Laman

Tampilkan postingan dengan label Chuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chuno. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

Chuno (Series 2010)


Title: 추노 / Chuno
Also known as: Pursuing Servants / Slave Hunter
Genre: Historical, fusion
Episodes: 24
Broadcast Network: KBS2
Broadcast period: 06 Januari 2010 - 25 Maret 2010
Air time: Wednesday & Thursday 21:55 (Korea)


Cast
Jang Hyuk as Lee Dae Gil
Oh Ji Ho as Song Tae Ha
Lee Da Hae as Un Nyun / Kim Hye Won
Lee Jong Hyuk as Hwang Chul Woong
Gong Hyung Jin as Eop Bok
Han Jung Soo as General Choi
Kim Ji Suk as Wang Son
Kim Ha Eun as Sul Hwa
Yoon Gi Won as Won Ki Yoon
Sung Dong Il as Chun Ji Ho
Danny Ahn as Baek Ho
Joo Da Young as Eun Sil
Jo Jae Wan as Kim Seong Hwan
Kim Ha Yoon as Kang Bin
Yoon Dong Hwan as Yong Gol Dae
Kim Young Ae as Mo Ka Bi
Kim Gab Soo as King Injo
Kim Eung Soo as Lee Gyeong Shik
Ha Si Eun as Lee Sun Young
Ahn Suk Hwan as artist Bang
Jo Mi Ryung as Keunjumo
Yoon Joo Hee as Jakeunjumo
Yoon Ji Min as Yoon Ji
Lee Dae Yeon as Myeong An
Kim Jin Woo as Prince Seok Gyun
Kang Sung Min as Prince So Hyun
Lee Dae Ro as Im Yeong Ho
Choi Duk Moon as Jo Sun Bi
Yoon Moon Sik as Ma Eui
Yoon Dong Hwan as Yong Gol Dae
Yoon Jin Ho (윤진호) as Park Jong Soo
Min Ji Ah as Cho Bok
Jo Sung Il (조성일) as Lee Kwang Jae
Jo Jin Woong as Kwak Han Sum
Park Ki Woong as Geu Boon
Kim Young Ok as (Chul Woong's mother)
Lee Ha Neul as Pyung Min
Go Joon Hee as Jae Ni
Kim Hae In as Ah Nak Ne
Jo Sung Ha as Minister Lee Jae Joon
Song Ji Eun as gisaeng Chan
Lee In as Grand Prince Bong Rim
Yoo Chae Young as gisaeng (cameo)
Jun Se Hong as gisaeng (cameo)
Wi Yang Ho as bandit boss (cameo)
Oh Ji Heon as bandit (cameo)
Choi Chul Ho (cameo)
Jung Ho Bin as Shin Jang Goon (cameo)
Marco as nobleman (cameo)
Lee Won Jong (cameo)
Ahn Seung Hoon (안승훈)
Ahn Kil Kang
Lee Han Wie
Jo Hee Bong


Production Credits
Production Company: Chorokbaem Media
Producer: Choi Ji Young (최지영), Kim Min Soo (기민수), Kim Shin Il (김신일)
Director: Kwak Jung Hwan
Screenwriter: Chun Sung Il (천성일)


Sinopsis
Cerita ini berkisar pada jaman dinasti Joseon (Chosun) abad ke 17, di mana saat itu perbudakan melanda tanah korea dengan jumlah budak sampai 40% dari rakyat biasa.

Cerita ini mengisahkan tentang seorang Slave Hunter yang bernama Lee Dae Gil, seseorang yang hidup dari bayaran menangkap kembali para budak yang mencoba melarikan diri. Lee Dae Gil dahulunya adalah anak seorang bangsawan, tapi hidupnya menjadi hancur karena kakak dari budak yang dicintainya Un Nyun membakar rumahnya dan menghabisi keluarganya.

Un Nyun kemudian bebas dan berubah nama menjadi Kim Hye Won. Lee Dae Gil kemudian harus berhadapan dengan Song Tae Ha, mantan jendral yang menjadi budak karena kesalahan yang tidak dia perbuat, yang harus kabur karena amanat yang harus diembannya.

Un Nyun /Hye Won yang kabur dari rumah lalu bertemu dengan Tae Ha yang sedang berusaha lolos dari kejaran Dae Gil. Terjadilah cinta segitiga antara Dae Gil , Un Nyun, dan Tae Ha.

Sumber :
http://nana-catatanku.blogspot.com

Rabu, 27 Oktober 2010

Chuno (Episode 6)


Song Tae Ha menempelkan telinganya ke tanah, dia tahu mereka kembali lagi. Dialalu menuju kudanya. Tapi dia tidak menaiki nya dia menepuk pantat kuda keras-keras dan membiarkannya kabur. Dia lalu kabur dengan berjalan kaki dengan Un Nyun (pake taktik lagi).

Dae Gil datang lagi ke kedai. Dia tak melihat lagi ada kuda di sana , dia menempelkan telinga ke tanah dan mendengar derap kuda yang lari ke timur. Dia lalu memacu kudanya ke timur. Sampai di suatu tempat dia melihat kuda yang kosong. Dari suhu di pelana kudanya dia tahu dia kali ini tertipu lagi.

Tae Ha salah bicara akhirnya Un Nyun sadar bahwa mereka juga mengejar Tae Ha, bukan hanya dirinya. Un Nyun mendesak Tae ha dengan pertanyaan. Tae ha berkata mereka mungkin mengejarnya tapi dia bukan melarikan diri dari mereka.
"Tuan, katakanlah siapa mereka sebenarnya?"
"Chunokkun (slave hunter)", jawab tae ha
"Tapi mereka pasti bukan mengejar saya. saya bukan budak",jawab Un Nyun (soalnya dia bukan budak lagi)
"Saya juga bukan", jawab Tae ha (mungkin merasa dirinya bukan budak, karena dijebak aja)


Un Nyun mulai takut dan ragu, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka bukan mengejarnya (ga punya majikan lagi).
"Aku tidak mau mengikutimu lagi", un Nyun merasa tidak aman. Tae Ha menyuruhnya ikut sampai ChungJu sesuai rencana semula.
"Apa kau takut aku melaporkanmu?", tanya Un Nyun. Tae Ha percaya pada Un Nyun, tapi karena Un Nyun sudah tau tujuan dia, bisa berbahaya karena dia bisa saja tertangkap dan dipaksa sampai bicara.
"Tapi Hanya sampai sana", Un Nyun sedikit mengancam.

Dae Gil dkk akhirnya berkumpul di kedai sambil makan pagi. Choi berkata bahwa taktik militer Tae Ha kali ini mengalahkan mereka. Wang son sudah merasa mereka bakal kehilangan hadiah mereka. tapi dae gil masih belum menyerah. dia ingin menyelidiki masa lalu Tae Ha untuk bisa mengira-ngira tujuan Tae Ha.

Tae Ha dan un Nyun mendaki perbukitan (gunung) yang tinggi. Dari puncaknya Un Nyun menikmati pemandangan yang indah. Tae Ha dari atas menyadari dia mengambil jalan yang keliru. Dia minta maaf karena tidak punya peta dan mengajaknya kembali. Kali ini Un Nyun tertawa.

Baek Ho tiba di kedai yang ditinggalkan daegil dan Tae Ha. Dia membawa lukisan Un nYun dan bertanya pada penjaga kedai. Hari ini sudah tiga orang yang bertanya. termasuk di situ ada orang-orang yang ingin hadiah dari suami Un Nyun. Baek Ho bertempur dan mengalahkan mereka. dia tak ingin Un Nyun tertangkap oleh anak buah suaminya (hadiah yang disediakan buat Un Nyun juga Tae Ha ternyata sama 500 nyang).

Dae gil dan robongan tiba di perpustakaan daerah dan membaca riwayat masa lalu Tae Ha. Choi dan Tae Ha seksama membaca dokumen (wang son dan seol hwa yang ga suka baca tertidur). Dari dokumen itu Choi membaca bahwa dulu Tae Ha bersikukuh tetap berkabung untuk putra mahkota sebagaimana patutnya 3 bulan, walau perintah resmi kerajaan hanya 3 hari.


Choi simpati pada Tae Ha yang setia pada pangerannya/prinsipnya. Dae Gil menganggap itu bodoh dan cari mati. Waktu itu anak buahnya, Hwang Chul Woong mengganti pakaian berkabungnya sesuai perintah kerajaan. Tae Ha menegurnya karena melanggar kepatutan pada anggota kerajaan. Chul Woong keluar dari resimen Tae Ha dan bergabung dengan mertuanya.

Tidak lama kemudian Tae Ha disebutkan mengambil persediaan militer untuk lumbungnya sendiri. Dae Gil mengejeknya seorang pencuri. Tae Ha dan anak buahnya disiksa dan dipaksa untuk mengaku.
Dae Gil dan Choi melihat kejanggalan cerita karena akhirnya Tae Ha nyawanya diampuni dan dijadikan budak. Dae Gil menyelidiki dokumen lainnya, dia menemukan saat yang bersamaan ada mentri yang turun dari jabatannya.
Kenyataannya saat itu, Lee Gyong Shik bertemu dengan seorang mentri (sepertinya di pihak mendiang putra mahkota) mentri itu berkata akan mengundurkan diri dari jabatan dan memberikan jalan untuk lawan politiknya, dengan syarat Tae Ha diselamatkan.

Dae Gil merasa dia telah mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan Tae Ha.
Kali ini Dae Gil berganti strategi tidak mengikuti jejak Ta Hae, tapi menghambat atau mencegat sasuai arah tujuannya. Dae Gil melihat sebuah rumah penginapan di desa, dia menyamar sebagai polisi rahasia dan berkata ke pemiliknya sambil menunjukkan lukisan Tae Ha
"Jika kau melihat pria ini bersama seorang wanita pakaian berkabung, terima mereka menginap lalu diam2 laporkan ke polisi setempat"
Seol Hwa mengkritik Dae Gil yang sering berpura-pura sebagai petugas dan mengelabui orang.
"Jangan-jangan kau juga punya lencana utusan rahasia?" kata Seol hwa
"Sperti ini?", kata Daegil menunjukkan lencananya yang lain. Seolhwa tersenyum sinis.


Hwang Chul Woong akhirnya menyerah, dia memutuskan keluar dari penjara dan mengikuti kemauan mertuanya. Dia dengan dingin mengikuti instruksi mertuanya.


Dia juga datang ke tempat istrinya ketika mertuanya meminta. Istrinya memperlihatkan tulisan yang pernah ditulisnya. Tapi Chul Wong meremaskan dan berkata dia tidak bisa membaca tulisannya dan menyuruhnya bicara. istrinya khawatir dan memintanya mengikuti kemauan ayahnya tapi Chul Woong berkata dia juga tidak bisa menangkap perkataan istrinya . Chul wong lalu pergi ke rumah ibunya. Dia hanya bernai melihat dari ibunya dari luar rumah. Dia menghormat lalu pergi.

Tae Ha dan Un Nyun ingin menginap di rumah yang diperkirakan oleh Dae Gil. Pemiliknya mengingat wajah Tae Ha dan menyuruhnya masuk. Dia lalu pergi diam-diam melaporkan mereka.

Saat beristirahat Un Nyun akhirnya menyebutkan namanya Hye Won marganya Kim dari Jounaei. Hye won merasa aneh telah mereka berjalan bersama berhari-hari tanpa menyebutkan namanya. Hye Won ingat nama Tae Ha dan asalnya karena dia penyelamatnya (Tae ha pernah memperkenakan diri ke rahib di kuil). Tae ha berkata keluarganya tidak ada setelah invasi Qing dan dia 8 tahun berada di Qing.


Hyewon juga berkata dia pernah hampir mati saat invasi tapi tuan muda yang ia cintai itu menyelamatkannya. Tae Ha meminta dia melupakan orang yang telah meninggal. Un Nyun berkata perempuan tidak sama dengan laki-laki, pemuda itu terlanjur tertanam di hatinya.
Beberapa polisi datang menyergap mereka. Tae Ha terpaksa melawan dan mengalahkan mereka. Tae Ha memungut peluit dan membawa Un Nyun kabur dari tempat itu.

Tae Ha dan Un Nyun hampir tiba di Chung Ju mereka harus melewati pos pemeriksaan. Tae Ha meminta sebaiknya mereka masuk terpisah. Un Nyun bisa pura-pura jadi orang yang gila. Tae Ha memberikan peluit pada Un Nyun. Tapi Un Nyun terlalu gugup dia ditangkap karena mencurigakan. Wanita misterius yang mengejarnya (Yoon Ji?) muncul dan membunuh polisi. Peluit dibunyikan. Yoon Ji akan menawan Un Nyun. Tae Ha lari karena mendengar bunyi peluit. Dia menyingkirkan Yoon Ji. Un Nyun duduk terdiam karena syok di bajunya terkena noda-noda darah.


Tae ha memintanya mengingat sesuatu yang dia cintai. Dia memegang erat batu kenangannya. Tae ha membuat lukisan dibaju Un Nyun untuk menyamarkan noda darah. Mereka melanjutkan perjalanannya dan kemudian berpisah.


Hwang Chul Wong juga pergi ke ChungJu dia berniat menghabisi seorang mantan mentri lawan politik mertuanya. Mentri itu yang menolong Tae Ha, beliau sebenernya telah merencanakan pembebasan anak putra mahkota di P Jeju.

Tae Ha pergi ke sana dan mendapati mantan pejabat yang dicarinya itu telah tewas oleh Chul Woong. Tae Ha bertempur dengan Chul Woong.

Dae Gil sudah tiba di sekitar lokasi. Dia berkoordinasi dengan teman-temannya. Choi membantunya menyerang dari arah lain. Wan Song diminta mengawasi dari atap. SEol Hwa seperti biasa menjaga kuda. Dae Gil mendapati Tae Ha yang tengah bertarung melawan seseorang (Chul woong).


Alih-alih mengambil kesempatan , Dae Gil ikut bertarung juga. Dia ingin mendapatkan Tae Ha untuknya sendiri. Terjadilah pertarungan segitiga yang mengesankan.

Choi datang membantu, dia bertarung melawan Chul Woong. Jadi sekarang ada 2 pasang pertarungan.
Wang Son di atas bertemu dengan wanita bayaran, Yoon Ji. Dia dilukai oleh Yoon Ji.

Baek Ho menemukan Un Nyun, Un Nyun kabur dan meniup peluit. Tae Ha mendengar suara peluit dia menghentikan pertarungannya dengan Dae Gil dan lari. Dae Gil juga lari mengejar Tae Ha.

Sumber :

Chuno (Episode 5)


Lee Dae Gil mengarahkan panahnya ke arah Tae Ha yang sedang di atas perahu. Tae Ha berhasil menahan panah itu dengan senjata golok panjangnya. Un Nyun ketakutan karena panah itu menancap ke dekatnya. Tae ha melindungi dengan badannya.
"Tak perlu takut ini akan segera berakhir tetaplah di belakangku", kata Tae Ha

Dae Gil kembali mengarahkan busur panahnya, tapi song Tae Ha berhasil menangkisnya kembali. Tae Ha semakin jauh Dae Gil menyerah.

Tae Ha merasa perjalanan ini berbahaya juga bagi tukang perahu. Dia meminta maaf pada tiukang perahu dan mohon padanya agar mau pulang dengan berenang. Tukang perahu menyanggupi.Tae Ha mulai mendayung.
"Apa kau bisa mendayung?", kata Un Nyun lembut
"Aku baru berusaha", jawab Tae Ha. Un Nyun mengulurkan tangan ingin membantu.
"Apa kau juga bisa mendayung?", balas Tae ha lembut.


"Aku juga akan berusaha", jawab un nyun. Tapi taeha tidak membiarkan seorang wanita mendayung dia meminta Un Nyun duduk beristirahat.

Dae Gil end the gank sedang meeting di pinggir sungai, mereka mengeluarkan peta dan kompas berusaha menebak arang Tae Ha. Mereka meresa tae ha akan kesulitan lari jauh karena bersama wanita. Mereka lalu bergerak lagi menaiki kuda mereka. Seol Hwa manja dia ingin naik kuda Dae Gil. Dae Gil menyerah dan mengulurkan tangannya. Seol Hwa memeluk Dae Gil dengan senang. Wangson kesal sekali.


Selepas turun dari perahu Tae Ha mengajak Un Nyun berlari. Un Nyun kepayahan merngikuti kecepatan Tae Ha. Tae Ha menarik Un Nyun dengan perantara kain. Kali ini Un nYun benar-benar kehabisan nafas. Mereka akhirnya beristirahat sejenak. Tae Ha tiba-tiba bertanya apa betul In Nyun lari karena urusan kelompoknya. Namun akhirnya Un Nyun balik bertanya lebih detail tentang Tae Ha. Dia masih penasaran mengapa Tae ha terluka dan mengapa tidak mau diketahui prajurit yang lain (saat menemukan Tae Ha, dia sedang memakai seragam prajurit yang dicurinya)
"Aku terluka karena berlatih", Tae ha berbohong.
"Apa kamu tentara yang disersi?", tanya Un nyun lagi. Tae Ha mengaku dia bukan tentara yang disersi dan bukan bertindak kriminal.
"Siapa yang mengejar kita tuan. Apa mereka mengejarmu?" Un Nyun bertanya lebih lanjut. Tae Ha kembali berbohong dia bilang mereka mengejar Un Nyun. "Lalu mengapa kamu lari?", Un Nyun masih penasaran,
"Aku mau menemui seseorang?", jawab Tae Ha.

Perempuan misterius suruhan Choi (suami Un Nyun) sampe di tepi sungai dan mengancam tukang perahu . Baek Ho dan anak buahnya sadar, mereka terbaring di kuil . Baek Ho bertanya dimana Un Nyun rahib hanya berkata diplomatis
"Dia mencari jalannya sendiri". Baek Ho juga bertanya tentang orang yang menyerang dia (tae ha maksudnya)
"Dia hanya orang tersesat yang mencari jalan". Baek Ho kesal dia segera pergi.

Hwang Chul Woong dipenjara masih kukuh pada pendiriannya (menolak membunuh Tae Ha), dia juga mogok makan. Mertuanya menengoknya "Sampai kapan kamu dapat bertahan", katanya pada menantunya. Chul Woong tak bergeming. dia ingat ayah mertuanya dulu menikahkan dia dengan anaknya dan menjanjikannya posisi di akademi militer. dia tidak tahu ternyata dia dinikahkan dengan seorang wanita down syndrom. Dia keluar kamar di malam pengantin (ngrasa dijebak). Tapi Lee Geong Shik menyebutnya anak dan minta dipanggil ayah karena sekarang Chul Woong yang akan mewarisi milik dia. Ibu Chul Wong menengok anaknya. dia menangis. Chul woong berusaha tak bergeming tapi tak tega dan minta ibunya ibunya tak datang lagi menengoknya. Walau terbelakang istri Chul Woong ternyata mencintainya. Dia dengan segala keterbatasan bermaksud menulis surat untuk suaminya.

Hari sudah senja. Tae ha mengajak Un Nyun beristirahat, karena pasti pengejarnya juga manusia yang butuh tidur. dia menyiapkan tempat berteduh/tenda dari pephonan untuk Un Nyun dan menyalakan api.

Seol Hwa yang pertama ribut karena lapar dan ingin istirahat, Dae Gil dkk akhirnya istirahat dan menyalakan api. Wang Son pikir dia bisa menyerahkan tugas memasaknya pada Seol Hwa.Ternyata Seol Hwa perempuan yang tidak bisa memasak juga menjahit. Seol Hwa bertanya tentang prempuan yang dicari-cari Dae Gil.
"Dia telah mencari perempuan itu selama sepuluh tahun", kata Wang Son
"Keren...", sahut Seol Hwa. Wang son tidak sependapat begitu, ngapain laki-laki harus terobsesi sama perempuan segitunya. Wang Son kembali berusaha mengajak Seol Hwa berkencan .Seol Hwa cerdik dia kembali mengadu pada Dae Gil bahwa Wang Son telah melecehkan dan menyentuhnya. Wangson kembali dimarahi Dae Gil. Wang son protes dia tidak merasa menyentuh Seol Hwa. Dae Gil juga memarahi Seol Hwa dan menyuruhnya belajar memasak.
Alih-alih memasak Seol Hwa memilih memainkan alat musik rebabnya. Dae Gil sempat melarangnya.Tapi Seol Hwa ingin musiknya dapat sebagai bayaran makan gratis dia selama ini. Seol Hwa mulanya menirukan suara-suara binatang dengan gesekan rebabnya.


Wang Son yang sedang memasak tertawa terbahak-bahak. Dae Gil juga ternyata senang. Setelah itu dia menghibur semuanya dengan melodi musik. Malam itu semua makan dengan senang.

Pagi hari Tae Ha terjaga karena ada orang yang datang menyerang. Mereka sekawanan perampok gunung. Tae Ha tidak panik walau mereka menyandera Un Nyun. Tae Ha berkata harusnya mereka melihat sekitar dengan lebih teliti (ada rombongan lain Dae Gil maksudnya di daerah situ).


Hanya dengan melempar golok mereka takut dan Un Nyun terlepas. Tae Ha mengusir mereka dengan mudah.

Dae Gil dkk ingin melanjutkan perjalanan, tapi Seol Hwa paling jago tidur. Saat Seol Hwa menagih sarapan, Dae Gil mengancam akan meninggalkannya di situ. Mereka menemukan tempat bermalam Tae Ha. Choi paling pintar membaca bekas jejak orang. Dari kondisi tanah dan rumput yang tertinggal dia tahu tadi ada perkelahian yang melibatkan 7-8 orang. Wang Son juga menemukan jejak, dia tahu seorang gentlemen (Tae Ha maksudnya) pasti menebas pohon dan rumput di sekitarnya untuk memberi jalan pada wanita. Mereka akan mengikuti jejak yang ditinggalkan Tae Ha, menurut Dae Gil menemukan mereka hanya masalah waktu saja. Choi heran siapa wanita yang dibawanya karena dari info yg didapatnya keluarga Tae Ha sudah tidak ada.

Di P. Jeju tempat anak mendiang putra mahkota, terjangkit wabah, banyak yang meninggal di sana. Semua petugas memakai masker. Anak itu masih kecil dan bener-bener lucu , tembem dan gemesin. Seorang dayang setia menjaganya. Ada seorang prajurit Kwak Han Seom yang nyebelin dan heran kenapa dayang itu setia menjaga anak seorang pengkhianat (putra mahkota dituduh berkhianat).
"Bukankah kau yang pernah mengkhianati Song Tae Ha?", kata dayang
"Eh..bukan aku tidak bersalah", dalih Han Seom.

Dahulu saat Jendral Song Tae ha dijebak dan difitnah menyelundupkan persediaan militer oleh ayah mertua Hwang Chul Woong. Lee Gyong Shik. Tae Ha dan anak buahnya disiksa agar mau mengakui sesuatu yang ga mereka kerjakan. Sebagai seorang prajurit mereka memilih menahan siksaan sampai mati daripada masuk jebakan mereka. Tapi salah seorang dari mereka Kwak Han Seom tak tahan siksaan dan ingin hidup enak. Dia mengaku disuruh Tae Ha menyelundupkan persediaan dan berkata semua di sana bersalah hanya dia yang tidak. Tae ha dan anak buah lainnya geram.

Dae Gil dkk mencoba mengikuti jejak tae Ha. Tae ha dan Un Nyun, mereka terus dalam pelariannyaTae Ha membuat jalan yang mudah untuk Un Nyun. tanpa bekal mereka survive dengan makan ular bakar.
Ke dua belah pihak ko terlihat tidak imbang, Dae Gil dengan bekal dan persiapan matang juga membawa kuda. Tae Ha tanpa bekal dan harus bawa Un Nyun yang tidak terbiasa dalam pelarian, hanya pengetahuan militernya yang jadi andalan. Walau ada Seol Hwa di pihak Dae Gil sebagai penari kelililing sepertinya lebih biasa bepergian.

Tae Ha tiba sebuah desa dan menginap di suatu rumah/kedai. Mereka tidur sekamar, tapi terpisah dan saling memunggungngi. Tae Ha bertanya tentang cinta /masa lalu Un Nyun. Dia berkata cintanya sudah lama pergi. Un Nyun teringat saat kakaknya membebaskan dirinya. Kakaknya menyabet muka daegil dengan sabit (sampai sekarang ada bekas luka di muka Dae Gil), lalu Dae Gil terjebak dalam rumah yang terbakar (Un Nyun sepertinya mengira dae gil tewas)

Dae Gil dkk menyimpulkan mereka pasti menginap di kedai.sebelum pagi mereka sudah memacu kudanya ke rumah itu, dan bersiap-siap menyergapnya. Mereka terlambat, buruannya baru saja pergi (bekas tidurnya masih hangat).


Mereka bertiga berpencar dan mengejar dengan kuda. Seol Hwa yang diminta menunggu malah menyusul dae gil dengan memakai kuda yang ada di sana. Dae Gil sadar ada sesuatu yang salah, dia berbalik arah kembali.
Ternyata Tae ha tidak pergi. dia dan Un Nyun sembunyi di kolong rumah . Tae Ha menempelkan telinganya di tanah untuk mendengar jejak kuda pengejarnya. Dia sadar triknya tidak berhasil sepenuhnya. Ada kuda yang datang lagi. Tae Ha bersiap naik kuda. Saat Dae Gil kembali tidak ada kuda yang tersisa. Dae Gil menempelkan terlinga ke tanah , dia tahu mereka baru pergi ke arah timur.

Sumber :

Chuno (Episode 4)


Seol Hwa sedang berusaha menghalangi-halangi kepergian Dae Gil, ketika EopBook mengarahkan senapannya pada Daegil. Eop buk akhirnya menarik pelatuknya, tembakannya menganai dahi dae Gil. Dae gil jatuh dari kuda dan terkapar di tanah tak sadarkan diri. Seol Hwa, Choi dan Wang son mengerubutinya. Tak lama kemudian Dae Gil sadar kembali. Dia langsung berkata arah dan jarak orang yang menembaknya. Dia meminta Wangson dan Choi bergerak bersamaan ke utara dan menyergapnya dari arah kiri dan kanan. Wangson dan Choi bak jagoan lari cepat melompati barang-barang dan bahkan naik ke atas atap mengejar penembak gelap.

Para budak itu sudah merencanakan penembakan dengan matang. Mereka telah merencanakan dengan matang dan bekerja sama. Setelah menembak dan mendapat kode dari si wanita, eopbuk turun dan dibantu temannya menyembunyikan senapan di tumpukan kayu dan ranting yang dibawanya. Dalam waktu hampir bersamaan Wang Son dan Choi datang ke lokasi. Tapi mereka tidak curiga pada budak lewat yang menggendong kayu.

Luka dae Gil dirawat oleh tetangganya yang suka merawat kuda. Katanya tidak ada bedanya mengobati kepala kuda dan kepala manusia. Dia juga minta bayaran dari Dae Gil. Dae gil kesal dan mengancamnya dia bisa kena sanksi jika ketauan mengambil bayaran padahal bukan seorang tabib. Dua wanita tentangganya yang naksir Choi lega begitu tahu Choi tidak terluka apapun.Wanita yang senior menghampiri rumah dae gil, dia khawatir karena pekerjaan mereka yang mempertaruhnya nyawa. Dia lalu menawarkan akan memaksakan ayam untuk choi. Dae Gil mengeluh dia yang sakit tapi Choi yang akan diberi makan.

Wang Son tiba-tiba juga khawatir bahwa senior2nya Choi dan Dae Gil bisa kapan saja meninggal dunia. Dia meminta Dae Gil membagikan tabungan mereka yang selama ini disimpannya. Choi memarahi Wang Son. Choi dan Dae Gil berkonsentrasi untuk mengatahui siapa kira-kira dalang dan orang yang berani menembak mereka. Mereka sempet juga mencurigai Cheon Ji Ho seniornya. Choi sempat khawatir ini suatu konspirasi yang berhubungan dengan Song Tae Ha.

Wang Son pergi ke luar karena terus ditegur senior seniornya. Di luaran sudah tersebar berita Dae Gil tertembak malah ada orang yang mengiranya mati.

Di suatu tempat, Un Nyun merawat luka Tae Ha.


Tae Ha sedang tidak sadarkan diri, tetapi dia masih memegang erat goloknya. Un Nyun berusaha menyingkirkan golok itu, tapi genggaman Tae Ha terlalu kuat.


Dalam keadaan pingsan itu Tae Ha teringat masa lalu saat dia melawan para prajurit Cina yang menyerang rumahnya. Dia sedih melihat mereka telah membantai istri dan anaknya. Ternyata bayinya masih bernafas dia menggendong di belakang dan bertempur sendirian melawan para prajurit Cina. Stelah selesai dia mendapati bayinya tidak bernyawa lagi dia menangis pilu dan menjerit.
Tae Ha mengigau dalam pingsannya. Un Nyun memegang tangannya. Tae Ha terbangun dan refleks mencengkram leher Un Nyun (kasihan prajurit emang sering mimpi buruk serasa perang terus).


Un Nyun kesakitan dan sulit bernafas, tae ha akhirnya sadar dia minta maaf karena ini kesalahannya.
"Tempat apa ini", tanya Tae Ha
"gua terpencil di kuil budha", jawab Un nyun
Rahib datang, Tae Ha berniat pergi dari situ tapi dia kembali terjatuh, badannya masih lemas karena terluka.Mereka meminta Tae Ha bersabar dan istirahat

Di ibukota pejabat Lee Gyeong Shik yang juga ayah mertuanya Hwang Chul Wong membicarakan tentang lolosnya Tae Ha. Mereka mengira Tae Ha akan ke pulau Jeju membawa anak mendiang Putra Mahkota. Hwang Chul Wong diminta mencari Dae Gil. Hwang Chul Wong sebenernya agak ragu dia ingat dulu Tae Ha pernah menolongnya dalam pertempuran. Dia merasa pernah berutang nyawa pada Tae Ha.

(episode2 awal kita melihat Hwang Chul Wong sebagai orang jahat. tapi episode ini ditunjukkan sisi lain dari Hwang Chul Wong, dia menikahi wanita dengan down syndrome, merasa berhutang nyawa, juga makan di rumah kecil seorang ibu (ibu kandung atau pengasuh?) mendengar nasehanya dan memberinya uang.)

Untuk memaksa menantunya Lee Gyong Shik terpaksa menyuruh anakbuahnya menangkapnya. anak buahnya kaget. Hwang Chul Wong akhirnya ditangkap di penjara dia sudah ditunggu musuh/budaknya dulu mau balas dendam. tapi mereka dengan mudah dikalahkannya.


Dae Gil dibawa menemui seorang pejabat (Lee Gyong Shik) dia menyuruh Dae Gil menangkap Tae Ha, jika berhasil akan memberinya uang banyak jika tidak nyawa Dae Gil taruhannya. Dia melemparkan uang pada Dae Gil sebagai persekot.

Dae Gil berkata pada teman-temannya bahwa dia akan mendapat bayaran besar jika mereka berhasil misinya kali ini mengejar Tae Ha. Mendengar uang jumlah besar Wang Son begitu semangat.
Choi sempat ragu karena Dae Gil berurusan dengan bangsawan/pejabat. Menurutnya para pejabat itu tak bisa dipercaya.


Akhirnya mereka memutuskan berangkat juga. Choi menyiapkan tameng rompi untuk mereka bertiga.
Mereka disertai Seol Hwa pergi naik kuda. Wang Son membonceng Seol Hwa. Dae Gil membawa mereka ke makam putra mahkota. Dia mengira Tae Ha pasti kemari. Dari jejak yang ditinggalkan, Choi menebak Tae Ha pernah ke sini satu hari setengah yang lalu. Dae Gil menemukan tumbuhan untuk mengobati luka di tempat itu. Dia pamer pada Choi bahwa Tae ha terluka berarti dia menang di pertarungan terakhir.


Tae Ha bangun dari istirahatnya, Dia lalu berjalan-jalan di sekitar kuil dan memandangi Un Nyun yang sedang berdoa di kuil. Dia mulai terpesona dengan kecantikan Un Nyun.


Tae Ha kemudia pamit pergi pada rahib dan Un Nyun. Rahib mendoakannya. Un Nyun berkata lukanya masih basah Tae Ha harus berhati-hati. Tae Ha rasanya mulai berat meninggalkan Un Nyun.


Tae Ha turun gunung dan mengganti bajunya. Dia bertemu dengan orang-orang (anak buah kakaknya) yang sedang mencari Un Nyun . Dia membawa lukisan Un Nyun dan bertanya pada tae ha apa dia pernah melihat wanita ini. Tae ha berbohong dia berkata tidak.
Beberapa anak buahnya dilukai wanita yang juga mencari un nyun (wanita misterius suruhan suaminya).


Dae Gil, Wang Son dan Choi menyamakan kompasnya mereka menuju ke gunung (ke kuil budha sepertinya) tapi menyebar dari arah berlainan. Dae Gil meminta teman2nya jangan lengah kali ini karena lawan mereka tangguh.


Un Nyun di depan rahib melakukan ritaul potong rambut untuk melupakan masa lalu yang masih membebaninya (tentang dae gil. kemungkinan kemaren peringatan kematian Dae Gil versi Un Nyun). Suruhan kakaknya (baek ho mungkin namanya?) menemukan Un Nyun di kuil. Dia meminta nonanya (Un Nyun mematuhi perintah kakaknya Wong Ki Yoon .


Un Nyun menolak dia mengancam anak buahnya yang berani menyentuhnya. Mereka tetap akan membawanya.
"Suami Anda juga menyuruh orang untuk mencarimu, kami akan menjaga Anda", dia membawa Un Nyun setengah memaksa
Un Nyun menolak digiring.
Song Tae ha muncul kembali dia menghadang mereka
"Bukan laki-laki namanya jika memaksa seorang wanita!"
"Jangan ikut campur urusan kelompok kami", baek Ho membalasnya.
Tae Ha tidak tega melihat Un Nyun digiring seperti itu. Dia akhirnya menjatuhkan anak buahnya dan melawan Baek Ho.Tae Ha berhasil menjatuhkan Baek Ho.
Stelah berhasil Tae Ha ingin pergi lagi tapi dia kembali berat meninggalkan Un Nyun. akhirnya Tae Ha mengajak Un Nyun pergi bersamanya, mereka bergegas pergi dari situ. Un Nyun sempat tersandung karena terburu-buru. tae ha spontan memegang tangannya . Un Nyun masih risi dia menarik tangannya kembali. Untuk selanjutnya Tae Ha memberikan ujung tongkatnya untuk dipegang Un Nyun

Choi, Wang Son dan Dae Gil bertemu di deket kuil mereka belum berhasil menemukan Tae Ha, mereka ke kuil Tae ha juga tidak ada di sana.
Mereka mengejar Tae ha naik kuda. Seol Hwa ingin bersama Dae Gil. Seol hwa memeluk Dae Gil erat-erat yang sedang memacu kudanya.

Tae Ha menyewa perahu dan naik perahu bersama Un Nyun. Dae Gil menemukan Tae Ha sedang naik perahu. Dia memanah Tae Ha dari pinggir sungai. Tae Ha menghadangnya dengan goloknya. Un Nyun menunduk ketakutan. Tae Ha melindungi Un Nyun di belakang tubuhnya. Dae Gil memanah lagi tapi berhasil dipatahkan lagi oleh Tae Ha.

Sumber :

Chuno (Episode 3)


Lee Dae Gil dan Song Tae Ha berusaha menerjang senjatanya dengan senjata mereka masing-masing. Pertahanan mereka masing-masing juga bagus, serangan lawan bisa diatasi. Dae Gil baru kali ini benar-benar mendapat lawan (budak) yang tangguh.Dae Gil sempat terkena goresan sedikit di samping perutnya.


Dia kemudian membuka bajunya dan mengikat pedang dengan ditangannya. Dae Gil mencoba pertarungan jarak dekat.

Di sisi lain. Jendral Choi mengejar budak-budak lain yang, tapi mereka memang bukan tandingan Choi. 5 orang budak ditangani dengan mudah. Bahaya justru muncul dari luar. Cheon Ji Ho, seniornya yang benci pada Dae Gil ikut berburu budak yang sama. Dia dan anakbuahnya mengerahkan panah-panah mereka ke Tae Ha dan Dae Gil yang sedang bertarung. Mereka tidak peduli jika panah itu mengenai Dae Gil karena mereka membenci Dae Gil. Satu panah sudah berhasil mengenai Tae Ha. Namun akal bulus mereka segera ketahuan Jendral Choi, dia menodongkan tombaknya pada Ji Ho karena membahayakan Dae Gil.


Choi melihat rumput yang bergerak gerak mencurigakan dia melemparkan tongkatnya ke arah itu. Ternyata tongkat itu mengenai Dae Gil. Tae Ha sudah bergerak menjauh. Ini hari yang sial buat Dae Gil.

Choi merawat luka Dae Gil di rumah. Namun di luar isu yang beredar lebih heboh, mereka mengira Dae Gil sekarat. Wang Song segera pulang dan menangis dia pikir Dae Gil sekarat. Dae Gil masih segar hanya butuh istirahat. Dae Gil bercerita tentang ilmu pedang Tae Ha. baru pertama kali ini dia mendapat lawan yang ilmu bela dirinya keluar dari hati. Choi berusaha mencari tahu tentang latar belakang Tae Ha.

Tae Ha terkena panah di dada kanannya, dia sembunyi di tempat yang aman kemudian nekad mencabut panahnya sendiri.


Tae Ha lalu pergi ke makan putra mahkota. Dia mengingat saat dulu dia pernah berusaha membebaskan pangeran yang ditangkap China, tapi pangeran menghalanginya. Demi rakyat dia rela jadi tawanan, Tae Ha pun saat itu ikut ke China bersama pangeran. Tae Ha menangis di makam pangeran karena merasa gagal melindungi pangeran. Dia juga menyesal karena tidak membawakan arak dan sesaji lainnya untuk mendiang pangeran.


Wang Son beda lagi kesibukannya dia menunggu datangnya penari keliling ke kampung mereka. Para penari keliling sepertinya terkenal cantik dan bisa diajak kencan.
Para wanita tetnangga Dae Gil sibuk menggosip tentang Choi yang kalem ,cool dan misterius, mereka ke-geer-an.

Choi kembali berdiskusi dengan Dae Gil, dia mendapatkan banyak info tentang Tae Ha dan dia khawatir. Choi ingin mereka melepaskan tugas ini karena dirasa berbahaya, selain tangguh dia terlibat skandal politik yang jauh dari bayangan mereka.


Tetapi Dae Gil bersikeras dia bukan tipe orang yang bisa melepas sesuatu yang telah dia mulai, apapun resikonya. Mereka kemudian mencari Wang Son, mereka menggiring wang son yang kedapatan sedang bersenang-senang dengan penari keliling.

Malam hari ketika mereka telah mempersiapkan perjalanan mereka, datanglah seorang wanita menyelinap ke rumah mereka untuk bersembunyi dan dengan berani mengancam mereka bertiga untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada orang lain. Wang Son mengenali wanita itu adalah seorang penari keliling. Dia kabur ketika tahu dirinya akan harus melayani lelaki hidung belang. Pemilik pari keliling dan pengawalnya datang menemui daegil dkk. Mereka menanyakan seorang wanita yang hilang
"Apa ada seorang wanita nakal lewat sini", kata pemilik/mucikari
Wang Son yang naksir wanita itu spontan berkata tidak. Jendral choi yang baik hati juga ikut menggeleng. Dae Gil terpaksa mendukung ke 2 orang temannya. Orang-orang itu tak percaya mereka sempat terlibat pertarungan. Tentu saja ke tiga jagoan bisa menang mudah.


Dae Gil akhirnya menemui wanita itu yang diketahui bernama Seol Hwa dan bermaksud mengusirnya. Tapi Seol Hwa memohon dan menangis dia tidak bisa pergi karena dia juga tak mau kembali menjadi penari dan ingin mencari orang tua kandungnya. Wang Son mendukungnya, Dae Gil terpaksa sementara menerima Seol hwa di rumah mereka. Malam itu Seol Hwa tidur di rumah mereka, Choi dan Dae Gil siap menghalangi Wang Son yang berusaha mengambil "untung" dari Seol Hwa.

Di tempat lain Eop Buk (budak yang pernah ditangkap Dae Gil) mengadakan pertemuan rahasia dengan budak-budak lain. Mereka berncana mengadakan pemberontakan. Seorang wanita yang menyukai Eop Bok ingin bergabung. Mulanya budak lain tak setuju tapi Eop Bok mendukungnya. Mereka mempunyai senapan dan orang pertama yang ingin Eop Bok bunuh adalah slave hunter Dae Gil.

Un Nyun mencari tempat bermalam, dia terpaksa bermalam dengan sekelompok pria. Dua orang pria mengincarnya diam-diam.
Ta jauh dari tempat itu Tae Ha mencari air dan mencuri makanan di dapur, dia terlihat lemah dan pucat karena luka dan kehilangan banyak darah.
Pagi hari saat bangun tae Ha berusaha mencari kuda dan pakaian, dia terpaksa melukai petugas dan kemudian mengamibl baju dan kudanya. Un Myun pagi itu juga melanjutkan perjalanannya. Dia diikuti 2 pria yang mengincarnya. Saat sepi dia disergap dua pria itu, mereka berusaha memperkosa Un Nyun. Un Yun berteriak minta tolong. Song Tae Ha yang melintas mendengar teriakan itu. Dia menolong Un Nyun, dengan sisa tenaganya dia melawan 2 pria brengsek itu. Setelah pria-pria itu dilumpuhkan dia pun terkapar di tanah.


Un Nyun bingung, dia akan minta tolong pada polisi yang lewat tapi Tae Ha mencegahnya.

Dae Gil dkk akan pergi untuk misinya mengejar Tae Ha. Saat Dae Gil telah di atas kudanya, Seol Hwa mencegatnya, dia ingin ikut bersama mereka.


Pada saat yang sama Eop Bok dkk menjalankan misinya. Eopbok di atas atap dengan senapannya mengarah pada Daegil. Dia menembak Dae Gil tepat di sisi dahinya. Dae Gil pun jatuh dari kuda dan terkapar di tanah.


(Di tempat terpisah Tae ha dan Dae Gil sama-sama terkapar ditemani wanita)

Sumber :

Senin, 18 Oktober 2010

Chuno (Episode 2)


Di suatu tempat Kim Hye Won (Un Nyun sedang melaksanakan prosesi pernikahan dengan seorang pejabat kerajaan. Wajahnya menyimpan keterpaksaan dan kesedihan.
Lee Dae Gil yang mendapat info dari Wang Son tentang keberadaan Un Nyun memacu kudanya. Sesuai petunjuk Wang Song Lee Dae Gil tiba dipinggir sungai. dia melihat seseorang yang sedang menjemur kain-kain, yang mengingatkannya pada Un Nyun.


Jendral Choi curiga ada sesuatu yang tidak beres. Dia menanyakan tempat tujuan Dae Gil pada Wang Son. Akhirnya mereka sadar Dae Gil dijebak, mereka berdua bergegas menyusul.

Di pinggir sungai itu ternyata seniornya (namanya lupa) dan anak buahnya telah menunggu. Dia menjebak Dae Gil dengan mengarang cerita tentang Un Nyun. Mereka bertarung di antara kain-kain. Dengan mudah dia berhasil mengalahkan anak buahnya. Dae Gil bertarung melawan seniornya. Dalam waktu singkat dia berhasil menang. Dae Gil yang marah bermaksud membunuh seniornya. Pada waktu yang tepat rekan-rekannya datang mencegahnya.


“Sadarlah kamu bisa dihukum karena ini”, Jendral Choi menasehatinya. Dae Gil memang sedang emosi ia akhirnya juga bertarung melawan Choi pinggir sungai, kemudian di atas perahu. Choi melayani Dae Gil yang berusaha melepaskan emosinya dengan bertarung.


Setelah upacara pernikahan, Un Nyun sendirian di kamarnya termenung dan bersedih. Dia masih menyimpan batu kenangan antara dia dan tuan muda (Dae Gil). Kakaknya datang menejenguknya. Dia meminta Un Nyun melupakan masa lalu dan berusaha mencintai suaminya, melahirkan anak dan hidup bahagia.
“Walaupun untuk kebahagianku kau membunuh orang?”, sindir Un Nyun mengingatkan kakaknya pada kejadian dia membakar rumah majikannnya dan membunuhnya. Kalau dengan membunuh orang bisa membuatmu beruntung aku akan membunuh lebih banyak lagi. Un Nyun mengira Dae Gil juga ikut terbunuh. Kakaknya menunjukkan bekas luka bakar di dadanya saat menghilangkan cap/tato budak. Bahwa saat besi panas mengenai tubuhnya dia menjerit bahagia karena bebas dari perbudakan.
Un Nyun sendirian dia mengingat tuan muda. Saat itu tuan muda akan dijodohkan. Un Nyun mendengar jawaban tuan muda pada ayahnya bahwa tidak ada wanita yang dicintainya. Un Nyun sedih mendengarnya. Dae Gil ke dapur melihat Un Nyun bersedih dan menghiburnya
. Dia memberikan sepatu baru warna merah muda untuk Un Nyun, lalu pergi. Un Nyun begitu bahagia. Dia lalu mengejar Dae Gil keluar dan menciumnya.


Di Istana terjadi kehebohan. Lukisan kejadian di P. Jeju yang menimpa anak-anak putra mahkota beredar sampai ke tangan raja. Lukisan itu seolah-olah mengatakan bahwa cucu-cucunya itu meninggal karena racun bukan karena wabah penyakit. Tinggal pangeran bungsu yang masih hidup. Raja terlihat bersedih.
Suatu malam suatu rumah beberapa orang bangsawan mengadakan pertemuan tertutup untuk membicarakan lukisan di pulau Jeju. Mereka ketahuan lawan politiknya yang berkuasa dan ditangkap. Mereka dituduh menyebar berita tidak benar yang bisa menimbulkan sentimen negatif publik juga membuat raja menjadi berduka. Mereka pun dibunuh.

Malam itu pengantin laki-laki dengan bahagia
menuju ke kamar untuk malam pertamanya. Un Nyun sudah tidak ada di sana, baju pengantinnya terlihat rapi. Un nYun telah pergi dengan menyamar. Dia berkata dalam hati agar kakaknya tidak usah mengkhawatirkan kebahagiannya. Sang pengantin panik dia memanggil orang-orang. Kakaknya datang dia merasa bertanggung jawab dan akan mencarinya.


“Tidak usah, dia sudah menjadi propertiku sekarang , aku akan mencarinya sendiri!”, kata pengantin pria
Kakaknya melihat gelagat yang tak enak dari suami adiknya, dia meminta anak buahnya mencari Un Nyun lebih dahulu. Mereka berusaha membawa kembali Un Nyun dengan selamat apapun resikonya.
Pengantin pria juga membagi-bagikan hadiah untuk menangkap Un Nyun hidup dan mati. Dia juga meminta jasa kepada perempuan cantik misterius untuk mencari istrinya.


Di kandang kuda mantan jendral Song Tae Ha membaca dokumen yang diselipkan seseorang padanya. Dokumen itu adalah gambar dari peristiwa di P Jeju dan membaca surat pribado dari putra Mahkota untuknya menjelang kematiannya. Beliau memanggil Song Tae Ha dengan sebutan “Kawan”. Saat itu putra mahkota sudah menyadari dirinya dia akan meninggal.

Beliau menitipkan anak-anaknya pada Song Tae Ha . Saat selesai menulis pangeran mundah darah dan meninggal。Bercak darahnya tersisa di surat itu. Song Tae Ha mengingat kenangannya bersama pangeran saat akan mempertahankan korea dari serbuan Qing.
Song Tae Ha merasa sudah waktunya dirinya untuk bergerak, dia akan lari dari tempat itu. Dengan ilmu meringankan tubuhnya dia meloncat ke atas kandang mengambil senjatanya yang selama ini dia sembunyikan di situ (golok dengan pegangan panjang/tongkat). Dia ternyata selama ini tidak pincang seperti yang dia kesankan pada orang-orang. Saat akan lari dia juga mendengar budak-budak di tempatnya merencanakan kabur. Karena saat itu petinggi militer tidak di tempat dan penjagaan sat itu tidak seketat biasanya. Dia menunggu saat yang tepat.
Budak-budak itu kabur dengan nekad dengan membawa kayu dan garpu jerami. Mereka terkepung dan dengan mudah dikalahkan para prajurit. Song tae ha muncul sambil terpincang-pincang. Dia meminta budak-budak itu dibiarkan pergi bersamanya. Dia melawan para prajurit itu dengan mudah dengan kaki yang sehat.

Budak-budak ikut lari bersamanya. Mereka tidak menyangka orang yang selama ini selalu mereka kerjai ternyata orang hebat. Dia memerintahkan mereka untuk tetap bersembunyi di sekitar itu dan baru brangkat menjelang pagi, mereka menurut.


Pagi harinya polisi menghampiri Dae Gil yang sedang berlatih. Dia berkata bahwa para budak di akademi militer melarikan diri semalam dan sampai pagi tidak berhasil ditemukan. Dae Gil heran sampai prajurit saja belum menemukan mereka. Dia menawar bayaran yang tinggi. Dia tidak menemukan Wang Son, Dae Gil berangkat bersama Choi. Dengan pengalamannya dia bisa mengira ke arah mana mereka pergi. Song Tae Ha dan budak – budak itu pergi melewati rumput-rumput yang tingginya rata-tata setinggi badan manusia. Budak-budak itu kepayahan berlari mengimbangi Tae Ha. Tae Ha menyuruh mereka berlari terus karena mereka masih harus pergi ke selatan sebelum terkejar sebentar lagi. Mereka terkapar kelelahan dan akhirnya menyerah untuk ikut bersama Tae ha. Mereka ingin berpisah. Tae Ha mengancam mereka agar jika tertangkap jangan mengatakan apa-apa tentangnya atau dia akan datang menghabisi mereka.

Tae Ha lari. benar saja mereka lalu mendengar suara kuda mendekat. Budak-budak kocar kacir ketakutan. Dae gil mengejar Tae Ha dengan kudanya. Tae Ha mengambil posisi diam menyongsong Dae Gil. Begitu kudanya mendekat dia melompati pedang Dae Gil dengan mudah dan mendarat indah. Dae Gil tahu kali ini lawannya tangguh. Dia turun dari kuda dan mengambil jarak puluhan meter dengan Tae Ha. Dae Gil menyiapkan pedangnya, Tae Ha golok panjangnya.


Mereka siap bertempur di tengah rerumputan yang tinggi. Mereka berlari mendekati lawannya siap menerjang...

Sumber :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...