Laman

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 14)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 14

Soo Jin, Kyle dan Young In naik elevator bersama-sama, menuju kamar Hyun Suh.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini pagi-pagi?" tanya Young In.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini pagi-pagi, Choi Young In?" Kyle bertanya balik, melihat ke tas besar yang dibawa Young In.

"Tas ini... itu... Aku diusir." jawabnya. Kyle dan Soo Jin melirik, terkejut.

"Diusir? Dari sini?" tanya Kyle. "Jadi, sebelum ini kau..."

"Itu... itu..."

Belum sempat Young In menemukan alasan,pintu elevator terbuka.

"Apa yang kalian semua lakukan disini?" tanya Hyun Suh, muncul di depan pintu elevator. "Apa orang yang ingin kalian temui adalah aku?"

"Ya." jawab Kyle dan Soo Jin.

Young In diam.

Hyun Suh mempersilahkan Soo Jin dan Kyle masuk ke kamat apartemennya. Young In sudah bersiap pergi, tapi Hyun Suh menyuruhnya masuk untuk membersihkan kacang. Young In senang setengah mati.

Hyun Suh juga membantu Young In mengangkat tasnya masuk.

Young In memungut kacang-lacang yang tertumpah di lantai. Hyun Suh menyuruhnya ikut berbincang dengannya, Kyle dan Soo Jin, namun Young In menolak. Ia tetap memunguti kacang. Akhirnya, Hyun Suh membantunya.

Mereka berdua ribut dan berunding mengenai kacang-kacang itu, melupakan bahwa Soo Jin dan Kyle ada di kamar.

Soo Jin dan Kyle hanya diam memandang mereka.

Soo Jin kesal. "Yoon Hyun Suh!" panggilnya.

"Maaf, tolong tunggu sebentar." kata Hyun Suh. Ia kemudian menyuruh Young In keluar membeli tahu.

Young In keluar.

Soo Jin hendak membuka mulut, namun Hyun Suh mendahului. "Soo Jin... dan Kepala Pengawas, kembalilah. Kalian berdua. Kembalilah sebelum tahu datang."

Soo Jin berdiri di depan Hyun Suh. "Kau... Kenapa tidak memberitahuku?!" serunya sedih.

"Apa yang ingin kau katakan... dan apa yang ingin kepala pengawas katakan... aku sudah tahu..." kata Hyun Suh. "Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua. Hari demi hari... hal yang paling kutakutkan selain kematian adalah... bahwa dia akan tahu. Lebih dari menyerahkan Nikko yang sangat kuinginkan, aku lebih takut ia akan tahu, kemudian meninggalkan aku. Aku takut ia akan terluka dan menderita, lalu pergi dan tidak menyukaiku lagi. Gadis yang kusukai akan meninggalkan aku. Sekali lagi aku akan ditinggalkan."

Kyle terlihat bingung.

Soo Jin menahan tangisnya.

"Aku tidak ingin dia tahu." kata Hyun Suh. "Hanya itulah keinginanku saat ini."

"Tetap lakukan perawatan denganku." kata Soo Jin.

"Kita bicara lagi nanti." ujar Kyle pengertian, kemudian mengajak Soo Jin pergi.

"Kenapa Direktur bersikap seperti itu?" tanya Kyle pada Soo Jin di elevator. "Apakah ia benar-benar sakit?"

"Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu." kata Soo Jin sedih.

Kyle diam, berpikir.

Kyle dan Soo Jin berjalan keluar. Disana, mereka melihat Young In berlari kembali ke dalam apartemen.

Young In kembali ke kamar.

"Mereka sudah pergi?" tanya Young In. "Seharusnya mereka sarapan disini lebih dulu. Tapi, kenapa mereka datang pagi-pagi sekali?"

"Aku akan memberitahu kenapa mereka datang." kata Hyun Suh, memegang kacang yang dipungutnya. "Mereka datang untuk melihat apakah kau bisa menciumku sebanyak jumlah kacang ini. Apa kau mau menyimpan kacang ini di toples dan mengeluarkan satu per satu setiap kali kita berciuman sampai isi toples habis? Bagaimana?"

"Tadi pagi kau mengusirku." kata Young In. "Apa kau sakit?"

"Ya, aku sakit. Karenamu aku merasa sakit, disini." kata Hyun Suh seraya memegang dadanya.

Hyun.

Young In bangkit dan mengambil satu buah toples dari dapur, kemudian memasukkan semua kacang ke dalam toples tersebut.

Hyun Suh dan Young In berangkat ke kantor bersama. Sebelum keluar, Hyun Suh mencium Young In dan mengeluarkan satu kacang dari toples.

Young In keluar terlebih dulu.

Hyun Suh mengikutinya, kemudian kembali lagi ke kamar untuk mengambil obat-obatnya. Namun ada satu yang tertinggal di bawah ranjang, yakni cottonbud untuk membersihkan luka operasi.

Hyun Suh tiba di hotel. Di sana, orang-orang memandangnya dengan ekspresi aneh. Hyun Suh bingung.

Kyle menemui Hyun Suh. "Bisakah kau ikut denganku?" tanyanya.

Kyle mengajak Hyun Suh melihat papan pengumuman bagi para pegawai hotel. Kertas yang tertempel di papan pengumuman itu adalah mengenai urutan pegawai, yakni mengurutkan pegawai untuk melihat siapa yang mungkin dipecat atau tidak.

Kyle dan Hyun Suh memeriksa. Sekretaris Oh tidak ada. Direktur Kang Chul Goo juga tidak ada. Salah seorang pengawai mengatakan bahwa mereka sedang berlibur.

Hyun Suh diam di ruangannya dan berpikir. Young In datang untuk menghiburnya.

Di lain pihak, pengawas cctv mencabut kertas di papan pengumuman. "Tidak ada apa-apa yang akan terjadi." katanya. "Kembali bekerja."

Para pegawai tidak bisa tenang. Kyle berjalan tenang dan melihat kejadian itu. Ia bertukar pandang dengan pengawas cctv.

"Apa kau benar-benar berencana untuk memecat orang sejak kedatanganmu kemari?" tanya Young In.

"Ya." jawab Hyun Suh. "Itu pekerjaanku."

"Jangan lakukan pekerjaan itu lagi mulai sekarang." kata Young In. "Lakukan saja hal yang menyenangkan."

"Ya."

Ketika Soo Jin pulang ke rumah, Hyun Suh sudah ada disana bersama Yoon.

"Ayo kita pergi ke Amerika." kata Soo Jin, berbincang berdua dengan Hyun Suh. "Jika kau disana, akan ada lebih banyak donor prgan. Teknologi yang lebih baik, teknik, semuanya lebih baik dibandingkan disini..."

"Setiap hari aku selalu berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup." kata Hyun Suh. "Sebelum operasi, dokter mengatakan bahwa beberapa orang tidak bisa bertahan sampai operasi selesai. Kemungkinan berhasil adalah 13%. Saat itu dikepalaku, 13 menjadi angka terbesar di dunia. Itu sudah cukup untukku."

Soo Jin menangis, kemudian bangkit dari duduknya. "Jika kau ingin hidup dengan Yoon... Ya, kau bisa hidup dengan Yoon. Kau bisa pergi dan hidup dengannya." katanya. "Kau boleh mengacuhkan dan melupakan aku, kau hanya harus... Hidup. Kau harus hidup."

Hyun Suh diam.

"Bersikaplah layaknya ayah yang baik." kata Soo Jin.

Young In menelepon ibunya, Mi Hee. Ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai Hyun Suh. Mencintai Hyun Suh sebesar cintanya pada ibunya. Ibunya mengerti dan mengizinkan Young In tinggal bersama Hyun Suh.

Young In masuk ke kamar Hyun Suh untuki bersih-bersih. Ia menemukan cottonbud Hyun Suh, tapi tidak terlalu memedulikan dan meletakkannya di ranjang.

Sebelum pulang, Hyun Suh menemani Yoon tidur. Yoon memintanya agar tidak pergi sampai ia tertidur.

"Aku tidak bisa tidur karena takut kau pergi." kata Yoon dengan memejamkan matanya.

Keesokkan harinya, Young In bangun dan menengok ke kamar Hyun Suh. Hyun Suh tidak ada disana. Rupanya semalaman Hyun Suh tidak pulang dan menginap di kamar Yoon.

"Dimana kau tidur tadi malam?" tanya Young In ketika bertemu Hyun Suh di hotel.

"Di rumah Soo Jin."

"Sarapan?"

"Di rumah Soo Jin." jawab Hyun Suh.

Park Jung Moon menunggu Hyun Suh di ruangannya bersama Young Kyu. Ia marah-marah pada Hyun Suh karena Hyun Suh menempatkannya di posisi pertama di daftar orang yang akan dipecat.

"Pada saat seperti ini, Manajer malah berlibur!" katanya emosi. "Ha! Benar-benar kacau. Saat ini, hotel benar-benar hanya seperti lelucon!"

"Ketika Manager sudah kembali, aku akan menjelaskan semuanya padamu." kata Hyun Suh.

"Tidak perlu!" kata Jung Moon. "Aku ingin melihat bagaimana kau akan berakhir."

Hyun Suh menahan rasa sakit di dadanya karena emosi dan tertekan.

Kyle melihat Hyun Suh berdiri diam, dan ikut berdiri disampingnya, namun tetap diam. Ia tidak ingin mengganggu lamunan Hyun Suh.

"Aku ingin meminta tolong padamu." kata Kyle. "Apapun yang terjadi, kau harus tetap melindungi hotel ini dampai akhir."

"Akhir?"

"Melihatmu hari ini dan kemarin, kelihatannya kau telah melepaskan segalanya." ujar Kyle. "Aku tahu kau sangat mencintai hotel lebih dari orang lain. Kau tahu untuk siapa dan kenapa aku kemari. Kau tidak boleh menyerah seperti ini. Aku ingin mengalahkan dan melewatimu. Kau tidak boleh memberiku kesempatan."

"Kyle, aku..." Hyun Suh memandang Kyle. "Saat ini, aku mencoba hidup lebih keras daripada sebelumnya."

"Itulah yang ingin kudengar." kata Kyle.

Ketika Hyun Suh pulang, Young In sedang memasak.

"Biar aku yang melakukannya." kata Hyun Suh ketika ia melihat Young In kesulitan membuka kaleng.

Hyun Suh mencoba membuka kaleng itu, namun tanpa sengaja jarinya terluka dan berdarah. Young In cemas dan langsung mencari obat merah.

Young In menemukan sesuatu. "Apa ini bisa dipakai?" tanyanya. "Baunya seperti bau rumah sakit."

"Ah, bukan, bukan ini."

"Aku mengambilnya dari kamarmu. Kau tidak tahu?"

Hyun Suh mengambil tissue dan membersihkan tangannya. Tanpa berkata apa-apa, ia bergegas keluar dari apartemen.

"Obat yang kau minum sekarang digunakan untuk mencegah darahmu dari penggumpalan." Hyun Suh teringat dokter berkata. "Jika kau berdarah, kau mungkin akan menjadi lemah."

Young In keluar dan menawarkan diri untuk mengantar Hyun Suh ke rumah sakit. Namun Hyun Suh menolak. "Aku menyuruhmu untuk tetap di rumah!" seru Hyun Suh keras.

Young In terdiam dan bingung.

Young In masuk kembali ke dalam apartemen. Mendadak ponsel Hyun Suh berdering. Hyun Suh lupa membawa ponselnya.

Young In mengangkat telepon dari Soo Jin. "Di sedang tidak ada." katanya. "Ia pergi ke rumah sakit."

"Apa?" tanya Soo Jin cemas. "Sendirian?"

"Dia tidak mengizinkan aku ikut jadi..."

Hyun Suh duduk diam di ruang UGD. Saat itu sedang banyak pasien terluka parah (sepertinya karena kecelakaan) sehingga mereka lebih di dahulukan. Belum lagi pasien-pasien lain yang makin banyak berdatangan.

Hyun Suh merasa pusing mendengar keributan itu. Kepalanya berputar-putar.

Hyun Suh berjalan keluar perlahan-lahan. Dari jauh, samar-samar ia melihat seorang wanita berjalan. Karena saat itu pandangannya buram.

Hyun Suh tersenyum, memperlihatkan tangannya yang terluka, lalu menangis. "Aku... Aku harus hidup." tangisnya. "Aku ingin terus hidup, Soo Jin. Selamatkan aku. Selamatkan aku..."

Hyun Suh bersandar di bahu Soo Jin. Soo Jin memeluknya.

Soo Jin mengantar Hyun Suh pulang. Young In melihat mereka dan merasa cemburu. Ia kembali ke kamar dan menunggu Hyun Suh disana.

Young In tidur di luar sementara Hyun Suh tidur di kamar.

Diam-diam, Hyun Suh mengambil obat dari lemari dan meminumnya.

Keesokkan harinya, Young In menawarkan diri untuk membantu Hyun Suh membersihkan badan karena tangannya sedang terluka. Tentu saja Hyun Suh menolak, karena di dadanya ada bekas operasi jantung.

"Kalau dipikir-pikir, kau tidak pernah mengenakan pakaian dengan kerah rendah." kata Young In. "Kau tidak punya dada sepertiku?"

Hyun Suh diam.

"Aku hanya bercanda." kata Young In, membuat Hyun Suh menarik napas lega.

Akhirnya, Young In membantu Hyun Suh keramas.

"Suatu saat nanti, jika aku kena penyakit ganas, jangan kabur." kata Young In. "Kau harus membantuku membersihkan diri. Bagaimana?"

"Itu menjijikkan."

Soo Jin datang ke ke ruangan Hyun Suh di hotel sambil membawa sebuah amplop putih. Namun Hyun Suh tidak ada di ruangannya.

"Kau tidak di kantor?" tanya Soo Jin, menelepon Hyun Suh.

"Ya, mungkin sebentar lagi." kata Hyun Suh.

"Kalau begitu, kutinggalkan dimeja." kata Soo Jin.

"Apa?"

"Kau akan tahu jika sudah melihat."

Tidak lama setelah Soo Jin pergi, Young In datang ke ruangan Hyun Suh sambil membawa dua gelas es. Karena Hyun Suh tidak datang-datang, Young In meletakkan es di meja dan tanpa sengaja melihat amplop putih yang diletakkan Soo Jin.

"Transplantasi..." Young In membaca tulisan di amplop, lalu membukanya. "Daftar pasien Transplantasi Jantung." Ia membuka dan membaca tulisan disana.

Young In shock.

Hyun Suh masuk ke ruangannya. Disana, ia melihat amplop dari Soo Jin dan uap air bekas es yang dibawa Young In (tapi Hyun Suh tidak tahu).

Young In sangat terpukul, shock berat dan sedih sekaligus. Ia menangis. Kyle melihatnya dari atas.

Malam itu, Young In mengajak Hyun Suh tidur bersama. Ia menatap Hyun Suh dengan ekspresi sedih dan takut.

"Tidurlah bersamaku." ajak Young In.

"Nanti." kata Hyun Suh. "Perlahan-lahan."

"Nanti kapan?" tanya Young In. "Tidurlah di sampingku. Aku tidak mau tidur sendirian."

Hyun Suh menolak dan Young In bisa memahami. Tadi ia hanya mengetes.

Young In berpura-pura tidur, lalu bangun di tengah malam. Perlahan-lahan, ia membuka pintu kamar Hyun Suh dan masuk ke dalamnya.

Ia tidur di samping Hyun Suh dan memandang wajahnya sedih. Dibukanya kancing kemeja Hyun Suh satu per satu dengan takut. Tepat di dada Hyun Suh, ada jahitan panjang bekas operasi. Young In menangis.

"Aku.. ingin hidup behagia bersama gadis ini sampai aku mati." Young in teringat Hyun Suh pernah berkata.

Young In berusaha agar tangisnya tidak membuat Hyun Suh terbangun.

Rupanya Hyun Suh tidak tidur. Ia mengulurkan tangannya memeluk Young In.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 13)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 13

"Hasilnya sudah ada tapi... Kalian ingin aku berkata yang bagus-bagus atau berkata yang sebenarnya?" tanya peramal.

"Yang bagus-bagus." kata Young In, bersamaan dengan jawaban Hyun Suh, "Yang sebenarnya."

"Tanyakan lagi, Paman!" pinta Young In.

Mulanya peramal menolak karena jawaban yang pertama adalah yang jujur. Tapi Hyun Suh memberi isyarat agar peramal menuruti Young In. Peramal bertanya lagi.

"Yang sebenarnya." jawab Young In, bersamaan dengan jawaban Hyun Suh, "Yang bagus-bagus."

Ujung-ujungnya, Kakek peramal tidak mau memberitahu hasil ramalannya pada Young In dan Hyun Suh.

Young In keluar terlebih dulu dengan kesal. "Kurasa Kakek itu sedikit...." Young In memotong perkataannya sendiri. "Dia tidak mau memberitahu hasil ramalannya! Mungkin masa depan kita tidak bagus..."

Hyun Suh menoleh ke arah tenda si peramal dengan ekspresi was was.

"Bukankah hidupmu terlalu pendek untuk membina hubungan yang serius?" tanya peramal.

Malam itu, Hyun Suh tertidur di lantai. Ruangan itu gelap dan sepi. Hyun Suh hanya bisa mendengar suara 'tik tok, tik tok, tik tok', suara alat yang membantu jantungnya berdetak.

Hyun Suh bangkit dari tidurnya, kemudian membersihkan luka bekas operasi di dadanya. Ia menangis, memandang dirinya sendiri di cermin.

Keesokkan harinya Hyun Suh pergi ke meja pengawas dan memanggil Kyle.

"Ikut denganku." kata Kyle.

"Ya, Direktur." jawab Young In.

"Bukan kau." kata Hyun Suh. Ia berpaling pada Kyle. "Sepertinya penerusmu tidak sabaran."

"Penerus?" gumam Kyle. "Sepertinya sangat sulit."

Kyle mengikuti Hyun Suh ke ruang cctv. Pengawas cctv agak terkejut melihat Kyle.

"Sekretaris Oh ada di ruanganku dan Nikko..."

"Kau tidak pernah pergi dari negara ini." potong Kyle. "Apa sebenarnya yang kau lakukan satu bulan belakangan? Selama kepergianmu, kau tahu siapa orang yang merasa paling sedih? Nikko, Choi Young In. Kau tidak seperti orang yang kukenal. Jika kedepannya masih seperti ini, lebih baik kau berhenti sampai disini."

"Bukankah kau punya kesempatan mendekati Young In setelah kepergianku?" tanya Hyun Suh.

"Aku tidak tahu." kata Kyle. "Walaupun kau tidak ada, rasanya seperti kau selalu didekatnya. Itu selalu membuatku marah."

Hyun Suh tersenyum. "Setelah kupikir-pikir, kita berdua banyak kesamaan." katanya. "Nikko, Choi Young In. Tidak akan menyerah untuk mereka."

Hyun Suh memeriksa dokumen-dokumen di ruangannya.

"Laporan yang kuberikan padamu adalah informasi mengenai rencana mereka." Hyun Suh teringat Kyle berkata. "Sebagai Manager Umum, dia mengendalikan emosi para karyawan di hotel dan dari pusat. Mereka mengirimmu untuk menemukan apa yang tidak sesuai."

Setelah merasa bosan memeriksa, Hyun Suh menelepon Young In.

"Aku merasa senang karena tidak harus memecat dan menyakiti orang lain, lalu mengucapkan 'goodbye' pada mereka." ujar Hyun Suh.

"Memangnya kenapa dengan 'goodbye'?" tanya Young In. "Kau sibuk? Jika tidak sibuk, coba lihat keluar jendela. Hujan kesukaanmu sedang turun."

Hyun Suh menoleh. Di luar sedang hujan deras.

"Kau sangat menyukai hujan dan salju." kata Young In.

Kyle meletakkan pena dan bukunya ke meja dengan bunyi keras. Young In menoleh. Saat itu, Kyle sedang bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.

"Kepala pengawas..."

"Bicara saja." kata Kyle. "Bicara yang keras."

Hyun Suh meminta Young In agar mengucapkan terima kasih pada Kyle. "Ucapkan terima kasih dan ia akan mengerti." katanya.

"Kepala pengawas!" panggil Young In. "Direktur.. Direktur mengucapkan terima kasih."

Kyle diam sejenak, kemudian tersenyum. "Aku mengerti."

Hyun Suh meminta Sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwal kegiatannya. "Aku hanya tidak ingin melakukannya." kata Hyun Suh. "Mulai sekarang, aku hanya ingin melakukan hal yang menyenangkan."

Sekretaris curiga.

Hyun Suh menculik Young In dari kerjanya dan mengajaknya berkencan.

"30 menit." kata Hyun Suh.

"Tidak. 15 menit." bantah Young In. "Kepala pengawas sangat menyeramkan. Aku takut padanya, tapi kau tidak menakutkan sama sekali."

Young In dan Hyun Suh makan di sebuah restoran.

Hyun Suh diam, memandang makanan itu dengan ragu. "Kau harus menghindari makanan dengan vitamin K." Ia teringat dokter berkata. "Kulit acar, selada, dan sayuran hijau yang seharusnya menolongmu, nyatanya malah berbahaya untukmu. Kau akan mengalami efek samping atau rasa sakit yang kuat."

Young In memandang Hyun Suh. "Apa lagi yang salah dengan makanannya?" tanyanya.

"Kulit acar." kata Hyun Suh.

Young In mengambil kulit acar di mangkuk Hyun Suh dan memakannya.

Setelah selesai makan, Young In mengajak Hyun Suh ke sauna umum.

Hyun Suh belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ia merasa malu dan ragu berganti pakaian. Di tambah lagi, ia merasa jijik dan risih karena harus menggunakan pakaian yang pernah dipakai orang lain.

Akhirnya Hyun Suh berganti pakaian juga.

Young In bertanya pada Hyun Suh apa yang tidak disukainya dan apa yang disukainya. Menurut Young In, ia dan Hyun Suh pasangan yang ideal karena mereka saling melengkapi. Hyun Suh suka putih telur dan Young In hanya makan kuning telur. Hyun Suh suka dada ayam, tapi Young In tidak suka.

"Berbeda itu sempurna." kata Young In senang.

Kyle dan Kang Chul Goo bertemu di bar.

"Apa yang terjadi jika Direktur Yoon tahu segalanya?" tanya Kyle. "Semua dokumen sudah dikirim ke pusat. Jika kau mengirim dokumen yang salah dan mendapat bantuan dari pemegang saham, masih bisakah kau melaksanakan rencanamu?"

Kang Chul Goo terkejut.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahukan segalanya pada Direktur Yoon?" tanya Kyle tajam.

"Benarkah kau melakukan itu?!" seru Chul Goo marah seraya menarik baju Kyle dengan kasar. "Satu bulan belakangan ini, kau hanya bersandiwara di depanku?! Begitu?!"

Kyle diam. Chul Goo berusaha mengendalikan emosinya.

"Direktur Yoon adalah orang yang terbaik, bukan?" tanya Chul Goo. "Dengan pengkhianatan ini, bagaimana kau bisa menghadapi ayahmu?"

"Aku yakin ayahku akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan." kata Kyle tanpa ragu.

"Kau salah!" kata Chul Goo. "Ayahmu sangat membenci Direktur Yoon, jadi ia bunuh diri. Kau lupa?"

"Ayahku mengambil keputusan itu karena ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi hotelnya." bantah Kyle. "Karena itulah aku ingin melindungi hotel sampai akhir."

Setelah selesai dari sauna, Young In dan Hyun Suh mendinginkan diri. Di ruangan itu, salju buatan turun. Young In menepati janjinya yang dulu, untuk memperlihatkan salju pada Hyun Suh bukan pada musim dingin.

Young In berbaring. "Aku tidak sabar menunggu salju betulan di musim dingin." kata Young In. "Salju pertama di musim dingin ini, aku tidak mau sendirian. Aku juga ingin merayakan natal bersamamu. Saat tahun baru, ayo kita lihat matahari terbit bersama."

Hyun Suh sedih mendengar kata-katanya. Ia ikut berbaring di samping Young In.

Hyun Suh mengatakan bahwa ia akan mati dengan bersedih hati karena kini ia bertemu Young In, bertemu Yoon, dicintai dan mencintai. Ia akan mati dengan sedih karena semua itu hal yang baik.

Keesokkan harinya.

Soo Jin datang ke hotel dan menyapa Young In. "Dimana Hyun Suh tinggal?" tanyanya.

"Di apartemen." jawab Young In.

"Apa ia hidup sendiri?" tanya Soo Jin lagi. "Tidak seharusnya ia hidup sendiri."

Young In tertawa. "Hyun Suh bukan anak kecil lagi." katanya.

Soo Jin terdiam, kemudian memohon pamit.

Soo Jin datang ke ruangan Hyun Suh, tapi Hyun Suh sedang tidak ada disana, jadi ia menunggu.

Saat itu, Hyun Suh sedang ada di rumah sakit untuk melakukan check up.

"Dokter, bisakah kau menghentikan suara berdetik di jantungku?" tanya Hyun Suh.

"Apa suaranya sangat mengganggu?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

"Suara itu akan muncul setiap kali katup terbuka dan tertutup. Aku tidak bisa melakukan apapun."

"Suara berdetik itu seperti berkata, 'Kau tidak punya waktu lagi. Kau tidak punya waktu lagi, Yoon Hyun Suh'." ujar Hyun Suh sedih. "Berapa lama lagi waktu yang kumiliki?"

"Tidak ada orang yang tahu." jawab Dokter.

"Aku bisa menahan rasa sakit dan tidak bisa tidur, tapi... ketika aku sedang bersama gadis yang kusukai, tolong hentikan suara ini, Dokter."

"Jika aku menghentikan suara itu, kau akan mati." kata Dokter.

Hyun Suh terus memohon pada dokter agar menghentikan suara alat di jantungnya ketika ia sedang bersama orang yang ia cintai.

Soo Jin terus menunggu, tapi Hyun Suh tidak juga datang. Ia berjalan ke jendela dan tidak sengaja melihat obat Hyun Suh.

Tidak lama kemudian, Hyun Suh tiba.

"Aku datang kesini bukan sebagai teman." kata Soo Jin. "Aku ingin membantumu. Kau masih pasienku, bukan?"

Hyun Suh diam.

"Ini waktunya kau melakukan check up." kata Soo Jin. "Ayo ikut denganku."

"Tidak perlu."

Hyun Suh cemas apakah Yoon memiliki masalah/penyakit bawaan lahir darinya. Tapi Soo Jin menjawab tidak ada masalah apapun karena penyakit Hyun Suh juga bukan sejak lahir. Itu membuat Hyun Suh tenang.

"Jantungmu berdetak dengan sehat, bukan?" tanya Soo Jin cemas.

"Ya." jawab Hyun Suh, tersenyum.

Hyun Suh mengajak Yoon makan di kedai kecil ibunya.

"Apa ia ayahmu?" tanya Ibu itu pada Yoon.

"Ya." jawab Yoon.

"Kalian sangat mirip."

"Yoon, kau mau makan apa?" tanya Hyun Suh.

Yoon melihat ke menu. Semua menu makanan itu pedas.

Setelah makanan diberikan, Hyun Suh menatap ibunya diam-diam. Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian tentara datang. Ibu itu sangat senang.

"Anakku sudah pulang!" serunya bahagia.

Hyun Suh menatap mereka dalam diam.

Saat hari sudah malam, Hyun Suh mengantar Yoon pulang.

"Lain kali, ajak ibu juga." kata Yoon pada Hyun Suh.

"Aku akan memikirkannya." jawab Hyun Suh berat hati.

Dalam perjalanan pulang, Hyun Suh terus teringat pada ibu dan anak laki-lakinya yang pulang dari wajib militer.

Ketika sama-sama sedang mencoba kabur dari rumah, Jae Dong dan Young In tidak sengaja berpapasan di lorong rumah.

"Kemana kau akan pergi?" tanya Young In.

"Aku ingin pergi ke kuil Budha dan mencoba belajar dengan pikiran yang fokus." jawab Jae Dong.

"Tinggallah disini. Jangan pergi." kata Young In. "Aku yang akan pergi kali ini."

"Kenapa?"

"Aku akan tinggal bersama seorang pria." jawab Young In.

Setelah Young In pergi, Mi Hee keluar. Rupanya ia tahu kalau putrinya akan pergi.

"Biarkan saja dia." kata Mi Hee ketika Jae Dong mencoba mengejarnya. "Kau bisa mempercayai kakakmu. Ia berbeda denganmu. Ia bisa jaga diri."

Hyun Suh bingung kenapa Young In membawa barang-barangnya ke apartemen.

"Aku akan tinggal disini." kata Young In. "Kau yang mengajakku tinggal bersama."

Young In hendak memasakkan sarapan untuk Hyun Suh. "Kau suka kacang?" tanyanya.

Tanpa berkata apa-apa, Hyun Suh menarik tangan Young In hingga kacang yang dipegangnya tumpah berantakan di lantai.

Hyun Suh mengusir Young In keluar.

"Karena kacang?" tanya Young In.

"Tidak, hidup bersama."

"Kenapa?"

"Kita tidak bisa hidup bersama." kata Hyun Suh, tanpa mengemukakan alasan. "Aku bisa melakukan apapun, tapi tidak hidup bersama."

"Kau tidak bisa?" tanya Young In. "Aku juga tidak bisa." Ia mencoba masuk ke dalam rumah, tapi Hyun Suh melarang.

Hyun Suh menutup pintu dan masuk ke dalam apartemennya lagi, memegang dadanya yang terasa sakit.

Dengan kesal, Young In mengangkat tasnya lagi turun ke lantai 1. Dengan meminjam telepon di ruang petugas, Young In menelepon kamar Hyun Suh dan membujuknya lagi.

Soo Jin datang ke dokter Hyun Suh untuk mencari tahu mengenai penyakit jantung Hyun Suh.

Seseorang menelepon Kyle dengan menggunakan bahasa Inggris. Orang itu mengatakan bahwa David melepaskan Nikko dan merekomendasikan Kyle sebagai Presidennya.

Kyle terkejut.

Young In masih duduk di depan apartemen dalam diam, menunggu Hyun Suh. Ia kaget melihat Kyle datang ke tempat itu.

Tidak lama kemudian, Soo Jin datang berlari-lari dengan cemas dan panik.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 12)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 12

Hyun Suh menarik kopernya dan berjalan ragu. Mendadak ia berhenti berjalan.

Seorang pria tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan kopernya. "Maafkan aku." kata pria itu seraya membantu Hyun Suh mengambil koper. "Aku tidak melihatmu. Maaf. Maafkan aku."

Hyun Suh hanya berdiri diam, teringat percakapan terakhirnya dengan dokter. Ia ragu. Cukup siapkah ia meninggalkan segalanya untuk mati?

Young In duduk di bus. "Satu minggu seperti satu tahun." gumamnya sedih. Ia menggunakan headset dan duduk diam, tidak melihat ketika Hyun Suh berjalan membawa kopernya keluar dari bandara.

Hyun Suh naik sebuah taksi. Ketika sedang lampu merah, bus Young In dan taksinya bersebelahan. Hyun Suh mendongak dan melihat Young In, namun Young In tidak melihatnya.

Young In melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bekerja di hotel dan makan mie sendirian di supermarket. Kali ini, ia menuruti Hyun Suh dengan memberi air panas sampai batas dan menunggu 4 menit sampai mie benar-benar matang.

Setelah selesai makan, Young In keluar. Saat itu hujan, tapi ia tidak membawa payung. Ia terpaksa berlari di tengah hujan dan berhenti di pinggir jalan untuk menyeberang.

Tiba-tiba, dia sudah tidak kehujanan lagi. Young In bingung.

"Kenapa kau berdiri ditengah hujan?" terdengar suara Hyun Suh.

Young In menoleh.

"Kau bilang punya banyak payung di rumah." kata Hyun Suh. "Aku tidak mengizinkanmu berteduh di payung laki-laki lain, tapi apa aku pernah melarangmu membeli payung?"

Young In melamun. Ternyata itu hanya imajinasinya. Yang memayunginya bukan Hyun Suh, melainkan Kyle.

Young In terdiam sedih.

Ketika sedang bekerja, Young In mendapat telepon dari seorang tamu. Ia kemudian menuju ke elevator untuk pergi ke kamar tersebut untuk membantu.

Pintu elevator terbuka. Hyun Suh ada di sana.

Young In melongo.

"Naik." kata Hyun Suh.

Young In naik ke elevator itu. Sampai keluar lagi dari elevator, dia hanya diam, masih melongo.

Lagi-lagi itu hanya imajinasi. Young In benar-benar merindukan Hyun Suh dan merasa kesepian.

Young In berdiri diam di depan elevator. Resepsionis dan Kyle melihatnya.

"Kapan Direktur kembali?" tanya resepsionis pada Kyle. "Di Las Vegas, apa Nikko hotel sudah jatuh? Dia sudah pergi selama satu bulan, tapi tidak ada kabar apapun."

Kyle hanya diam.

Ketika Young In meregangkan otot di atap gedung, lagi-lagi imajinasi Hyun Suh muncul. Young In tidak memedulikannya. "Jika kau benar-benar kembali, kau akan mati di tanganku!"

Young In berkunjung ke apartemen Hyun Suh untuk bersih-bersih. Kamar itu benar-benar kotor dan berantakan. Ada satu kamar yang terkunci, tapi Young In tidak terlalu memedulikan. Mungkin Hyun Suh menguncinya sebelum pergi.

Young In berbaring dilantai sebentar, kemudian bangkit dan menangis. "Cepat kembali." tangisnya. "Cepat kembali." Ia merasa kesal dan menendang handuk-handuk yang ditumpuknya.

Setelah selesai, Young In pulang. Tapi sebelum pulang, ia sengaja tidak mematikan lampu. "Aku membiarkan lampu menyala, jadi cepat pulang." katanya seorang diri, kemudian pergi.

Tidak lama setelah Young In pulang, seorang pria keluar dari kamar yang terkunci. Hyun Suh, dengan keadaan berantakan, lengan bekas tusukan jarum dan dada dibalut perban setelah operasi. Ia membuka tirai jendela dan melihat Young In pergi dari atas.

Melihat Young In, membuatnya sangat ingin menemui gadis itu. Hyun Suh bertekad mengejar Young In.

Dengan langkah gontai, Hyun Suh menuju ke elevator dan menekan tombol. Namun elevator masih berada di lantai 1. Ia kemudian berjalan menuju tangga darurat dan berusaha menuruninya dengan cepat.

Akhirnya Hyun Suh tiba dibawah dengan terengah-engah. Young In masih berada di sekitar sana. Hyun Suh hanya berdiri diam, sudah cukup dengan melihat Young In sedikit lebih dekat.

Hyun Suh kembali ke kamarnya menaiki elevator.

"Mulanya, kau akan mulai mendengar suara tik tok." Hyun Suh teringat dokter berkata. "Seperti suara jam berdetak. Dengan kata lain, jantungmu akan seperti bom aktif. Walaupun kau sudah menggunakan alat untuk menggantikan kerja jantungmu, tapi kau harus siap secara mental. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang adalah dengan transplantasi jantung. Semuanya tergantung pada kehendak Tuhan."

Young In berjalan pulang dan melihat Kyle sedang menunggunya.

"Ayo kita menunggu bersama." kata Kyle. "Kau menunggu Direktur dan aku akan menunggumu. Ayo kita berusaha keras."

"Kepala pengawas..."

"Dia pasti akan kembali." kata Kyle, meyakinkan. "Dibandingkan kau, aku lebih lama mengenal Direktur."

Bukan hanya Young In, Yoon juga sangat merindukan Hyun Suh. Berulang kali ia mencoba menghubungi Hyun Suh dengan ponsel ibunya.

"Sudah kubilang itu tidak berguna." kata Soo Jin.

"Kapan paman kembali dari Amerika?" rengek Yoon.

Malam itu, Hyun Suh berbaring diam di tengah kegelapan kamarnya. Ia berpikir.

Keesokkan harinya, Hyun Suh membersihkan diri dan memutuskan untuk kembali ke hotel.

Young In sangat terkejut melihat Hyun Suh.

"Apa kau sibuk?" tanya Hyun Suh pada Young In.

"Ti... tidak..." jawab Young In.

"Ayo kita makan malam, setelah kau selesai bekerja."

"Makan malam?" tanya Young In, senang dan kesal sekaligus. "Aku tidak bisa menunggu sampai makan malam. Kita makan siang bersama. Tidak. Kita makan sekarang."

"Makan malam." kata Hyun Suh tegas.

Para pejabat tinggi hotel terkejut dan tidak kelihatan senang melihat Hyun Suh kembali ke hotel.

Kyle mengirim sms pada Hyun Suh. "Aku ingin bicara jika sekretarismu tidak ada." katanya.

Hyun Suh kemudian menyuruh sekretarisnya pergi.

Kyle masuk ke ruangan Hyun Suh. "Bisakah kau mengenali informasi yang kau berikan pada club?" tanyanya seraya mengeluarkan dua buah dokumen.

Kyle menceritakan pada Hyun Suh bahwa semenjak 1 bulan Hyun Suh tidak masuk, Manajer Umum semakin ambisius.

"Aku tahu kau tidak kembali ke Nikko Hotel." kata Kyle. "Apa itu artinya kau menolak tawaran menjadi Presiden?"

"Aku ingin pergi ke Nikko." jawab Hyun Suh.

"Tidak ada dokumen mengenai kepergianmu dari negara ini." kata Kyle.

Setelah melihat Sekretaris Hyun Suh pergi, Young In diam-diam berjalan menuju ruangan Hyun Suh.

Baru saja Young in tiba, Kyle membuka pintu keluar.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Kyle.

"Direktur memanggilku." kata Young In, berbohong.

Hyun Suh keluar.

"Apa kau mencariku, Direktur?" tanya Young In.

"Aku tidak mencarimu." jawab Hyun Suh dingin. "Kalian berdua, kembali bekerja."

Hyun Suh berjalan pergi, namun kembali lagi dan mengajak Young In bicara.

"Berikan kunci apartemenku." kata Hyun Suh dingin.

"Aku tidak membawanya." kata Young In.

"Kembalikan padaku secepat mungkin." kata Hyun Suh. "Aku ingin menjualnya. Aku tidak hanya memberimu waktu satu minggu, melainkan satu bulan untuk berpikir. Seharusnya kau sudah memutuskan. Apa kau akan pergi ke Nikko?"

"Ya." jawab Young In.

"Tapi aku tidak butuh lagi." kata Hyun Suh.

"Kenapa?" tanya Young In. "Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?"

"Aku bosan." kata Hyun Suh. "Kau, hotel ini, Seoul. Aku muak pada Seoul. Aku muak berada disini. Aku muak..."

Hyun Suh meninggalkan Young In yang shock berat.

Young In menatap kunci apartemen dengan marah. "Siapa yang memberinya dan siapa yang memintanya kembali?" gumamnya kesal. "Ini milikku!"

Setelah selesai latihan bela diri, Yoon menelepon Hyun Suh dengan telepon umum.

"Halo?"

Yoon senang mendengar suara Hyun Suh. "Paman? Kau sibuk?" tanyanya. "Kau sibuk berayun di gedung? Apa kau ada di Amerika?"

"Tidak."

Hyun Suh mengajak Yoon makan di restoran ayam cepat saji.

"Paman, jangan membuatku cemas." kata Yoon di perjalanan pulang. "Ayam-ayamku pergi. Paman juga pergi. Apa ayam-ayamku baik-baik saja? Kenapa kalau kita mati, badan kita dingin? Kenapa kalau kita mati, badan kita keras? Paman, jangan mati. Aku juga tidak akan mati."

Hyun Suh mengangguk. "Kita jalani hidup yang panjang."

Hyun Suh kembali ke rumah. Young In sudah menunggu disana.

"Keluar." kata Hyun Suh dingin.

"Aku tidak mau menyerah hanya karena kau muak padaku." kata Young In.

"Terserah."

"Dari awal kau tahu bahwa Young In membosankan." kata Young In. "Walaupun begitu, aku tidak pernah menutup hatiku yang sulit terbuka. Walaupun begitu, aku selalu menepati janji yang kubuat."

"Kau bangga menjadi orang membosankan?"

"Sebelum aku menepati janji, aku tidak akan pergi." kata Young In. Janjinya adalah memeluk Hyun Suh.

Young In memeluk Hyun Suh dan menangis. "Aku menunggumu sangat lama di rumah ini." katanya. "Berhentilah menjadi Yoon Hyun Suh Las Vegas."

Hyun Suh melepas pelukan Young In. "Tinggalkan kunci dan pergi."

Young In marah. Ia meninggalkan kunci di rak dan pura-pura pergi.

Hyun Suh keluar.

"Kenapa kau?" seru Young In. "Kau salah makan? Kenapa kau kembali seperti orang lain?!"

Tanpa mengatakan apa-apa, Hyun Suh mengambil kunci Young In dan beranjak masuk lagi ke dalam kamar.

"Aku makin mencintaimu. Apakah putar balik begitu pendek bagimu?!" teriak Young In. "Aku selalu memberi obat pada lukaku! Jadi aku memperingatkanmu! Aku tidak akan pernah menyerah! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"

Young In keluar sambil membanting pintu.

Ketika Mi Hee berjalan pulang dari belanja, ia melihat Young Kyu sedang mabuk-mabukan sendirian di kedai pinggir jalan. Mulanya Mi Hee mengacuhkan Young Kyu, namun akhirnya ia berakhir dengan duduk menemani Young Kyu.

Mi Hee ikut masuk sampai larut malam.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Young Kyu, akhirnya tersadar.

Mi Hee sangat mabuk dan tergeletak tidak sadar.

"Paman, darimana wanita ini datang?" tanya Young Kyu pada pemilik kedai.

"Akhirnya kau bangun." kata pemilik kedai. "Kau harus berterima kasih pada tetanggamu. Ketika kau tidur, ia membayar uang minum dan memukuli nyamuk yang mendekatimu. Kelihatannya dia mabuk. Kini giliranmu membantunya."

Young In berjalan pulang. Ia terkejut melihat Young Kyu sedang menggendong Mi Hee. Ia mengejar mereka dan membantu Young Kyu membawakan barang-barang Mi Hee.

"Kenapa kalian berdua seperti ini?" tanyanya. "Tidakkah kau tahu bahwa ibu tidak bisa minum?"

"Aku tidak membuatnya minum." kata Young Kyu. "Ketika aku bangun setelah mabuk, dia tidur disampingku."

"Kalian tidur? Kalian berdua tidur bersama?"

"Bukan!" seru Young Kyu. "Di kedai disana!"

"Kau ingin aku memanggil Jae Dong?"

"Jangan." larang Young Kyu. "Dia sedang belajar."

Hyun Suh menemui Soo Jin di rumah sakit. Soo Jin berlari senang, tapi ketika mendekati Hyun Suh, ia mencoba tenang dan tidak memperlihatkannya.

"Kupikir kau tidak kembali ke Seoul karena aku. Aku sangat sedih." kata Soo Jin.

"Soo Jin, akhir-akhir ini aku mendengar suara di jantungku." kata Hyun Suh.

Soo Jin menjadi cemas. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

"Mengenai Yoon... Apa kau ingin mengatakan padanya bahwa aku ayahnya?" tanya Hyun Suh. "Tolong jangan katakan padanya sampai akhir. Sampai aku mati, jangan katakan pada Yoon bahwa aku ayahnya."

Hyun Suh pergi ke sebuah toko makanan kecil. Seorang wanita yang berjualan disana.

Hyun Suh menatap wanita itu dengan sedih. Ia adalah ibu Hyun Suh.

Young In menatap ponselnya dan menimbang-nimbang. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Hyun Suh. Tidak peduli pendapat Hyun Suh, Young In memaksa ingin bertemu.

"Apa yang kau lakukan selama sebulan?" tanya Young In, ketika ia dan Hyun Suh sudah berada di supermarket. "Apa jarimu patah? Kenapa kau terlambat? Kenapa kau tidak datang? Kenapa kau tidak menelepon? Kau tahu aku sangat khawatir?!"

"Aku melakukan sesuatu. Kau akan lebih khawatir jika tahu."

"Apa?"

Hyun Suh diam.

"Kenapa kau diam saja?" tanya Young In. "Aku hampir mati karena mencemaskanmu. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di Amerika, tapi karena kau, kupikir aku akan mati. Kau dengar, tidak?!"

Hyun Suh terdiam sejenak. "Kebalikannya denganku." katanya sedih. "Karena kau, aku ingin hidup."

"Apa sebenarnya yang kau lakukan selama sebulan?!"

"Aku hanya memikirkanmu." jawab Hyun Suh datar.

"Aku juga hanya memikirkanmu!" kata Young In.

"Kenapa kau marah?" tanya Hyun Suh. "Akhirnya aku berkata jujur, bukan?"

"Kau memikirkan aku, tapi kenapa tidak pernah meneleponku?" tanya Young In. Ia terus-menerus memojokkan Hyun Suh agar bercerita.

Hyun Suh tertawa mendengar celotehan Young In. "Hentikan." katanya. "Jika tertawa, aku akan merasa sakit."

"Apa masalahnya?" tanya Young In seraya memukul dada Hyun Suh. "Apakah masalah besar jika dadamu sakit karena tertawa? Apa aku lucu?"

Hyun Suh mengangguk. "Ya, kau lucu." jawabnya. "Sejujurnya, aku ingin bersikap dingin padamu, tapi sepertinya gagal. Aku berada dalam masalah. Mulai sekarang, apa yang kau inginkan dariku?"

"Kau aneh." kata Young In, beranjak keluar terlebih dulu.

Hyun Suh memandang Young In dengan mata berkaca-kaca.

Lagi-lagi, Hyun Suh mengajak Young In ke tukang ramal.

Young In memberikan tanggal ulang tahunnya. "Apakah kami akan menikah?" tanyanya. "Kami akan punya berapa anak? Apa kau bisa membaca garis tangan juga?"

Peramal itu menghitung hari ulang tahun Hyun Suh dan Young In.

"Kakek, kapan aku akan mati?" tanya Hyun Suh.

"Kenapa menanyakan hal itu?" tanya Young In.

Kakek peramal diam.

"Aku ingin mati dengan bahagia bersama gadis ini." kata Hyun Suh. "Apa itu mungkin?"

"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Young In lagi. "Kenapa kau tidak bertanya, bisakah aku hidup bahagia dengan gadis ini?"

"Sama saja." kata Hyun Suh. Ia memberikan kunci apartemennya lagi pada Young In.

"Aku tidak akan pernah mengembalikan kunci ini padamu!" kata Young In.

Hyun Suh tersenyum. "Aku ingin hidup bahagia bersamamu sampai aku mati." ujarnya.

"Benarkah?"

"Ya." jawab Hyun Suh, tersenyum.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 11)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 11

"Aku punya seorang putra." kata Hyun Suh.

Young In diam.

Mendadak pintu elevator terbuka dan banyak tamu masuk ke dalam elevator itu. Hyun Suh dan Young In terdorong ke sudut.

"Kuharap saat ini waktu berhenti." ujar Young In. "Karena aku khawatir, jika kita keluar dari sini, aku akan mendengar berita yang menakutkan."

Hyun Suh menceritakan mengenai donor spermanya, yang kemudian menghasilkan Yoon. "Kau tahu anak itu juga."

Young In terkejut, menoleh ke arah Hyun Suh. "Anak yang kemarin?"

"Ya."

"Tapi kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?" tanya Young In.

"Karena aku juga baru tahu." jawab Hyun Suh. "Jika kau masih penasaran, tanyalah padaku."

"Apa yang akan kau lakukan... sekarang?" tanya Young In.

"Aku punya rencana. Apakah kau ingin aku mengatakannya padamu?"

"Tidak." tolak Young In. "Semakin banyak yang bercerita, aku akan semakin sakit. Sembunyikan saja jika perlu."

"Kau marah?"

"Belum." jawab Young In datar.

"Kau akan marah nanti?"

"Pada Yoon?"

"Padaku." jawab Hyun Suh. "Pikirkanlah. Dan jika kau berpikir ingin marah, marah saja... padaku. Bukan pada orang lain."

Young In mengangguk dan beranjak pergi. Ia berjalan keluar dari hotel dengan ekspresi sedih, bingung dan kesal sekaligus.

Kyle datang ke ruangan Hyun Suh dengan membawa sebuah amplop cokelat.

"Kudengar kau diangkat menjadi Presiden Nikko." katanya.

"Darimana kau tahu?"

"Aku memiliki seseorang yang bekerja di Nikko." jawab Kyle. "Apa kau akan pergi?"

"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?" Hyun Suh bertanya lagi dengan dingin.

Kyle menyerahkan sebuah amplop dan mini kaset. "Ini adalah rekaman rahasiamu, tapi tamunya sudah check out. Tujuan mereka bukan kau, tapi hotel. Untuk mengambil alih hotel, mereka mengumpulkan informasi mengenai pemegang saham, pendapatan hotel dan mereka sudah berpikir dan mencari cara bagaimana caranya mengambil alih hotel. Kau tahu hal ini lebih dari orang lain. Seperti inilah pekerjaan yang kau lakukan sebelum kau datang kemari."

Hyun Suh membuka amplop itu. Isinya adalah segala informasi mengenai si penyadap. "Terima kasih." katanya pada Kyle.

"Aku tahu kau sudah tahu mengenai hal ini." kata Kyle. "Pergilah ke Nikko. Aku tidak akan pernah menyerahkan hotel ini bahkan jika kau pergi."

"Kenapa kau tidak berdiri di pihak mereka dan mengatakan semua ini padaku? Bukankah kau tidak menyukaiku?" tanya Hyun Suh. "Siapa sebenarnya kau?"

"Hotel adalah sesuatu yang hidup." kata Kyle, mengatakan hal yang sama dengan Tuan Nitoshi. "Mereka akan menjadi seperti pemiliknya."

Hyun Suh menoleh ke arah Kyle dengan kaget.

"Itulah yang selalu dikatakan ayahku." ujar Kyle. "Aku tidak bisa melihat hotel menjadi buruk. Ayahku juga pasti tidak akan mengharapkan itu. Selain itu, aku tidak ingin Choi Young In bekerja di hotel seperti itu."

"Jangan menyakitinya dan tinggalkan dia." kata Kyle.

"Choi Young In yang akan memutuskannya." kata Hyun Suh. "Ini bukan pilihan yang bisa kita buat."

Young In membaca jurnal yang diberikan Kyle. Ia ingin menuliskan sesuatu di sana, tapi karena semua isi buku tersebut dalam bahasa Inggris, maka Young In meminta tolong Kyle untuk membantunnya.

Kyle mengatakan bahwa Young In harus menulis sendiri, dengan bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. "Adakah aturan disana yang tertulis kau harus menulis dengan bahasa Inggris?" tanya Kyle.

Young In malah marah. "Kepala pengawas! Hari ini, tak peduli kekuasaan apa yang ada padamu, aku tidak takut! Hari ini pikiranku sedang tidak baik. Tolong mengerti untuk hari ini saja! Setelah ini, kau akan mengatakan sesuatu mengenai aku yang tidak mengerti Bahasa Inggris, bukan?"

"Choi Young In, kenapa kau tidak pernah mempercayaiku?" tanya Kyle. "Aku mengatakan kau boleh menulis kegagalanmu dan menulis dengan bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. Dan.. kenapa kau mengacuhkan aku? Aku menyatakan bahwa aku menyukaimu dan bertanya apakah aku boleh mencintaimu. Apakah kau berpikir mengenai itu?"

"Kepala pengawas... itu..."

"Aku berkata bahwa aku bisa menunggu, tapi bukan mengacuhkan aku." kata Kyle marah.

"Aku sudah menyukai orang lain..."

"Aku tahu hal itu, karena itulah aku berkata aku akan menunggu." kata Kyle.

Young In mengatakan pada Kyle agar tidak menunggu.

Hyun Suh sengaja datang ke rumah sakit untuk bicara dengan Soo Jin.

"Aku menyukai Yoon." katanya. "Bahkan setelah kau menceritakan cerita konyol itu, aku tetap menyukai Yoon."

"Terima kasih." kata Soo Jin, tersenyum senang.

"Setelah melihat Yoon tumbuh sepertiku, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja." tambah Hyun Suh. "Aku ingin bersikap seperti seorang ayah."

Soo Jin hendak bicara, tapi Hyun Suh menyuruhnya mendengarkannya bicara sampai selesai.

"Aku akan membawa Yoon ke Amerika." kata Hyun Suh.

"Apa maksudmu?"

"Tujuh tahun yang lalu, kau membuat keputusan tanpa mendengar pendapatku dan pendapat Yoon. Sekarang, beri kami kesempatan juga. Yoon juga harus tinggal bersama ayahnya."

"Jadi... hanya Yoon... apa... maksudnya?" Soo Jin sangat terpukul hingga bicara terbata-bata.

"Kau memilihku saat donasi karena kau percaya padaku. Berilah kepercayaan sekali lagi padaku dan biarkan aku bertanggung jawab atas Yoon."

''Jika kita bertiga, apakah itu tidak akan berhasil? Apa itu berat?" tanya Soo Jin, berusaha mengendalikan emosinya.

"Ya." jawab Hyun Suh jujur.

Soo Jin menolak dan mengatakan pada Hyun Suh agar melupakan semua yang ia katakan mengenai Yoon. Hyun Suh memberi waktu Soo Jin untuk berpikir.

Saat itu, jantung Hyun Suh terasa sangat sakit, tapi ia menahannya.

Hyun Suh kembali ke apartemen. Disana, Young In sudah masak untuknya.

"Ada yang salah denganku." kata Young In ketika mereka sedang makan. "Aku tidak marah pada temanmu, Soo Jin tapi... aku takut dan merasa tidak tenang."

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu apapun." jawab Young In. "Walaupun aku mencoba marah padamu, tapi kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku tidak bisa marah pada temanmu. Jika kau adalah milikku, aku baru punya hak untuk marah. Tapi kau belum menjadi milikku. Yoon sangat menyukaimu. Kurasa dia lucu dan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi... aku takut pada mereka berdua."

"Kenapa?"

"Karena mungkin saja aku akan kehilanganmu karena mereka. Mereka dua dan aku satu."

"Kau bilang kau menyukaiku lebih dari aku menyukaimu." kata Hyun Suh. "Itulah yang menjadi kekuatanmu." Hyun Suh mengatakan pada Young In, jika Young In menyerah begitu saja pada Soo Jin dan Yoon, maka ia akan membunuh Young In.

Kyle menerima tawaran Kang Chul Goo untuk bekerja sama dengannya.

Hyun Suh mengatakan pada Young In bahwa ia akan kembali ke Las Vegas dalam 3 hari. "Jika kau tidak cepat membuat keputusan, aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali." katanya.

Kyle sibuk mengerjakan sesuatu di notebooknya, mengenai rahasia besar Empire Hotel. Di lain sisi, Kang Chul Goo juga melakukan hal yang serupa.

Pengawas cctv mengatakan pada Hyun Suh bahwa Kang Chul Goo berusaha mencuri informasi rahasia yang dibawa Hyun Suh dari pusat. Ia juga mengatakan bahwa menurutnya, Kyle bisa dipercaya.

"Apa kau akan pergi ke Las Vegas?" tanya Kyle. "Kau sudah memutuskan? Tolong jangan pergi."

Namun Young In tidak mendengarkan kata-kata Kyle, pandangannya terpaku pada Soo Jin, yang saat itu sedang berjalan menuju mereka.

Soo Jin meminta Young In agar bicara dengannya. Saat itu, Hyun Suh melihat mereka dari kamera cctv.

Soo Jin berbincang dengan Young In di kafe. Ia meminta Young In mengatakan segala yang ia katakan, tapi Young In tidak bisa mengatakan apa-apa.

Mendadak ponsel Young In berbunyi. Hyun Suh mengirimkan sms, "Yoon Hyun Suh, aku memberikan dia padamu. Yoon Hyun Suh adalah milikmu. Dia milikmu, jadi jangan kehilangan kepercayaan diri dan jangan gugup. Katakan semua yang ingin kau katakan."

Hyun Suh datang ke TK Yoon dan mengintipnya belajar.

Yoon melihat Hyun Suh dan berjalan keluar.

Mendadak jantung Hyun Suh terasa sakit sampai ia terduduk di lantai.

Yoon marah pada Hyun Suh karena meninggalkan rumah dan mengajaknya kembali ke rumah.

Soo Jin berkata pada Young In bahwa ia tidak akan melepaskan Hyun Suh. Ia ingin membina keluarga dengan Yoon dan Hyun Suh.

"Kalau begitu, kita berdua harus sama-sama berusaha." kata Young In. "Aku juga berharap Direktur dan Yoon bahagia."

Soo Jin mengerti maksud Young In. "Apa kau akan pergi ke Amerika?" tanyanya.

"Aku tidak ingin Direktur menderita. Aku ingin Direktur merasa bahagia karena aku."

Di tempat lain, Hyun Suh berjalan pulang bersama Yoon. Hyun Suh membujuk Yoon agar ikut bersamanya ke Amerika tanpa ibunya.

"Aku tidak mau." kata Yoon.

"Aku tidak bisa berpisah denganmu." kata Hyun Suh. "Aku menyukaimu. Aku ingin melihatmu setiap hari."

Yoon memeluk Hyun Suh. "Tapi tetap saja tidak." jawabnya. "Paman, kau ingin aku menciummu?"

"Tidak." jawab Hyun Suh.

Yoon mencium bibir Hyun Suh, kemudian tertawa senang.

"Yoon, kau tidak boleh melupakan hari ini." kata Hyun Suh. "Walaupun kau sudah dewasa, kau tidak boleh lupa."

"Karena kita berdua laki-laki dan berciuman?" tanya Yoon polos.

"Bukan, tapi saat aku mengatakan bahwa aku menyukaimu."

Yoon tertawa. "Ya."

Hyun Suh menelepon Soo Jin dan mengatakan bahwa ia akan kembali ke Las Vegas selama 1 minggu, kemudian kembali dan akan benar-benar pergi. Ia meminta Soo Jin memikirkan baik-baik dalam waktu 1 minggu itu.

Young In berdandan di elevator karena hari itu adalah hari pertunangan tamu hotel. Hyun Suh memintanya datang ke ruangannya segera setelah acara selesai. Ia juga meminta Young In menemaninya ke rumah sakit.

Hyun Suh turun dari elevator. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Kyle dan menyatakan penyesalan juga rasa sedihnya atas kematian ayah Kyle.

Soo Jin meminta izin pada atasannya untuk pergi ke Amerika.

Setelah selesai acara, Young In pergi ke ruang loker untuk berganti pakaian. Young In kesal karena lokernya tidak bisa dibuka. Ia terpaksa tetap mengenakan baju itu.

Tanpa sengaja, Young Kyu melihat Young In berpakaian cantik.

"Ia cantik." gumamnya. "Tapi mau kemana dia berdandan seperti itu." Young Kyu membuntuti Young In dari belakang. Ia tersenyum ketika melihat Young In masuk ke ruangan Hyun Suh.

Young In penasaran kenapa Hyun Suh mengajaknya ke rumah sakit. Ia bertanya pada Hyun Suh, apa yang sakit. Tapi Hyun Suh tidak mau menjawab.

Karena Young In terus berisik, Hyun Suh memberi petunjuk. Young In menjadi teringat ketika ia satu pesawat dengan Hyun Suh. "U-Turn! U-Turn!" Saat itu dada Hyun Suh sakit. Young In menjadi cemas.

Hyun Suh tidak datang lagi ke rumah sakit tempat Soo Jin bekerja. Ia melakukan check up di rumah sakit karena ia akan pergi ke Las Vegas dengan pesawat. Ia takut kejadian seperti yang lalu terjadi lagi. Dokter menyuruh Hyun Suh datang lagi besok untuk pemeriksaan jantung.

Young In sangat cemas dan terus memojokkan Hyun Suh untuk bercerita.

"Aku datang untuk mengambil obat." kata Hyun Suh. "Ingat saat jantungku bermasalah di pesawat? Aku minum obat itu agar masalah itu tidak terjadi lagi."

"Aku menyesal karena terlalu cemas tanpa alasan." gerutu Young In.

"Menyesal?"

"Ya! Menyesal!"

"Cepat putuskan apakah kau mau ikut denganku ke Las Vegas atau tidak." paksa Hyun Suh pada Young In ketika mereka makan di kedai pinggir jalan. "Putuskan dalam waktu 1 minggu."

"Apakah Yoon ikut juga?"

"Kau tidak ingin dia ikut?" Hyun Suh bertanya balik. "Karena itukah kau belum bisa memutuskan sampai sekarang?"

"Bukan." jawab Young In ragu. "Sejujurnya... aku cemas mengenai ibu, mengenai aku yang tidak bisa bicara bahasa Inggris, tidak bisa memasak, tidak yakin mengenai Yoon, tidak punya teman."

"Lalu?"

"Aku hanya bilang." jawab Young In.

Hyun Suh malah meledak marah. Young In jadi ikut marah dan beranjak pergi meninggalkan Hyun Suh.

Keesokkan harinya, Hyun Suh pergi ke rumah sakit seorang diri untuk memeriksakan jantungnya. Dokter mengatakan, untuk saat ini kondisi jantung Hyun Suh tidak cukup baik, jika terus dibiarkan maka bisa berbahaya. "Aku menyarankan agar kau segera melakukan operasi." katanya.

"Melakukan operasi?"

Dokter menunjukkan sebuah benda.

"Dengan ini, apakah jantungku akan berdetak normal lagi?" tanya Hyun Suh.

"Karena kami harus membuka jantung, mungkin akan berbahaya." kata Dokter. "Tapi untuk situasimu, kami baru bisa tahu setelah membukanya terlebih dahulu."

Hyun Suh terdiam.

"Apa kau datang sendirian?" tanya Dokter. "Lain kali jangan datang sendirian. Bawalah seorang teman."

"Bisakah aku naik ke pesawat? 12 jam.. jantungku bisa bertahan sampai saat itu, bukan?"

"Itu bunuh diri." jawab Dokter. "Kau tidak boleh naik pesawat."

"Aku akan tetap pergi walaupun aku mati." kata Hyun Suh. "Aku harus pergi."

Young In cemas karena tidak melihat Hyun Suh seharian. Ia berpikir Hyun Suh masih marah. Ia menelepon, tapi Hyun Suh sengaja tidak mengangkatnya.

Keesokkan harinya, Young In mengantar Hyun Suh ke bandara.

"Selamat tinggal." kata Young In.

"Hanya seminggu, untuk apa mengucapkan selamat tinggal?" tanya Hyun Suh.

"Tetap saja harus."

Hyun Suh diam sejenak. "Peluk aku." katanya.

Young In kaget. "Disini?"

Hyun Suh mengangguk.

"Cepat pergi. Setelah kau kembali, aku akan memelukmu." kata Young In, merasa malu.

Hyun Suh tertawa, kemudian beranjak pergi.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 10)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 10

"Yoon adalah putramu." kata Soo Jin. "Dengan donormu, aku melahirkan bayimu."

"Do... donor?" tanya Hyun Suh, bingung, mencoba mencerna semuanya."

"Saat kuliah, untuk penghasilan tambahan, kau mendonasikan spermamu di Rumah Sakit YiDae." kata Soo Jin. "Bukan kebetulan, bukan sembarang orang, tapi kau... aku memilihmu."

"Tanpa sepengetahuanku?"

"Ya, tanpa sepengetahuan semua orang." jawab Soo Jin. "Aku memberinya nama Yoon, sesuai dengan nama keluargamu. Sangat sulit untuk memahamiku, bukan?"

Hyun Suh bangkit dari duduknya dengan emosi. "Apakah aku harus memahamimu?" tanyanya marah. "Kau berharap aku memahamimu? Kau ingin aku memahamimu? Aku tidak bisa memahamimu. Aku tidak ingin memahamimu."

Hyun Suh pergi dan kembali ke kamar. Soo Jin mengejarnya.

"Bisakah... kau menerima Yoon sebagai anugerah dalam hidupmu?" tanya Soo Jin hati-hati. "Kau dan Yoon adalah ayah dan anak, tidak peduli siapa yang melihat kalian. Kau menyukai Yoon dan Yoon menyukai ayahnya juga."

Hyun Suh menoleh dengan marah. "Apa kau Tuhan?" tanyanya. "Karena keputusanmu, kenapa aku harus menjadi ayah Yoon? Kenapa Yoon harus menjadi putraku?"

"Aku tahu nomor teleponmu di Amerika. Tapi aku tidak menghubungimu karena takut mengganggumu. Aku berencana menyimpan semua ini sampai aku mati." kata Soo Jin. "Tapi... tapi kau muncul dihadapanku, kau muncul dihadapan kami berdua. Ini semua seperti takdir."

"Takdir?" tanya Hyun Suh sinis. "Mungkin takdir bagimu. Bukan, ini bukan takdir, tapi keegoisanmu. Kau ingin menjadi ibu, karena itulah bersikap egois!"

Soo Jin diam.

"Kau.. apakah kau mencintaiku?" tanya Hyun Suh. "Apakah kita saling mencintai? Tidak. Kita tidak saling mencintai. Kita teman. Kita bersandar satu sama lain, kita menguatkan satu sama lain, kita saling percaya, hanya teman. Tapi, teman 7 tahun itu menusukku dari belakang! Ini sama saja menginginkan aku menyerahkan nyawaku! Ini sama saja menginginkan aku mati!!" teriak Hyun Suh.

"Tidak mudah mengatakan ini padamu." kata Soo Jin, mencoba menjelaskan. "Ketika melihatmu bersama Yoon, melihat Yoon begitu menyukaimu... perasaanku menjadi tidak terkendali."

"Yoon... bukan putraku." kata Hyun Suh tajam. "Keluar."

Semalaman, Hyun Suh tidak tidur. Menjelang pagi, ia mengeluarkan seluruh pakaiannya dan memasukkannya dalam koper.

Hyun Suh keluar dari rumah. Saat itu, Yoon sedang berjongkok di depan makam ayamnya.

"Mau kemana?" tanya Yoon sedih. "Kau akan pergi jauh?"

Hyun Suh hanya diam.

"Kapan kau akan kembali?" tanya Yoon. "Kau tidak akan kembali?"

Soo Jin melihat mereka dari jendela lantai 2.

"Ya." jawab Hyun Suh.

"Kenapa?" tanya Yoon kaget, seperti mau menangis. "Paman.. apa ini mimpi? Jika aku masih tidur, maukah kau membangunkan aku dengan berteriak 'Kokokeeeoo'?"

"Masuk dan tidur lagi." kata Hyun Suh.

Yoon menuruti dan berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi, melihat Hyun Suh masuk ke mobil, Yoon mengejar dan menangis.

Hyun Suh tidak tega dan hampir saja membuka jendela mobilnya. Tapi ia mengurungkan niatnya dan membuang muka. Dengan kejam, Hyun Suh menjalankan mobilnya meninggalkan Yoon yang menangis keras.

Pagi itu, Hyun Suh tiba di hotel. Seperti biasanya, Young In tersenyum senang melihatnya datang. Dan seperti biasa pula, Hyun Suh berjalan tanpa menoleh ke arahnya.

Kedua resepsionis mengatakan pada Young In bahwa jika Young In berakhir bersama Hyun Suh, maka ia seperti Cinderella.

Young In menjawab dengan tenang bahwa Hyun Suh bukan tipe seperti pangeran. Jika mereka bertemu, mereka hanya makan seharga $6. Hyun Suh bahkan tidak punya uang untuk bayar bus. Dan jika Young In tinggal bersama Hyun Suh, Hyun Suh mungkin saja akan memperlakukan Young In seperti pembantu. "Tidak mungkin dia akan memperlakukan aku seperti putri." katanya.

Kedua resepsionis hanya melongo mendengarnya.

"Lalu untuk apa kau berkencan dengannya?"

Yoon terbangun dari tidurnya. Ia melihat sebuah kotak hadiah dari Hyun Suh di bawah tempat tidur dan membukanya. Isinya adalah boneka spiderman. Yoon tertawa senang.

"Halo spiderman." sapanya.

Hyun Suh meminta sekretarisnya agar memanggilkan Young In ke ruangannya.

Young In masuk. "Ada apa dengan ekspresi wajahmu?" tanyanya.

Hyun Suh memandang Young In tanpa mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Ia kemudian bangkit dan duduk di depan Young In. "Aku mendapat kesempatan untuk bekerja di Nikko Hotel. Aku akan segera pergi." katanya. "Aku harus pergi. Kau juga."

Young In terkejut mendengarnya.

"Bokja, kau akan ikut denganku, bukan?" tanya Hyun Suh.

"Kau... kau meminta atau memberi perintah?"

"Tolong, ikutlah bersamaku." ulang Hyun Suh, memperbaiki ucapannya.

"Jika kau meminta, aku akan memikirkannya." jawab Young In. "Tapi jika kau memberi perintah, maka kurasa aku akan ikut."

"Kalau begitu, ini perintah. Aku akan mengangkatmu menjadi pengawas pribadi presiden. Jadi ikutlah bersamaku."

Selesai bicara, Hyun Suh kembali ke meja kerjanya. Young In mendekatinya perlahan-lahan. "Kau sudah sarapan?" tananya.

"Aku tidak sarapan." jawab Hyun Suh. "Kau?"

"Teman macam apa yang tidak membuatkan sarapan?" gumam Young In. "Kau ingin aku membeli sesuatu untukmu?"

Sekretaris melihat mereka dari jendela.

Dengan polos, Young In bertanya pada Kyle seperti apa pekerjaan pengawas pribadi presiden.

"Tugas pengawas adalah membuat para tamu hotel merasa nyaman." kata Kyle, emosi. "Mana ada yang namanya pengawas pribadi presiden?"

"Kenapa kau marah?" tanya Young In kesal.

"Kau menanyakan pertanyaan dasar, tentu saja aku marah." jawab Kyle.

"Dia bilang ada, di Nikko Hotel di Las Vegas." kata Young In.

"Dimana?" tanya Kyle, terkejut.

"Nikko Hotel."

Lagi-lagi, Yoon datang ke Empire Hotel. Ia mengatakan pada Young In bahwa ia ingin bertemu dengan Hyun Suh.

Young In teringat ketika resepsionis mengatakan bahwa ada seorang anak yang mirip Hyun Suh. Young In tertawa.

"Sebentar ya." kata Young In seraya menelepon. Tapi sekretaris mengatakan bahwa Hyun Suh sedang rapat. "Kau harus menunggu sebentar." katanya pada Yoon.

"Aku bisa menunggu lama." kata Yoon.

Young In tertawa.

Young In mengajak Yoon jalan-jalan dan membeli es krim.

Yoon bercerita bahwa ia ingin ibunya menikah lagi dengan Hyun Suh. "Jadi, ia bisa menjadi ayah Yoon." katanya.

"Kau pasti sangat ingin punya ayah." kata Young In, iba.

"Paman dan ibuku saling menyukai, tapi karena ada aku, mereka menjadi berhati-hati." kata Yoon.

Hyun Suh keluar dari ruang rapat bersama para petinggi yang lain. Yoon langsung berlari menghampiri.

"Kenapa kau meninggalkan rumah?" tanya Yoon dengan suara keras. "Apa kau bertengkar dengan ibu?"

Semua orang disana terkejut.

"Ayo kita pulang." ajak Yoon.

Hyun Suh menarik napas. Ia memandang pada Young In. Semua orang memandang pada Young In.

"Itu... itu..." Young In mencoba menjelaskan. "Seorang anak dari rumahmu datang untuk menjemputmu."

"Ayo keluar." ajak Hyun Suh, menggandeng tangan Yoon. Ia berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik dan menggandeng tangan Young In, mengajaknya pergi.

Hyun Suh meminta Young In menggandeng Yoon sementara ia mengambil mobil.

"Apa kalian dekat?" tanya Yoon.

"Ya." jawab Young In. Yoon kelihatan tidak senang.

Tanpa sengaja, Soo Jin mengendarai mobilnya dan melihat Yoon dan Young In di pinggir jalan. Ia turun dan menghampiri mereka. Belum sempat ia mendekat, Hyun Suh tiba dengan mobilnya.

"Itu ibu!" teriak Yoon, menunjuk ke arah Soo Jin.

Soo Jin mendekati mereka. Young In bersikap ramah dan memperkenalkan diri, tapi Hyun Suh kelihatan marah.

Hyun Suh memerintahkan Yoon masuk ke mobil Soo Jin. Yoon menurut dengan terpaksa.

"Aku adalah pengawas hotel, Choi Young In..." Young In memperkenalkan diri, tapi Hyun Suh memotong ucapannya.

"Choi Young In adalah gadis yang kucintai." kata Hyun Suh, memperkenalkan Young In pada Soo Jin. "Dan ini adalah teman baikku, Kang Soo Jin." katanya memperkenalkan Soo Jin.

Soo Jin mencoba tersenyum dan menyapa Young In.

Soo Jin kembali ke mobil dengan sedih, namun berusaha tidak memperlihatkannya.

"Ibu." panggil Yoon. "Aku menyayangimu. Aku menyayangimu, Ibu."

"Ibu juga." kata Soo Jin.

Young In menyadari kalau Soo Jin dan Hyun Suh sedang bertengkar. Ia menyuruh Hyun Suh meminta maaf duluan, tapi Hyun Suh menolak.

Young In terus ngedumel. Hyun Suh kesal dan menurunkannya di pinggir jalan.

Kyle makan dan minum bersama Kang Chul Goo dan si pria pemiliki mini kaset. Kalau ga salah, namanya Gom Sung Ho.

Pria itu mengatakan pada Kyle bahwa ia ingin membuat sebuah hotel yang menduduki 2% terbaik. Ia ingin membuat para tamu merasa sangat terhormat karena tinggal di hotel itu.

Setelah perbincangan mereka selesai, Kyle berterima kasih pada Chul Goo karena telah mempertemukannya dengan tamu suite room.

Young In sibuk mencari peralatan dapur yang bisa dibawanya ke apartemen Hyun Suh. Mi Hee dan Jae Dong tidak setuju jika Young In memberikan peralatan dapur murahan. Karena itu, mereka mencari peralatan dapur bagus yang memang sengaja disiapkan Mi Hee jika Young In sudah menikah.

Soo Jin menengok Yoon di kamarnya, tapi Yoon tidak ada disana. Ia kemudian pergi ke kamar Hyun Suh dan menemukan Yoon sedang tertidur nyenyak disana bersama spidermannya.

Soo Jin membangunkan Yoon."Yoon, kenapa kau tidak tidur di kamarmu sendiri?" tanyanya.

"Aku hanya merindukan paman."

"Kalau begitu, kau mau tidur di punggungku?"

Soo Jin menggendong Yoon di punggungnya. Yoon sangat sedih karena ayamnya mati dan Hyun Suh telah pergi. Ia tidak suka hanya tinggal berdua di rumah itu bersama ibunya.

"Maafkan aku, Yoon." ujar Soo Jin sedih.

Pagi itu, Young In datang ke kamar apartemen Hyun Suh. Hyun Suh sedang tidur di lantai, karena disana memang belum ada barang apa-apa.

Young In tersenyum dan melihat Hyun Suh tidur. Ia kemudian berbaring di samping Hyun Suh sambil terus melihatnya. Lama-kelamaan, Young In mengantuk dan ikut tidur.

Tidak lama kemudian, Hyun Suh bangun. Ia kaget melihat Young In tidur disampingnya.

Di tempat lain, Kyle duduk di depan komputernya. Ia meraih foto ayahnya, Nitoshi Sato di atas meja, dan memandangnya sebentar.

Hyun Suh memasak di dapur. Setelah selesai, ia membangunkan Young In. Hyun Suh menyuruh Young In menggosok gigi dulu sebelum makan.

Young In menurut sambil ngedumel.

"Kenapa kau ingin tinggal di rumah yang sangat besar seperti ini?" tanya Young In.

"Aku ingin menjual rumah ini." kata Hyun Suh. "Aku akan pergi. Kau ikut denganku, bukan?"

"Kepala pengawas bilang, tidak ada yang namanya pengawas pribadi presiden."

"Kau lebih percaya padanya daripada aku?" omel Hyun Suh.

Young In berbincang dengan Kyle di kafe. Kyle bertanya padanya, jika Young In menjadi pemilik sebuah hotel, apa yang akan ia lakukan.

"Aku ingin para tamu nyaman di hotel itu." jawab Young In. "Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Hotel bukan tempat untuk menjual barang, tapi pelayanan."

Di kafe lain, Hyun Suh dan Soo Jin bertemu.

"Aku sangat marah sehingga sulit menatap wajahmu." kata Hyun Suh. "Aku hanya ingin memukulmu."

"Yoon juga?"

"Jangan katakan apapun tentang Yoon. Ini masalah antara kau dan aku."

"Tidakkah kau ingin bertemu Yoon?" tanya Soo Jin, tidak mengindahkan ucapan Hyun Suh. "Yoon sangat ingin bertemu denganmu."

"Kau tahu bagaimana aku tumbuh." kata Hyun Suh. "Kenapa kau membiarkan Yoon tumbuh seperti aku? Tidak mengetahui siapa ayahnya? Aku berharap dia bukan putraku, agar aku bisa menjadi figur ayah yang baik. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa aku... pada Yoon..."

Soo Jin menjelaskan pada Hyun Suh bahwa 7 tahun lalu, setelah bercerai, ia sama sekali tidak terpikir untuk menikah lagi. Ia mengakui bahwa kesalahan pertamanya adalah memilih Hyun Suh. Kesalahan kedua adalah bahwa ia tidak bisa menyimpan rahasia. Dan kali ini, ia tidak boleh melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan Hyun Suh pergi.

"Aku tidak akan melepaskanmu." katanya. "Kita bertiga akan hidup sebagai keluarga, Tidak ada yang lebih baik dari itu."

Setelah melihat Hyun Suh datang, Kyle mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam laci dan mengikuti dibelakangnya untuk menaiki elevator. Di dalam elevator itu sudah ada Young In. Young In tersenyum.

Hyun Suh meminta sekretarisnya memeriksa jadwalnya, kemudian meminta pengawas cctv memeriksa kamera di lantai 5 dan mengatakan pada Kyle agar menemuinya di ruangan dalam waktu 30 menit.

Akhirnya, hanya tinggal Hyun Suh dan Young In di dalam elevator.

"Kau akan pergi ke lantai berapa?" tanya Hyun Suh.

"Kau akan pergi ke lantai berapa, Direktur?" Young In bertanya balik.

"Apapun yang terjadi, walaupun terasa sakit, aku akan pergi sejauh yang kubisa." jawab Hyun Suh.

"Sejauh yang kau bisa? Dimana itu?" tanya Young In polos. "Aku akan pergi ke atap gedung ini, ke puncak, sampai akhir."

"Aku juga akan pergi sampai akhir denganmu." kata Hyun Suh. "Melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalan kita."

"Apa yang ingin kau lakukan disana?" tanya Young In.

"Apa yang akan kau lakukan disana?" Hyun Suh malah bertanya balik.

"Pundakku pegal, jadi aku ingin sedikit bergerak." jawab Young In. Hyun Suh meminta Young In mencontohkan gerakan yang akan dilakukannya.

Young In mengangkat kedua tangannya dan berseru, "Hidup!"

"Aku... memiliki anak." kata Hyun Suh. "Aku memiliki seorang putra."

"Apa?"

"Aku memiliki seorang putra." ulang Hyun Suh.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 9)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 9

"Bokja, hiduplah bersamaku." kata Hyun Suh.

Young In diam sejenak, kemudian turun dari mobil tanpa mengatakan apapun. Hyun Suh mengejarnya.

"Apakah aku harus menjawab 'ya' untuk pertanyaan seperti itu?" tanya Young In.

"Masih ingat rumah yang kita lihat kemarin?" tanya Hyun Suh. "Hiduplah bersamaku disana."

"Maksudmu, kita menikah?" tanya Young In.

"Tidak." jawab Hyun Suh. "Tapatnya, kita hanya tinggal bersama. Jika kita tidak pernah hidup bersama, bagaimana kita bisa menikah?"

"Bagaimana dengan kamar?" tanya Young In. "Apa kita tinggal di kamar yang sama?"

"Tidak. Disana ada banyak kamar, kenapa kita harus tinggal dalam satu kamar?"

Young In ngedumel. Untuk apa hidup bersama jika tidak tinggal dalam satu kamar?

"Karena kita tidak tinggal dalam satu kamar, maka kau tidak bersedia hidup bersamaku?" tanya Hyun Suh. "Begitu?"

Young In bertanya pada Hyun Suh kenapa Hyun Suh tidak ingin tinggal satu kamar. Tapi Hyun Suh hanya menjawab bahwa ia punya alasan pribadi.

"Kau hanya ingin seorang pembantu untuk memasak dan membersihkan rumah!" omel Young In.

"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa." ujar Hyun Suh. "Jangan ungkit masalah ini lagi. Anggaplah aku tidak pernah mengatakan apa-apa." Hyun Suh kelihatan ngambek. Ia masuk ke mobil dan mengemudikannya pulang.

Young In berpikir. Ia teringat ketika ia dan Hyun Suh minum bersama di pinggir jalan. Young In meminta Hyun Suh menemaninya makan malam setiap hari sampai hutangnya lunas.

"Itu artinya aku harus makan bersamamu sampai umurku 60." ujar Hyun Suh. "Apa kau sedang mencoba memintaku hidup bersamamu?"

Pagi itu, Yoon membangunkan Hyun Suh."Spiderman!" panggilnya. Ia bergaya seolah-olah bisa mengeluarkan jaring. Hyun Suh berpura-pura terkena jaring dan sengaja menjatuhkan diri ke lantai.

Hyun Suh, Goo Jin dan Yoon sarapan bersama.

Ketika Soo Jin sedang menyiapkan makanan, Yoon berbisik pada Hyun Suh dan mengatakan bahwa beberapa hari lagi ia berulang tahun. Karena itulah ia ingin mengingatkan Hyun Suh. "Semakin mahal hadiahnya semakin bagus." kata Yoon. "Aku sudah mengingatkanmu. Jangan buat aku kecewa."

Hyun Suh tersenyum. "Ya." jawabnya.

Soo Jin juga menjanjikan sebuah kejutan yang besar di hari ulang tahun Yoon. "Tunggu saja." katanya.

Soo Jin mengantar Hyun Suh ke hotel. "Jantungmu adalah milikku." katanya sebelum Hyun Suh turun. "Apapun yang terjadi, jangan cemas. Aku akan selalu berada disisimu. Kau percaya padaku?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sampai bertemu nanti malam di rumah."

Hyun Suh masuk ke hotel.

Young In tersenyum dan mengangkat tangan untuk menyapa, tapi Hyun Suh cuek.

Kyle tiba. Young In bertanya padanya kenapa Kyle memiliki pin emas di kerah jasnya sementara ia tidak punya. Kyle menjawab, jika Young In sudah berpengalaman dan bekerja sebagai pengawas dalam waktu yang lama, Young In pasti akan mendapatkan pin emas itu juga.

Hyun Suh melihat mereka dari jauh.

Kang Chul Goo memerintahkan sekretaris Oh untuk melepas alat penyadap dari ruangan Hyun Suh. Tanpa mereka sadari, pengawas cctv sedang mengawasi tidak jauh dari tempat mereka bicara.

Young In mengajak Hyun Suh minum kopi di supermarket. Hyun Suh menelepon sekretarisnya bahwa ia akan datang terlambat. Ia kelihatan masih ngambek pada Young In.

"Sepertinya kau marah." kata Young In. "Kuharap kau marah."

Hyun Suh memandangnya heran.

"Aku tidak ingin membuat ibuku marah." kata Young In. "Ibuku sangat miskin. Aku segalanya untuknya. Baginya, aku suami, putra, teman, tetangga dan kekasihnya."

Hyun Suh hanya diam, memandang lurus ke depan, tidak menoleh sedikitpun.

Hyun Suh keluar. Karena di luar hujan, ia meneduh sementara Young In membeli payung.

Hyun Suh mengambil payung Young In dan memakainya tanpa mengajak Young In.

"Beli lagi satu payung." perintah Hyun Suh.

"Ini hanya gerimis, kenapa aku harus membeli payung lagi?" tanya Young In. "Gunakan payung itu bersama!"

"Tidak." jawab Hyun Suh singkat seraya berjalan pergi.

Young In mengejar Hyun Suh dan berjalan disampingnya. Hyun Suh memandang Young In tajam.

"Jika kau terus melihatku seperti itu, aku akan berlari pada laki-laki yang ada di depan sana!" ancam Young In. "Orang yang memegang payung disana!"

Hyun Suh tetap memandang Young In dengan tajam.

"Aku akan pergi!" ancam Young In, tapi Hyun Suh tetap acuh.

Young In berlari dan menumpang berteduh di payung pria itu. Hyun Suh menariknya.

Sesampainya di depan pintu depan hotel, Hyun Suh memberikan kunci apartemennya pada Young In.

Karena Hyun Suh sedang pergi bersama Young In keluar hotel, sekretaris Oh masuk ke ruangan Hyun Suh untuk mencabut alat penyadap. Saat itu, Hyun Suh sedang berjalan masuk. Ia melihat sekretaris Oh ada di dalam ruangannya, dan hendak membuka pintu.

Tapi sebelum sempat membuka pintu, Kang Chul Goo datang. Ia sengaja datang untuk melindungi Sekretaris Oh.

Kyle bertanya pada Young In apakah Young In membaca lagi jurnal yang pernah diberikannya. "Kau seharusnya mencatat banyak hal dalam buku itu." katanya.

"Maksudmu, aku banyak melakukan kesalahan sehingga aku bisa menulis banyak hal dalam buku itu?" tanya Young In.

"Memangnya tidak?" Kyle bertanya balik.

Young In diam. "Kepala pengawas!" serunya kesal. "Kenapa kau begitu mudah berteriak pada pembantumu hanya karena kau tuannya?"

"Pembantu?"

"Ya!" kata Young In. "Orang yang bekerja dibawah orang lain dinamakan pembantu. Kenapa kau tidak bisa bersikap baik sedikit? Kau tidak pernah memuji orang lain dan masih saja memberikan raut wajah mengerikan. Apa jika tidur kau juga seperti itu? Hati-hati nanti otot wajahmu rusak."

"Apa sekarang kau melawanku?" tanya Kyle dengan nada datar dan ekspresi suram.

Young In menunudk diam.

"Pembantu." panggil Kyle. "Pembantu, ikut aku."

Kyle berbalik dan memimpin Young In berjalan. Saat Young In tidak melihat, Kyle tersenyum.

Setelah Sekretarisnya pulang, Hyun Suh memeriksa dibawah mejanya. Alat penyadap sudah tidak ada.

Di luar hotel, pengawas cctv mengawasi gerak-gerik Sekretaris Oh dan Kang Chul Goo. Dengan gerak cepat, Sekretaris Oh memberikan alat penyadap pada Kang Chul Goo.

Telepon di kantor Hyun Suh berdering. "Bagaimana kabarmu, mr. Goodbye?" tanya suara di seberang saluran. "Sudah lama sejak kau terakhir menggunakan nama panggilanmu. Kau tahu kenapa mereka memanggilmu dengan nama itu? Di setiap hotel dimana kau muncul, mereka selalu berpikir bahwa nasib hotel itu akan segera tamat. Mr. Goodbye, semua orang sudah bersiap-siap dengan hal terburuk." Orang di telepon tertawa. "Kembalilah. Kembali sebagai Presiden Nikko."

Hyun Suh mengatakan bahwa di Hotel Empire ada masalah yang tidak terduga datang dan Hyun Suh sedang menyelidikinya.

Hyun Suh tiba di rumah dengan gembira. Soo Jin menyambutnya.
Hyun Suh bercerita bahwa ia akan segera kembali ke Las Vegas, namun Soo Jin tidak terlihat senang.

"Kau bilang, kau ingin mengatakan sesuatu." kata Hyun Suh.

Soo Jin tersenyum. "Aku lupa." ujarnya berbohong. Soo Jin kelihatan sedih, namun berusaha menutupinya di depan Hyun Suh.

Young In datang ke apartemen Hyun Suh dan bersih-bersih. Saking keasikkannya bersih-bersih, Young In sampai tidak mendengar bahwa Hyun Suh menelepon.

Malam itu, setelah Young In selesai bersih-bersih, Kyle menelepon dan mengajaknya minum bersama.

"Kau ingin aku berhenti mengerutkan dahi?" tanya Kyle, tersenyum.
Young In mengangguk. "Apa kau minum-minum karena hal itu?" tanyanya.

"Tidak." jawab Kyle.
Young In diam, berpikir dalam hati. "Kelihatannya ia mabuk karena memikirkan hal itu, lalu meneleponku."

"Aku bilang tidak." kata Kyle, seperti tahu pikiran Young In. "Choi Young In, kau tidak percaya apapun yang kukatakan padamu, tapi tolong percaya apa yang akan kukatakan sekarang."

Young In setuju.

"Aku..." Kyle bicara satu kata, kemudian terdiam beberapa saat. "Choi Young In, aku menyukaimu." katanya. "Bolehkah aku mencintaimu?"

Young In terkejut. Mendadak ponselnya berbunyi. Young In mengangkatnya.

"Dimana kau Bokja?" tanya Hyun Suh dari seberang saluran. "Kau tidak mengangkat teleponmu. Apa yang kau lakukan dan dimana kau?"

Young In diam, menatap Kyle.

"Bolehkah aku mencintaimu?" tanya Kyle lagi. Hyun Suh mendengar.

"Aku akan meneleponmu lagi." kata Young In.

"Jangan ditutup." larang Hyun Suh. "Biarkan aku bicara dengan laki-laki di depanmu. Jika kau tidak mau, biarkan aku mendengar jawabanmu padanya. Dia menunggu."

Young In diam. Ia mencoba berbagai macam cara untuk memutus sambungan telepon. "Batere... batere habis..."

Hyun Suh tersenyum. "Bokja, aku mencintaimu."

Young In sangat shock dan terkejut mendengarnya. Ia seperti tidak menyadari lagi kalau Kyle ada disana.

Kyle membantunya berdiri dan mengajaknya pulang. "Kau bisa memberi jawaban pelan-pelan." katanya. "Aku akan menunggu."

Young In tersadar. "Apa? Apa katamu?" tanyanya. Ia diam, berpikir dan mencoba mengingat. Walaupun akhirnya ingat, Young In berpura-pura tidak pernah mendengar Kyle menyatakan cintanya.

Keesokkan paginya, Young In mencoba mengatakan bahwa ia ingin tinggal bersama Hyun Suh, tapi Young In tidak sanggup mengatakannya.

Hyun Suh mengajak Young In makan siang bersama.

"Bolehkah aku ikut juga?" tanya Kyle. Hyun Suh tidak punya pilihan lain kecuali membiarkan Kyle ikut serta.

Perbincangan terjadi dengan sangat kaku. Hyun Suh merasa tidak bebas bicara pada Young In.

Soo Jin mengajak Yoon membeli kue ulang tahun.

"Yoon, bagaimana menurutmu jika kita tinggal di New York?" tanya Soo Jin.

"Tinggal bersama ayah?" tanya Yoon. "Itukah hadiah ibu untukku?"

Soo Jin mengangguk dan tersenyum.

Kyle kembali ke hotel.

"Kau tiba tepat waktu." kata Chul Goo. "Direktur Utama Yoon sudah tahu, Ia tahu dengan persis. Kau akan segera dipecat."

Hyun Suh menanyakan pada pengawas cctv apakah ia mengenal tamu pria teman Kang Chul Goo yang penah tinggal di kamar hotel. Pengawas cctv mengatakan bahwa pria itu menggunakan nama palsu, nomor teleepon palsu dan nomor kartu kredit palsu.

Lagi-lagi, Hyun Suh datang ke seorang peramal. Ia bertanya pada peramal itu apakah Young In mau meninggalkan segalanya dan ikut dengannya ke Amerika. "Aku benar-benar ingin pergi dengannya." kata Hyun Suh.

"Kenapa ia harus meninggalkan segalanya?" tanya peramal. "Kau bilang, kau sangat menyukainya hingga membuat jantungmu merasa sakit dan aneh. Tidak bisakah kau meninggalkan segalanya?"

"Pekerjaan yang kuimpikan ada di Amerika." jawab Hyun Suh. "Aku memiliki segalanya yang kumiliki dan tidak memiliki yang tidak kumiliki. Aku tidak memiliki apapun kecuali uang."

"Jika kau punya banyak uang, apa yang kau takutkan?"

"Dia wanita yang tidak tergerak oleh uang." jawab Hyun Suh. "Dia sudah sangat senang jika aku makan kimchi seharga $6 dengannya. Apa yang harus kulakukan agar ia mau ikut denganku?"'

"Kau tidak punya siapapun yang bisa kau tanyai?" tanya peramal. "Berikan tanggal ulang tahunmu."

Hyun Suh keluar. Peramal menghitung hari ulang tahun Hyun Suh. "Punya seorang anak, anggota keluarga masih hidup." katanya. "Bagus tadi aku tidak mengatakannya."

Hyun Suh berjalan menuju apartemennya. Ketika ia sampai disana, Young In sedang keluar dari apartemen itu. "Kau tidak ingin tinggal bersama, huh?" gumam Hyun Suh.

Hyun Suh masuk ke apartemennya dan memeriksa. Tidak ada debu datau kotoran sedikitpun. Di meja, ia melihat satu vas bunga.

Hyun Suh pulang ke rumah Soo Jin.

Disana, ia merayakan ulang tahun Yoon bersama. Acara itu mengingatkan Hyun Suh pada ulang tahunnya ketika ia masih kecil bersama ibunya.

Setelah itu, Hyun Suh menemani Yoon tidur. Ia bertanya kenapa Yoon selalu mengangkat tangannya ketika tidur.

Yoon menjawab, "Aku seperti di hukum. Menyenangkan melakukannya ketika tidur."

"Jangan lakukan itu." kata Hyun Suh seraya menurunkan tangan Yoon. "Kau sangat baik pada ibumu, temanmu dan semua orang. Karena itu, jangan lakukan."

Setelah Yoon tidur, Hyun Suh meletakkan hadiah ulang tahun di lantai di bawah tempat tidur Yoon.

"Kapan kau akan kembali ke Las Vegas?" tanya Soo Jin pada Hyun Suh.

"Secepatnya." jawab Hyun Suh.

"Haruskah aku dan Yoon ikut denganmu?" tanya Soo Jin lagi.

Hyun Suh bingung. "Kenapa?" tanyanya.

"Karena kau." jawab Soo Jin. "Yoon adalah... putramu."

"Apa?" Hyun Suh tertawa. "Bagaimana mungkin Yoon adalah putraku?"

"Yoon adalah putramu." ulang Soo Jin.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 8)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 8

Young In teringat. Ia meminta cuci mobil yang lama agar bisa ciuman dengan Hyun Suh. "Cuci mobil?" tanyanya, terkejut. "Aku sedang tidak mood cuci mobil saat ini. Pergi saja."

Yoon menonton film spiderman. Soo Jin menyuruhnya tidur.

Yoon bangkit dari duduknya dengan marah. "Pembohong!" serunya.

Setelah beberapa lama masuk ke apartemen, Young In keluar lagi untuk melihat apakah Hyun Suh benar-benar sudah pergi atau belum. Young In mengintip diam-diam. Ketika ia hendak masuk lagi ke apartemen, Hyun Suh muncul.

Dengan jual mahal, Young In masuk dan naik ke elevator.

Hyun Suh mengikutinya dan menahan pintu elevator. "Apa kau benar-benar ingin naik?" tanyanya. "Keluar. Atau kau ingin aku mengikutimu ke atas?"

Hyun Suh menarik tangan Young In dan mengajaknya naik ke mobilnya.

"Jangan lihat kebelakang." perintah Hyun Suh. Young In malah penasaran dan ingin melihat. Hyun Suh menutup matanya. "Aku menyuruhmu jangan melihat, jadi jangan lihat." Karena di belakang ada bekas muntahan Young Kyu.

Mobil Hyun Suh berhenti di lampu merah. Young In menoleh ke mobil sebelah dan melihat Kyle sedang berhenti disampingnya.

Young In tersenyum padanya, tapi Kyle kelihatan acuh.

Hyun Suh dan Young In tiba di tempat pencucian mobil. Hyun Suh menyuruhnya keluar karena bagian dalam mobil akan dibersihkan.

Young In bingung. Ia berpikir bahwa mereka akan mencuci dengan mesin seperti yang lalu. "Bukankah kau bilang kita akan mencuci mobil bersama?" tanyanya.

Hyun Suh meminta Young In melihat kebelakang.

"Tidak ada apa-apa." kata Young In. Ia mengendus-endus sesuatu. "Bau apa ini?"

Hyun Suh menjelaskan semua dan akhirnya Young In bersedia keluar.

"Apakah nyaman hidup bersama?' tanya Young In, ragu-ragu.

Hyun Suh mengerti maksud Young In dan mengajaknya melihat rumah Soo Jin.

Kyle kembali ke hotel. Ia menuju kamar pria yang menyimpan banyak mini kaset, kemudian masuk ke dalam.

Selotip yang biasa ditempelkan pemilik kamar sebelum ia pergi terlepas. Rupanya selotip tersebut sengaja di tempel agar ia tahu jika ada orang yang masuk ke kamarnya.

Kyle menyalakan notebook yang ada diatas meja. 'Gom Sung Ho. Masukkan password'.

Kyle memeriksa lemari dan membuka brankas. Di dalamnya ada banyak foto dan dokumen.

Si pemilik kamar memiliki hubungan dengan Kang Chul Goo. Dengan diam-diam dan hati-hati mereka menaiki elevator.

Kyle menemukan sebuah dokumen mengenai dirinya.

"Anak rahasia Presiden Nikko Hotel. Ia bekerja dengan Yoon Hyun Suh di Empire Hotel Las Vegas. Hyun Suh adalah alasan kenapa Presiden Nikko Hotel bunuh diri."

Tidak lama kemudian, Kang Chul Goo dan pemilik kamar, Gom Sung Ho, berjalan bersama menuju kamar itu. Gom Sung Ho terkejut melihat selotip yang ia tempel diantara daun pintu terlepas. Mereka menjadi curiga.

Mereka memeriksa kamar, tapi tidak ada satu barangpun yang hilang atau dibuka dengan paksa.

"Mungkin aku tidak melekatkan selotip itu dengan benar." kata Sung Ho.

Chul Goo membuka tirai jendela. Di kaca, tertempel kartu nama Kyle. Ia terkejut.

Hyun Suh mengajak Young In ke rumah Soo Jin. Ia menyuruh Young In masuk tapi Young In menolak.

"Kau akan memperkenalkan aku sebagai apa?" tanya Young In.

"Bokja." jawab Hyun Suh.

"Aku tidak mau masuk." kata Young In. "Aku tidak mau diperkenalkan sebagai Bokja."

"Lalu kau ingin aku memperkenalkanmu sebagai apa?"

Young In diam. "Lain kali saja. Aku akan menemui temanmu lain kali." katanya salah tingkah. "Besok pagi, saat Bokja sudah cantik dan berpenampilan bagus, aku akan menemuinya."

Young In kabur.

Soo Jin melihat mereka dari monitor di dalam rumah, kemudian keluar. "Kau tidak masuk?" tanyanya. Apa ada orang lain? Siapa dia?"

"Oh... Bok... Ada seseorang." jawab Hyun Suh.

"Bawa ia kemari jika ada kesempatan. Aku juga ingin bertemu dengannya." kata Soo Jin.

Hyun Suh menelepon Young In. Saat itu, Young In masih dalam perjalanan pulang. Ia berlari.

"Bokja, bagaimana kau ingin diperkenalkan agar kau senang?" tanya Hyun Suh. "Aku akan memikirkannya."

Kata-kata Hyun Suh membuat Young In sangat senang.

Keesokkan paginya, Hyun Suh dibangunkan oleh tangisan Yoon. Hyun Suh dan Soo Jin bergegas masuk ke kamar Yoon. Ternyata ayam Yoon mati.

Soo Jin memeluk Yoon untuk menenangkannya, tapi Yoon tidak mau dipeluk ibunya. "Tidak apa-apa, Yoon."

"Tidak apa-apa apanya? Mereka sudah mati." tangis Yoon. "Aku tidak bisa makan bersama mereka lagi. Tidak bisa menonton televisi bersama. Tidak bisa tidur bersama. Bagaimana mungkin tidak apa-apa? Ibu jahat! Aku benci ibu!"

"Berhenti menangis." kata Hyun Suh.

"Aku benci kematian!" tangis Yoon. "Paman, selamatkan mereka. Buat mereka hidup lagi."

Young In berangkat bekerja.

"Apa kau sibuk di hotel?" tanya ibunya.

"Apa? Oh.. ya." jawab Young In, berbohong.

Mi Hee membuntuti Young In. Young In menyadarinya dan terpaksa berjalan ke hotel.

Seorang pegawai senang melihatnya dan menarik Young In masuk untuk bekerja.

Mi Hee bingung. Ia menatap resepsionis dengan marah, kemudian pergi.

Young In melihat ibunya. Ia terus melihat ibunya sambil berjalan.

Tanpa sengaja, Young In menabrak seseorang dan hampir terjatuh. Untungnya orang tersebut menangan Young In.

Young In mendongak dan melihat ternyata Hyun Suh-lah yang ditabraknya.

Semua orang melihat ke arah mereka.

Young In terjebak pada situasi dimana ia terpaksa menerima pekerjaan di hotel. Ditambah lagi, Hyun Suh meminta manajer memberikan pekerjaan yang sulit dan yang tidak disukai para pekerja. "Ia harus menerima konsekwensi, bukan?" tanya Hyun Suh.

Hyun Suh menaiki elevator. Di dalam, ia bertemu dengan seseorang berpakaian Spiderman.

Yoon makan sendirian sementara teman-temannya makan bersama-sama.

Ketika sedang buang air kecil di toilet, teman Yoon bertanya apakah Yoon memiliki seorang ayah.

"Ia sedang sibuk di luar negeri." jawab Yoon polos. "Ia sibuk berayun di gedung-gedung menggunakan jaring yang keluar dari tangannya. Dia spiderman."

"Kalau begitu, kau pasti bisa mengeluarkan jaring laba-laba." kata teman Yoon. "Tunjukkan pada kami."

Yoon diam.

"Bodoh!" kata teman-teman Yoon, menertawakannya.

Yoon sangat sedih.

Kyle memandang Young In, membuatnya merasa tidak nyaman. Mendadak bosnya di toko bunga menelepon dan marah-marah karena Young In datang telat. "Kau dipecat!" serunya.

Belum sempat Young In menjelaskan, si bos menutup telepon.

Tidak lama kemudian, ponselnya berdering lagi. Young In mencoba menjelaskan, tapi Kyle mengambil dan menutup telepon itu.

Ternyata yang menelepon kedua bukan bos Young In melainkan Hyun Suh. Hyun Suh sedikit bingung karena Young In menutup telepon darinya.

Hyun Suh berjalan ke ruangannya. Di depan pintu, ia melihat Young Kyu sedang berdiri diam, memandang surat pengunduran dirinya dengan sedih dan ragu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Hyun Suh.

Young Kyu langsung menyembunyikan suratnya di dalam jas. "Direktur! Apakah aku membuat kesalahan kemarin? Aku benar-benar sedang mabuk."

"Kesalahan? Ya, kau membuat kesalahan yang sangat besar." kata Hyun Suh. "Apa kau sudah membawa surat pengunduran dirimu?"

Young Kyu diam.

Hyun Suh mengajak Young Kyu masuk ke ruangannya. "Apakah semua yang kau katakan kemarin benar?" tanyanya. "Aku tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi apapun dan tidak mendengar apapun. Aku berencana bicara langsung dengan Direktur Senior Park."

Young Kyu hendak mengeluarkan surat pengunduran dirinya.

"Manager Choi." panggil Hyun Suh. "Kau akan menjalani masa hukuman selama 6 bulan. Jika hal ini terjadi lagi, kau harus menyerahkan surat pengunduran diri. Mengerti?"

Young Kyu sangat lega mendengarnya. "Terima kasih! Terima kasih!" katanya. Sebelum keluar, Young Kyu menanyakan hubungan Hyun Suh dengan Young In, tapi Hyun Suh tidak mau menjawab.

"Ada hubungan apa kau dengan Direktur Utama?" tanya Kyle pada Young In. "Apakah itu alasan kau keluar?"

Young In diam.

"Jika memang karena itu, maka kau kembali bekerja disini juga pasti karena hal itu." tambah Kyle.

Young In bingung kenapa Kyle bisa tahu. Kyle menjawab, "Sudah kubilang, aku memiliki banyak ketertarikan padamu."

"Ehem." Hyun Suh datang dan memotong pembicaraan mereka. "Aku memiliki tugas untuk Choi Young In." katanya pada Kyle.

"Ya." jawab Kyle.

Hyun Suh mengajak Young In pergi.

"Kepala Pengawas mengatakan bahwa ia punya banyak ketertarikan padaku." pamer Young In, ingin membuat Hyun Suh cemburu.

"Aku memiliki banyak ketertarikan pada sekretarisku, Nona Oh." balas Hyun Suh santai.

"Sekretaris KU?" tanya Young In tajam.

"Ya, sekretarisKU." jawab Hyun Suh. "Apa kau kembali bekerja karena dia memintamu?"

Ya." jawab Young In kesal.

Hyun Suh mengatakan pada Young In agar berusaha keras belajar menjadi pengawas yang baik dibawah ajaran Kyle. Ia juga memerintahkan Young In agar tidak naik ke mobil orang lain karena rok Young In terlalu pendek. "Gunakan celana jika naik ke mobil orang lain." katanya.

"Tidak." jawab Young In singkat.

Hyun Suh mengajak Young In untuk melihat-lihat apartemen. Ia ingin pindah dari rumah Soo Jin dan membeli apartemen baru.

"Rumah ini bagus." kata Young In.

"Kau suka?" tanya Hyun Suh. Young In mengiyakan. Hyun Suh tersenyum.

Kyle bertemu dengan Kang Chul Goo. Kyle menyerahkan mini kaset padanya.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Kyle. "Kau memiliki semua dokumen kredit finansial hotel, bill, dan bahkan profil pemegang saham. Kelihatannya kau memiliki semua dokumen yang dibutuhkan untuk mengambil alih hotel. Apa karena itu kau membutuhkan Yoo Moon Suh?"

Chul Goo diam. "Apa katamu barusan?" tanyanya acuh. "Jika mengenai uang, ya, aku memang melakukannya untuk itu. Yoon Hyun Suh akan jatuh bersama dengan hotel." Ia tertawa terbahak-bahak.

Kyle hanya diam.

Hyun Suh pulang ke rumah. Soo Jin menawarkan teh padanya.

"Apa menurutmu, aku harus mencari ayah untuk Yoon?" tanya Soo Jin. "Aku ingin membesarkan Yoon sendirian, seperti sebelumnya. Tapi sepertinya aku harus menyerah dan mencarikan seorang ayah untuk Yoon."

"Apa kau sudah memiliki seorang pria?" tanya Hyun Suh.

"Aku punya." jawab Soo Jin.

"Benarkah? Siapa dia?' tanya Hyun Suh, terkejut.

Soo Jin tertawa. "Kau harus menunggu." jawabnya.

"Yoon pasti akan menyukainya." kata Hyun Suh, tersenyum. "Kadang aku juga berpikir ingin memiliki seorang putra seperti dia."

Soo Jin agar terkejut. "Tidak seperti dirimu."

"Aku tahu." kata Hyun Suh. "Kurasa hidup bersama kalian telah membuatku berubah."

"Kalau begitu... apa kau ingin menjadi ayah Yoon?"

"Apa kau mencoba membuatku memiliki tanggung jawab dan menikah?" tanya Hyun Suh, menganggap ucapan Soo Jin main-main. "Walaupun hanya gurauan, tapi kedengarannya tidak buruk. Yoon mirip denganku. Ketika ia tidur, tangannya sepertiku Ketika kau memukulnya, ia mencoba untuk tidak menangis, sama sespertiku."

Soo Jin hanya diam dengan mata berkaca-kaca, mendengar setiap ucapan Hyun Suh.

Keesokkan harina, Yoon masih kelihatan sedih dan berkata tidak mau pergi ke sekolah.

"Kalau begitu, jangan pergi." kata Hyun Suh. Tapi karena takut pada ibunya, Yoon terpaksa tetap pergi.

Pria yang memiliki banyak mini kaset rekaman percakapan check out dari hotel. Kang Chul Goo mengantarnya keluar. Sebelum pergi, pria itu melemparkan pandangan tajam pada Kyle. Hyun Suh mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih pada pria tersebut karena telah menginap di hotelnya.

Setelah itu, Hyun Suh menaiki elevator. Disana, ia naik bersama beberapa orang yang mengenakan kostum pakaian superhero.

Siang itu, Hyun Suh datang ke sekolah Yoon. Ia memandang sebuah kotak di jok belakang mobilnya dengan ragu.

Tidak lama kemudian, spiderman muncul di jendela kelas Yoon.

"Lihat! Itu spiderman!" kata seorang anak. "Guru, itu spiderman!"

"Itu ayah Yoon!" kata anak lain. "Dia tidak bohong! Itu ayah Yoon!"

Yoon memandang Spiderman itu dengan terharu. Ia menangis.

"Ayo pulang." kata spiderman.

Yoon berlari keluar, ingin bertemu spiderman. Saat itu, si spiderman sedang membayar orang yang mengangkatnya keatas dengan sebuah alat.

"Maaf, aku sibuk." kata Spiderman pada Yoon. "Aku sibuk berayun di gedung. Kau tahu, bukan?"

Yoon menangis dan mengangguk.

"Jangan buat ibumu cemas." kata spiderman. "Ibumu tidak bohong."

Yoon mengangguk lagi. Ia menangis dan memeluk spiderman. "Ayah!" tangisnya. "Ayah! Ayah!"

Yoon mengajak Spiderman a.k.a Hyun Suh berjalan ke kota menuju tempat latihan beladiri. Walaupun Hyun Suh mengeluh kostumnya gatal dan ia kepanasan, tapi Yoon tidak peduli. Semua orang melihat dan menertawakan Hyun Suh.

Setelah mengantar Yoon, Hyun Suh kembali ke mobil dan melepas kostumnya.

Yoon kini ceria lagi.

Malamnya, Hyun Suh menemui Young In.

Young In menyadari perubahan Hyun Suh. "Apakah kau benar-benar Yoon Hyun Suh yang kutemui di La Vegas?" tanyanya. "Kemana dia pergi?"

Hyun Suh tertawa. "Aku ada disini."

Young In tersenyum. Ia menoleh ke jok belakang dan melihat kostum spiderman disana. Young In mengambil dan mencoba memakainya. Tapi ia memakai terbalik.

Hyun Suh membantunya memasang topeng itu dengan benar.

"Panas." kata Young In.

Hyun Suh diam. Ia memandang Young In. "Bisakah aku mencuci mobil?" tanyanya.

"Apa?"

"Aku akan mencuci mobil." ulang Hyun Suh. Ia membuka topeng spiderman Young In dibagian bibir kemudian mencium bibirnya.

Soo Ji masuk ke kamar Hyun Suh dan menemukan sebuah majalah mengenai rumah. Rupanya Hyun Suh berniat pergi dari rumahnya.

Young In diam, terkejut karena Hyun Suh menciumnya. Ia melepas topeng spiderman.

"Bokja." ujar Hyun Suh. "Maukah kau hidup bersamaku? Hiduplah bersamaku."

Bersambung
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...