melihat seorang noona yang meninggalkan kontrak jual beli toko. Tapi ia melihat kalau toko tersebut tak memiliki prospek yang bagus. Ia mengatakan pendapatnya pada noona tersebut.

Tapi noona tersebut tak mau percaya pada Tae Pil, karena ia sebelumnya ia melihat Tae Pil menggoda wanita-wanita seusianya, tak mengatakan jati dirinya yang sebenarnya, malah menggunakan kartu namanya Tae Bum sebagai reporter TV.


Noona tersebut bahkan memberikan tendangan mautnya saat Tae Pil terasa seperti menggodanya. Ia menyuruh Tae Pil untuk tak mengikutinya.


Jadi alangkah kagetnya Tae Pil saat ia melihat noona tersebut di pernikahan Tae Bum, bersama calon kakak iparnya pula. Noona tersebut sudah hampir melempar vas bunga jika Soo Young tak menahan tantenya.


Tante? Iya Yoo Eul adalah tante Soo Young yang usianya sedikit lebih muda daripada Soo Young. Tante yang baru saja bercerai, kembali dari Amerika dan langsung membeli sebuah toko outdoor sport tanpa penyelidikan lebih dalam.


Pendapat Tae Pil ternyata sama dengan kabar yang diberikan oleh ayah Soo Young. Toko itu bahkan deficit selama 6 bulan. Merek yang dijual berkualitas bagus, tapi entah kenapa toko itu satu-satunya outlet yang mempunyai laba minus.


Jadi saat ia bertemu dengan Tae Pil, ia bersemangat dan ingin mengajaknya berbicara. Tapi Tae Pil yang saat itu sedang bad mood karena mengetahui rahasia ibunya, tak ingin berbicara dengan Tante itu. Yoo Eul kemudian memintanya nomor telepon Tae Pil agar ia bisa meneleponnya di kemudian hari.

Kisah Tae Shik

Tae Shik akhirnya bertemu dengan Ye Jin, gadis cantik yang dikenalkan oleh ayah Soo Young. Tae Shik suka sekali pada Ye Jin, walaupun Mi Seok kelihatan tak menyukai Ye Jin.


Secara tak sengaja Mi Seok mendengar kalau Ye Jin memiliki hutang kartu kredit, dan mengatakan kalau ia akan menyelesaikannya karena sebentar lagi ia akan menikah. Ia menunjukkan ketaksukaannya pada Ye Jin, membuat Tae Shik menduga kalau Mi Seok menyukainya (yang memang dugaan tersebut benar adanya).


Kata-kata Mi Seok tentu saja tak didengar oleh Tae Shik. Apalagi keluarganya langsung menyukai Ye Jin saat Tae Shik membawanya ke pesta pernikahan Tae Bum. Keluarg Hwang berharap kalau sebentar lagi Tae Shik akan menikah dengan Ye Jin.


Tae Shik pun juga berharap seperti itu, karena ia sudah memperkenalkan Ye Jin pada orang tuanya.

Hanya satu hal yang mengganjal pernikahan tersebut.

Wanita yang dipacarinya saat ia tinggal di Filipina mengirimkan email kalau ia telah mengirimkan anaknya ke Korea .


Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun yang belum pernah ia tahu keberadaannya.


O-oh…


Sumber:
http://www.kutudrama.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...