Laman

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 7)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 7


Hari sudah pagi. Soo Jin bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar Hyun Suh untuk membangunkannya. Belum sempat ia mengetuk pintu, Soo Jin mendengar Hyun Suh menelepon seseorang.

"Halo?" ujar Hyun Suh, masih mengantuk.

"Good morning." ujar orang diseberang saluran. Young In. "Your baby, Bokja (penggorengan) sedang bicara. Ada yang bisa kubantu?"

"Ba... baby?" gumam Hyun Suh. "Jam berapa sekarang? Bokja, kau sedang apa? Kau sendirian?"

"Tentu saja sendirian!" kata Young In. "Kau takut aku bersama seorang pria pada jam segini?"

"Tidak apa-apa jika kau bersama pria." kata Hyun Suh.

Soo Jin mengetuk pintu. Hyun Suh menurunkan ponselnya. Di seberang saluran, Young In terus saja mengoceh.

"Kau sudah bangun?" tanya Soo Jin. Young In bisa mendengar suaranya. "Apa kau sedang menelepon? Turunlah jika kau sudah selesai."

Setelah Soo Jin keluar, Hyun Suh bicara lagi dengan Young In.

"Apa kau sudah di hotel?" tanya Young In. "Kedengarannya seperti ada seseorang disampingmu."

"Sekarang sudah tidak ada lagi." kata Hyun Suh. "Kita bertemu saat makan siang. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu."

Young In sangat kesal. Ia berpikiran bahwa Hyun Suh hanya berniat mempermainkannya.

"Mungkin saja itu pelayannya." gumam Young In, berpikiran postitif. "Pelayannya yang masih muda. Tapi kenapa ia bicara dengan bahasa tidak formal?" Ia berpikir. "Ah! Mungkin karena pelayannya bukan berasal dari negara ini, jadi ia hanya bisa bicara bahasa Korea yang tidak formal. Ya, ya, benar."

Ponsel Young In berbunyi. "Yobbo!" panggilnya di telepon. Yobbo adalah panggilan untuk suami/istri.

Dari seberang saluran, Kyle bingung. "Nona Choi Young In?" tanyanya.

Young In terkejut dan melihat nama di layar ponselnya. Kepala Pengawas. "Ah, Kepala Pengawas!" serunya.

"Aku ingin mengajakmu sarapan bersama." kata Kyle.

Young In hendak menolak. "Aaaahhh.. aku masih di tempat tidur..."

Mendadak terdengar suara di bus. "Pemberhentian berikutnya..."

Kyle tersenyum. "Kiat bertemu di dekat hotel." katanya.

"Ya." jawab Young In terpaksa.

Pagi itu, Hyun Suh, Soo Jin dan Yoon telihat layaknya sebuah keluarga. Hyun Suh membantu Soo Jin memotong rumput, namun Hyun Suh tidak bisa menggunakan alat pemotong rumput. Yoon menawarkan mengajari Hyun Suh, tapi Hyun Suh menolak. Mereka berdua berebut mesin pemotong rumput. Soo Jin hanya tersenyum.

"Kau mengatakan pada Yoon bahwa ayahnya spiderman?" tanya Hyun Suh. "Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya."

"Apakah baik jika aku mengatakan yang sebenarnya?" tanya Soo Jin.

"Ya, tentu saja."

Soo Jin hanya tersenyum tipis.

Kyle memberikan sebuah hadiah untuk Young In. "Ini, ambillah." katanya. "Itu hadiah dari pelanggan. Pelangganmu yang pertama, yang kau berikan kancing bajumu. Dia mengatakan terima kasih. Ia juga akan mengadakan pesta pertunangan di hotel kita."

"Itu bagus!" seru Young In senang.

"Ia ingin kau bertanggung jawab atas pestanya." kata Kyle. "Sebagai Ketua, aku menawarkan diri dan berjanji padanya untuk menjadikan pesta itu sempurna, tapi dia menolak."

"Tidak mungkin." kata Young In.

"Ya. Kau harus kembali atau menolak sendiri permintaan pelanggan."

Young In tetap menolak. Ia memberikan sebuah kartu nama dan menawarkan diri untuk membuat bunga yang indah untuk pesta pertunangan wanita itu.

Kyle diam. Ia menatap Young In lekat-lekat kemudian memegang pundaknya. "Nona, Young In. Aku adalah atasanmu. Tidak peduli kau melakukannya dengan benar atau tidak, aku yang akan bertanggung jawab. Direktur juga sudah setuju."

Young In tidak menjawab. Ia memberikan setangkai bunga pada Kyle, kemudian pergi.

Di hotel, Young Kyu tidak bisa berhenti memikirkan Young In. Apa alasan Young In berhenti bekerja di hotel itu?

Hyun Suh mengamati rekaman aktivitas seorang wanita, yakni Sekretaris Oh. Wanita tersebut bertemu dengan seorang pria di sebuah restoran. Hyun Suh mencoba melihat siapa pria itu, tapi yang kelihatan hanyalah bagian belakangnya saja.

Kyle masuk ke ruangan.

Pandangan Hyun Suh tetap terpaku pada video. Pria yang bicara dengan si wanita menoleh. Rupanya ia adalah Kang Chul Goo.

"Ini mengenai Nona Young In." kata Kyle. "Aku berkata ini bukan hanya sebagai atasannya, tapi aku juga memiliki ketertarikan pribadi padanya."

"Lalu?"

"Aku ingin meminta bantuanmu." kata Kyle. "Kuharap kau bisa bersikap baik pada Choi Young In saat bekerja. Kau memberiku tanggung jawab terhadapnya dan aku tahu persis bahwa ia ingin bekerja di hotel ini."

Kyle hendak pergi, tapi Hyun Suh menahannya. "Tunggu." katanya. "Bukankah kau datang ke Korea karena aku? Kau selalu memandangku dengan ekspresi seakan-akan aku telah mencuri sesuatu darimu."

"Aku tidak memiliki apapun yang bisa kau curi." jawab Kyle datar. "Belum."

Hyun Suh tersenyum dan mengajak Kyle minum bersamanya kapan-kapan.

Hyun Suh kembali ke ruangannya. Ia menatap sekretarisnya lekat-lekat.

"Ada apa?' tanya sekretaris.

"Apa yang dilakukan Manager Umum akhir-akhir ini?" tanya Hyun Suh.

"Belau bekerja dengan baik." jawab Sekretaris. "Mereka bilang Manajer hanya memikirkan soal hotel. Mungkin karena itulah orang-orang menyebutnya membosankan."

"Apakah ia bersikap seperti itu padamu juga?" tanya Hyun Suh. Ia mendekati Sekretarisnya dan menyentuh kalung yang dikenakannya. "Ini asli." katanya.

Diam-diam, resepsionis mengintip mereka.

Seorang pria keluar dari sebuah ruangan. Pria itu tidak lain adalah pria yang memiliki mini kaset. Ia mengambil sepotong selotip, kemudian menempelnya di antara daun pintu.

Setelah itu, Kyle datang. Ia mengeluarkan kunci pintu sebuah kamar hotel, hendak menyusup masuk.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kang Chul Goo.

Kyle menyimpan kunci ke dalam sakunya."Seorang tamu meninggalkan kuncinya di suatu tempat dan tidak bisa menemukannya." jawabnya. "Aku datang untuk membukakan pintu."

"Begitu." ujar Chul Goo. "Aku mencari kunci master dan mereka mengatakan padaku bahwa kau mengambilnya."

Kyle menyerahkan kunci tersebut pada Chul Goo. Chul Goo menyuruh Kyle pergi.

Hyun Suh mengendarai mobilnya dan berhenti di depan toko bunga tempat Young In bekerja. Ia menekan klakson agar Young In menoleh. Tapi Young In cuek. Hyun Suh menekan klakson lagi dan lagi. Young In merasa kesal dan menyiram mobil Hyun Suh dengan air kran.

"Masuk." kata Hyun Suh.

"Aku sibuk."

"Ya sudah." Hyun Suh hendak menjalankan mobilnya lagi.

"Baik, baik, aku mengerti" Young In berteriak pada atasannya bahwa ia akan pergi sebentar. Belum sempat atasan Young In menjawa, Young In sudah pergi bersama Hyun Suh.

"Berapa waktu yang kau miliki?' tanya Hyun Suh.

"30 menit."

"Karyawan bilang 30 menit, tapi bos berpikir 15 menit." kata Hyun Suh. "Kita akan melakukan semuanya dalam waktu 15 menit. Makan siang, menjawab semua yang ingin kau tahu, dan cuci mobil."

Young In melongo.

"Tutup mulutmu!" seru Hyun Suh. "Kita bisa melakukan semuanya."

Hyun Suh mengajak Young In makan di mobil sembari mobil tersebut dicuci.

"Aku bangun jam 6." kata Hyun Suh. "Aku selalu sarapan. Hal yang kulakukan pertama kali adalah melihat langit-langit dan memikirkan mengenai pekerjaan hotel. Dan kau bertanya apa lagi? Apakah aku hidup sendiri? Aku hidup bersama seorang teman. Ia memiliki seorang anak juga."

"Aku mendengar suara seorang wanita. Jadi ia sudah menikah."

"Ya." jawab Hyun Suh. "Tapi dia sudah bercerai."

Young In terdiam. "Berarti dia lajang?" tanyanya. "Apa dia lebih cantik dariku?"

"Kurang lebih." jawab Hyun Suh.

"Kalau begitu, apakah aku perlu merasa cemas?" tanya Young In polos.

"Walaupun bukan karena Soo Jin, kau selalu hidup cemas." jawab Hyun Suh.

Young In menceritakan pada Hyun Suh mengenai Kyle yang memintanya bekerja lagi di hotel.

"Kau bertemu dengannya?!" tanya Hyun Suh. Ia terlihat kesal.

Secara tidak langsung, Young In meminta Hyun Suh menciumnya.

"Apa kau tidak pernah berciuman dengan mantan pacarmu?" tanya Hyun Suh. "Kenapa kau sangat ngotot mengenai ciuman? Kau serius atau hanya bercanda? Seorang gadis mengatakan hal seperti itu..."

Young In terlihat kesal. Ia memasang sabuk pengamannya.

"Walaupun mungkin kau hanya bercanda, tapi aku menganggapnya serius." kata Hyun Suh. "Jadi jangan katakan lagi. Mengerti?"

"Lain kali, datang ke tempat yang cuci mobilnya lebih lama." pinta Young In.

Malam itu, Young In pulang ke rumah sambil bernyanyi-nyanyi. Young Kyu menatapnya dari belakang.

Tidak lama kemudian, ponsel Young In berdering. Ia mengangkatnya, tapi tidak ada suara dari seberang saluran. Rupanya Young Kyu yang menelepon dari belakang Young In.

"Ini ayah." ujar Young Kyu.

"Apa?!" Young In menoleh dan melihat ayahnya ada di belakangnya.

"Kudengar kau berhenti." kata Young Kyu. "Kembalilah. Aku yang akan berhenti. Jika saja aku segera pensiun."

"Kenapa kau berhenti?" tanya Young In dingin. "Karena aku? Kenapa kau tiba-tiba peduli?"

"Kudengar kau seperti kepala keluarga." ujar Young Kyu.

"Kau ingin mengatakan bahwa kau keluar demi kami?" tanya Young In. "Ya, aku memang keluar karena kau. Aku keluar agar kau menjadi tidak nyaman dan merasa bersalah karena membuatku keluar. Tapi, sekarang kau ingin keluar? Seharusnya kau bersembuyi dari kami dengan lebih baik. Kau sudah bersembunyi dengan baik selama 15 tahun. Jika kau membuat ibu menangis lagi, maka aku tidak akan tinggal diam."

Pengawas cctv mengatakan pada Hyun Suh bahwa banyak gosip yang mengatakan mengenai alasan kedatangan Hyun Suh ke Korea. "Mereka tidak terlalu yakin, tapi mereka tahu bahwa sesuatu sedang terjadi dan mereka manjadi tidak nyaman." katanya.

Tapi Hyun Suh beranggapan ada yang lebih besar dari sekedar ketidaknyamanan.

Di sekolah, guru menyuruh Yoon dan murid-murid yang lain untuk menggambar ayah dan ibu mereka. Yoon terlihat sedih.

Hyun Suh bertanya pada Young Kyu kenapa Young Kyu tidak melapor padanya.

"Ia bilang itu tidak perlu." ujar Park Jung Min, membantu Young Kyu menjawab.

"Kenapa?" tanya Hyun Suh tenang.

Jung Min meminta Young Kyu pergi.

"Ya. Akulah yang memerintahkan semua." kata Jung Min. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Kalau begitu, aku akan mengambil semua yang menjadi tanggung jawabmu." jawab Hyun Suh seraya berjalan pergi. Membuat Jung Min kesal setangah mati.

Yoon menggambar ibunya dan spiderman.

"Dia menggambar spiderman!" kata seorang anak. "Bodoh! Bodoh!"

Teman-temannya mengejek, tapi Yoon hanya diam dan tersenyum, memandang gambar buatannya.

Pengurus rumah mengatakan pada Soo Jin di telepon bahwa Yoon sudah diantarkan pulang oleh sekolah, tapi Yoon tidak masuk ke rumah, malah pergi entah kemana. Soo Jin bergegas pergi.

Rupanya Yoon masih ada di sekolah, menatap gambar ibunya dan spiderman dengan sedih.

Yoon berjalan seorang diri dan berhenti di depan Empire Hotel. Ia masuk ke dalam hotel tersebut.

"Hei, Nak!" panggil resepsionis. "Kau tidak boleh masuk ke hotel membawa ayam."

Yoon terlihat sedih.

"Nak, apa kau sendirian?" tanya Kyle ramah.

Resepsionis berubah ramah. "Siapa namamu, Anak kecil?"

"Kau memakan tikus." kata Yoon pada resepsionis.

"Kau mencari siapa?" tanya resepsionis, mencoba sabar.

"Orang yang tinggal denganku." jawab Yoon.

"Siapa?" tanya Kyle.

"Yoon Hyun Suh."

Tidak lama kemudian, Hyun Suh datang. "Yoon, kau datang sendirian?" tanyanya. Yoon mengangguk. "Apa ibu tahu?" Yoon menggeleng. "Jadi kau datang tanpa sepengetahuan ibu?" Yoon mengangguk. "Ia pasti cemas. Ayo kita telepon dia."

Kyle dan resepsionis memandang aneh ke arah mereka

"Jangan!" larang Yoon.

Akhirnya, Yoon mengajak Hyun Suh makan di sebuah restoran ayah cepat saji.

"Kau bertingkah aneh hari ini." kata Hyun Suh. "Kenapa kau melakukan hal yang tidak "Paman, aku benar-benar berharap Spiderman adalah ayahku." kata Yoon sedih.

"Spiderman hanyalah seorang aktor." ujar Hyun Suh menjelaskan. "Ia tidak bisa mengeluarkan jaring laba-laba dari tangannya atau berayun di antara gedung. Semuanya hanyalah efek film. Dia tidak hebat."

Yoon kesal. Ia melempar tulang ayam ke atas piring. "Memangnya aku bilang dia orang hebat? Memangnya aku ingin ayahku adalah orang hebat?"

"Lalu?"

"Aku hanya ingin seorang ayah!" kata Yooon. "Punya seorang ayah seperti orang-orang yang lainnya."

"Seharusnya kau mengatakan ini pada ibumu, bukan aku." protes Hyun Suh.

"Ibu akan menjadi cemas dan marah." jawab Yoon. "Teman-teman meledekku. Yang ada di sampingku hanya ayam-ayam ini."

Hyun Suh menarik napas iba.

Resepsionis menelepon Young In dan menanyakan hubungannya dengan Hyun Suh. Ia mengatakan pada Young In bahwa Hyun Suh berselingkuh dengan sekretaris Oh. Bukan hanya berselingkuh dengan satu atau dua orang bahkan Hyun Suh juga memiliki seorang anak. "Anak itu benar-benar mirip direktur!" katanya.

Karena Young In tidak percaya, resepsionis menjadi marah dan menutup telepon.

Hyun Suh berjalan pulang bergandengan tangan dengan Yoon. Hyun Suh mengatakan pada Yoon bahwa mereka sama. Sama-sama belum pernah melihat wajah ayah mereka.

Hyun Suh mengajak Yoon bermain di hotel. Ponselnya ia tinggal di ruangannya sehingga ketika Young In menelepon, Hyun Suh tidak mengangkatnya.

Tidak lama kemudian, Soo Jin datang berlari-lari panik, menanyakan sebuah ruangan pada resepsionis.

Kyle menelepon Young In dan memintanya mengirim bunga ke hotel.

Disisi lain, Ibu Young In datang ke hotel untuk menemui putrinya. Resepsionis hotel mengatakan bahwa Young In sudah keluar.

Young in datang ke hotel mengantarkan bunga Anggrek berwarna ungu. Kyle melihat kedatangannya dari lantai 2.

Begitu Soo Jin datang, ia langsung memarahi dan memukuli pantat Yoon. "Katakan padaku ada apa denganmu! Katakan!" serunya marah.

"Berhenti." kata Hyun Suh seraya menggendong Yoon untuk melindunginya. "Berhenti memukulinya. Kau bisa memberitahunya tanpa memukul."

"Jika ia melakukannya sekali, ia akan melakukannya lagi." kata Soo Jin,. "Ia menutup mulutnya dan tidak pernah bicara padakuu untuk waktu yang lama. Ia baik-baik saja tapi suatu ketika ia melakukan ini. Aku tidak pernah tahu apa yang ia pikirkan."

Hyun Suh membela dan menenangkan Yoon.

Yoon keluar. Tanpa sengaja ia menyenggol Young In yang sedang membawa bunga.

Young In masuk ke ruangan. Saat itu, Hyun Suh sedang menenangkan Soo Jin dengan menepuk bahunya.

Soo Jin seperti hendak mengatakan sesuatu, namun ragu. Akhirnya ia pulang bersama Yoon.

Young In meletakkan bunga di depan ruangan tersebut kemudian pergi.

Young Kyu menemui Hyun Suh dan bicara padanya. Ia mengatakan bahwa ketika ia dan teman-temannya mabuk, ia mengatakan semua rahasia hotel. "Tanpa tahu ia wartawan, aku mengatakan segalanya." katanya. "Jika sampai tersebar, hotel kita akan tutup. Setelah memberinya uang $50.000 akhirnya aku bisa membuatnya tutup mulut. Aku menggunakan uang hotel. Haruskah... haruskan aku mengundurkan diri?"

"Kau selalu mengatakan hal yang sama lagi dan lagi." kata Hyun Suh.

"Maafkan aku." ujar Young Kyu. "Aku harus berhenti, bukan?"

Hyun Suh mencoba menelepon Young In, tapi Young In selalu menolak teleponnya.

Saat itu, Young In sedang bersama Kyle di dalam mobilnya. Kyle mencoba membujuk Young In agar kembali ke hotel. Tapi Young In sepertinya tidak terpikir untuk kembali bekerja disana.

Karena Young Kyu mabuk, Hyun Suh mengantarnya pulang ke apartemennya.

Belum sempat Young Kyu turun, ia malah muntah di mobil Hyun Suh.

Young Kyu turun dari mobil dan berjalan keluar. Ia terjatuh di trotoar.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Hyun Suh, mencoba memapah Young Kyu dengan jijik. Sambil memapah, ia menutup hidungnya dengan saputangan karena Young Kyu sangat bau.

Disaat yang sama, Kyle mengantar Young In pulang ke apartemen.

Mereka terkejut ketika melihat Hyun Suh sedang memapah Young Kyu yang mabuk parah.

Kyle bergegas membantu mereka. "Nona Young In, masuklah."

"Kepala, kau pulanglah lebih dulu." ujar Young In pada Kyle. Hyun Suh tersenyum menang. "Direktur, kau juga." tambah Young In.

Kebetulan Jae Dong keluar dari apartemen untuk membuang sampah. Young In menyuruhnya membawa Young Kyu ke dalam sementara ia yang akan membuang sampah.

Dengan acuh, Young In melewati Kyle dan Hyun Suh.

"Kau tidak melihatku?" tanya Hyun Suh. "Bokja! Ayo kita cuci mobil.

Young In berbalik. "Apa?"

"Ayo kita cuci mobil." ulang Hyun Suh.

"Kau sudah melakukannya kemarin." kata Young In.

"Karena kau suka, ayo kita cuci mobil yang sangat lama. Bersama." kata Hyuh Suh, memanas-manasi Kyle.

Young In diam.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 6)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 6


"Kakak, ibu kelihatan aneh." kata Jae Dong. "Dia tidak memasak atau mengunciku dalam kamar. Dia juga tidak mengomel menyuruhku belajar. Dia tidak mengomel sama sekali! Dia tidak bicara apapun sepanjang hari."

Young In memukul kepala Jae Dong. "Jika ia tidak memasak makanan, kau bisa membuat makanan sendiri." katanya. "Hanya karena ibu tidak mengomel, bukan berarti kau boleh tidak belajar. Dia manusia, jadi kadang-kadang bisa merasa sedih. Apalagi dia seorang wanita."

"Dia bukan wanita." kata Jae Dong. Entah kenapa hidungnya mengeluarkan darah.

Ponsel Young In berdering. "Dimana kau?" tanya seorang pria di seberang saluran.

"Darah? Aku berdarah!" teriak Jae Dong panik. "Darah!!"

Setelah menutup telepon, sikap Young In jadi aneh. Jae Dong curiga.

Hyun Suh menemui Young In di taman bermain dekat apartemen.

"Kenapa kau mencariku?" tanya Young In. Karena Hyun Suh tidak menjawab, Young In kesal dan bermain putar-putaran.

"Berhenti berputar." perintah Hyun Suh.

"Kau bukan atasanku lagi dan aku bukan wanita yang menginginkan uang $60.000 darimu." bantah Young In. "Jadi berhenti memberikan perintah padaku."

Hyun Suh menunjukkan foto Young In. "Mengenai ini."

"Ini.. Kau mengikutiku?" tanya Young In, terkejut.

Hyun Suh mengangguk. "Ya." jawabnya jujur.

"Kenapa?"

"Tidak tahu."

"Berikan padaku!" kata Young In seraya mencoba mengambil foto itu dari Hyun Suh, tapi Hyun Suh mengelak dan malah memasukkan foto itu ke dalam saku jasnya.

"Kenapa kau selalu menyerah saat tengah melakukan sesuatu?" tanya Hyun Suh.

"Ah, pekerjaan hotel..." gumam Young In.

"Ada lagi." kata Hyun Suh. "Cinta segitiga. Apa kau mau membatalkannya? Kau menyerah?"

Young In kesal hendak berjalan pergi.

Hyun Suh memanggilnya lagi. "Apa kau bersungguh-sungguh?" tanyanya. "Kenapa kau mengatakan itu? Apa karena kau tidak ingin terlihat bodoh di depan teman-temanmu?"

"Kenapa kau menanyakan ini lagi?" tanya Young In. "Percakapan ini sudah lama selesai."

"Jangan mengelak. Aku sedang sibuk. Cepat jawab pertanyaanku."

"Kau selalu seperti ini. Hanya peduli dirimu sendiri." ujar Young In ngedumel. "Di dunia ini, hanya kau yang sibuk dan kaupikir kaulah yang terbaik."

"Lalu kenapa kau menyukaiku?" tanya Hyun Suh. "Kenapa kau tidak pergi dan bilang, 'bakar dan goreng' saja?"

"Kau sendiri, kenapa mengikuti mantan karyawan ke stasiun kereta? Kenapa mencuri fotoku?" tuntut Young In. "Kalau kau sibuk, pergi saja."

Young In beranjak pergi, tapi Hyun Suh menarik tangannya. Jae Dong mengintip dari jauh.

Young In bingung.

"'Bakar dan goreng', bagaimana kau melakukannya?" tanya Hyun Suh. "Kau pernah mengatakannya."

"Itu... kau memasukkan minyak dalam penggorengan... kemudian... dibakar dan digoreng..." Young In menarik napas. "Maksudku adalah... ayo berkencan."

Hyun Suh mengangguk. "Baiklah. Ayo kita bakar dan goreng. Puas?" ujar Hyun Suh seraya berjalan pergi.

"Tunggu!" panggil Young In. "Bukankah kau datang karena ingin mengembalikan fotoku?"

"Kau masih belum mengerti? Kenapa kau butuh foto itu?Kau akan kembali bekerja di hotel. Orang yang masuk karena bantuan orang lain tidak bisa pergi begitu saja. Dan jangan pernah berani pergi dariku."

Ketika Hyun Suh sudah kembali ke mobilnya, Jae Dong mendatanginya.

"Aku adalah adik Choi Young In, Choi Jae Dong." kata Jae Dong, mengintip lewat jendela. "Ada hubungan apa antara kau dan kakakku? Aku melihatmu memegang tangan kakakku.. dan jangan coba mengelak karena aku melihatnya sendiri. Aku tahu pikiran laki-laki. Apa kalian sudah pernah... berciuman?"

"Aku sedang buru-buru." kata Hyun Suh.

"Jadi... kalian sudah... Kau! Siapa kau?! Ayo keluar dan bicara!" seru Jae Dong marah.

Hyun Suh menyerahkan kartu namanya pada Jae Dong. "Datang ke hotel dan kita akan bicara di sana. Maaf."

"Seperti yang kau minta, aku menemukan semua video orang yang datang ke ruanganmu selama kau tidak ada." kata pengawas cctv ketika Hyun Suh sudah tiba disana. "Tidak ada orang yang masuk kesana. Satu-satunya orang yang masuk ke ruanganmu hanya sekretarismu. Tidak ada kamera di ruanganmu, tapi ada beberapa kamera tepat di luar ruanganmu."

Hyun Suh berpikir. "Siapa kira-kira yang menyuruhnya?"

"Sebelum kau datang, Sekretaris Oh mulanya adalah sekretaris Park Young Su. Park Jung Min adalah orang yang mempromosikan dia sebagai sekretarismu."

Young In kembali ke kamarnya dengan ekspresi linglung. Setelah berpikir dan mengingat-ingat, ia baru sadar kalau Hyun Suh sudah menerima ajakan kencannya. Young in tersenyum senang.

Setelah selesai berolahraga, Soo Jin menengok Yoon di kamarnya. Tapi kamar tersebut kosong. Soo Jin kemudian mencari Yoon di kamar Hyun Suh. Rupanya mereka sedang tidur berdua dalam posisi yang sama. Soo Jin keluar dan menutup pintu pelan agar tidak membangunkan mereka.

Hyun Suh terbangun dengan kaget ketika menyadari Yoon sedang tidur di sampingnya.

"Yoon!" panggil Hyun Suh, mencoba membangunkan Yoon.

Yoon terbangun ketika Hyun Suh berteriak, "Kookiooo!". Yoon tertawa senang.

"Kenapa kau tidur disini?" tanya Hyun Suh, merasa terganggu. "Cepat keluar."

"Apa kau membenci Yoon?" tanya Yoon sedih.

"Bukan... bukan itu maksudku.." ujar Hyun Suh.

Yoon mengganggu Hyun Suh dengan 'nemplok' pada punggung Hyun Suh.

Pagi itu, Young In berdiri diam di depan hotel. Ia ragu untuk masuk apalagi ketika melihat ayahnya berjalan lewat.

Young Kyu menanyakan pada resepsionis kenapa ia tidak melihat Young In lagi. Resepsionis mengatakan bahwa Young In sudah keluar.

Young Kyu diam dan menjari kepikiran. Ia berjalan berputar-putar di pintu hotel. Resepsionis bingung melihatnya.

Mi Hee hanya murung dan diam seharian. Jae Dong cemas melihatnya.

"Ibu, lihat rambutmu putih. Aku tidak tahu siapa yang menyebakan rambutmu putih begini." kata Jae Dong. Ia menawarkan diri untuk mewarnai rambut ibunya menjadi hitam.

"Ini karena kau, kau kau!" seru Mi Hee seraya memukuli Jae Dong. "Kau dan ayahmu! Aku benci dia! Kau tidak perlu mencabut dan mewarnai rambutku. Yang perlu kau lakukan adalah jangan mambuatku stress. Jae Dong... buat ibu bahagia!" Mi Hee menangis.

Young In pergi ke toko tanaman untuk membeli satu pot bunga. Di pintu, ia melihat lowongan pekerjaan di toko tersebut dan mendaftar.

Sekretaris Oh mengatakan pada Hyun Suh bahwa Park Jung Min ingin mengadakan pesta dan ingin Hyun Suh datang. "Ini adalah pesta untuk merayakan kedatanganmu di hotel ini." kata Sekretaris.

"Katakan pada mereka, 'tidak, terima kasih'." ujar Hyun Suh dingin.

"Tapi Direktur, aku sudah memeriksa jadwalmu dan sudah mengatakan pada mereka bahwa kau bisa datang." bujuk Sekretaris.

"Baik, aku akan datang." kata Hyun Suh datar.

Ketika Young In sedang bekerja di toko bunga, Hyun Suh menelepon. "Apa ini penggorengan?" tanyanya. "Reng, ini aku."

"Kenapa kau menelepon?"

"Aku menyuruhmu untuk kembali ke hotel." kata Hyun Suh. "Dimana dan sedang apa kau?"

"Aku bekerja." jawab Young In.

"Bekerja? Dimana?"

"Aku sudah diterima."

"Kau!!!" seru Hyun Suh marah.

"Aku akan meneleponmu nanti." kata Young In seraya menutup telepon.

Tidak lama kemudian, pengawas cctv datang dan memberikan satu buat amplop coklat.

Malamnya, Hyun Suh datang ke sebuah restoran Jepang untuk menemui Park Jung Min dan Choi Young Kyu.

Di sebuah kamar di hotel.

Setelah seorang wanita tidur bersama seorang pria, wanita tersebut mencuri beberapa barang berharga milik pria itu. Selain itu, ia juga mencuri sebuah mini kaset. Barang berharga di pria ia sembunyikan di tas sementara mini kaset ia sembunyikan di sela-sela bajunya.

Pria itu marah dan menjambak si wanita begitu ia membuka tas dan menemukan wanita tersebut mencuri barang-barangnya.

"Tolong!" teriak si wanita. "Apa ada seseorang di luar?"

Kebetulan saat itu Kyle sedang berada tidak jauh dari kamar itu dan mendengar keributan. Kyle mengetuk pintu.

Pria itu membuka pintu. "Aku tidak pernah memanggilmu." katanya. "Ini hanya pertengkaran suami istri."

"Ia bohong! Aku baru bertemu dengannya hari ini!" teriak wanita dari dalam kamar.

"Apakah ini pelacuran?" tanya Kyle tenang. "Izinkan aku masuk atau aku yang membawa kalian berdua keluar."

Hyun Suh berbincang dengan Park Jung Min dan Choi Young Kyu. Secara tidak langsung, Hyun Suh memberitahu mereka bahwa ia mengawasi mereka berdua. Hyun Suh tahu saat Jung Min sedang fitness atau saat Young Kyu sering berkeliaran dekat meja pengawas.

Jung Min meminta Hyun Suh melupakan dan tidak mengungkit pekerjaannya yang lalu, tapi secara terang-terangan, Hyun Suh malah meminta Young Kyu untuk menyerahkan laporan kegiatan hotel yang lalu.

Jung Min dan Young Kyu terlihat sangat marah.

Kyle berhasil menyelamatkan si wanita.

Setelah wanita tersebut pergi ke toilet untuk merapikan penampilan, ia mendatangi Kyle lagi di meja pengawas. "Si brengsek itu memiliki banyak mesin aneh dan benda seperti ini." katanya seraya memberikan sebuah benda kecil berlapis kertas emas seperti coklat. "Aku berencana mendapatkan uang dari benda ini, tapi karena kau sudah menyelamatkan aku, maka aku akan memberikan benda ini padamu. Jika ini memang tangkapan besar, kau harus membagi uangnya denganku. Ok?"

Kyle tersenyum dan menolak. "Tidak perlu." katanya.

"Kau pikir aku hanya memberikan sampah?" tanya wanita itu, cemberut.

Kyle tersenyum dan akhirnya bersedia menerima benda tersebut.

Kyle membuka benda itu. Isinya adalah sebuah mini kaset.

"Apa kau sudah makan?" tanya Kang Chul Goo, mendadak mendekati Kyle. "Keluhan tamu semakin memburuk, bukan? Apa ada keluhan khusus?"

"Keluhan khusus?"

"Yah, walaupun kau memang pengawas, tapi ada hal-hal yang seharusnya tidak kau campuri." kata Chul Goo. "Maksudku, jika ada keluhan yang sulit ditangani, katakan padaku. Aku akan membantumu."

Kyle mengangguk.

Hyun Suh datang ke toko bunga tempat Young In bekerja dan membeli sebuah buket bunga besar. Ia meminta Young In membawa dan mengantar bunga itu.

"Kemana aku harus mengantar bunga ini?" tanya Young In, terengah-engah karena harus membawa buket yang sangat besar.

Hyun Suh tidak mendengarkan Young In. Ia malah mengoceh dan membujuk Young In agar kembali bekerja di hotel. "Jika kau berhenti begitu saja setelah beberapa hari bekerja, bagaimana reputasiku? Kau tidak memikirkan aku?"

"Aku memikirkanmu." kata Young In. "Apalagi akhir-akhir ini."

Hyun Suh dan Young In tiba di sebuah tempat.

"Disini." kata Hyun Suh. "Ayo makan siang."

"Bagaimana dengan bunga ini? Apa akan dikirim ke sini?" tanya Young In, bingung. "Dimana?"

"Aku memberikannya untukmu." kata Hyun Suh. "Aku mengirimnya untukmu."

Hyun Suh mengambil bunga itu dari tangan Young In kemudian menyuruh orang mengirimnya ke apartemen Young In.

Young in melongo.

Young In dan Hyun Suh makan di sebuah restoran. Hyun Suh hanya bisa bengong melihat cara makan Young In yang menjijikkan.

Sesampainya di hotel, Kyle meminta izin Hyun Suh agar ia bisa melatih Young In menjadi pengawas yang baik dan ingin mempromosikannya sebagai Kepala Pengawas.

"Kenapa harus kau yang melatihnya?" tanya Hyun Suh.

"Karena ia datang dengan bantuanmu, tidak ada yang mengakui kemampuannya yang sebenarnya." jawab Kyle. "Tapi aku akan membawanya kembali dan melatihnya."

"Hanya itu?" tanya Hyun Suh. "Kalau begitu, silahkan saja."

Kyle pulang. Ia pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Melihat lecet-lecet di bagian depan mobil mengingatkannya pada Young In. Ia tersenyum tipis.

Sesampainya di rumah, Kyle menyalakan mini kaset pemberian wanita tadi siang.

"Apa kau sudah menerima dokumen itu?" terdengar suara seorang pria dalam bahasa Inggris. "Empire Hotel Seoul memiliki banyak tingkatan manajer. Karena itulah pekerjaan kita berbahaya. Jika kita terus membiarkan ini berlanjut, akan ada bahaya yang mungkin terjadi."

"Apa karena aku mengatakan tidak?" tanya seorang pria lain dalam bahasa Korea.

"Kabar mengatakan bahwa kau adalah seorang yang pekerja keras, tapi tidakkah kau terlalu memaksakan diri? Kau baru saja tiba." kata seorang pria lain, sepertinya dalam percakapan yang terpisah.

"Apa mereka menutupi pengambilalihan Nikko?"

Mi Hee sengaja menunggu Young Kyu pulang bekerja di luar apartemen.

"Aku akan memberimu waktu 10 hari." kata Mi Hee. "10 hari untuk membawa istri dan anakmu pergi. Tepat setelah 10 hari, aku akan pergi dan memuat sandiwara di depan istrimu."

"Apa kau gila?"

"Ya, aku gila."

Karena harus melakukan operasi mendadak, Soo Jin meminta tolong Hyun Suh untuk menjemput Yoon di tempat latihan bela dirinya.

"Paman, apa kau mengenal ayahku?" tanya Yoon pada Hyun Suh. "Apa kau pernah melihatnya? Apakah ia tampan?"

"Ya." jawab Hyun Suh. "Apa ibumu tidak pernah bercerita?"

"Ibu hanya mengatakan ia sedang sibuk di Amerika." jawab Yoon. "Dia sangat sibuk sampai-sampai harus bergerak seperti pesawat. Dia bisa menembakkan jaring laba-laba dari jarinya. Dia spiderman!"

"Kau sangat beruntung, Yoon. Ayahmu spiderman."

"Apa aku tidak kelihatan berbohong?" tanya Yoon polos.

Saat Hyun Suh dan Yoon sedang menyebrang jalan menuju rumah sakit untuk menjemput Soo Jin, Yoon ketakutan karena melihat ambulans lewat. Hyun Suh menggandengnya untuk menenangkannya.

Operasi yang dilakukan Soo Jin gagal. Pasien yang bernama Joo Jin Ho tewas.

Soo Jin berusaha menenangkan keluarganya. Keluarga pasien itu menangis keras.

Hyun Suh dan Yoon melihat mereka dari jauh.

Soo Jin menidurkan Yoon. "Yoon, kau mirip sekali dengan ayahmu." katanya ketika Yoon sudah tertidur. "Sepertinya, tanpa sadar kau bisa mengenali ayahmu. Tapi ayahmu... apakah ia tahu?"

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 5)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 5

Soo Jin datang ke hotel untuk bertemu dengan Hyun Suh.

"Apa kau sudah buat janji?" tanya Kyle.

"Belum."

"Dan kau adalah...?"

"Katakan saja aku dari rumah." ujar Soo Jin. "Ia akan tahu."

Kyle menelepon. Tanpa sengaja ia melihat Hyun Suh dari kejauhan. "Ah, disana!" tunjuknya.

Young In sedang ribut-ribut bersama Gun Young dan pacarnya.

"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Young In pada Hyun Suh.

Soo Jin sudah ada dibelakang mereka saat itu.

"Bagaimana perasaanmu padaku?!" tanya Young In lagi.

Hyun Suh diam. "Tentu saja... tidak ada apa-apa." jawabnya. "Perlu kuperjelas lagi? Aku membencimu."

Young In terkejut. "Apa yang kulakukan hingga membuatmu membenciku?" tanyanya shock.

"Aku sibuk." kata Hyun Suh. "Aku akan menjelaskan lain waktu. Aku pergi."

Gun Young ditarik pergi oleh kekasihnya.

Young In hanya berdiri diam dengan kesal. "Kenapa semua orang tidak menyukaiku?" gumamnya.

"Pria bajingan itu!" seru Gun Young keras. "Apa yang salah dengan Young In?"

Kyle berdiri dibelakangnya saat itu.

Tidak lama setelah itu, Young In kembali ke posnya bekerja. Setelah itu, Hyun Suh berjalan bersama dengan Soo Jin.

Kyle hanya melihat sebagai pengamat, tidak berkomentar sedikitpun mengenai itu. Ia hanya mengatakan pada Young In agar tetap tersenyum dan bicara ditelepon dengan nada ceria pada para tamu hotel.

Soo Jin membawa Hyun Suh ke rumah sakit untuk check up.

Young Kyu meminta bicara dengan Young In.

Young In mengatakan padanya bahwa ia sudah melupakan ayahnya sejak lama, jadi ia ingin mereka bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal.

"Kau akan mencari hotel lain untuk bekerja?" tanya Young Kyu.

"Kenapa? Aku suka disini." kata Young In. "Kecuali kau, aku suka semua yang ada disini."

Soo Jin mengatakan bahwa hasil check up jantung Hyun Suh normal. "Jika 5 tahun lagi hasilnya masih seperti ini, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi."

Hyun Suh hanya diam, memandang jantungnya di monitor. "Hari ini.. aku merasa aneh." katanya. "Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal disini. Perasaan yang sulit dijelaskan. Seperti ditusuk dengan jarum. Tidak sakit, tapi... nyaman.. Tidak... detak jantungku lebih kencang. Perasaan ini sangat aneh.Ini pasti sesuatu yang bagus. Apapun itu, tapi sulit dijelaskan."

"Jangan ceroboh." kata Soo Jin, memperingatkan Hyun Suh untuk menjaga jantungnya.

"Apa maksudnya ceroboh?"

"Itu... untuk membuat jantungmu tetap tenang." jawab Soo Jin. "Jangan sampai kau gugup."

"Jika aku merasa percaya pada seseorang, menyukai seseorang.. apakah itu ceroboh juga?" tanya Hyun Suh. "Kalau begitu, aku seperti sedang menjalani hidup yang ceroboh."

"Kedengarannya tidak buruk." kata Soo Jin, tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, Hyun Suh tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Young In tadi pagi dan ngedumel sendiri.

Malam itu, ketika sedang mengendarai mobilnya, Hyun Suh melihat Young In sedang duduk di halte menunggu bus. Hyun Suh turun dari mobil dan hendak menghampiri Young In, tapi bus sudah datang. Young In naik ke dalam bus.

Bus berjalan beberapa meter.

"Tunggu! Tunggu!" teriak seorang pria gendut, mengejar bus.

Bus berhenti tepat di sebelah Hyun Suh. Supir bus tetap membuka pintu setelah pria gendut masuk, mengira Hyun Suh akan naik ke bus juga.

Hyun Suh berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk naik ke dalam bus.

Hyun Suh membuka dompetnya. Ia tidak punya uang receh dan meminta izin pada supir bus untuk bicara dulu pada Young In, meminjam uang receh.

"Berikan aku uang 1000 won." kata Hyun Suh, menodong Young In.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Young In.

"Berikan 1000 won dulu dan aku akan memberitahumu."

"Aku tidak punya." kata Young In.

"Kalau begitu pinjamkan aku uang 1000 won dan aku akan mengembalikan 10.000 won." kata Hyun Suh.

Young In memberikan uang itu pada Hyun Suh. "Hanya ada 900 won."

"Tidak apa-apa. Berikan padaku." Hyun Suh membayar bus dan mengembalikan uang Young In 10.000 won.

"Aku tidak mau. Berikan aku 900 won. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya 900 won." kata Young In.

Hyun Suh menyerah. "Baik, baik." katanya. "Sekarang, tolong geser."

"Kenapa?" tanya Young In. "Masih banyak tempat duduk yang kosong. Untuk apa duduk bersama orang yang bukan siapa-siapa?"

Hyun Suh menyerah dan duduk di bangku di depan Young In.

"Apa yang kau suka dariku?" tanya Hyun Suh, menoleh ke belakang.

"Kau bisa menggunakan uangmu untuk baju dan selimut." jawab Young In.

"Kau ingin aku mengenalkanmu pada orang yang lebih kaya?" tanya Hyun Suh. "Orang yang bisa menggunakan uang untuk bantalnya?"

"Terserah kau!" kata Young In acuh.

Hyun Suh kesal dan berbalik. Young In memandangnya dari belakang.

Ketika hendak membuang sampah di luar, tanpa sengaja Mi Hee berpapasan dengan Young Kyu di dekat lift.

Mi Hee sangat kesal saat mendengar Young Kyu masih memanggilnya Yobbo, panggilan yang biasa digunakan untuk suami atau istri. Ditambah lagi Young Kyu mengatakan bahwa ia tinggal di kamar 1002, kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya, dan memintanya pindah.

"15 tahun ini, apakah kau hidup dengan baik?" tanya Mi Hee, menahan marah dan sedihnya. "Young In, Jae Dong.. apa kau memikirkan mereka? Apa kau masih manusia?! Kau masih punya keberanian untuk memintaku pindah?! Kenapa kami harus pindah?! Orang yang seharusnya pindah adalah kau!"

Saat itu, Young Kyu melihat istrinya sedang berjalan tidak jauh dari mereka.

"Apa kami berbuat salah?!" teriak Mi Hee. "Orang yang mencampakkan kami adalah kau, bukan aku! Kenapa kami harus pindah?!"

Melihat istrinya makin dekat, Young Kyu menarik Mi Hee dan menutup mulutnya agar tidak berteriak-teriak.

Setelah istrinya lewat, Young Kyu melepaskan Mi Hee.

"Apa selama ini kau bahagia?" tanya Mi Hee. "Kelihatannya kau sangat bahagia."

"Aku memang seorang bajingan." kata Young Kyu. "Tolong minta anak-anak supaya pindah."

Mi Hee marah dan membuang sampah di kepala Young Kyu. "Sampah! Sampah sepertimu tidak bisa digunakan lagi!"

Young In menulis surat pengunduran diri. Ia meminta adiknya tidak mengikuti ujian dan bekerja.

Kang Chul Goon mendatangi Kyle yang sedang berenang. Dengan acuh, Kyle melewatinya.

"Kau.. memiliki ayah yang luar biasa." kata Chul Goon.

Kyle berhenti berjalan dan menoleh. "Apa kau tertarik pada latar belakangku?" tanyanya dingin.

"Tidak." jawab Chul Goon. "Aku pergi ke ruang Direktur dan tidak sengaja menemukan catatan tentang kau dan ayahmu."

Hyun Suh berjalan melewati meja kerja Young In. Young In menoleh sedikit padanya dan membuang muka.

"Mengacuhkan aku, hah?" gumam Hyun Suh. Ia menunjukkan sebuah kertas pada Young In. "Apa ini? Ronny ada disini?"

"Ronny ada disini?!" tanya Young In.

Hyun Suh memanggil Young Kyu untuk menanyakan kenapa biaya promosi restoran hotel meningkat mencapai lebih dari 50% dari musim lalu.

"Kompetisi antar hotel sangat ketat." jawab Young Kyu.

Tidak lama kemudian, seorang pria lain masuk.

"Apakah Kepala Bagian Restoran tahu mengenai hal ini?" tanya Hyun Suh pada pria tersebut. "Bahwa biaya promosi restoran hotel meningkat lebih dari 50%?"

"Itu tidak mungkin." jawab Kepala Bagian Restoran. "Pesanan menurun jika dibandingkan musim sebelumnya. Persiapan yang sudah dilakukan untuk bagian restoran juga tidak sebanyak itu."

Young Kyu memberi alasan bahwa pihak restoran hanya tahu soal dekorasi dan jadwal sedangkan hal yang lain diurus oleh bagian marketing.

Hyun Suh tersenyum.

Ketika Young In sedang berada di toilet, ia mendengar pada wanita pegawai hotel membicarakannya.

"Aku sering mendengar ia bicara tidak formal pada Direktur." kata salah seorang gadis.

"Kau mudah sekali terkejut." kata resepsionis. "Aku pernah melihatnya keluar dari kamar Direktur saat subuh. Ia sangat menginginkan pekerjaan hingga rela menjual tubuhnya. Jangan terlalu mengkritiknya. Direktur selalu memintaku melatihnya dengan benar. Mungkin Direktur benar-benar menyukainya."

Young In keluar dari toilet dengan kesal. Tapi bukannya marah-marah, Young In malah menjelaskan bahwa ia hanya bertepuk sebelah tangan. Hyun Suh tidak pernah menyukainya. "Jika kau ingin membicarakan aku, bicarakan apa yang kukatakan barusan." katanya.

Young In menyerahkan surat pengunduran diri pada Hyun Suh.

"Kenapa?" tanya Hyun Suh.

"Ini.. karena alasan pribadi." jawab Young In.

"Karena aku?"

"Karena kau memberiku pekerjaan, semua orang mengkritikmu." kata Young In. "Lagipula, sejak awal pekerjaan ini terlalu bagus untukku."

"Apa karena aku mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu?" tanya Hyun Suh.

Young In diam sejenak. "Sampai jumpa." katanya pamit, menolak menjelaskan, kemudian berjalan pergi.

Setelah itu, Young In pamit pada Kyle.

Setelah berpikir beberapa saat, Hyun Suh keluar untuk mengejar Young In. Ia mengejar sampai stasiun kereta.

Tiba-tiba Hyun Suh mendengar suara Young In sedang menelepon di dalam mesin foto box. Young In sedang melamar pekerjaan.

Hyun Suh melihat dan mengambil foto Young In yang keluar.

Tidak lama kemudian Young In menutup telepon dan berjalan keluar. Hyun Suh bersembunyi, masih dengan memegang foto Young In.

Tanpa sadar fotonya ketinggalan, Young In berjalan masuk ke stasiun.

Hyun Suh kembali ke kantor. Ketika sekretarisnya hendak mengambil surat pengunduran diri Young In, Hyun Suh melarang. "Itu milikku." katanya. "Aku akan mengurusnya sendiri."

Dengan diam-diam, Hyun Suh masuk ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut adalah ruang cctv. Ada seorang pria yang dengan teliti mengawasi.

"Apakah kau mau membuat kesepakatan denganku?" tanya Hyun Suh pada pria itu.

"Kesepakatan untuk siapa?"

"Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk hotel ini." jawab Hyun Suh.

Ketika Kyle sedang hendak membeli mobil baru, Young in menelepon karena ingin mengembalikan buku pemberian Kyle.

Kyle menjemput Young In dengan mobil barunya. "Naik!" katanya.

"Aku hanya ingin mengembalikan buku ini." tolak Young In.

"Naik!" ujar Kyle, memaksa. "Kau sedang makan malam? Itu makan malammu?"

Kyle berakhir dengan makan dipinggir jalan bersama Young In.

Setelah itu, Kyle mengantar Young In pulang. Young In terlihat sangat kaku dan canggung.

Hyun Suh pulang ke rumah. Tanpa sengaja, Soo Jin melihat foto Young In yang terbawa oleh Hyun Suh.

Soo Jin mengajak Hyun Suh minum dan mengobrol bersamanya. Mereka berbincang mengenai masa-masa dulu saat mereka masih sekolah. Hyun Suh sangat miskin dan sering meminjam uang pada Soo Jin untuk biaya kuliah, makan, buku, tempat tinggal dan lain sebagainya.

Kyle mengajari Young In berlatih mengemudi dengan mobil barunya. Tapi gagal. Ujung-ujungnya, Young In malah membuat mobil baru Kyle menabrak tiang listrik.

"Ah, apa yang harus kulakukan?" rengek Young In. "Jika kau tidak membiarkan aku mencoba mobil, ini semua tidak akan terjadi! Aku bahkan tidak pernah bermimpi mengemudikan mobil seperti ini. Berapa... berapa biaya kerusakan ini?"

Kyle hanya diam dan tersenyum mendengar ocehan Young In. "Tidak apa-apa, selama tidak ada yang terluka." katanya. "Pegang stir dan mundur. Jika kau menyerah disini, kau tidak akan bisa mengemudi seumur hidupmu."

Lama kelamaan, akhirnya Young In bisa menyetir mobil. Ia dan Kyle berteriak-teriak gembira.

Kyle mengantar Young In pulang.

"Jika kau memperbaiki ini, beri tahu aku." kata Young In, merasa tidak enak karena telah merusak mobil Kyle.

"Apa aku tidak boleh menghubungimu sebelum itu?" tanya Kyle.

"Jangan, jangan hubungi aku. Aku ingin melupakan semuanya tentang hotel. Aku ingin menjadi pengawas yang baik sepertimu, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Murid pengawasmu akan mengucapkan selamat tinggal."

Young In menelepon Hyun Suh dan mengatakan bahwa ia mengundurkan diri bukan karena Hyun Suh. "Aku takut kau cemas. Karena itulah aku menelepon." katanya.

"Aku tidak mencemaskanmu." jawab Hyun Suh, memandang foto Young In.

"Kalau begitu, selamat malam dan selamat tinggal." kata Young In seraya menutup telepon.

Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Hyun Suh. Pesan tersebut tertulis, "Aku menemukan apa yang kau inginkan."

Pesan tersebut berasal dari pengawas cctv hotel. Hyun Suh bergegas pergi.

Di tengah perjalanan, melihat tulisan U-turn (putar balik) yang terpampang di tiang rambu lalu lintas mengingatkan Hyun Suh pada Young In. Hyun Suh diam, berpikir. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik mobilnya.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 4)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 4

"Aku memang mengatakan suka disini. tapi..."

"Kau tidak menyukaiku?" tanya Soo Jin.

"Bukan itu maksudku." ujar Hyun Suh. "Aku hanya..."

"Takut aku akan memakanmu?" tanya Soo Jin. "Sebagai dokter, aku tidak mungkin membahayakan pasienku. Tidak perlu cemas. Aku tidak akan pernah masuk ke kamarmu walau hanya setengah langkah. Aku... akan memastikan kau hidup lebih lama." Soo Jin mengangkat tangannya, tanda berjanji.

Hyun Suh tersenyum.

Young In kelihatan kesal dan bosan setengah mati. Ia bekerja sebagai front liner, tapi dengan seenaknya melepas sepatu dan berjalan mondar-mandir. Resepsionis hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Soo Jin menunjukkan kamar Hyun Suh.

"Biar kuperlihatkan putra kita." kata Soo Jin.

"Putra kita?" tanya Hyun Suh bingung.

Soo Jin membawa Hyun Suh ke kamar Yoon. "Itu adalah putraku, Yoon."

"Yoon? Dengan suamimu yang sebelumnya?" tanya Hyun Suh.

"Bukan." jawab Soo Jin. "Mantan suamiku tidak peduli tentang Yoon. Ia tidak pernah menghubungi sekalipun."

"Pasti sangat melelahkan." kata Hyun Suh. "Membesarkan anak seorang diri."

"Aku sangat senang membesarkannya seorang diri." jawab Soo Jin. "Dan aku sangat bangga. Aku sangat bahagia karena memutuskan untuk melahirkan dia dan menjadi seorang ibu."

Seorang wanita berlari-lari ke arah Young In dengan panik.

"Tolong! Tolong aku!" kata wanita itu, kelabakan. "Tolong bantu aku mencari kancing bajuku!"

"Hah?" gumam Young In bingung.

"Ini pertama kalinya aku akan bertemu ibu calon mertuaku, tapi..." Wanita itu sangat panik dan bicara terburu-buru. "Aku duduk di sofa sana menunggu kekasihku. Kupikir kancingku hilang saat aku menuju toilet. Apa yang harus kulakukan?!"

Young In merangkak di sekeliling untuk membantu wanita itu mencari kancingnya.

Dari atas, Kyle melihatnya dengan bingung.

"Berapa lama lagi waktu yang kau miliki?" tanya Young In.

"Tidak sampai lima menit." jawab wanita itu. "Apa yang harus kulakukan?"

"Ini tidak akan berhasil." kata Young In. Ia berlari ke mejanya dan membuka laci untuk mengambil gunting. Ia menggunting kancing bajunya sendiri dan menyerahkannya pada wanita itu. "Apa kau punya jarum dan benang?"

"Ya, aku akan pergi kesana dan menjahitnya. Siapa namamu?"

"Sudah pergi saja!" kata Young In.

Wanita itu pergi dengan senang.

Kyle mendekati Young In dan melihat kancing kemeja atasnya terlepas. "Sampai kapan kau akan seperti itu?" tanyanya. "Kau ingin berdiri disini dengan penampilan seperti itu?"

"Tidak." jawab Young In, melihat penampilannya yang berantakan.

"Kalau begitu, cepat ganti pakaian."

Young In beranjak pergi.

"Nona, Young In, kerja bagus." ujar Kyle.

Di kamarnya di hotel, Hyun Suh masih kepikiran mengenai tawaran Soo Jin untuk tinggal bersama dirumahnya.

Keesokkan paginya, bel kamar Hyun Suh berbunyi. Dengan kesal karena masih mengantuk, Hyun Suh membukakan pintu dan melihat Young In disana. Tanpa dipersilahkan, Young In nyelonong masuk ke dalam.

"Aku tidak punya keahlian." kata Young In. "Jadi, karena kau aku bisa bekerja di hotel ini?"

Hyun Suh diam.

"Apa aku bisa bekerja disini karena kau?!" ulang Young In keras.

Hyun Suh tetap diam dan membuka lemari es untuk mengambil air. Young In merebut air Hyun Suh dan meminumnya.

"Jika aku bisa bekerja disini dengan bantuanmu, seharusnya kau menempatkan aku diposisi yang lebih baik!" keluh Young In. "Aku benar-benar berharap bisa mendapatkan uang dengan kemampuanku sendiri dan kerja keras."

"Walaupun kau tidak melakukan apapun, tidak apa-apa, tapi lakukanlah dengan benar." ujar Hyun Suh. "Aku akan memberimu gaji bulanan sekitar $60.000 walaupun kau tidak bekerja."

Young In meledak marah. "Maksudmu, kau ingin mengatakan 'tidak peduli apapun, aku akan membayarmu'?" serunya.

"Tidak ada yang berharap kau bisa melakukan banyak disini. Jika kau lelah di tengah jalan, kau boleh berhenti. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau." kata Hyun Suh seraya mengisyaratkan agar Young In keluar. Tapi Young in tidak bergerak sama sekali. "Apa kau tidak keberatan jika aku membuka baju? Aku ingin mandi."

"Silahkan saja." kata Young In, menantang. "Kau pikir dirimu hebat?!"

Dengan kesal, Young In keluar dari kamar Hyun Suh. Secara tidak sengaja, resepsionis melihatnya dan berpikiran macam-macam.

Kata-kata Hyun Suh membuat Young In sangat sangat marah. "Tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan tinggal dan berakar disini!" tekadnya.

Resepsionis mengajari Young In segala sesuatu mengenai hotel juga bagaimana cara mengucapkan salam dalam bahasa Inggris. Kini, Young In punya tekad untuk belajar. Sesekali, Kyle mengawasi mereka.

"Kenapa memperlakukan aku dengan baik?" tanya Young In. "Orang yang lain sepertinya membenciku. Aku datang dari pintu belakang, kau tidak tahu?"

Resepsionis itu hanya tersenyum dan berjalan mendahului Young In. "Aku tahu apa yang kau lakukan pagi ini." gumamnya pelan.

Young In berjalan mengikuti resepsionis. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan ayahnya, Young Kyu.

"Ah, Pak Kepala!" seru resepsionis. "Ini adalah karyawan baru, Choi Young In. Yang ini adalah Kepala Marketing. Tampan, bukan? Apa yang kau lakukan? Cepat sapa dia!"

Young in tersenyum pahit. Ia menyapa Young Kyu kemudian berjalan pergi.

Young In bersembunyi di dekat tangga dan menangis.

Ketika Young In sedang bekerja dan menjatuhkan buku, Hyun Suh menelepon untuk mengganggunya. Young In tidak tahu kalau Hyun Suh menelepon tidak jauh dari situ.

Tidak lama kemudian Kyle datang dan memperbolehkan Young In beristirahat.

Resepsionis menyebar gosip mengenai Young In dan Hyun Suh.

Ketika Hyun Suh datang, resepsionis itu buru-buru tutup mulut.

Hyun Suh masuk ke ruangannya. Ia orang yang perfeksionis, jadi tidak betah melihat sesuatu yang tidak rapi dan berantakan. Melihat kabel telepon yang melilit membuatnya gatal untuk merapikannya.

Ketika Hyun Suh sedang merapikan kabel-kabel yang saling melilit di bawah meja, tanpa sengaja ia melihat alat penyadap suara kecil disana.

Hyun Suh berpikir sejenak. Ia ragu mengambil penyadap suara itu.

Ketika Young In hendak makan di kantin, para karyawan memandangnya dengan aneh. Di kejauhan, ia melihat ayahnya sedang duduk. Tanpa mengatakan apa-apa, Young In pergi dan mengurungkan niatnya untuk makan di kantin.

Young In berakhir dengan makan mie instan sendirian di supermarket.

Tanpa sengaja, Hyun Suh melihatnya ketika hendak membeli payung karena hujan turun dengan lebat.

Hyun Suh melihat Hyun In. "Aku tidak suka makan sendirian." Hyun Suh teringat Young In pernah berkata.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, Hyun Suh memutuskan untuk menyapa dan menemani Young In makan.

Hyun Suh melihat satu mie instan lagi di samping Young In.

"Itu milikku, jangan berani menyentuhnya!" ancam Young In.

Hyun Suh mengambil mie instan itu. "Kau seharusnya memasukkan air panas sampai batas garis ini." katanya protes. "Tapi ini ada dibawah garis." Hyun Suh memasukkan air panas lagi.

"Kenapa kau merasa tidak senang?" tanya Hyun Suh setelah Young In selesai makan. "Yang mana yang terasa gatal?"

"Memangnya kau mau membantuku menggaruk?" tanya Young In.

"Lakukan sendiri!"

"Bagaimana jika aku tidak sampai?" tanya Young In. "Baik, baik aku mengerti. Biar aku garuk sendiri!"

"Turunkan tanganmu!" perintah Hyun Suh seraya membantu Young In menggaruk.

Young In dan Hyun Suh hanya duduk diam menunggu hujan berhenti sampai-sampai tidak menyadari bahwa Soo Jin sudah menelepon beberapa kali.

"Kau suka hujan?" tanya Young In.

"Hujan, salju, aku suka keduanya." jawab Hyun Suh.

"Aku akan membawamu melihat salju lain kali." janji Young In.

"Kapan? Saat musim salju?" tanya Hyun Suh. "Jika kau bisa memperlihatkan salju padaku, aku akan memberimu... $100.000. Kau harus menyiapkan uang $40.000. Aku berhutang $60.000. Jadi $100.000 dikurangi $60.000 tinggal $40.000."

"Baik!"

Dengan kemampuan Kyle yang tinggi, Kang Chul Goon bingung kenapa Kyle bersedia bekerja dan ditempatkan di Seoul. Ditambah lagi, Hyun Suh hanya menempatkan Kyle dibagian pengawas.

Hyun Suh pulang ke rumah Soo Jin. Ia kurang suka melihat ayam yang dipelihara Yoon. Anak kecil saja ia tidak suka apalagi ditambah ayam?

Yoon mengganggu Hyun Suh dengan mengikuti gerakannya. Jika Hyun Suh bertolak pinggang, Yoon akan ikut bertolak pinggang.

Young In kembali ke hotel. Disana, Kyle sedang duduk menjaga meja pengawas.

Saat Young In datang, Kyle beranjak pergi.

"Milikmu ketinggalan!" seru Young In, menyerahkan sebuah buku dengan sampul bertuliskan Nikko Hotel. Kyle diam. "Ini bukan milikmu?"

"Itu adalah jurnal." kata Kyle. "Disana tertulis rahasia laporan hotel. Disana tidak tertulis laporan keberhasilan, hanya kegagalan. Kegagalan akan membuat pembaca berpikir dan menganalisa lagi. Kini buku itu menjadi milikmu."

Kyle berjalan pergi. Young In membuka-buka halaman buku. Semuanya tertulis dalam bahasa Inggris. Tidak satu katapun dalam buku itu bisa dimengerti Young In.

Young In mengejar Kyle. "Ini.. Ini ditulis dalam bahasa Inggris." katanya terengah-engah.

Kyle tidak mau mendengar penjelasan Young In. "Baca buku itu dalam waktu satu bulan dan tulis laporan untukku." Kyle pergi. Ketika membelakangi Young In, ia tersenyum.

Hyun Suh berpikir dan bekerja sampai larut malam. Ia berusaha mencari tahu siapa yang mungkin meletakkan penyadap suara itu dibawah mejanya. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan David.

"Aku punya proyek khusus untukmu." kata David. Hotel "Empire tidak tahu kenapa kau datang ke sana. Apa yang kau lakukan, mereka tidak tahu. Mereka tidak boleh tahu."

David memerintahkan Hyun Suh untuk mengawasi hotel dan menyusun lagi sistem manajemennya.

Mendadak Soo Jin mengetuk pintu. Ia menunjukkan sebuah foto lama ketika Hyun Suh mengecup pipinya. "Kenapa kau melakukan itu?"

Hyun Suh tersenyum dan mengangkat bahu.

Young In tidak bisa tidur. Ia mengirim sms ke Hyun Suh. "Karena kau takut hujan lagi, maka kau memberiku payung. Itu sangat menyentuh."

Hyun Suh membalas, "Sangat merepotkan membawanya. Karena itulah aku memberikannya padamu."

Young In kesal. Ia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan foto masa kecilnya bersama ayahnya, Young Kyu.

Keesokkan harinya, Kyle datang ke hotel untuk bekerja. Mata resepsionis tertuju padanya, tapi sayang mata Young In tertuju pada Hyun Suh.

Hyun Suh masuk ke kantornya. Ia melihat Sekretaris Wu seedang membersihkan mejanya.

"Apa kau sudah membersihkan ruanganku sejak pagi?" tanya Hyun Suh.

"Ya, Pak." jawab Sekretaris.

"Terima kasih." kata Hyun Suh.

Sekretaruis Wu menyerahkan sebuah amplop pada Hyun Suh. "Disitu hanya tertulis namamu." katanya.

Setelah Sekretarisnya keluar, Hyun Suh membuka amplop itu. Kertas di dalam amplop dilipat dengan lipatan yang biasa digunakan olehnya dan adiknya, Ronny. Isi surat tersebut hanyalah alamat. Apartemen Seoul Villa. Lantai 3. Kamar 102.

"Apa ini?" gumam Hyun Suh.

Hyun Suh langsung menelepon Young In. Tapi saat itu Young In sedang berada di toilet.

Setelah keluar, Hyun Suh mengajaknya bicara.

Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Gun Young dan kekasihnya.

"Kami datang kemari untuk makan." kata kekasih Gun Young, pamer kemesraan pada Young In. "Ah, kau pakai rok!"

Hyun Suh melihat Young In dan tersenyum tipis.

"Apa kau masih berpacaran dengannya?" tanya Gun Young, menunjuk Hyun Suh. "Dia tidak kelihatan pantas untukmu."

"Ayo." Hyun Suh mengajak Young In pergi.

Young In diam. Kini kesabarannya sudah habis. Young In maju dan mengomeli Gun Young dan kekasihnya habis-habisan. "Aku bukan tipe orang yang mudah melepaskan! Kita merampas disini dan disana! Takut?! Kita sudah bersama sejak lama! Cinta segitiga, hah?! Ayo kita coba!"

"Bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh.

"Kau?!" seru Young In. "Kau juga bisa bergabung! Dalam beberapa hari... Tidak, perlahan-lahan aku jatuh cinta padamu. Jadi kau bisa ikut bergabung!"

"Pertunjukkan ini harus diakhiri." Hyun Suh berbisik pada Young In.

"Pertunjukkan?! Tidak, kali ini aku serius!" seru Young In. "Saat di airport memang pura-pura, tapi sekarang tidak. Aku suka padamu." Young In mengatakan itu dengan sangat santai. "Kau membuatku tenang, karena itulah aku menyukaimu. Bagaimana perasaanmu padaku?!"


Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 3)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 3

"Silahkan masuk, Presiden." kata Kyle, menyambut Hyun Suh. Ah, rupanya para karyawan salah paham. Mereka mengira Kyle adalah Presiden, padahal presidennya Hyun Suh.

"Aku tidak tahu kau akan datang." kata Hyun Suh pada Kyle.

"Aku baru saja memutuskan untuk datang." jawab Kyle.

"Ayo kita masuk." ajak Hyun Suh, namun wanita pengantar tidak mengizinkan dan meminta Kyle menunggu di luar.

Di dalam, Hyun Suh bertemu dengan beberapa orang penting, diantaranya adalah Park Jung Moon dan Kepala Manajer, Kang Chul Goon.

Young In dan sahabatnya (sekaligus selingkuhan Gun Young) bekerja di klinik kecantikan yang sama. Ia meminta sahabatnya itu keluar dan menjambak rambutnya habis-habisan.

"Beraninya kau mencuri pacarku!" teriaknya marah. "Ibuku bahkan sudah mengenalnya! Apa yang harus kukatakan padanya?! Dasar wanita murahan! Dan kau meminjam uang $50 untuk baju itu tapi belum membayarnya! Kembalikan yang dan pacarku!"

Selingkuhan Gun Young berteriak-teriak histeris.

Ah, rupanya lagi-lagi itu hanya imajinasi Young In. Young In berharap melakukan itu pada sahabatnya, namun pada kenyataannya tidak.

"Selamat atas hubungan barumu." kata Young In seraya menyerahkan sebuah pot berisi tanaman.

Sahabatnya ragu-ragu menerima tanaman itu.

"Selamat untukku karena mengakhiri hubunganku." kata Young In, memegang pot tanaman yang satunya lagi. "Tidakkah ini kelihatan seperti ekor merak? Ini air mataku, jaga baik-baik."

Sungguh sial untuk Young In. Pemilik klinik adalah Bibi selingkuhan Gun Young sehingga Young In dipecat.

Para pihak Empire Hotel membicarakan Hyun Suh habis-habisan. Mereka mengatakan Hyun Suh agar sakit otaknya. Resepsionis hotel bercerita bahwa Hyun Suh tidak suka kamar perokok, kamar yang pernah di tempati anak kecil, atap bergaris-garis, lukisan yang membingungkan dan lain sebagainya. Bagi para wanita, Hyun Suh sangat tidak asik.

Hyun Suh bekerja terus tanpa berpaling. Ia mengerjakan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan sekretarisnya.

Young In memeriksa di rekeningnya. Ia terkejut melihat uang di rekeningnya ludes. Saldo di rekeningnya 0 won dan di rekeningnya yang lain tinggal 3000 won.

Melihat pesawat di televisi membuatnya teringat pada Hyun Suh. Young In duduk diam, bingung seraya memandang tissue yang tertulis nomor telepon Hyun Suk. Uangnya sudah menipis. Haruskah ia menelepon Hyun Suh untuk meminta uang ganti karena telah menyelamatkan nyawanya?

Young In mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor telepon Hyun Suk, tapi mengurungkan niatnya. Mendadak tissue tersebut diterbangkan angin dan tertabrak bus. "Ah, sungguh sial." gumamnya kesal. Tapi nomor telepon Hyun Suh sudah ia ketik di ponselnya.

Soo Jin menelepon Hyun Suh dan mengajaknya bertemu. Soo Jin berjanji akan membantu Hyun Suh mencari tempat tinggal untuknya selama beberapa bulan di Korea.

Di lain pihak, di kantor Hyun Suh, sekretaris dengan diam-diam memasang alat penyadap suara di bawah meja Hyun Suh.

Mi Hee hendak menyapa tetangga sebelah kamarnya untuk berkenalan. Ia membawakan seepanci makanan. Mengetahui hal itu, Jae Don begegas berlari untuk menghalangi. Ia meludahi panci itu, kemudian membawanya kembali ke kamar mereka.

"Kau!!!" teriak Mi Hee, mengamuk.

Jae Dong memperingatkan ayahnya untuk segera pindah. "Kakak dan Ibu sangat kuat." katanya dalam sms. "Jika mereka tahu, kau akan mati."

"Putraku. Maafkan aku. Aku manyayangimu. Maafkan aku." ujar Young Kyu dalam balasan smsnya.

Akhirnya Young In memutuskan untuk menelepon Hyun Suh.

"Apa kau ingat aku? Aku gadis U-Turn." kata Young In.

"Ada apa?" tanya Hyun Suh. Saat itu ia sedang bersama Soo Jin.

"Aku ingin bertanya apakah kau baik-baik saja..." kata Young In tidak enak.

"Aku akan memberikannya padamu." kata Hyun Suh. "Aku akan memberikannya padamu, tapi kita bicara nanti saja." Ia menutup telepon.

Young In kesal setengah mati.

Keesokkan harinya, Soo Jin mengajak Hyun Suh ke sebuah apartemen. Mulanya Hyun Suh senang, tapi kemudian ia menemukan sebuah celana dalam wanita.

"Kau bisa membeli tempat tidur baru." kata Soo Jin.

Hyun Suh langsung jijik. "Aku tidak suka." katanya dingin, kemudian berjalan pergi.

Sulit menemukan tempat tinggal yang pas untuk orang perfeksionis seperti Hyun Suh.

Young In bersusah payah mencari pekerjaan, namun belum juga bisa menemukannya.

Di lain pihak, Hyun Suh mencari-cari restoran yang bisa menjual galbi 1 porsi, tapi semua restoran hanya menjualnya 2 porsi.

Young In datang ke Empire Hotel untuk melamar pekerjaan sebagai tukang pijat. Pengelola klinik memintanya mendemonstrasikan pijatan padanya. Bukannya menilai, ia malah tidur.

Kyle menemui seorang tamu hotel. Tamu tersebut adalah seorang gadis Jepang yang hanya bisa bicara bahasa Jepang. Gadis itu meminta Kyle mengobrol dan bermain kartu dengannya.

Ketika sedang bermain kartu, mendadak gadis itu secara spontan bicara dengan bahasa Korea.

"Kau pandai berbahasa Korea." kata Kyle, tersenyum padanya.

"Ya, hanya sedikit." kata gadis itu.

"Teruslah bicara, lama kelamaan kau akan bisa." kata Kyle ramah.

Young In membangunkan pengelola yang tertidur.

"Apa kau membangunkan aku?" tanya pengelola. "Ck ck ck. Jika pelanggan tertidur, kau harus menunggu. Tapi kau malah membangunkannya?"

"Aku tahu itu." bantah Young In. "Tapi ini situasi yang berbeda."

Pengelola tidak mau mendengar penjelasan dan menyuruhnya menunggu hasilnya besok.

Young In pulang dengan kesal. Di lobi, ia berpapasan dengan Hyun Suh.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Hyun Suh. "Ayo bicara di luar."

"Kemana kita akan pergi?" tanya Young In, mengikuti Hyun Suh yang berjalan cepat.

"Untuk mengambil uang." jawab Hyun Suh. "Mulanya aku ingin meneleponmu, tapi sepertinya kau tidak sabar. Itu tidak penting. Aku akan memberimu uang dan membayar hutangku."

Young In merasa sangat terhina, Ia berjalan ke arah yang berlawanan.

"Mau kemana kau?!" panggil Hyun Suh.

Young In tidak mau mendengarkan. Ia mengalihkan perhatiannya dengan berpikir perhitungan matematika.

"Baik!" seru Young In kesal. "Ayo kita ambil uang. Berapa banyak yang akan kau berikan?"

"Berapa banyak yang kau minta?" tanya Hyun Suh. "$60.000?"

"Aku ingin lebih dari itu. Berikan aku $600.000." kata Young In.

"Kau pikir aku lotere bagimu?"

Young In merengek dan berkata keras mengenai masalahnya. Semua orang yang lewat menoleh pada mereka. Kyle melihat dari jauh.

"Baik, baik aku mengerti." kata Hyun Suh, meminta Young In berdiri.

"Kalau begitu, belikan aku makan $6." kata Young In.

Young In dan Hyun Suh makan bersama di sebuah restoran biasa. Melihat Young In makan, membuat nafsu makan Hyun Suh hilang. Ia terlalu jijik untuk makan semangkuk lauk bersama dengan Young In.

"Aku tidak suka makan sendirian. Kau selalu makan sendirian, bukan?" tanya Young In. "Apa karena kau tidak suka berbagi makanan?"

Setelah selesai makan, Young In mengajak Hyun Suh minum di pinggir jalan.

"Kau ingin lebih dari makan malam seharga $6, bukan?" tanya Hyun Suh.

"Ya." jawab Young In. "Aku ingin mengajakmu makan malam seharga $6 sampai jumlahnya $600.000. Dengan begitu, aku tidak akan makan sendirian lagi."

"Maaf, tapi jika aku harus makan malam denganmu 10.000 kali, itu artinya membutuhkan waktu 30 tahun." protes Hyun Suh. "Sekarang aku berumur 30. Kau pikir aku ingin makan bersamamu sampai umurku 60? Cepat atau lambat kau akan menikah, punya anak dan suami. Bagaimana kau bisa keluar setiap hari dan makan malam bersamaku? Apa kau mengincarku? Apa secara tidak langsung kau memintaku menikah denganmu? Apa kau ingin hidup bersamaku?"

Young In diam, tidak menjawab. Rupanya ia mabuk. "Apa aku bilang aku ingin hidup denganmu?!" serunya. Ia oleng dan terjatuh ke tanah.

Soo Jin menelepon Hyun Suh.

"Jangan terlalu banyak minum. Tidak baik untuk jantungmu." pesan Soo Jin. "Apa kau mau makan malam bersamaku besok?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

Ia kembali ke kedai. Young In sudah tidak ada disana. Minuman sudah dibayar dan di meja ada beberapa lembar uang.

Hyun Suh duduk diam dan minum sendirian. Ia berpikir.

Pagi itu, Gun Young menelepon. Karena Young In belum bangun, Mi Hee yang mengangkatnya.

"Katakan padanya aku masih tidur." kata Young In.

Setelah menutup telepon, Mi Hee keluar. Ponsel Young In berbunyi langi. Kali ini Young In mengangkat sambil marah-marah.

"Untuk apa kau menelepon?!" teriaknya. "Semua yang kau katakan hanya alasan! Dasar bodoh! Idiot! Brengsek! Berhenti menelepon!"

Tapi kali ini yang menelepon bukan Gun Young melainkan pihak klinik Emperor Hotel. Telepon tersebut loudspeaker. Mereka kebingungan mendengar omelan itu, termasuk Hyun Suh.

Rupanya Hyun Suh meminta pihak hotel untuk menerima Young In bekerja disana. Ia meminta Kyle untuk menangani Young In.

"Aku atasanmu." kata Kyle ketika Young In sudah tiba di hotel.

"Apa kau punya teknik memijat?!" seru Young In, terkejut.

Kyle membawa Young In pada petinggi Hotel untuk di wawancarai. Mereka bingung kenapa Hyun Suh mau memasukkan orang yang tidak memiliki kemampuan apapun seperti Young In.

"Wakil presiden, Jangan-jangan, ia adalah anak rahasia manajer... mungkin adiknya?"

"Ia pasti punya kemampuan." kata Kang Chul Goon. "Karena itulah ia memilihnya."

Young In bekerja di hotel bukan sebagai tukang pijat, melainkan seorang pengawas dibawah komando Kyle. Tugas pengawas adalah menerima keluhan (dan omelan) tamu hotel.

Setelah berganti seragam, Young In berpapasan dengan Hyun Suh.

"Kita harus segera pergi, Presiden." kata sekretaris pada Hyun Suh.

Young In terkejut mendengarnya. Presiden?

Hyun Suh pergi bersama Soo Jin.

Soo Jin mengajak Hyun Suh ke rumahnya. Soo Jin sendiri yang memasakkan makanan untuk makan malam mereka.

"Aku sudah lama tidak makan masakan rumah." kata Hyun Suh. "Aku ingat saat kuliah kau juga memasak untukku. Sangat lezat."

"Bagaimana dengan rumah ini?" tanya Soo Jin.

"Aku suka." kata Hyun Suh.

"Apa kau ingin tinggal disini?" tanya Soo Jin. "Tinggallah bersamaku."

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 2)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 2

Setelah pesawat U Turn, Young In membawa Hyun Suh ke UGD.

Kyle menghadiri pemakaman Tuan Nitoshi Sato, Presiden Hotel Nikko yang sebelumnya. Ia memandang Tuan Nitoshi dengan sedih.

Jenazah itu membuka matanya. "Kau memulai karirmu dari front desk, aku juga memulai karirku dari front desk." katanya.

"Presiden..." gumam Kyle.
"Bekerja di hotel dari bawah, lalu naiklah setahap demi setahap." pesan presiden.

Kyle menangis. Rupanya semua itu hanya ingatan Kyle akan pesan presiden ketika masih hidup. Kyle melepas cincin presiden, kemudian menyimpannya.

Ia pergi ke atap sebuah gedung, menangis dan berteriak dengan bahasa Jepang. "Nikko banzai! Sato sama Banzai!"

Ketika sedang di dalam apartemennya, ibu Young In, Mi Hee, merobek-robek foto seorang pria. Pria tersebut tidak lain adalah ayah Young In, Choi Young Kyu. "Sebelum Young In datang, aku harus membakar semua foto ini." ujarnya ngedumel.

Adik Young In, Choi Jae Dong datang. Ia bersembunyi di kamar mandi dan meminta pada ibunya agar diizinkan tinggal di tempat itu juga.

Tanpa mereka ketahui, Choi Young Kyu dan keluarganya tinggal di sebelah apartemennya, kamar no. 1002.

Hyun Suh sadar dan membuka matanya.

"Kau pernah melakukan operasi jantung, bukan?" tanya Dokter.

Hyun Suh mengangguk. "Ya." jawabnya.

"Aku tidak menemukan kelainan dan jantungmu juga dalam kondisi yang baik." kata Dokter. "Rasa sakit pada dadamu disebabkan oleh stress yang berat atau tekanan."

Hyun Suh keluar dari ruang UGD dan berjalan melewati Young In, tanpa menoleh sedikitpun. Young In kesal setengah mati.

Hyun Suh berjalan menuju pada para pramugari dan pilot, kemudian mengucapkan terima kasih pada mereka. Para pramugari mengatakan bahwa yang menyelamatkan nyawa Hyun Suh adalah seorang penumpang wanita.

Hyun Suh kembali di pesawat. Young In sudah duduk disana sambil cemberut. Ia memberikan tas Hyun Suh dengan kasar. Hyun Suh diam.

Mi Hee mengusir Jae Dong. "Keluar!" teriaknya seraya memukuli putranya. "Sifatmu sama dengan ayahmu! Selalu membuatku marah setiap saat!"

"Ibu, sangat sulit hidup sendirian!" seru Jae Dong. "Aku terlahir lemah, tidak punya cita-cita, tidak punya rasa keingintahuan pada sesuatu! Tolong biarkan aku tinggal disini agar aku bisa dilindungi oleh keluarga jadi aku bisa menyelesaikan kuliahku."

Mi Hee tidak mau mendengar alasan apapun yang dikatakan Jae Dong dan tetap mengusirnya pergi.

Young In makan siang di pesawat dengan rakus. Ia menjatuhkan makanannya, kemudian memakannya lagi.

"Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Young In kesal pada Hyun Suh.

Hyun Suh diam sesaat. "Jangan jatuhkan apapun lagi. Kau terlihat seperti orang barbar." katanya acuh.

Young In bertambah kesal. Ia mengambil makanan Hyun Suh dan memakannya.

Jae Dong mencoba membujuk ibunya. Ia sengaja membelikan ibunya tissue toilet untuk meluluhkan hatinya. Setelah itu, ia memberikan sebuah gembok.

"Kunci aku di dalam kamar." kata Jae Dong. "Aku akan terus belajar. Aku yakin kali ini akan lolos dalam ujian menjadi hakim."

Keesokkan harinya, Young In dan Hyun Suh tiba di Korea.

"Jangan sampai kita bertemu lagi." kata Young In sinis pada Hyun Suh. Ia berjalan, hendak pulang, namun tiba-tiba mantan kekasihnya, Gun Young, muncul dihadapannya.

Dengan cuek, Hyun Suh berjalan melewati mereka.

Young In berpikir sejenak, kemudian berteriak memanggil Hyun Suh, "Sayang!"

Hyun Suh bingung. Young In menggandeng tangan Hyun Suh keras hingga Hyun Suh tidak bisa melepaskan diri. Ia mendekati Gun Young.

"Berkat kau, aku bisa membawa seorang kekasih dari Las Vegas."kata Young In pada mantannya.

"Tidak, aku bukan... Aku bukan..."

Young In mencoba membuat Hyun Suh diam dengan mengecup pipinya. Hyun Suh terkejut. Akhirnya ia setuju bekerja sama.

"Ya, selain makan dan tidur, kami selalu bersama." kata Hyun Suh.

Young In kemudian mengajak Hyun Suh pergi.

"Lepaskan aku." kata Hyun Suh. Ia menoleh ke belakang. Gun Young masih melihat mereka dari jauh. "Ia sudah pergi. Jangan katakan kau ingin mengajakku naik ke bus bersama juga?"

Young In melepaskan tangan Hyun Suh. "Ayo pergi bersama, tolonglah." katanya.

Hyun Suh berpikir sejenak. Ia berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik untuk naik ke bus bersama Young In.

"Ia mencampakkanmu?" tanya Hyun Suh di dalam bus. "Jika ia mencampakkanmu, lalu apa gunanya semua ini?"

"Tolong diam." kata Young In, hampir menangis.

Kau pikir dengan begitu ia akan kembali padamu?" tanya Hyun Suh, di dalam bus. "Seorang pria yang pergi kemudian kembali lagi bukan seorang pria yang baik. Lupakan saja dia. Ia pria gila yang jahat."

Young In menangis. Hyun Suh memandang ke belakang sekilas, kemudian diam.

Di tempat lain, seorang wanita sedang berbelanja. Mendadak, seorang anak yang sedang bermain-main sepatu roda di supermarket tertabrak troli dan terjatuh. Ibunya berpikir putranya hanya terjatuh biasa, namun mendadak anak itu pingsan dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Jae Min!" teriak ibunya panik.

Wanita tadi bergegas menolong dan membawanya ke dalam ambulans. Rupanya wanita itu adalah seorang dokter. Ia mengambil ponselnya. "Siapkan operasi secepatnya." katanya pada orang di telepon. "Kami akan tiba dalam 5 menit!"

Sesampainya di rumah sakit, dokter itu langsung melakukan operasi.

"Pendarahannya terlalu banyak!" kata seorang asisten pria. "Sebenarnya masalahnya ada dimana? Jika seperti ini terus, ia akan berada dalam bahaya!"

Setelah turun dari bus, Young In mendekati Hyun Suh. Ia mencari-cari sesuatu dalam saku celananya.

"Ada apa lagi?" tanya Hyun Suh dingin. "Ah, aku tahu! Sejak di pesawat kau ingin aku mengucapkan terima kasih, bukan?"

Young in belum sempat menjawab tapi Hyun Suh sudah nyerocos.

"Kau ingin aku memberikan uang sebagai ganti telah menyelamatkan nyawaku?" Hyun Suh mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya pada Young In. "Dengan ini, aku tidak berhutang apapun lagi padamu. Bolehkah aku pergi sekarang?"

Young In bingung sejenak tapi tetap menerima pemberian Hyun Suh. Ia menemukan apa yang ia cari di saku celananya. Sebuah surat. Ia menyerahkan surat tersebut pada Hyun Suh kemudian berjalan pergi.

Young In pulang ke rumahnya yang lama, tapi tidak bisa menemukan seorangpun disana. Ia menelepon ibunya. "Ibu, kenapa rumah kita dijual?!" seru Young In.

"Young In, dimana kau?" tanya Mi Hee, meletakkan sampah di depan elevator.

"Dimana lagi?! Di depan pintu rumah kita!" seru Young In mengamuk.

"Aku akan segera kesana!" kata Mi Hee, masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.

"Siapa yang meninggalkan sampah disini?!" seru Young Kyu.

Hyun Suh duduk di pinggir taman dan membuka surat yang diberikan Young In. Itu surat dari adiknya Ronny, dan dilipat dengan lipatan yang aneh.

"Kakak," ujar Ronny dalam suratnya. "Apa kau ingat saat kau mengajarkan aku bagaimana caranya melipat surat seperti ini? Aku lahir di Korea, tapi aku tidak memiliki kenangan sama sekali disana. Setiap kali aku melihatmu melipat surat, aku tahu, walau kau sangat membencinya, tapi kau ingat mengenai Korea.. mengenai ibumu. Tapi Kakak, jika aku melihat surat seperti ini, kaulah yang kuingat. Kau adalah Korea bagiku... Kau adalah ibu bagiku. Aku mengerti bahwa kau membuat keputusan yang sulit untuk pergi ke Korea. Aku menyayangimu, Kakak. -Ronny-"

Jae Dong dikurung dalam kamar. Ia meminta ibunya membelikan sesuatu, tapi karena Mi Hee harus menjemput Young In, ia membukakan pintu dan menyuruh Jae Dong keluar.

Trik Jae Dong berhasil. Ia malah pergi ke toko buku untuk membaca komik.

Ia melihat seorang anak kecil yang sedang membaca komik. Setelah puas membaca, anak itu memanggil ayahnya. Jae Dong terkejut melihat pria itu.

"Apakah kau.. A.. a.. ayah?!" tanya Jae Dong pelan.

Jae Dong dan Choi Young Kyu berjalan pulang bersama. Young Kyu memerintahkan putranya yang kecil untuk pergi terlebih dulu agar ia dan Jae Dong bisa bicara berdua.

Jae Dong bersujud di hadapan ayahnya.

"Kau sudah dewasa." kata Young Kyu. "Dimana kakakmu? Bagaimana ibumu?"

"Kau sudah kembali." kata Mi Hee pada Young In.

"Ya, ibu." jawab Young In dingin. "Kenapa kau melakukan ini dibelakangku?"

"Sup udah kesukaanmu sudah menunggu di rumah." kata Mi Hee. "Ayo pulang."

"Pulang kemana?" tanya Young In marah. "Rumah? Rumah apa?"

"Aku mengambil tabunganmu." kata Mi Hee. Young In sangat terkejut. "Masih ada sedikit deposit dan masih ada rekening yang lain."

"Jadi kau... ketika aku pergi... Kenapa kau melakukan ini?!" teriak Young In. "Kau tahu bagaimana aku mendapatkan uang itu?!"

Di tempat lain, Jae Dong menceritakan hal yang sama pada Young Kyu.

"Apa ibumu sudah gila?!" seru Young Kyu. "Bagaimana bisa dia melakukan itu pada kau dan kakakmu?!"

"Ayah, kau seperti tidak tahu ibu." ujar Jae Dong. "Ia tidak pernah berpikir sebelum bertindak!"

"Bagaimana denganmu?" tanya Young Kyu. "Kau membenciku, bukan?"

"Bagaimana bisa aku menyukaimu?" ujar Jae Dong jujur.

Di rumah sakit, dokter berhasil menyelamatkan nyawa si anak. Ia kembali ke kantornya untuk beres-beres.

"Kang Soo Jin." terdengar suara seorang pria. Dokter Kang Soo Jin menoleh dan melihat Hyun Suh datang. "Kau masih sangat cantik seperti dulu. Membuatku merasa pahit, sama seperti dulu."

Hyun Suh kelihatan sangat senang bertemu dengan Soo Jin, tapi sebaliknya, Soo Jin kelihatan sangat terkejut dan tidak senang.

"Dokter, jangan berpura-pura tidak mengenalku." kata Hyun Suh. "Seorang pasien sepertiku sangat senang bertemu denganmu."

Soo Jin tersenyum. "Siapa kau?"

Hyun Suh tertawa. "Mulai saat ini, hatiku milikmu."

Soo Jin mengantar Hyun Suh sampai ke depan rumah sakit.

"Kita baru bertemu sebentar tapi kau sudah mengusirku." kata Hyun Suh. Ia berkata bahwa Soo Jin adalah orang pertama yang diingatnya begitu tiba di Korea. "Teman, apa kau tahu seberapa besar aku merindukanmu?" tanyanya, lalu berjalan pergi.

Hyun Suh mencoba tersenyum ceria di depan Soo Jin, tapi begitu pergi senyumnya menghilang.

Hyun Suh menaiki sebuah taksi. Ia melihat sebuah kalung berbandul hati dengan sedih.

Soo Jin berlari-lari menjemput putranya. Ia melihat jam tangannya. Sudah sangat terlambat.

Putra kecil Soo Jin, Yoon, saat itu sedang makan di sebuah restoran bersama anak ayamnya. Begitu melihat ibunya, ia bergegas mengejar. "Ibu!" panggilnya.

Yoon mengajak ibunya ke restoran tempatnya tadi makan.

Soo Jin melihat putranya dengan sayang. Sekilas, ia teringat pada pertemuannya dengan Hyun Suh di rumah sakit.

Hyun Suh tiba di sebuah hotel mewah, Empire Hotel. Ia mendekati front desk untuk memesan kamar.

"Aku tidak ingin kamar perokok." kata Hyun Suh. "Aku tidak ingin kamar yang pernah dipakai oleh keluarga yang punya anak. Dan satu lagi. Aku tidak ingin langit-langit dengan motif garis-garis. Lukisan kecil membuatku tidak bisa tidur. Dan juga, aku tidak ingin lukisan yang kelihatan membingungkan. Aku lebih suka double bed."

Wanita itu kelihatan sangat kesal.

Mi Hee mengajak Young In ke apartemen baru mereka. Young In kelihatan tidak senang.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Young In dingin.

"Aku tidak ingin sendirian." kata Mi Hee. "Jika kau menikah dengan Gun Young, aku ingin tinggal beberapa tahun dengan menantuku. Kau tidak suka? Kau tidak ingin aku melakukan ini?"

"Kau harus mengeriting rambutmu besok." kata Young In. "Aku akan memberikan uangnya."

"Kenapa kau tidak marah?" tanya Mi Hee heran.

Young In berjalan menuju kamarnya. Ia heran melihat sebuah kamar yang digembok.

"Aku menyewakan kamar itu." kata Mi Hee.

"Pada siapa?" tanya Young In.

"Jae Dong."

Young In langsung meledak marah dan ingin mendobrak pintu. "Buka, Jae Dong! Kita harus menyelesaikan ini sampai salah satu dari kita mati!"

Jae Dong ketakutan. Ia menahan pintu agar Young In tidak bisa masuk.

Hyun Suh dan Young In punya satu kesamaan, yakni suka menghitung jika tidak bisa tidur. Hyun Suh suka menghitung jumlah gambar di langit-langit kamar sementara Young In suka menghitung perkalian matematika.

Keesokkan harinya, seorang pria tampan datang. Wanita front desk sangat senang dan terpana melihatnya.

"Dimana kantor Direktur?" tanya pria itu.

"Ada di lantai 15. Tolong tunggu sebentar." kata si wanita seraya meraih ponsel. "Sempurna!"

Pria itu menoleh. Ia tidak lain adalah Kyle.

Para wanita buru-buru berdandan dan mempercantik diri.

Wanita itu mengantar Kyle ke ruang Direktur. Tidak lama kemudian, Hyun Suh juga akan menuju ke tempat yang sama.

Semua ketua masing-masing bagian hotel menyambut kedatangan Kyle.

"Selamat datang, Presiden!" sapa Young Kyu pada Kyle, mendahului semua karyawan yang lain.

Hyun Suh muncul di belakangnya. Kyle menoleh. Hyun Suh terkejut melihatnya.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 1)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 1


"Untuk apa kau datang kemari Tuan?" tanya seorang pengurus Hotel.

"Minggir!" bentak seorang pria.

Pengurus hotel tidak mengizinkannya lewat. "Kyle." panggil seseorang dari belakang, Yoon Hyun Suh.

Pengurus hotel yang ternyata bernama Kyle itu minggir untuk mempersilahkan Hyun Suh lewat.

"Pemilik Nikko adalah tamu, bukan pegawai ataupun pemegang saham!" kata seorang pria, marah-marah pada Hyun Suh. "Kalian tidak bisa membeli kami dengan uang, jadi hentikan semua ini sekarang juga!"

Dengan tenang, Hyun Suh membungkuk untuk memberi hormat pada pria dari Hotel Nikko. "Selamat datang di jantung Caesar." katanya.

Pria dari Nikko berlutut di hadapan Hyun Suh. "Nikko adalah segalanya bagi kami." kata pria itu. "Bisakah kau melepaskan kami?"

Hyun Suh ikut berlutut, kemudian dengan santai meminta pria itu pergi.

Yoon Hyun Suh adalah Manajer Tertinggi Hotel Caesar di Amerika.

Choi Young In mengikuti lomba lari. Walaupun merasa tidak sanggup, ia memaksakan dirinya untuk lari. Ia bersaing ketat dengan pelari lain. Menjelang finis, ia mengulurkan kakinya sehinngga berhasil menang.

Young in kemudian pingsan. Mulutnya mengeluarkan busa. Kekasihnya dan teman dekatnya bergegas berlari menolong.

Pemenang Pertama Lomba Lari Marathon: 2 Tiket ke Las Vegas.

Keesokkan harinya, Young In sibuk menyiapkan bekal makanan.

"Aku ingin pergi lebih cepat dan sarapan bersama Gun Young." kata Young In. "Aku akan pergi bersamanya." Gun Young adalah kekasih Young In.

"Kau sangat menyukai Gun Young?" tanya ibu.

Young In hanya tersenyum.

Setelah semuanya siap, ibu mengantar Young In pergi sampai depan rumah dan memasukkan sesuatu ke dalam saku mantel Young In. "Gunakan ini baik-baik bersamanya." pesan ibu Young In.

Young In mengira itu uang. Ia sangat terkejut ketika menemukan kondom dalam saku mantelnya, bukan uang.

Young In masuk ke apartment kekasihnya, Gun Young. Di depan pintu, ia melihat sepatu Gun Young dan sepatu seorang wanita.

Young In terkejut, dan dengan perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan itu. Di ruang tengah, ia melihat pakaian wanita dan pakaian pria berserakan dekat sofa. Ia kemudian naik ke kamar di lantai dua dan melihat Gun Young dan sahabatnya tidur bersama.

Young In membuka selimut dan membuat mereka terbangun kaget.

Young In meminta Gun Young dan sahabatnya makan bersamanya.

"Kalian tahu kenapa aku memberi makanan pada kalian?" tanya Young In. "Karena aku benci jika makan sendirian. Jadi jangan tidur lagi dan lihat aku makan!"

Young In makan dengan lahap, setelah itu, ia keluar dari apartment Gun Young dengan sedih.

Young In pergi ke bandara untuk menukarkan kupon tiketnya ke Las Vegas dengan uang, tapi tentu saja pegawai bandara menolak. "Kami tidak bisa menukar kupon dengan uang." katanya.

Young In mengomel sendiri bahwa ia tidak mood untuk pergi berlibur. Namun mendengar pengumuman pemanggilan penumpang pesawat ke Las Vegas, Young In luluh. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian.

Young in duduk di dalam pesawat sendirian dan menangis. Ia menutupi suara tangisannya dengan handuk. Semua penumpang mencari asal suara tangisan itu.

Sesampainya di bandara transit, tanpa sengaja Young In menjatuhkan handuknya. Seorang pria memungut dan mengembalikan handuk itu padanya.

"Kau datang sendirian untuk berlibur?" tanya pria itu.

"Ya." jawab Young In. "Bagaimana denganmu?"

"Untuk menikah." jawab pria itu, tersenyum.

"Dimana pengantin wanitanya?" tanya Young In. "Kau tidak datang bersamanya?"

"Aku datang bersamanya." jawab pria itu.

Young In mencari wanita yang berada di dekat situ.

Si pria tersenyum malu dan memanggil seorang pria yang duduk di dekatnya. "Kami akan menikah." katanya. Ah, rupanya mereka homo.

"Se... selamat..." ujar Young In, terbata-bata.

Pria homo itu bernama Ronny, sedang kekasihnya bernama Arthur.

Young In dan Ronny naik lagi ke pesawat.

"Terima kasih karena sudah sangat ramah mengenai pernikahan kami." kata Ronny. Ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah kekasihnya sudah kembali dari toilet.. "Arthur mungkin terlihat kuat, tapi ia sangat sensitif pada reaksi orang lain."

Young In tersenyum.

"Tempat duduk disampingmu kosong." kata Ronny ramah. "Jika kau kembali, aku berharap ada seorang pria yang akan menemanimu. Tapi bukan seseorang sepertiku." Ekspresi Ronny berubah sedih. "Aku ingin kakakku memberi selamat pada kami, tapi aku terlalu gugup.Walaupun aku tidak memiliki apapun, aku ingin bersikap baik pada Arthur dan tidak ingin menyakitinya. Tapi aku masih merasa cemas."

Akhirnya Young In dan kedua pria homo tiba di Las Vegas. Mereka berjalan bersama.

"Kakak!" panggil Ronny, memanggil kakak laki-lakinya, Yoon Hyun Suh.

Hyun Suh menyambut mereka dengan hangat. Ia menyalami adiknya dan Arthur, kemudian memeluk Young In dengan akrab. "Selamat datang di Las Vegas!" katanya ramah.

Young In dan Ronny terkejut dengan sikap Hyun Suh. Hyun Suh mengajak mereka bertiga ikut dengannya, tanpa mendengar penjelasan Ronny terlebih dulu.

Young In ikut dalam mobil Hyun Suh. Di sepanjang jalan, sedang ada gembar-gembor berita mengenai Caesar yang mengambil alih Hotel Nikko. Hyun Suh tersenyum puas.

"Kakak..." Ronny berusaha menjelaskan pada Hyun Suh, tapi Hyun Suh memotong kata-katanya.

"Setelah kalian menikah, jika kalian mau, aku bisa memberikan sebuah kamar di Nikko pada kalian." kata Hyun Suh. "Nikko adalah milikku sekarang!" Hyun Suh tidak tahu bahwa adiknya homo.

"Maafkan aku." bisik Ronny pada Young In. "Tapi bisakah kau ikut bersama kami?"

Young In terjebak dalam situasi sulit. Hyun Suh menyiapkan satu kamar di hotel untuk Ronny dan Young In, sementara Arthur menggunakan kamar lain.

Ronny berjanji pada Young In dan Arthur bahwa ia akan menjelaskan semuanya pada kakaknya besok.

"Walaupun ia tidak bisa menerima kita, cintaku padamu tidak akan berubah." kata Ronny pada Arthur.

Malam itu, Young In berjalan-jalan di kota Las Vegas seorang diri.

Seorang tukang foto menawarkan untuk memotret Young In denan harga 5 dollar. Secara tidak sengaja Hyun Suh melihatnya.

"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanya Hyun Suh seraya berjalan mendekati Young In.

"Ronny lelah dan ingin tidur, tapi aku belum lelah..." Young In berusaha mencari-cari alasan.

"Kau memegangnya salah." kata Hyun Suh. "Seharusnya di tangan satunya."

Young In melihat fotonya. Ia memegang es krimnya tidak sama dengan patung Liberty.

Young In dan Hyun Suh berjalan bersama.

"Kalian tidak telihat mirip, tapi kalian mirip." kata Young In, membandingkan Hyun Suh dan Ronny. "Ronny terlihat pekerja keras dan pandai, sedangkan kau terlihat pandai dan pembuat masalah."

"Aku pintar dan pekerja keras, Nak!" bantah Hyun Suh. "Kau ingin tahu seperti apa kau terlihat? Kau orang yang tidak terlalu pandai dan pembuat masalah."

Young In terkesan melihat pertunjukkan air mancur. "Pasti akan lebih baik jika aku melihatnya dengan seseorang yang kusukai." gumamnya.

Hyun Suh memandang Young In.

Keesokkan harinya, Hyun Suh mengetuk pintu kamar Young In.
"Apakah ia masih tidur?" tanya Hyun Suh pada Young In, menanyakan adiknya.

"Dia tidur bersama temannya." jawab Young In setengah sadar.

Young In terkejut mendengar ucapannya sendiri dan melarang Hyun Suh masuk ke kamar sebelah. "Mereka sudah pergi." katanya.

Hyun Suh membelikan sebuah pakaian untuk Young In. Ronny dan Arthur menghindarinya.

"Apakah adikku sudah kembali?" tanya Hyun Suh, menelepon Kyle, pengurus hotel.

"Ia keluar lagi." jawab Kyle, berbohong. Ronny dan Arthur saat itu ada di hadapannya.

"Apakah kau punya rekomendasi untuk kapel pernikahan?" tanya Arthur padanya.

Hyun Suh mengantar Young In berjalan-jalan di Las Vegas. Seperti layaknya tour guide, ia menjelaskan berbagai sisi kota pada Young In.

Akhirnya, Hyun Suh mengajak Young In ke sebuah lahan luas dekat pegunungan.

"Aku akan membangun sebuah hotel disini." katanya. "Orang-orang akan datang dan aku bisa menghasilkan banyak uang. Bukankah sangat bagus?"

"Apanya? Menghasilkan banyak uang?" tanya Young In.

"Pemandangan disini." jawab Hyun Suh.

"Oh, ya." jawab Young In. Ia menceritakan pada Hyun Suh mengenai adiknya. "Dia ingin menikah ditempat kau berada. Dia datang kesini untuk menemuimu."

"Kenapa kau menyukai adikku?" tanya Hyun Suh. "Dia tidak punya uang. Kemampuan menggambarnya tidak terlalu baik."

Young In ragu sejenak dan tertawa. "Aku.. tidak tahu." jawabnya kaku.

"Adikku tidak akan pernah melakukan apa yang kulakukan padamu hari ini." kata Hyun Suh. "Apakah itu tidak apa-apa?"

"Aku tidak mengerti." kata Young In bingung.

Hyun Suh memegang pundak Young In. "Dia dan aku bukan saudara kandung. Kami berdua diadopsi dari rumah yatim piatu yang berbeda di Korea." Hyun Suh tersenyum dan mendekatkan kepalanya pada Young In. "Tidak ada yang perlu dipikirkan dan tidak ada yang salah."

Young In merasa marah. Ia melepaskan tangan Hyun Suh dari bahunya dan berjalan masuk ke dalam mobil.

Young In menarik napas dalam, membuka bajunya dan berganti pakaian. Ia kemudian berjalan mendekati Hyun Suh dan memberikan baju itu padanya.

"Kau brengsek!" seru Young In. "Kau menyebut dirimu seorang kakak. Kau bahkan tidak memiliki setengah dari kejantanan adikmu. Menginginkan kau memberi selamat padanya... dia sangat..." Young In tidak menyelesaikan kata-katanya dan berjalan pergi sambil ngomel. Hyun Suh tersenyum.

"Naik!" kata Hyun Suh, mengejar Young In dengan mobil.

"Pergi ke neraka!" omel Young In.

"Naik!" perintah Hyun Suh.

"Kau harus dihukum!" seru Young In seraya menendang mobil Hyun Suh. Agar bisa mengalihkan perhatiannya dari Hyun Suh, ia memikirkan perhitungan matematika.

Di hotel, Ronny mengatakan pada Young In bahwa kakaknya mengajak mereka makan malam.

"Sepertinya ia sangat menyukaimu." katanya. "Aku tidak pernah melihatnya membicarakan orang lain seperti ini. Ia bilang kita harus menikah." Ronny mengenggam tangan Young In. "Bantu kami sampai akhir. Kurasa akan lebih mudah jika kau bersama kami."

"Tolong, Young In." pinta Arthur.

Young In terpaksa setuju.

Hyun Suh mengajak Ronny dan Young In berbincang di dalam kamar. Ia sudah menyiapkan sepasang cincin nikah untuk mereka.

"Kakak, sebenarnya... orang yang kucintai adalah Arthur..." Ronny berkata hati-hati.

"Arthur? Siapa Arthur?" tanya Hyun Suh.

Arthur masuk ke dalam kamar.

"Arthur dan aku akan menikah." kata Ronny.

Hyun Suh diam. Ia lebih kelihatan berpikir dibanding terkejut. Ia bangkit dari duduknya dan melihat Arthur tajam.

"Aku ingin memberitahu lebih awal..." kata Arthur. "Kau ingin... aku bahagia, bukan?"

"Lalu siapa dia?" tanya Hyun Suh, menunjuk Young In. Tanpa menunggu jawaban, Hyun Suh mendekati Arthur. "Apa benar yang dikatakan Ronny?"

Arthur mengangguk.

"Maaf, bisakah kau menunggu diluar?" pinta Hyun Suh pada Arthur. Hyun Suh merasa sangat marah pada Ronny, dan dengan tersenyum meminta Arthur keluar.

"Aku juga akan keluar." kata Young In.

"Tidak, tetap disini." larang Hyun Suh.

Hyun Suk menarik kerah kemeja Ronny dengan marah.

"Dia sangat berharga untukku." kata Ronny.

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh. "Apa aku bagimu? Apakah aku berharga untukmu juga? Apa aku kakakmu? Kau hanya ingin uang, tapi apakah kau hanya memanfaatkan aku untuk uang?!"

"Kau tidak membutuhkan aku." kata Ronny. sedih "Kau tidak membutuhkanku disisimu. Walaupun kau selalu sibuk, ditunjuk-tunjuk dan ditertawakan karena kau yatim piatu, kau tidak pernah terluka. Kau kuat! Jika dibandingkan denganmu, aku lemah dan butuh seseorang. Kau tidak akan pernah mengerti. Aku tahu bahwa aku membuatmu malu. Aku tahu bahwa aku hanya mengganggu jalanmu."

"Aku tidak pernah mengharapkan apapun... tapi untukmu... kau tahu seberapa banyak yang sudah kulakukan." kata Hyun Suh, melepaskan cengkeramannya. "Mulai saat ini, anggap aku bukan kakakmu. Hiduplah sendirian. Itulah yang akan orang lain lakukan."

Keesokkan harinya, Hyun Suh dan bosnya, David, berbincang di elevetor. David mengatakan bahwa Hyun Suh masih terlalu muda dan berbahaya jika menjadi Presiden Nikko. Ia meminta Hyun Suh untuk pergi berlibur ke Hotel Empire di Korea selama 6 bulan. Namun Hyun Suh menolak.

Setelah David keluar, Young In masuk ke elevator. Hyun Suh kelihatan sangat marah pada Young In dan mengacuhkannya.

Young In mengoceh mengenai Arthur dan Ronny. "Mereka saling mencintai." katanya.

Hyun Suh tidak memedulikan kata-kata Young In.

Di lobby, Hyun Suh meminta Kyle mengusir Ronny, Arthur dan Young In.

Kyle tidak memedulikan Hyun Suh. Ia berkata ramah pada Young In. "Nona, apakah kau ingin check out?"

"Ini perintah!" seru Hyun Suh pada Kyle.

Kyle tetap tidak memedulikan Hyun Suh. "Nona, apakah kau ingin check out sekarang?" tanyanya.

"Tidak. Tidak Check out." jawab Young In.

Pernyataan Young In merupakan alasan cukup bagi Kyle untuk menolak perintah Hyun Suh. "Tamu hotel adalah prioritasku." katanya pada Hyun Suh.

Young In tersenyum berterima kasih pada Kyle, kemudian mengikuti Hyun Suh. Dengan semena-mena, Hyun Suh memecat sekretarisnya karena terlambat datang 23 menit, sebagai pelampiasan rasa marahnya.

Young In terus mengikuti Hyun Suh.

Hyun Suh akhirnya berbalik menghadapinya. "Kenapa kau ikut campur dalam urusan ini?" tanyanya. "Apa yang kau peroleh?"

Young In merogoh saku mantelnya ingin mengambil sesuatu, tapi tanpa sengaja menjatuhkan kondom pemberian ibunya.

"Begitu... Inikah cinta yang kau bicarakan?" tanya Hyun Suh mengejek. Ia maju selangkah mendekati Young In. "Murah." ujarnya pelan.

"Jika kau mahal, kau tidak akan menyakiti adikmu dan membuat seorang gadis menangis." kata Young In tajam Ia menyerahkan sebuah kartu undangan. "Terserah kau mau datang atau tidak ke pesta pernikahan itu! Kau pikir, kenapa mereka ingin menikah disini? Karena kau ada disini. Karena kau adalah kakaknya! Karena ia menyayangimu! Tidakkah kau melihatnya?! Kini aku bisa menilai dirimu, menakutkan dan egois!"

Young In mengomel dan pergi ke pinggir kolam renang. Kyle memberinya minuman, kemudian pergi.

"Yang sebelumnya... terima kasih." kata Young In.

Kyle berbalik dan tersenyum melihat Young In meminum minuman pemberiannya dengan rakus.

Young In menelepon ibunya. Di Korea, ibunya sedang sibuk pindah ke sebuah apartement. Ibunya ingin menyembunyikan hal tersebut dari Young In dan menutup telepon dengan cepat.

Ibu Young In mengintip ke kamar sebelah, yang pindah kesitu pada hari yang sama. Pria itu marah-marah di telepon. "Tetap saja di Amerika! Jangan datang!" pria itu ngambek karena tidak ada yang datang membantunya.

Hyun Suh makan bersama dengan mantan Presiden Nikko, Tuan Nitoshi, di sebuah restoran Jepang. Tuan Nitoshi membawa seorang wanita pencicip makanan. Ia membutuhkan wanita itu untuk mengetahui apakah makanan yang hendak ia makan beracun atau tidak.

Setelah selesai makan, Tuan Nitoshi memohon pamit. "Hotel adalah sesuatu yang hidup. Mereka akan tumbuh seperti pemiliknya." katanya. "Tolong jaga Hotel Nikko."

Hyun Suh bergegas berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya. Ia memikirkan kata-kata Tuan Nitoshi. "Omong kosong." gumamnya.

Hari pernikahan Ronny dan Arthur.

Young In memakai gaun pemberian Ronny dan menghadiri pesta pernikahan mereka. Hanya ialah satu-satunya tamu yang datang. Ronny kelihatan sedih karena kakaknya tidak juga datang.

Di lain pihak, Hyun Suh sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ia mendapat telepon bahwa Tuan Nitoshi bunuh diri.

Hyun Suh ragu. Haruskah ia pergi ke pernikahan adiknya?

Akhirnya Hyun Suh memutuskan untuk datang ke pernikahan adiknya.

Ketika ia sampai di kapel, tempat tersebut sudah kosong. Tidak ada seorang pun disana.

Young In mengantarkan kepergian Ronny dan Arthur.

Bunuh dirinya Tuan Nitoshi membuat Hyun Suh menyadari bahwa Tuan Nitoshi memang menganggap Hotel Nikkon sebagai sebagian jiwanya. Ia kemudian menemui David dan menyatakan persetujuannya untuk pergi ke Korea.

"Kau pikir aku mengirimmu ke Korea hanya untuk berlibur?" tanya David. "Aku punya proyek khusus untukmu."

Hyun Suh bersiap-siap pergi. Ia mengambil sebuah kotak dari dalam laci, berisi kalung berbandul hati. Ia menatap kalung itu.

Keesokkan harinya, Young In naik pesawat kembali ke Korea. Ia menukarkan dua tiketnya dengan satu kursi kelas bisnis.

Young In masuk ke pesawat dan menoleh pada orang yang duduk disampingnya, Hyun Suh. Sambil ngedumel mengenai penyesalannya karena menukat tiket, ia mencoba tidur.

Di tengah perjalanan, ada kendala di pesawat. Pilot mengatakan bahwa mereka mendapat masalah dengan sistem turbulensi dan meminta penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Hyun Suh memegangi dadanya, yang lagi-lagi terasa sakit. Ia meraih tas untuk mengambil obatnya, tapi tidak bisa menemukannya.

Young In mendengar nafas Hyun Suh yang berat, seperti kesakitan. Ia mengintip dan panik. "Ada apa?" tanyanya. "Tidak.. apa yang harus kulakukan?! Pramugari! Pramugari!"

"Aku.. aku tidak ingin mati.. tolong... tolong...." gumam Hyun Suh kesakitan.

"Hentikan pesawat!" teriak Young In, panik dan ketakutan. "Buat U-turn!! U Turn!!"

To Be Continued
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...